Ketika Bosku Mencari Cinta

Ketika Bosku Mencari Cinta
Bab 13


__ADS_3

"An, sumpah keren banget kamu tadi." Sasya mendekatkan kursi putarnya pada Gayung.


"Keren apanya sih, Kak ...." Gayung benar-benar tidak mengerti dimana letak "kerennya" perdebatan unfaedahnya dengan sang Bos tadi.


"Selama aku kerja disini tuh, belum pernah ada karyawan yang punya kesempatan dan keberanian ngobrol sama Pak Galas diluar masalah pekerjaan, selain Mbak Tiara sama Pak Jay tentunya," oceh Sasya. "Aku semakin yakin sih, kalau Pak Galas tuh sebenarnya ada rasa sama kamu ...."


"Kak, tolong deh jangan sotoy ...," tukasnya cepat. Perasaan dari Hongkong, batinnya.


"Eh, An, gini-gini tuh aku nggak kalah sama pakar ekspresi yang sering nongol di tv. Tatapan Pak Galas tuh menyiratkan cinta, kasih, sayang ...."


Gayung terkekeh mendengar dan melihat ekspresi konyol rekan satu timnya itu.


"Kak, stop, please ... jangan ngarang."


"Taruhan yuk," tantangnya.


"Taruhan lagi? Yang kemarin aja belum tahu siapa yang menang lho Kak." Gayung mengingatkan.


"Iya juga, kok lama banget belum ada pengumunannya yah."


"Pak Galasnya bingung kali, soalnya semua cantik-cantik sih," tebak Gayung sekenanya dan memang itu yang dipikirkannya.


"Bukan, Pak Galasnya bingung soalnya dia maunya kamu tapi kamunya nggak ikutan," tebak Sasya dengan jitunya, senyum jahil ia lemparkan untuk menggoda Gayung.


"Ih, mana ada begitu, Kak ... apalah aku yang cuma remahan rengginang ini." Gayung berbicara dengan rendah diri. Ia tahu semua yang ikut interview kemarin kesemuanya merupakan dewinya kantor ini. Bahkan ada yang sampai memutuskan hubungan dengan pacarnya hanya untuk ikut acara konyol itu.


"Ya ampun, jangan rendah diri gitu dong, kamu tuh cantik Say."


"Aduh ,Kak, jangan bilang cantik, malu kan sama kecoak kantor."


"Hihi, kecoak kantor ... ada-ada aja kamu." Sasya terkikik sekaligus geli melirik telepon didepannya yang didalamnya menjadi sarang berkembang biak anak- anak makhluk menjijikkan itu. Meskipun sudah dibersihkan rutin setiap minggu tapi tetap saja spesies itu tidak mengalami kepunahan dan malah semakin berkembang biak tanpa bisa dicegah.


Gayung ikut terkikik dengan ucapannya sendiri. Tangannya dengan lincah menggerakkan mouse membuka pesan wechat yang terhubung pada laptopnya.


Nomor baru ...


[ Hai koki payah, kerja! Jangan ngobrol terus, ingat, aku sudah berbaik hati menaikkan gajimu ... ]

__ADS_1


Gayung mencebikkan bibirnya membaca pesan tersebut. Tanpa menyebutkan namanya pun, Gayung sudah tahu siapa pengirim pesan tersebut. Jemarinya mulai mengetikkan balasan.


[Siap Bos pemakan tahu putih!!!]


Gayung melipat bibirnya menahan tawa geli, membaca pesannya sendiri yang baru saja ia send ke Galas.


[ Cih, panggilan macam apa itu Bocah jelek? ]


Gayung kembali mencebikkan bibirnya membaca pesan baru dari Galas. Entah kenapa, ia tak merasa tersinggung jika Galas yang memanggilnya begitu. Ia malah merasa bahwa itu panggilan kesayangan. Haha ... jangan gila Gayung! Jangan baper! Jangan kemakan omongan Kak Sasya! Teriaknya dalam hati.


[ Panggilan kesayangan ... ]


Gayung membalas asal, ia ingin segera fokus pada pekerjaannya yang sudah melambai-lambai meminta penyelesaian.


Namun gangguan datang lagi menyita kembali konsentrasinya. Jio sudah berdiri menjulang di sampingnya menarik-narik ujung rambutnya. Gayung menepis tangan panjang itu, mengambil tali rambut dari dalam laci dan membentuk kuncir rambut cepol dengan terampilnya.


Kenapa semua orang suka sekali pada rambut ikalnya?


Tring ... tring ... tring ...


Jio sigap mengambil gagang telepon tanpa melihat nomor yang tertera dilayar abu-abu itu.


"Hemm." Suara deheman khas menjadi jawaban diseberang sana. Namun Jio masih saja tak ngeh bahwa itu suara Bosnya.


"Ada apa, Brooo?" tanyanya dengan suara cemprengnya.


"Jio! Kamu tahu tidak etika bertelepon?" Suara penuh penekanan dari seberang sana memiaskan wajah Jio seolah tak teraliri darah sama sekali.


"Maaf, Pak." Suara lirih Jio berbanding terbalik dengan sebelumnya.


"Kamu tahu kantor! Ini tempat untuk bekerja bukan tempat untuk melawak. Kalau mau melawak kamu ke Indosiar saja sana!"


"Maaf, Pak. Saya salah, saya tidak akan mengulanginya lagi." Jio meringis menyesali kebodohannya. Sementara Gayung, Sasya dan Bimo menutup mulut mereka menahan geli yang tak terkira mendengar kekonyolan kepala divisi mereka yang tampak tak berkutik itu.


***


Dinginnya udara pagi dibalik gerimis yang masih setia bergemericik diluar sana tak menyurutkan semangat Gayung untuk bersiap bekerja. Ia bahkan rela bangun lebih awal untuk mencatok rambut panjangnya agar lebih lurus dan menambah kadar kecantikkannya. Berbicara tentang kecantikkan, sebenarnya Gayung tidak sepercaya diri itu untuk memuji diri sendiri. Hanya saja rambut lurus akhir-akhir ini membuatnya lebih percaya diri saat berhadapan dengan Galas, di meja makan, saat makan siang. Meskipun ia tak benar-benar membuatnya lurus mulus seperti jalan tol tapi hanya mengurangi kelokannya saja.

__ADS_1


Galas telah mengumumkan bahwa tidak ada yang terpilih dalam seleksi pencarian calon istri idamannya dikantor. Entah kenapa ia merasa lega dan berharap memiliki kesempatan untuk menjadi wanita yang beruntung itu. Kadang ia menertawakan kebodohannya itu, karena jelas-jelas ia membaca sendiri seperti apa wanita yang diinginkan Galas. Dan Hampir semua kriteria itu tak ada pada dirinya. Tapi siapa yang bisa mengendalikan hatinya yang bodoh ini.


Celotehan Sasya mengenai tatapan cinta Galas membuatnya termakan juga. Belum lagi sikap Galas yang ... sebenarnya tidak ada yang spesial. Bos tampannya itu selalu mempertahankan wajah coolnya yang angkuh dan berkuasa. Tapi dibandingkan dengan karyawan lain, Gayung merasa lebih diperhatikan. Baik di meja makan, ruang kerja atau di wechat. Meskipun semua yang keluar dari mulut Galas maupun ketikan pesannya tidak ada kata-kata manis dan hanyalah kata-kata tegas, penuh perintah dan tak suka dibantah, kadang malah ejekan. Tapi itu semua sudah membuatnya merasa diperhatikan dan baper setengah mati. Dasar hati yang aneh! Ia merutuki dirinya sendiri.


Tapi untung saja ia masih bisa mengendalikan dirinya, baik sikap maupun ekspresi, ia jaga agar tak memperlihatkan ketertarikkan yang kentara. Trauma akan masa lalu cukup menghantuinya. Ia takut Galas merasa terganggu jika mengetahui seseorang seperti dirinya memiliki perasaan khusus untuknya. Meskipun Galas baik padanya, bisa saja itu hanyalah karena ia menganggap Gayung teman kecilnya atau teman dari adiknya. Ia tak ingin mengulang kisah yang sama, seperti dulu lagi.


Flasback on [ pov Gayung]


Apakah jatuh cinta itu hanya untuk mereka yang cantik saja?


Tunggu! Aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta atau hanya mengagumi saja. Aku hanya suka melihatnya, memandangnya dari kejauhan. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk menjadi pacarnya, aku sudah cukup senang hanya dengan mengaguminya diam-diam. Aku masih kecil saat itu, masih anak SMP, aku hanya menganggap itu sebagai penyemangatku belajar di sekolah.


Namun tanpa aku tahu, justru karena itulah aku terpuruk dan aku benci sekali dengan sekolah.


Adi, nama laki-laki itu. Aku sering melihatnya diam-diam. Aku pikir ia tidak akan mempermasalahkan hal itu. Namun ternyata aku salah, ia menceritakan hal itu pada teman-temannya. Membuatnya jadi bahan candaan dan menertawakan perasaan bodohku. Aku menjadi bahan bulian teman-teman sekelas.


Yah, aku yang culun dan miskin dimata mereka tak pantas untuk hanya sekedar mengagumi. Adi bukan murid populer disekolah, ia hanya murid biasa yang berprestasi dibidang olahraga. Ia tidak kaya, wajahnya pun masih standar bukan yang termasuk tampan luar biasa. Tapi dia yang biasa saja menolakku? Apakah aku semenjijikkan itu?


Aku menangis, setiap hari aku menangis. Bukan karena Adi tak menyukaiku tapi sikapnya juga teman-temannya kepadaku.


Pernah suatu ketika, salah satu teman wanitanya menatapku dengan tatapan sinis luar biasa hanya karena aku datang les ke sekolah dengan kaos yang sama setiap waktu dan juga sandal jepit yang ku pakai pada kakiku, juga tas selempangku yang usang. Mereka menertawakan kemiskinanku!


Orang tuaku tidak mampu membelikanku baju, sandal ataupun tas seperti yang lain waktu itu. Bapakku dukun yang belum seterkenal sekarang, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Mereka sering sekali bertengkar waktu itu. Dan aku? Aku sendiri tanpa ada tempat bercerita. Ada Inge sahabatku tapi aku malu untuk menceritakan kepadanya.


Setiap pagi, aku menangis. Aku tidak ingin pergi ke sekolah. Aku benci sekolah! Aku benci teman-teman sekelasku. Mereka menganggapku aneh hanya karena menyukai teman sekelasku. Aku sering ketakutan saat ada kerjasama kelompok, karena tak ada yang mau satu kelompok denganku. Aku terasing!


Saat ada PR yang sulit mereka kadang mencariku, tapi ketika jawabanku salah mereka mengataiku. Padahal aku sudah bilang aku tidak tahu jawabanku salah atau benar.


Cobaan tak hanya datang dari teman sekelasku tapi juga guruku, ia satu kampung denganku. Beliau juga menorehkan luka dalam perjalanan SMP ku. Merenggut keceriaanku sebelumnya. Semua anak yang sepantaran denganku dikampungku masuk kelas unggulan, kelas A. Sementara aku terdampar di kelas C. Aku tidak pintar tapi juga tidak bodoh. Tidak tahu apa alasannya, beliau pun sering menghinaku dikelas, membanding-bandingkanku dengan teman sekampungku yang lain. Aku tidak tahu, apakah itu aib hanya karena aku tidak sepandai mereka?


Lengkap sudah deritaku. Hidupku berubah, hanya karena aku ketahuan menyukai teman sekelasku. Aku sendiri, aku punya Inge tapi ia tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku selalu kembali ceria saat aku bersamanya. Hanya saat bersamanya. Terima kasih, sahabatku ...


Tapi ternyata Tuhan masih baik denganku. Di tengah deraan coba, prestasi akademikku meningkat. Aku menjadi juara kelas, di kelas C. Tak mengapa, aku puas, aku kuat, dan akan selalu kuat sampai kelulusan. Sekolah yang menyeramkan ini akan segera aku tinggalkan. Aku akan mengembalikan lagi keceriaanku saat SMA nanti dan akan mencari banyak teman di sana. Itu tekadku.


Aku lulus! Dan masuk 50 besar di sekolahku. Aku bahagia, sungguh sangat bahagia sekali. Aku melanjutkan sekolahku di sekolah swasta terdekat dari rumah. Orang tuaku hanya mampu menyekolahkanku disana. Sekolah SMK swasta yang murah, lebih murah dari sekolah SMA negeri.


Sayangnya bahagiaku tak berlangsung lama ... aku bertemu lagi beberapa dari mereka di sekolahku yang baru. Mereka masih saja memandangku aneh, menertawakanku, berbisik ria saat melihatku. Setidaknya tidak seekstrim dulu. Aku masih sanggup bertahan, dan kehadiran sahabat baruku yang baik hati menguatkanku. Saat cobaan berikutnya datang, kedua orang tuaku bercerai. Maria, selalu ada bersamaku, menghiburku. Meskipun kami berbeda keyakinan, tapi itu tidak menjadi penghalang persahabatan kami. Aku kuat karena ada dirinya, karena sahabatku.

__ADS_1


Setelah bercerai, ibu merantau ke negeri seberang atas ajakan temannya. Ibu memang sudah lama ingin ke sana, Namun Bapakku tak mengijinkannya. Setelah berpisah, ibu merealisasikan keinginannya.


Bersambung ....


__ADS_2