Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
38. Kesedihan Nurma


__ADS_3

Setelah mengantarkan Nur pada kamarnya, Nurma pun menghampiri suaminya yang sudah berada di kamar mereka.


"Pi..." panggilnya


"Iya mi.." balas Rahman


"Pi, momy melihat Nur seperti teringat anak kita yang dulu hilang pi" ujarnya


"Seandainya anak kita tidak hilang pi, dia pasti sudah seusia Nur pi, meski mungkin ia sekarang masih duduk di sekolah menengah pertama atau SMA pi" ujar Nurma sembari bersandar di bahu suaminya dan dengan menitikkan air mata


"Maafkan papi ya mom, papi belum bisa menemukan anak kita, papi janji akan terus mencarinya mom" balas Rahman dengan mengusap pundak istrinya


"Iya pi, momy percaya sama papi. Dan mudahan anak kita masih hidup pi, momy sangat merindukannya" ucap Nurma sembari masih menangis


Flasback


Saat itu usia kandungan Nurma sudah memasuki semester 3, dan ia merasakan sakit pada bagian perutnya.


"Pi... papi..." panggilnya


"Iya mi... astaghfirullah darah mi" balas Rahman setelah melihat darah pada pangkal kaki istrinya dan tak lama ia menyambar kunci mobil dan menggendong istrinya ke mobil untuk menuju rumah sakit


Sesampainya dirumah sakit ia pun meminta bantuan kepada suster yang disana.


"Sus... sus.. suster..."

__ADS_1


"Tolong istri saya" ujar Rahman dan disambut oleh suster serta beberapa pegawai rumah sakit disana, Nurma pun dibawa masuk ke sebuah ruangan untuk operasi, karena Nurma sudah banyak kehilangan darah.


"Pak, silakan tunggu diluar, kami akan menangani pasien" ujar seorang dokter


1 jam berlalu namun belum ada tanda-tanda tangisan bayi


hingga 2 jam berlalu baru terdengar suara bayi


Ooeeek...ooeeek...


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas segala nikmat Mu" ucap syukur Rahman


Keluarlah dokter yang menangani istrinya, ia pun menghampirinya


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanyanya


Tanpa menunggu Rahman pun menghampiri istrinya, ia melihat istrinya yang tidak berdaya itu.


"Terimakasih sudah melahirkan malaikat kecil untuk kita sayang" ucapnya sembari mencium kening istrinya


Setelah itu datang suster menbawa anaknya


"Selamat pak, anak bapak prempuan, silakan diadzani dulu" ujar suster itu sembari memberikan putri kecilnya dan Rahman pun menyambutnya dengan antusias dan segera mengadzaninya


"Sayang, lihatlah putri kecil kita, ia cantik sepertimu, segera lah bangun sayang" ujar Rahman sembari melihatkan putri kecilnya kepada istrinya itu

__ADS_1


2 hari istrinya tak kunjung sadarkan diri. Dan pada saat iya sedang menjaga istrinya, tiba-tiba salah satu suster mengabarinya bahwa anak nya hilang dibawa oleh dokter yang telah membantu istrinya melahirkan itu.


"Maaf pak, anak bapak hilang dibawa oleh dokter yang menangani istri bapak kemarin" ujar suster


"Apa sus? tidak, tidak mungkin" ujar Rahman tak percaya, dan ia pun segera berlari keluar untuk mencari anaknya namun hanya sepintas mobil yang melesat dengan cepat


"Anakku bagaimana ini?" ucapnya frustasi.


Dengan segera ia menghubungi orang kepercayaannya untuk membantu menyusul orang yang membawa putri kecilnya itu, tak luput ia pun melaporkan pada pihak yang berwajib.


Namun, saat ia hendak menaiki mobilnya, tiba-tiba ia mendapatkan kabar bahwa istrinya telah siuman.


Rahman pun segera menghampiri istrinya itu.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga" ucap Rahman dengan mencium kening istrinya


"Pi, dimana anak kita pi?" tanya Nurma


"Maaf mom, anak kita..." balasnya menggantung


"Anak kita kenapa pi?" balas Nurma penasaran


"Anak kita diculik mi, maafin papi" balasnya lagi


"Tidak pi.. tidak mungkin.." ujar Nurma frustasi dan menangis histeris tidak percaya bahwa anaknya menghilang, sedangkan ia belum melihat anaknya

__ADS_1


"Papi janji akan mencarinya mi" ujar Rahman menenangkan istrinya


__ADS_2