
Gayung menatap wanita yang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang itu. Rasa iba menghampirinya, ia tak menyangka kondisi wanita itu begitu memprihatinkan seperti ini. Tubuhnya mengurus dengan perut yang membesar, wajahnya pucat dan seolah tak memiliki semangat hidup lagi.
Wajah galak itu tak ada lagi, malah ia berusaha melemparkan senyum kepadanya. Tiada lagi kecemburuan, yang Gayung rasakan kini hanyalah sebuah rasa peduli, ingin membantu, memberikan semangat agar wanita itu bangkit dari segala keterpurukannya dan meyakinkannya bahwa pertolongan Tuhan pasti akan datang.
"Bagaimana keadaan kamu?" Galaslah yang bertanya, Gayung begitu tidak tega menyaksikan kondisi Tiara yang diluar perkiraannya.
Tiara tak menjawab, hanya air matanya yang menjelaskan apa yang ia rasakan kini.
"Gayung ...," ucap Tiara, menatap pada Gayung yang duduk disampingnya.
"Iya?" tanya Gayung lirih.
"Aku ... minta maaf sama kamu." Air matanya semakin merembes keluar. Gayung mengangguk cepat tanpa berpikir lagi. Ia sudah memaafkan wanita itu.
"Aku titip anak aku." Tangannya bergerak perlahan mengelus perutnya dengan air mata yang terus berderai.
"Mbak, jangan bilang begitu. Mbak Tiara pasti sembuh." Gayung mengambil tangan kurus itu, menggenggamnya erat demi menguatkan hati wanita yang tampak sangat berputus asa itu.
"Aku sudah tidak kuat lagi," ucapnya lemah. Hati Gayung ikut teriris seolah merasakan apa yang Tiara rasakan kini. Hal Itu mengingatkannya, saat dulu ia masih sekolah dan membantu ayahnya menerima pasien dirumah.
"Kamu harus kuat Tiara." Galas ikut menguatkan sahabatnya itu. Namun hanya gelengan yang menjadi jawaban betapa putus asanya ia kini.
Gayung menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ijin keluar ruangan pada suaminya.
"Kemana?" tanya Galas.
"Sebentar, kamu tunggu disini." Gayung tersenyum sekilas, kemudian terburu keluar. Galas menatapnya keheranan namun ia akhir mengikuti kemauan istrinya untuk tetap menemani Tiara.
"Halo, Pak." Gayung menghubungi Bapaknya kembali.
"Hemm. Iya kenapa, Nduk?"
"Pak, aku mau tanya sesuatu ... temanku yang tadi ... masih bisa sembuh, kan?" Gayung was-was. Bapaknya memang bukan Tuhan yang bisa melakukan segala hal. Tapi sejauh yang ia ketahui selama ini, ketika Bapaknya mengatakan pasiennya akan sembuh namun dengan "persyaratan" yang harus dipatuhi, Inshallah kesembuhan itu akan menghampiri. Meskipun melalui proses yang begitu panjang.
"Inshallah ... memangnya kenapa?"
"Kondisinya memprihatinkan sekali, Pak. Aku nggak tega lihatnya."
"Ya jelas to, Nduk. Rasanya nggak karuam itu ... panas, perih, linu sampai ke kaki-kakinya sampai ndak bisa jalan to dia, ditambah sedang hamil besar ...."
Gayung terdiam, sudah tidak kaget lagi. Ia sudah terbiasa melihat Bapaknya menyebutkan apa yang pasiennya rasakan hanya dengan melihat fotonya saja.
__ADS_1
"Jadi gimana, Pak?"
"Teman kamu mau diobatin Bapak nggak, kalau mau Bapak usahakan kesana berangkat besok pagi."
"Ya sudah, aku ngomong dulu sama temanku, Pak."
"Iya. Bilangin sama teman kamu, sudah ... ndak usah takut, ndak usah berputus asa. Percaya sama Gusti Allah, pertolongan pasti akan datang. Yang penting satu, jangan tinggalkan solat ... berdoa sama Allah meminta pertolongan, perlindungan-Nya. Inshallah, bisa sembuh ...."
Gayung mengangguk-angguk, seolah Bapaknya tahu apa yang dilakukannya.
Setelah mengakhiri sambungan telefon, Gayung kembali ke ruangan tempat Tiara dirawat. Keduanya menatapnya seolah bertanya apa yang sedang dilakukannya diluar tadi. Namun Gayung enggan menjelaskan dan lebih memilih menghampiri Tiara, duduk kembali disamping wanita itu.
"Mbak, kamu mau sembuh?" tanya Gayung sembari menggenggam tangan kurus itu.
Tiara mengangguk sebagai jawaban.
"Mau coba pengobatan lain selain medis?" Tiara mengangguk lagi.
"Apa saja, Gay. Dokter juga sudah angkat tangan sebenarnya ... aku bingung sebenarnya aku itu sakit apa," ucapnya lemah.
"Kalau gitu Mbak Tiara harus semangat. Harus berjuang melawan sakit yang Mbak rasakan, jangan putus asa. Mbak harus yakin, Allah pasti akan memberi pertolongan." Tiara terdiam, tak menyangka orang yang selama ini dibencinya akan menguatkannya seperti ini. Ada rasa malu yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya, mengingat sikapnya pada istri sahabatnya itu.
"Mbak Tiara nggak sendiri, aku sama Kak Galas akan selalu disamping Mbak," lanjut Gayung lagi. Tiara tersenyum, memandang Galas yang juga tersenyum, duduk dibelakang Gayung. Seolah mengatakan bahwa sahabatnya itu tak salah memilih Gayung sebagai istrinya.
Gayung beralih memandang suaminya yang menunggunya bicara.
"Aku tadi ada tanya sama Bapak. Menurutnya, penyakit Mbak Tiara itu bukan penyakit medis." Gayung lirih berucap. Suaminya itu cukup terkesiap dengan penjelasan singkatnya.
"Maksudnya?"
"Meskipun sulit dipercaya tapi hal seperti ini memang ada ...."
Galas mengangguk. "Aku tahu dan aku percaya ...," ucap Galas. Sebenarnya ia juga sempat menawarkan pada Tiara untuk berobat ke ayah mertuanya. Namun kala itu, Tiara menolak dan memilih ke Singapura.
"Maksud kamu apa, Gay?" Meskipun lirih, tapi Tiara masih bisa mendengarnya. "Maksud kamu aku kena semacan guna-guna, atau san-tet begitu ...? Terus ... anak aku gimana?" Tiara cemas.
Walaupun awalnya ia tak menginginkan anak dalam perutnya. Bahkan sempat terfikir untuk melakukan aborsi namun seiring berjalannya waktu, rasa sayang itu tumbuh dalam dirinya. Bayi itu tak bersalah, ia yang lalai dan berdosa hingga semuanya terjadi.
Jikalaupun nanti terjadi sesuatu pada dirinya, ia ingin anaknya tetap hidup. Karena dokter mengatakan pertumbuhan bayi dalam kandungannya baik-baik saja dan tidak ada masalah.
"Bapakku inshallah bisa membantu Mbak Tiara, itu juga kalau Mbak Tiara mau ...," ucap Gayung hati-hati.
__ADS_1
"Aku mau, asalkan bisa sembuh ... aku mau Gay."
"Kita pasrahkan semua kepada Allah, Mbak. Manusia berusaha Tuhan yang menentukan. Yang penting Mbak Tiara jangan lupa solat juga berdoa, meminta kesembuhan."
"Iya."
"Mbak harus semangat, yakin Mbak bisa sembuh. Jangan putus asa, ya ...."
Tiara mengangguk lagi. Entah kenapa, setiap kalimat yang keluar dari bibir Gayung seperti memompa semangatnya kembali.
"Aku malu sama kamu, Gay. Selama ini sikapku ke kamu sudah keterlaluan ...."
"Udah, nggak usah dibahas lagi. Mbak fokus aja untuk sembuh juga untuk bayi dalam kandungan Mbak. Besok Bapakku berangkat ke sini ...."
"Makasih ya kalian sudah peduli sama aku."
Gayung dan Galas mengangguk dengan senyum tulus mereka.
"Kamu sudah makan?" tanya Galas, melirik makanan dimeja yang masih sisa separuhnya.
"Sedikit." Sebenarnya nafsu makannya normal, namun kadang karena rasa sakit juga ketakutan yang menghinggapinya. Ia menjadi malas untuk makan.
"Kamu harus makan yang banyak, istriku saja sekarang sebentar-sebentar merasa lapar ... iya, kan Sayang?" Galas merangkul pundak istrinya yang duduk didepannya.
"Mungkin karena makanan Rumah Sakit nggak enak, Kak. Mbak Tiara mau makan yang lain ...?" Gayung mencoba menawari.
"Kalian jangan terlalu mesra, nanti aku iri ...," chanda Tiara.
"Makanya kamu harus sembuh Tiara dan menemukan suami yang baik, setia sepertiku." Galas meladeni candhaan Tiara, melirik pada istrinya yang mengulum senyumnya malu-malu.
"Iya. Aku pasti sembuh dan menemukan suami yang lebih bucin dari kamu," ucapnya dengan senyum dibibir pucatnya. Galas dan Gayung menanggapinya dengan tawa.
Malam itu, mereka memilih menginap di Rumah Sakit. Awalnya Galas tak mengizinkan istrinya untuk menginap, namun Tiara ikut menahannya untuk tinggal sehingga ia memilih mengalah dan menuruti keinginan dua wanita yang sama-sama berbadan dua itu.
***
Jangan lupa
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Menuju end ... ikuti terus ya ... ❤❤❤