
Udara begitu dingin pagi itu, hingga rasanya menusuk sampai ke tulang belulang. Itulah sebabnya Gayung memilih kembali menarik selimut tebalnya sehabis solat subuh tadi. Apalagi matanya memang masih terasa sangat berat dan tidur setelah subuh diudara yang sedingin ini memang godaan yang menggiurkan.
"Yung, tidur lagi nih, anak perawan Ibu." Dian membuka pintu kamar Gayung. Dilihatnya putri kesayanganya itu tengah meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan sampai kepalanya pun tak terlihat.
"Ya Allah, begini nih yang katanya mau merried. Nanti kalau dirumah mertua bagaimana, habis subuh tidur lagi." Dian tertawa geli melihat kelakuan anak gadisnya. Namun Gayung tak merespon ataupun bergeming dari posisinya.
"Katanya mau ke pasar." Dian mengingatkan Gayung akan rencana mereka semalam.
"Gayung ngantuk, nanti aja ya, Bu, ke pasarnya," jawab Gayung dari balik selimutnya.
"Ya, sudah. Kamu mau dibuatin sarapan apa?" Dian akhirnya mengalah.
"Nasi goreng," lirih Gayung. Dian hanya tersenyum tipis, kemudian berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Hari beranjak siang, jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Namun Gayung masih tidur dengan pulas didalam kamarnya. Ia mulai kembali dengan kebiasaan lamanya saat sekolah dulu. Jika libur sekolah, ia bisa betah menghabiskan waktunya hanya untuk tidur seharian. Tanpa merasa lapar ataupun haus. Ia hanya bangun sebentar untuk solat, itupun harus dibangunkan paksa oleh Bapaknya. Kemudian ia akan melanjutkan tidurnya sampai sore hari. Ia bangun hanya untuk mandi, makan dan solat. Lalu setelahnya ia akan tidur lagi sampai pagi. Bapaknya saja sampai heran dengan kekuatan tidur anaknya.
Thok ... Thok ... Thok ...
Suara pintu yang diketuk berulang-ulang pun sama sekali tak mengganggu lelap tidurnya.
"Masuk aja, kebo dia kalau sudah tidur," ucap Dian pada seseorang yang mengetuk pintu itu.
Terdengar suara pintu yang dibuka perlahan. Laki-laki itu menyunggingkan senyumnya menyaksikan gaya tidur kekasihnya yang melintang memenuhi tempat tidurnya. Ia berjalan mendekat kemudian mendudukkan dirinya disisi ranjang. Menatap wajah polos kekasihnya yang sesiang ini masih asyik bergelung dalam buaian mimpi.
"Sayang," bisiknya tepat ditelinga Gayung. Ia menatap wajah yang begitu damai itu, menunggu reaksi Gayung. Namun setelah ditunggu-tunggu tak ada respon sama sekali. Ia kembali berbisik sembari menepuk lembut pipi Gayung.
"Sayang, ayo bangun." Kali ini Gayung sedikit menggeliatkan tubuhnya, tapi matanya masih terpejam. Ia hanya berganti posisi saja. Lalu kembali meneruskan tidurnya. Galas benar-benar dibuat gemas melihatnya. Tanpa sadar, ia sudah menciumi wajah Gayung. Padahal ia sedang dirumah calon mertuanya, dan pintu kamar juga sedikit terbuka, otomatis tingkahnya bisa disaksikan seseorang diluar sana jika kebetulan ada yang lewat.
"Sayang, ayo bangun." Bisik Galas lagi tepat ditelinga Gayung.
Kali ini ucapannya berhasil membuat gadis itu membuka mata, meski masih setengah sadar.
Mata sipit itu mengerjap berulang-ulang menatap sosok yang selalu ia rindukan tengah berada dihadapannya kini. Ia mengira saat ini ia masih dalam dunia mimpi.
"Kak Galas ... aku kangen," ucapnya dengan suara seraknya khas bangun tidur, tangannya terulur membelai wajah Galas yang nampak tersenyum kepadanya.
"Kalau kangen, ayo cepat bangun. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Galas sendu.
"Kemana?" tanya Gayung yang masih setengah sadar.
"Ke KUA," jawab Galas masih dengan senyum khasnya yang menghadirkan lesung dikedua pipinya.
"KUA? Buat apa?" tanya Gayung dengan raut wajah polosnya yang masih merasa kalau saat ini ia masih dialam mimpi.
"Mengurus pernikahan kita," jawab Galas masih dengan wajahnya yang sedikit pucat. Karena memang ia belum sehat sepenuhnya.
"Pernikahan?" Gayung mengerjap bingung." Siapa yang mau nikah?"
"Kita, Sayang." Galas membelai lembut pipi Gayung. Gadis itu tersenyum manis, membalikkan tubuhnya lalu kembali tidur dengan pulasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Galas yang berharap kekasihnya itu akan bereaksi bahagia dengan senyumnya yang malu-malu seperti biasa kemudian memeluknya, tercenung seketika ditempatnya.
"Sayang." Ia menepuk kembali pipi Gayung. Berharap kekasihnya itu segera tersadar dari tidurnya yang sudah melewati batas itu.
__ADS_1
"Belum bangun juga, ya?" Dian menghampiri sembari tertawa geli. Galas menoleh salah tingkah, ia tidak menyadari kehadiran calon mertuanya itu dikamar Gayung.
"Belum, Bu," jawab Galas sedikit kikuk sembari memikirkan apakah Ibu Gayung melihatnya menciumi anaknya tadi.
"Sudah, kamu makan siang dulu sana sama Bapak dan Ayahnya Gayung," ucap Dian. Galas pun terpaksa bangkit dari duduknya.
"Eh, muka kamu sedikit pucat? Sakitkah?" tanyanya dengan logat campuran.
"Tidak, Bu. Hanya sedikit kecapekan saja," jawab Galas berbohong. Ia tak mau membuat semua orang khawatir dan menyuruhnya menunda rencananya. Padahal ia sudah menunggu hari ini datang.
"Ya, sudah kamu ke belakang sana. Biar Ibu yang bangunin Gayung. Memang ampun, nih anak gadis Ibu. Sudah mau merried kebiasaan buruknya nggak ilang-ilang." Dian menepuk pantat Gayung beberapa kali untuk membangunkan. Namun tetap saja, Gayung tak bereaksi apapun. Membuat Galas yang hampir saja meninggalkan kamar tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya singkat.
***
Setelah susah payah Dian berusaha membangunkan putrinya itu. Akhirnya Gayung terbangun juga. Ia berjalan gontai dengan muka bantalnya, keluar dari kamar.
Terdengar jelas teriakan ibunya yang menyuruhnya untuk segera mandi. Karena akan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
"Gayung, buruan mandi. Sudah siang ini keburu tutup kantornya!"
"Iya." Gayung mengiyakan saja tanpa bertanya kantor apa yang dimaksud Ibunya. Namun kata iya yang keluar dari bibirnya hanya sekedar kata saja. Ia malah menghampiri kulkas, mengambil sebatang coklat lalu memakannya di ruang tengah sembari menonton acara gosip. Ia masih belum sadar bahwa Galas berada dirumahnya. Karena ia mengira ia tadi hanya bermimpi saja.
"Ya ampun, Gayung. Katanya iya mau mandi, kok malah nonton TV," seru Dian dengan nada meninggi namun ekspresinya seperti menahan senyum.
"Iya, ini Gayung mau mandi." Gayung menjawab santai sembari memakan coklat terakhirnya.
"Buruan. Sudah siang ini, kamu mau nikah nggak sih?"
"Lha ini, Ibu mau ngajakin kamu ke KUA buat urus pernikahan kamu," jelas Dian geli.
"Pernikahan aku? Sama siapa? Ibu jodohin aku?" Gayung mendongak kaget. Ia paling anti dijodoh-jodohkan.
"Iya. Biar kamu dewasa dikitlah. Sudah besar juga, jam segini baru bangun," akting Dian dengan apiknya. Galas melipat bibirnya menahan tawanya yang hampir saja meledak melihat tingkah calon istrinya itu.
"Ih, Gayung nggak maulah dijodoh-jodohin." Gayung memasang wajah cemberut.
"Yakiiinnn nggak mau Ibu jodohkan ...," ledek Dian dengan suaranya yang membahana.
"Yakinlah, lagian apa sih. Kaya Gayung nggak laku aja," sungutnya.
"Emang kamu laku?" Dian terus menggodanya.
"Lakulah."
"Buktinya mana, kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya pacar sama Ibu."
"Gayung belum sempat aja." Gayung mencari alasan.
"Memangnya siapa pacar kamu?" Dian duduk disamping Gayung sembari melirik sekilas pada Galas yang tengah menahan senyumnya.
"Adalaaah." Gayung belum mau bercerita.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau cerita, Ibu bakal jodohin kamu beneran loh."
"Ishh ... Ibu. Gayung nggak mau, ah."
"Ya udah, kasih tahu Ibu makanya. Siapa?
"Tetangga kita," jawab Gayung akhirnya, dengan malu-malu.
"Tetangga kita yang mana? Tetangga kita, kan banyak, Yung."
"Yang paling ganteng," jawab Gayung seraya mengedipkan mata sipitnya.
"Idih ... genitnya. Siapa namanya? Galas bukan?" Dian pura-pura menebak.
"Kok Ibu tahu? Dari Bapak, ya?"
"Ya tahulah. Kan Ibu juga mau jodohin kamu sama dia," ucap Dian geli.
"Ibu mau jodohin aku sama Kak Galas?" tanya Gayung dengan muka bodohnya.
"Iya. Kamu nggak mau?"
"Kalau sama Kak Galas, Gayung mauuu," jawab Gayung dengan wajah sumringah.
"Ya, sudah makanya buruan mandi, keburu KUA tutup."
"Ih, Ibu beneran nggak, sih? Kak Galas belum ada bilang mau nikahin aku." Gayung terlihat bingung dengan ibunya yang terus memintanya bersiap.
"Ya, beneran. Daripada lama-lama pacaran malah bikin fitnah mending nikah aja. Ya, kan Galas?" Dian menoleh ke arah Galas berdiri tepat dibelakang sofa yang Gayung duduki. Gayung yang melihat Ibunya seperti mengajak bicara seseorang langsung menoleh ke belakangnya. Namun belum sepenuhnya menoleh, matanya ditutup oleh telapak tangan besar seseorang dan Gayung sangat mengenali tangan itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Rasa malu langsung menyeruak membuahkan semburat merah tomat pada pipinya. Ingin rasanya ia masuk ke dalam perut bumi dan bersembunyi disana untuk sementara waktu. Namun pada kenyataannya, ia tak mungkin melakukan itu ataupun memutar waktu dan merevisi sikap dan kata-katanya.
"Hahahaha ... ," tawa Dian meledak juga hingga terdengar sampai ke depan rumah. Dimana suami dan mantan suaminya tengah mengobrol didepan bersama beberapa tetangga juga.
"Ade ape nih?" Ayah Gayung penasaran mendengar tawa istrinya yang membahana.
"Ini, anak gadis Abang. Di suruh siap-siap mau dikawinin malah nonton TV," adu Dian pada suaminya.
"Woy, cepat mandilah. Mau kawin tak?" goda Fauzan. Gayung menarik tangan Galas yang menutup matanya. Rona merah tergambar jelas disana. Ia mendongak ke atas dan menemukan Galas yang sepertinya tengah menertawainya.
"Ini beneran nggak, sih?" tanya Gayung masih mimik mukanya yang kebingungan.
"Iya. Tapi kita menikahnya besok bukan sekarang," jawab Galas lembut sembari duduk disamping calon istrinya yang memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Hari ini kamu sama Galas ke KUA untuk pemeriksaan data juga nanti ada nasihat pernikahan, sama pemeriksaan kesehatan," jelas Dian. "Makanya buruan sana siap-siap. Sudah siang ini ...." imbuhnya.
Gayung menoleh malu-malu pada Galas yang duduk disampingnya. Ia masih tidak percaya, sebentar lagi ia akan menikah dengan laki-laki yang begitu dicintainya itu. Ingin rasanya berjingkrak-jingkrak sekarang mengungkapkan rasa bahagianya. Tapi ia masih punya rasa malu untuk melakukan itu. Hingga akhirnya yang ia lakukan hanyalah membenamkan wajahnya pada dada bidang calon suaminya. Tak peduli bahwa disana ada Ibu juga Ayah tirinya.
"Hei ... Mesra-mesraannya besok, Sayang. Belum sah ...," goda Dian, dalam hatinya ia pun turut berbahagia untuk putrinya. Rasanya baru kemarin, ia mengantarkan Gayung ke sekolah. Sekarang anak gadisnya sudah mau diambil orang saja.
***
Jangan lupa like & komen ...
__ADS_1