Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
75. Kambuh


__ADS_3

Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini Zalwa dan Dito sudah sampai bandara, merekapun di jemput dan disambut oleh Fatih beserta kedua orang tuanya


"Kak Zalwa..!" panggil Fatih


Zalwa pun menoleh, ia segera berlari kecil menghampiri mereka, namun kepalanya terasa sakit dan pusing


"Ya Allah aku kenapa? Apa karena kejadian waktu itu, saat ini mulai terasa" batin Zalwa, namun ia berusaha tersenyum ke arah adiknya yang telah memanggilnya


"Assalamu'alaikum adikku tersayang, bapak ibu" sapa Zalwa memeluk satu per satu


"Wa'alaikumsalam" balas mereka


"Ayo nak kita pulang, ibu sudah memasak kesukaanmu, dan ayo nak Dito" ajak Laili


"Wah Zalwa gak sabar bu, ayo kak, masakan ibu itu paling lezat lho" ujar Zalwa memuji dengan menyeret tangan Dito dan Fatih


"Aduh kak pelan-pelan, kasihan bang Dito kak, makanannya gak akan adek rebut kak" ujar Fatih bercanda, bapak dan ibu hanya tersenyum


"Maafin kakak dek, kakak sungguh sudah tidak kuat menahan sakit ini" batin Zalwa tanpa menjawab candaan Fatih

__ADS_1


"Kakak kenapa ya, tumben dia aku ejek tidak menjawab" batin Fatih


"Mungkin kakak hanya lelah, secara perusahaan, butik, terus masih aja ikut lukis melukis pula, pasti capek" batin Fatih kemudian ia tersenyum ke arah Zalwa kakaknya


Sesampainya mereka di dalam mobil, Zalwa pun izin untuk tidur


"Semuanya, maaf ya, Zalwa izin tiduran bentar, capek sekali" ujar Zalwa dengan menutup matanya


"Tumben sekali kamu dek, biasanya juga cerewet dan gak mau diem jika di mobil" ujar Dito


"Mungkin kakak lelah bang, secara big bos, terus disainer, terus pelukis pula, pasti lelah kan bang" ujar Fatih menimpali


"Dek bangun dek, ayo sudah sampai" ujar Dito membangunkan, namun yang dibangunkan tidak kunjung bangun


"Biar Fatih yang menggendongnya saja bang, bang Dito pasti juga lelah kan, ayo masuk duluan saja bang" ujar Fatih dengan siap menggendong Zalwa


"Aneh kak Zalwa, biasanya hanya terusik sedikit saja sudah bangun, terus kenapa dia pucat seperti ini, apa dia sakit" batin Fatih namun tetap ia menggendong kakaknya itu


Fatih pun menggendong Zalwa menuju ke kamar kakaknya yang telah mereka siapkan

__ADS_1


"Ya Allah, dek kenapa kamu gendong kakak, kakak pasti berat kan?" tanya Zalwa saat ia sudah sadar


"Tidak kok kak, kakak kurus sekarang" balas Fatih, dan memang itu krnyataanya


"Sudah turunkan kakak dek, kakak berat" ujar Zalwa memaksa, Fatih pun menurunkannya


"Kakak ke toilet dulu dek, nanti kakak menyusul, kebetulan juga sudah lapar" ujar Zalwa lalu ia menuju ke toilet meninggalkan Fatih, Fatih pun dengan segera ia kembali ke meja makan menemui keluarganya


"Kakakmu tidur tih?" tanya Laili


"Sudah bangun bu, lagi ke toilet, sebentar lagi nyusul kemari" jawab Fatih


"Ya sudah ibu panaskan lauk nya dulu, terus kita makan ya, pasti Kakakmu dan nak Dito sudah lapar" balas Laili lagi


Sementara di toilet kamar Zalwa, ia sedang menahan sakit di kepalanya, nampak pucat diraut wajahnya dan ia pun dengan segera mengambil makeup yang ada di tasnya, kemudian ke kamarnya meminum obat yang ia selalu bawa di tas kecilnya


"Bismillah, Ya Allah ringankan lah penyakit hamba, jangan sampai keluarga hamba mengetahuinya" ucap Zalwa dengan meminum obatnya


Tak lama ia pun menghampiri keluarganya, dilihat senyuman yang tulus dari wajah mereka

__ADS_1


"Terimakasih Ya Allah telah memberikan keluarga yang menyayangiku dengan tulus, semoga senyum mereka akan seperti itu terus" batin Zalwa dengan menghampiri mereka


__ADS_2