Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 84


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Tak berselang lama setelah Gayung melahirkan, Tiara pun melahirkan putranya. Kondisipun pun kini semakin membaik, meski ia tidak bisa menyusui sang buah hati. Karena ada obat yang harus ia konsumsi, sesuai anjuran Pak Ming. Ia akhirnya memutuskan untuk jujur kepada ibunya dan menjelaskan semuanya. Tiara bersyukur, meski kecewa namun seorang ibu tetap selalu bisa memaafkan kesalahan anaknya. Apalagi mengetahui bagaimana cobaan yang menimpanya saat menjalani kehamilan.


Jay tetap bertanggung jawab secara materi. Sementara Wina, tetap tidak bisa memaafkan kesalahannya. Meski mengganjal dihati, namun Tiara mengerti memang sulit untuk memaafkan sebuah perselingkuhan.


Galas dan Gayung semakin mesra setelah kelahiran sang buah hati. Gayung tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan sesekali tetap menyempatkan diri datang ke kantor. Meski lebih seringnya tetap stay bekerja dari rumah sembari mengurus sang buah hati dibantu oleh Nina.


Kini, mereka tengah berada dikampung halaman. Karena dua hari yang lalu, Inge baru saja melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih hati, setelah sekian tahun menjalin kasih asmara. Sesuai janjinya saat menikah dengan Gayung dulu, Galaslah yang membiayai pernikahan adik perempuan satu-satunya itu.


"Keponakan ante ... antik anget cihh ...." Inge tengah menggoda Keiko. Ya akhirnya Galas mengalah mengenai nama anak mereka. Tapi untuk anak-anak selanjutnya, Gayung akan menyerahkan mengenai nama mereka kepada sang suami.


"Siapa dulu Ayahnya ...." Galas menimpali sembari merangkul istrinya yang duduk disebelahnya.


"Iya ... percaya ...." Inge melirik iri pada dua sejoli itu yang selalu tampil mesra itu. Oh kemana suamiku? Panas panas panas ...


"By the way, yuk kalian juga ikut bulan madu ke Bali sekalian ... kasihan loh Kakak ipar belum diajak bulan madu sampai sekarang." Ia memang berencana bulan madu ke Bali besok pagi.


"Kamu mau ikut, Sayang?" Galas menawari istrinya yang menyenderkan kepalanya dibahunya.


"Sebenernya pengen .... tapi bawaannya lagi lemes banget ... ntar disana malah ngerepotin gimana," ucap Gayung manja.


Ya Tuhan. Lihat kalian sudah punya buntut satu, batin Inge. Melihat sikap manja Gayung pada suaminya. Intinya mereka berdua sama saja, sama-sama saling manja satu sama lain. Dan Inge baru menyadari betapa tidak romantisnya sang suami melihat adegan mereka.


"Kenapa memangnya Gay? Kamu lagi sakit?" Inge ikut duduk disamping dua pengantin lawas yang selalu bertingkah layaknya pengantin baru itu. Heloo ... gue pengantin baru disini! Seru batin Inge.


"Enggak. Cumaaa biasalah ...." Gayung menegakkan duduknya mengambil Keiko dari gendongan Inge. Putri kecilnya itu tampak asyik menggigit mainan gigitan bentuk ikan warna pink.


"Kamu mau punya ponakan baru lagi, Nge ...." Ibu Galas datang membawa sepiring ubi jalar ungu, pesanan menantunya yang sedang ngidam itu.


Inge membelalak tak percaya. What?!


"Serius nih? Keiko udah mau punya adik lagi?" Inge menowel gemas pipi bayi imut itu.


"Memangnya kenapa? Diberikan rezeki masa mau ditolak," jawab Galas cuek sembari menyuapkan ubi ke mulut istrinya. Inge gigit jari, mau juga disuapi seperti itu.


"Ya bukannya gitu ... Memang kamu nggak KB Gay?"


"Nggak boleh sama suami," jawab Gayung jujur sembari melirik suaminya yang kembali menyuapkan ubi ungu ke mulutnya.


"Aihhh ...." Inge mendelik menatap Kakaknya yang terlihat sangat bahagia dengan kehamilan istrinya itu.


"Kamu juga ... nanti pulang bulan madu, semoga cepat jadi ya Nge. Amiin," ucap Bu Sari penuh harap. Ia ingin menghabiskan masa tua dengan bermain-main dengan cucunya. Seringkali Bu Sari kini berkunjung ke ibukota hanya untuk berjumpa dengan Keiko.


"Amiin." Semua mengamini. Termasuk Inge, yang tiba-tiba bersemu merah mendengar ibunya meminta cucu darinya.

__ADS_1


"Kalau Inge nggak hamil-hamil gimana?" Inge sedikit takut. Karena ada temannya yang begitu sulit mendapatkan keturunan, padahal sudah bertahun-tahun menikah.


"Coba nanti kalau belum hamil juga tanya ke Bapak, nanti dikasih doa-doa supaya cepat mendapatkan keturunan," timpal Gayung.


"Emang bisa?" Inge baru mengetahui. Ia mengira Pak Ming hanya menyembuhkan orang yang sakit saja.


"Dulu pernah ada yang berhasil. Tapi itu ya tergantung yang di Atas, yang penting kan usaha, ikhtiar dulu ...," ucap Gayung bijak membuat Inge lega mendengarnya.


"Oke deh ... semangat semangat." Inge mengangkat tangannya yang terkepal ke atas dengan senyum malu-malu. "Aku mau beres-beres dulu ...." Inge pamit pergi ke kamarnya. Benar-benar ... melihat kemesraan Kakak dan Kakak iparnya membuatnya ingin bermanja pula dengan sang suami.


***


Waktu berlalu begitu cepat, Gayung akhirnya melahirkan anak keduanya. Seorang bayi laki-laki yang tampan yang Galas namai Jusuf Alexander. Rumah mereka semakin ramai penuh dengan suara anak-anak. Putra Tiara pun sering menghabiskan waktu di rumah mereka. Meskipun kini, Tiara sudah pindah di apartemennya sendiri dan tinggal bersama ibunya.


Sementara itu di kantor.


"What!? Ini serius?" Seru Sasya heboh seperti biasanya.


"Kenapa sih Sya?" tanya Jio kepo, lalu mendekat.


"Bu Bos baru semalem, kan melahirkannya?" tanya Sasya pada kepala divisinya yang jangkung bin kocak itu.


"Iya. Caesar lahirannya ... hadeh, aku satu aja belum mantan udah dua ...." Jio mengusap jambulnya dengan senyum konyolnya.


"Kenapa sih emangnya?" Jio masih belum mengerti arah pembicaraan anak buahnya, padahal harusnya dia yang pertama kali ngeh.


"Orderan gue udah di Acc semua Coy." Bimo geleng-geleng kepala.


"Sama. Orderan gue juga Bim. Gila ya ... itu abis selesai jahitan, Bu Bos langsung minta laptop kali ya sama Dokternya hahahaha ...." Sasya merasa wow melihat sahabatnya itu yang masih bisa menghandle pekerjaannya disaat-saat seperti itu.


"Iya, ya ... kok aku baru ngeh. Tadi pagi aja dia udah kirim email ke aku. Wah ... gila ya kalau orang kaya mah ...." Jio menggaruk anunya yang terasa gatal. Membuat tatapan Sasya langsung horor mengarah padanya.


"Dih, dasar Jio jorok! Jijai banget deh ... lo pasti udah nggak ganti kolor seminggu lagi ya?" Sasya sudah bisa menebak kelakuan absurd sang ketua yang hanya cengar-cengir.


"Astagfirrlah ... jangan keras-keras juga kali, Sya. Kan malu ...."


"Kalau malu tuh tutup muka Pe Ak! Bukannya cengar-cengir begitu." Safa ikut greget juga.


"Hei para wanita ... masalah gak ganti CD ini sudah jadi rahasia umum para lelaki. Hampir semuanya sama." Jio membela diri.


"Siapa bilang? Suami gue nggak tuh." Safa tak terima.


"Ya berarti selain suami Mbak safa," ucap Jio. " Kamu pasti juga gitu kan Bim?" Jio meminta dukungan satu-satunya teman lelaki di ruangan itu.


"Hehe ...." Dari cengirannya sudah bisa ditebak semua penghuni disitu. "Tapi ya nggak seminggu nggak ganti juga kali. Itu mah kebangetan ...." Bimo menambahi.

__ADS_1


"Iya, aku juga nggak sampai seminggu. Sasya aja tuh yang lebay nambah-nambahin." Jio malah menyalahkan Sasya. "Lagian kamu perhatian banget sih Sya sama aku sampai-sampai tahu kalau aku pakai daleman kemarin." Jio menggodanya membuat Sasya ingin pingsan saat itu juga karena malu.


"Cie Sasya ....diam-diam perhatian sama daleman Jio." Mak-mak binal mulai beraksi membuat kepala Sasya berputar-putar pening.


"Udah sih jadian aja. Lagian Jio juga udah jomblo. Memang kayanya kalian tuh berjodoh, cius deh ...." Safa semakin menggoda.


"No no no ...," seru Sasya.


"Eh, Sya ... kamu kan pernah konsultasi sama Pak Ming. Gimana hasilnya udah dapet jodoh belum?" tanya Bimo penasaran. Karena Sasya memang pernah putus asa dan akhirnya datanglah ia pada sahabatnya. Dan Pak Minglah yang menjadi jawaban Gayung.


"Alhamdulilah sudah ada. Meskipun jauh dari harapan gue sebenarnya," jawab Sasya pasrah.


"Maksudnya gimana? Belibet banget lu ah." Bimo sudah penasaran.


"Ya gue tiba-tiba dijodohin sama ortu gue, guys."


"Terus?" Kali ini Jio yang tak sabaran.


"Ya harapan gue, gue maunya dijodohinnya sama CEO gitu, dipaksa nikah sama CEO muda gue ikhlas dah lahir batin ... tapi kenyataannya tak seindah itu Guys," celoteh Sasya dramatis.


"Gue dijodohin sama tukang bangunan hiks hiks ...." Sasya bersedih.


"Wwkwk ... berarti emang jodoh lo sama tukang bangunan kali, Sya. Dasar tukang nulis novel, suka banget ngayal tinggi-tinggi ...." Safa terbahak.


"Sorry guys cerita gue belum selesai. Btw, dia memang cuma tukang bangunan ... dulunya, ya. Sekarang sih udah jadi mandor guys. Punya rumah bagus, punya mobil, cuma kurang istri ... jadilah aku menerimanya dengan senang hati untuk melengkapi." Sasya bercerita dengan bangganya.


"Dasar prawan gila! Lo terima dia karena cinta apa karena rumah sama mobilnya?" ledek Safa.


"Dua-duanya. Hidup itu keras guys. Cinta aja nggak cukup perlu cuan juga. Iya nggak?" Sasya meminta persetujuan kawan-kawannya.


"Dasar matree!!!" Seru semuanya dan Sasya tak peduli. Karena sebenarnya bukan wajah atau harta yang membuatnya menerima laki-laki pilihan orang tuanya melainkan sikap dan tutur katanya yang santun dan baik. Selalu mengajak Sasya dalam kebaikan masalah agama. The next perfect husband setelah Pak Bos, menurutnya.


***


Sorry guys ... baru up ...


Setelah ini hanya extra part ya ...


Terima kasih kalian yang sudah mau membaca novelku. Aku harap kalian tidak kecewa dengan endingnya.


Untuk romantis-romantisnya lagi nanti di extra part, ya. Aku sebenarnya awalnya ingin membuat cerita ini ratusan episode, tapi ternyata aku tidak cukup mampu untuk itu. Oke fine ...


Mampir juga ya di karya baruku "Kencan 30 hari ( With you ) ... masih cinta yang manis-manis aja. Semoga kalian akan suka juga ...


Thank you ❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2