
"Kak Zalwa ayo katanya mau melukis" ujar Fatih membuyarkan suasana haru itu
"Ah iya ayo, kami duluan ya ke empat orang tua yang kami sayangi" ujar Nur berpamitan seraya mencium tangan ke empat nya
Ke empat orang tua itu pun tak lama berlalu pergi
"Apakah kalian tidak ingin tinggal disini saja bersama kami?" tanya Rahman
"Tidak usah pak, kami harus kembali, kasihan Fatih 2 hari lagi ia akan ujian sekolah, dan butik milih Zalwa juga harus kami urus, sayang sekali kan jika butik yang telah didirikan oleh putri kita terbengkalai begitu saja" balas Furqon
"Ya benar adanya, tapi jika kalian ada waktu sering-seringlah kemari, kami pasti merindukan kalian"
"Ya kami akan usahan, begitu pun sebaliknya" balas Furqon
"Jadi jam berapa mas Furqon dan mbak Laili akan berangkatnya?" tanya Nurma
"Besok penerbangan pagi saja bu Nurma, karena kami butuh istirahat juga bu" balas Laili
"Apakah tidak terlalu cepat? rasanya saya masih ingin bersama kalian, dengan adanya kalian, keluarga kami terasa ramai dan bersuara" balas Nurma
Sementara dirumah sakit, tepatnya di sebuah taman
"Wah kak, lukisannya sungguh indah, meski belum sepenuhnya selesai" puji Fatih
__ADS_1
"Benarkah? padahal kakak sudah lama tidak melukis" balas Zalwa dengan masih menempelkan kuasnya pada kertas didepannya itu
"Iya kak, bahkan ini sudah hampir sempurna menurutku kak" balas Fatih
"Ah kau ini dek, selalu memuji kakak, kakak kan bisa terbang nanti" balas Zalwa dengan terkekeh
"Setelah selesai ini, kakak lukis aku ya kak, bisa kan? kali ini saja, kapan lagi coba aku dilukis" pinta Fatih
"Baiklah ini juga sudah selesai, ayo kamu bantu kakak untuk mengganti kertasnya, setelah itu kau duduk di kursi taman itu ya, kakak akan melukis wajah yang biasa saja ini" ujar Zalwa meledek
"Huft... kakak ini kapan memujiku ku, padahal aku tiap hari memujimu kak, tapi balasannya selalu ejekan melulu" balas Fatih kesal, namun masih menuruti apa yang diperintakan oleh kakaknya itu
Setelahnya Fatih duduk di salah satu kursi ditaman dengan menghadap ke arah kakaknya itu, dengan perlahan dan penuh penghayatan, Zalwa pun melukis wajah adiknya itu
"Sudah dek, kemarilah" pinta Zalwa
"Wah wajahku memang tampan ya kak, aku bolehkan bawa ini pulang nanti, akan aku tunjukkan ke teman-temanku bahwa aku memang tampan sekalipun dilukisan" ucap Fatih senang
"Hust gak boleh sombong dek, semua itu adalah pemberian dari Allah SWT, jadi kita harus bersyukur atas semuanya" ujar Zalwa memperingatkan
"Ya Allah maafkan aku yang sudah sombong ini" ujar Fatih dengan menengadahkan kedua tangannya
"Sudah ayo antar kakak ke ruangan kakak lagi ,kakak ingin istirahat, agar besok bisa mengantarmu kebandara" ajak Zalwa
__ADS_1
Saat Fatih sedang mengemasi peralatan melukis kakaknya tadi dan hendak pergi, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mungkin cukup lama berdiri tak jauh dari mereka sedang memandangi sebuah lukisan yang Zalwa lukis pertama tadi
"Tunggu..." cegak seseorang itu
"Apakah lukisan ini dijual?" tanya seseorang itu, namun tidak mendapat jawaban
"Ah maksud ku jika dijual, aku akan membelinya" timpalnya lagi namun masih belum mendapatkan jawaban
"Lukisan ini jika laku dijual, pasti harganya cukup tinggi" batin orang itu
"Maaf lukisan itu tidak dijual tuan" balas Zalwa sopan
"Lalu untuk apa kau melukis jika tidak dijual hah?!" timpal seseorang itu dengan geram, karena ia meyakini lukisan itu jika ia jual akan laku dengan harga yang cukup tinggi
"Karena melukis adalah hoby ku" balas Zalwa
"Sudah ayo kak, tinggalkan saja ia, kita juga tidak kenal" balas Fatih dengan mendorong kursi roda kakaknya dan berlalu pergi
"Aku harus mendapatkan lukisan itu, meski dengan harga yang cukup tinggi sekalipun" ujar seseorang itu seraya mengikuti kakak beradik itu
Sesampainya dipintu salah satu ruangan di rumah sakit, Zalwa dan Fatih pun masuk
"Jadi ini ruangan dia dirawat"
__ADS_1
"Baiklah akan aku tanyakan lagi besok" ujarnya dengan berlalu