Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
67. Penyelesaian Masalah


__ADS_3

Keesokan harinya mereka sudah siap untuk berangkat ke kantor tak lupa mereka sarapan terlebih dahulu


"Zalwa nanti kamu pergi bersama kakakmu saja ya sayang, papi sama paman mau menemui klien papa dulu, nanti mungkin agak siangan baru sampai di kantor" ujar Rahman dengan mencium kening istri dan anaknya


"Iya pi, hati-hati ya pi, paman" balas Zalwa


"Iya sayang, kalian juga ya" ujar Rahman dengan berlalu


"Ya sudah ayo dek, kita berangkat, bibi mau sekalian atau bagaimana?" ajak Dito seraya bertanya kepada bibinya


"Antar bibi ke butik Zalwa dulu ya Dit, bisa kan?" tanya Nurma


"Bisa kok bi, ayo" ajak Dito


Sesampainya di depan sebuah butik Zalwa yang tertera tulisan di depan butik itu


"Kenapa butiknya bernama Zalwa mom?" tanya Zalwa


"Karena momy selalu berharap putri momy akan kembali, dan berharap waktu itu nama Zalwa akan mengingatkanmu, namun takdir berkata lain" ujar Nurma menjelaskan


"Ya sudah momy turun dulu ya, kalian hati-hati, dan kami Dit jangan ngebut ya bawa mobilnya"


"Iya tan, kami pamit dulu" ujar Dito seraya meninggalkan bibinya


"Kak Putra kok gak salam dulu tadi ke momy, gak sopan lho kak" ujar Zalwa


"Hehe maafin kakak ya adekku sayang, kakak lupa, nanti kakak akan kasih salam ke setiap orang yang kita jumpai" ujar Dito bercanda


"Bagus itu kak, mengucapkan salam itu hukumnya sunah, jadi tambah pahala buat kakak" balas Zalwa serius


"Kakak bercanda dek"ujar Dito


"Zalwa serius kak"balas Zalwa


Sesampainya di sebuah gedung yang cukup tinggi, mereka pun masuk ke dalamnya


"Z'Sanjaya" ucap Zalwa


"Ayo masuk dek, kenapa bengong?" tanya Dito dengan menarik tangan adiknya


"Eh iya ayo kak" balas Zalwa


"Selamat pagi tuan" sapa salah satu pegawai


"Pagi" balas Dito seraya berjalan dan menuju ke sebuah lift dengan masih menggandeng tangan adiknya itu


"Kak, kak Putra lepasin tangan Zalwa, malu dilihat orang-orang" pinta Zalwa


"Kenapa malu, ini kantor dan perusahaan papi mu dek, sudah ayo" ajak Dito


Mereka pun sampai di ruangan milik papi Zalwa yang tak lain adalah ruangan milik Rahman


"Selamat pagi tuan Dito" sapa Rudi asisten Rahman

__ADS_1


"Selamat pagi Rudi, maaf saya masuk dulu ya, tadi papa dan paman sedang menemui kliennya" balas Dito


"Iya silakan tuan" ujar Rudi mempersilakan, namun matanya tak luput memandang ke arah Zalwa, Dito yang melihatnya pun langsung memperkenalkan Zalwa


"Oh iya ini Zalwa Kania Sanjaya putri paman Rahman Sanjaya, adik sepupu saya pak" ujar Dito memperkenalkan adiknya


"Selamat datang nona muda, saya Rudi asisten tuan Rahman"


"Saya Zalwa paman, senang bertemu dengan paman" ujar Zalwa tersenyum


"Haha paman, kau memanggilnya paman dek?" tanya Dito terkekeh


"Memangnya kenapa kak? sepertinya paman ini masih berusia 30 tahunan, jadi tidak salah kan aku memanggilnya paman kak?" tanya Zalwa


"Wah perkiraanmu memang benar dek, Rudi ini memang berusia sekitar 30 tahun dan ia belum menikah" bisik Dito pada terakhir kalimatnya


"Ah kakak ini, lihat lah paman Rudi sudah kusut wajahnya, maaf kan kak Putra ya paman Rudi" ujar Zalwa, namun Rudi bingung akan panggilan Putra itu siapa yang dimaksud nonanya


"Maksudnya kak Dito paman, kak Dito Putra Yuda, jadi saya memanggilnya kak Putra" ujar Zalwa menjelaskan


"Kami masuk dulu ya paman, Assalamu'alaikum" pamit Zalwa


"Wa'alaikumsalam"


"Gadis yang sopan dan terlihat baik" batin Rudi


"Kamu duduk di sofa saja ya dek, kakak ambil laptop dulu, mau memeriksa laporan yang dimaksud papimu kemarin" ujar Dito dan diangguki oleh Zalwa


Sementara Dito memeriksa beberapa laporan, Zalwa mengecek email dari beberapa butik miliknya, dan mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Dek ayo makan siang dulu, papa dan papi mu sudah menunggu di bawah untuk makan siang bersama" ajak Dito


"Kak, aku sholat dzuhur dulu ya, nanti aku nyusul" ujar Zalwa


"Oh iya kalau begitu ayo sekalian ajak papa dan papimu"


Mereka pun menghampiri orang tua masing-masing dan mengajaknya untuk sholat terlebih dulu sebelum makan. Tak luput dari pandangan para pegawai yang bertanya-tanya siapa gadis muda itu


"Siapa gadis itu, dia masih muda, tapi hubungan apa dengan keluarga tuan Rahman" tanya mereka


Setelah menyelesaikan sholat mereka pun makan bersama, tak selang lama mereka selesai dan kembali ke ruangan milik Rahman


"Bagimaan Dit, apakah kamu sudah menemukan titik permasalahannya?" tanya Yuda


"Belum pa, pelakunya sungguh sangat rapi, sehingga Dito sulit untuk menemukan titik permasalahannya" balas Dito dengan masih menatap layar laptopnya


"Paman juga belum menemukannya" timpal Rahman dan sejenak pun hening


Zalwa yang sedari tadi memperhatikan ketiga orang yang dihadapannya pun merasa penasaran dengan permasalahan apa yang mereka tangani


"Apa boleh Zalwa melihatnya?" tanya Zalwa sontak ketiganya langsung memandang kearahnya


"Boleh sayang, ini" ujar Rahman memperlihatkan

__ADS_1


Zalwa pun mengamatinya, dan ya dia menemukan kejanggalan pada nominal dana yang ada dilaporan itu


"Maaf pi, bisakah tunjukkan ruangan divisi keuangannya pi, Zalwa ingin melihat cara mereka melaporkan atas biaya yang selama ini mereka berikan" pinta Zalwa


"Boleh nak, ayo kami antar" ajak Rahman dan diikuti oleh Yuda dan Dito


Sesampainya diruangan yang dituju, Zalwa langsung mengarah ke meja salah satu pegawai yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan mereka


"Maaf mbak, bolehkah saya menganggu sebentar?" pinta Zalwa, sontak pegawai itu terkejut dan menoleh ke arah mereka


"Si..sila..silakan nona, tuan" balas gugup


"Terimakasih mbak" balas Zalwa, dan ia pun segera duduk ditempat pegawai tadi


"Pi, boleh Zalwa pinjam flashdisknya pi" pinta Zalwa pada Rahman, Rahman pun memberikannya


Zalwa masih mengotak atik komputer itu, 15 menit ia menyalin data yang ia perlukan


Sesampainya diruangan Rahman, ia pun memperhatikan layar laptop dengan hasil apa yang ia salin tadi


"Pi, ini ada dana yang tidak wajar, dimana seharusnya dana ini jika dipergunakan maka sebuah gedung yang dimaksud dengan perkiraan dana sebanyak ini seharusnya sudah selesai tepat waktu, namun sepertinya gedung yang dimaksud sampai sekarang belum selesai, namun pengeluaran biaya secara beruntun terus menerus dikirimkan ke rekening yang sama" ujar Zalwa menjelaskan atas apa yang ia periksa tadi dan ia pun memperlihatkan data yang dimaksud


"Iya, kenapa bisa hampir 3 kali lipatnya dari biaya yang diperkirakan ya" ujar Rahman


"Papi bisa memanggil pegawai papi tadi, dan kita cek siapa pemilik rekening yang sama ini, seharusnya jika ini masih milik perusahaan, maka akan ada laporan terkait itu"


Rahman pun memanggil pegawai yang dimaksud tadi


"Maaf mbak, bisakah mbak jelaskan, ini dana sebesar ini, mbak kirimkan ke rekening yang sama namun bukan rekening milik wakil dari perusahaan yang ditunjuk langsung, namun dikirimkannya secara terus menerus" ujar Zalwa


"Maafkan saya tuan, nona, itu sebenarnya dikirim ke tujuan atas nama Pak Robert pak, beliau mengancam saya jika saya tidak mematuhinya" jelas pegawai itu


"Ancaman apa itu mbak? sehingga membuat mbak berani memanipulasi data" tanya Zalwa


"Beliau mengancam akan berbuat senonoh kepada saya, jika saya tidak mematuhinya nona, saya takut" jelas pegawai itu dengan berderai air mata


"Duduklah mbak. ini sweeter saya, kalau bisa kedepannya mbak pakai pakaian yang lebih tertutup ya mbak" ujar Zalwa memakaikan sweeter nya pada bagaian bawah pegawai itu sehingga menutupi rok yang terlalu pendek


"Pi, bisakah panggilkan Pak Robert kemari pi, agar permasalahan cepat selesai"


Tak selang lama Pak Robert pun menghadap


"Pak Robert, anda Pak Robert bukan?" tanya Zalwa halus


"Iya saya Robert nona" balasnya


"Ini adalah laporan dari divisi keuangan, dan kami sudah mengetahuinya, bahwa bapak lah pelakunya, jadi saya mohon bapak untuk berterus terang saja mengenai masalah ini tanpa mengelak" ujar Zalwa halus, dan membuat Robert menelasn salivanya karena perbuatannya sudah diketahui


Tanpa memberikan waktu Robert untuk menjawabnya, Zalwa pun menimpali lagi


"Jadi ada dua pilihan untuk bapak, bapak mau menganti kerugian perusahaan yang dimaksud atau dengan jalur hukum?" tanya Zalwa


"Saya tidak bisa membayarnya non"

__ADS_1


"Baiklah artinya pilihan kedua yang bapak pilih, semoga menjadikan pelajaran untuk bapak" ujar Zalwa


__ADS_2