Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
54. Terungkap


__ADS_3

"Silakan pak berbaring terlebih dahulu" ujar seorang suster


"Baik sus" balas Rahman


Tak lama sample darah diambil dan Rahman pun dinyatakan layak untuk mendonorkan darahnya


"Baik pak, kondisi bapak sehat, dan kami akan mengambil darah anda untuk didonorkan kepada pasien" ujar suster


"Silakan sus" balas Rahman


"Ya Allah selamatkan lah Nur, kami sudah menganggapnya seperti anak kandung kami, dan semoga kami segera dipertemukan dengan anak kandung kami Ya Allah" batin Rahman seraya berdoa


Tak lama, Rahman pun telah selesai diambil darahnya


"Silakan berbaring dan istirahat terlebih dahuku pak, agar tenaga anda pulih kembali" ujar suster dan ia pun memasangkan infus untuk Rahman


Serengah jam setelah dilakukan tranfusi darah untuk Nur, kini Nur pun sudah dinyatan telah melewati masa kritisnya


"Alhamdulillah bapak, ibu dan keluarga, kini pasien sudah melewati masa kristisnya, pasien akan kami pindahkan ke ruangan rawat inap, kalau begitu saya permisi" ujar dokter menjelaskan dan ia pun undur diri


"Alhamdulillah Ya Allah" ucap mereka serempak


Rahman yang sudah merasa membaik pun ia kini menghampiri keluarga dan teman Nur


"Bagaimana mom keadaan Nur?" tanya Rahman kepada istrinya


"Alhamdulillah baik pi, dia sudah melewati masa kristisnya" balas Nurma dan langsung memeluk suaminya itu


"Terimakasih kami ucapkan atas kebaikan bapak yang mau menolong anak kami pak" ujar Furqon berterimakasih

__ADS_1


"Sama-sama pak, Nur juga anak kami" balas Rahman tulus


"Tapi pak, kenapa diantara kita golongan darahnya tidak ada yang sama dengan kak Nur pak? bahkan aku adeknya maupun kak Nur sendiri pun berbeda dengan golongan darah bapak dan ibu?" tanya Fatih


"Ya Allah pak, apakah kita harus menjawab jujur sekarang pak?" bisik Laili kepada suaminya, ia terkejut dengan penuturan dan pertanyaan yang dilontarkan anaknya


"Iya pak, setahu saya, setiap keluarga yang memiliki hubungan darah kandung pasti salah satunya akan memiliki golongan darah yang sama mengikuti salah satu orang tuanya pak?" tanya Rahman yang ikut penasaran


"Sebenarnya baik Nur mau pun kamu Fatih, kalian bukan lah anak kandung bapak dan ibu nak" balas Furqon jujur


"Kami hanyalah orang tua asuh kalian" lanjutnya lagi dan tak kuasa menahan air matanya, sedangkan Fatih dan yang lainnya hanya menyimak


"Tapi kami sangat menyayangi kalian nak, terlebih kami tidak bisa memili keturunan" lanjutnya lagi, dan Laili istrinya pun sudah menangis sesegukan


"Maafkan Fatih pak, bu, sudah membuat kalian bersedih" ujar Fatih seraya memeluk kedua orang tua nya itu


"Kalau boleh tahu bagaimana anda bisa mengasuh mereka pak?" tanya Rahman


Flashback


Saat itu hari sudah lumayan larut malam tepatnya hampir 20 tahun yang lalu, kami maksudnya saya dan istri sedang bersiap-siap membereskan pakaian kami dan barang-barang kami karena kami sudah menjual rumah yang saat itu kami tempati, kami akan melakukan pengobatan untuk istri saya, karena sudah 5 tahun kami menikah, namun istri saya belum kunjung hamil.


"Oeeekk...oeekkkk..." jeritan anak kecil lebih tepatnya seorang bayi yang menangis


"Pak seperti ada suara tangisan anak bayi pak" ujar Laili


"Iya bu, tapi malam-malam begini anak siapa itu bu?" tanya Furqon


"Ayo pak kita lihat" ajak Laili

__ADS_1


Nampak lah seorang anak bayi prempuan di teras rumah yang sedang menangis, kami mencari apakah ada orang yang sengaja menaruhnya atau tidak, namun tidak kami dapati.


Keesokan harinya Furqon dan Laili pun melaporkan dan memberitahukan kepada kepala desa dan warga setempat, apakah ada yang mengetahui bayi malang itu atau tidak, namun hingga 2 hari lamanya, tak ada satupun warga yang memberikan jawaban.


Hingga saat itu kami memutuskan untuk membawa bayi itu bersama kami ke kota A.


#Flashback


Furqon pun menjelaskan asal mula ia menemukan Nur


"Apakah anda yang bernama pak Furqon pak?" tanya Rahman penasaran


"Iya betul pak, itu nama saya" jawab Furqon mantap


"Mom sepertinya Nur adalah anak kandung kita yang hilang mom" ucap Rahman berbisik namun masih didengar oleh yang lain


"Lalu apakah anda mengetahui nama asli Nur waktu kecil pak?" tanya Rahman memastikan


"Ya ada pak, kami menyimpannya, dan ini foto nama beserta kalung yang ditinggalkan seseorang yang meninggalkan Nur waktu bayi" ujar Furqon dengan menunjukkan layar handphonnya


"Zalwa Kania Sanjaya" ucap Rahman


"Mom itu adalah nama anak kita mom, artinya Nur benar anak kita yang hilang mom" ujar Rahman menangis bahagia


"Apa betul pi? artinya selama ini firasat momy tidak salah kan pi?" tanya Nurma memastikan dan dibalas oleh Rahman dengan anggukan dan senyum bahagia


"Terimakasih Ya Allah, Engkau pertemukan kami dengan anak kami setelah bertahun-tahun lamanya" ucap Rahman dan Nurma bersama


"Jadi Nur adalah anak kalian yang hilang?" tanya Furqon memastikan

__ADS_1


"Iya pak, dan ini adalah nama dan kalung pemberian kami untuk anak kami yang hilang hampir 20 tahun yang lalu pak" balas Rahman


__ADS_2