
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama dan juga melelahkan, Dito pun sampai di perusahaan pamannya, yang telah lama keluarganya kelola, karena waktu itu pamannya hanya dengan sambilan untuk mencari keberadaan putrinya
"Assalamu'alaikum papa, paman" salam Dito
"Wa'alaikumsalam, kamu sudah sampai nak" balas papa Dito
"Sudah pa, baru saja"
"Kamu pulanglah dulu Dit, istirahat, besok baru kemari" ujar pamannya
"Tapi paman.."
"Pulanglah, atau kamu pulang ke rumah paman saja" ujar pamannya
"Bukankah kau ingin bertemu dengan adikmu?" tanya papanya Dito
"Ah baiklah paman, aku tak sabar seperti apa adikku itu" ujar Dito tersenyum
"Ya sudah ayo pulang sekalian mas, ini juga sudah malam, pasti istri dan anakku menunggu" ajak paman Dito
30 menit kemudian, mereka sampai di kediaman pamannya Dito
"Assalamu'alaikum" salam mereka serempak seraya masuk ke dalam rumah
"Wa'alaikumsalam, papi sudah pulang?"
"Loh ada Dito juga, kamu kapan sampai sini nak?" tanya bibi Dito
"Baru saja sampai bi, tadi Dito mampir ke kantor, eh tapi diminta paman kemari, ya sudah jadilah kami kemari" jelas Dito
"Bukan nya kemarin kamu bilang ingin bertemu dengan adikmu Dit?" tanya pamannya
"Hehehe iya itu maksudnya bi" balas Dito
"Oh adikmu masih mengaji, biasa jam segini dia mengaji, jadi tentram kan rumah bibi?" ujar bibinya
"Iya bi, Dito jadi tidak sabar ingin segera melihat adik Dito bi"
"Baiklah, kalian masuk dulu, bibi panggilkan dia dulu ya" ujar bibinya seraya menaiki tangga menuju ke kamar putrinya itu
"Shodaqallahul'adzim.." terdengar putrinya sudah selesai membaca al-qur'an
"Sudah selesai sayang?" tanyanya
"Sudah mom" balas putrinya
"Ayo turun kebawah, di bawah ada paman dan juga kakak sepupumu yang baru pulang" ajaknya
__ADS_1
"Iya mom, momy duluan saja, nanti aku nyusul mom"
"Baiklah, momy duluan ya"
Bibi Dito pun turun dan menghampiri suaminya
"Loh mana bi, adikku?" tanya Dito penasaran
"Sebentar lagi turun, kamu kok gak sabaran sih" tanya bibinya dengan mencubit pipi keponakannya itu
"Aw.. aw.. sakit bi, bibi kebiasaan deh main cubit-cubit aja" ujar Dito dengan mengelus pipinya
"Ih kamu kok lebay Dit, baru bibi cubit dikit aja" ujar bibinya mengerucutkan bibir mengejek keponakannya itu
"Hahaha" tawa papa dan pamannya
Tak selang lama muncul gadis mungil dengan balutan gamis berwarna pink dengan hijab putihnya menuruni tangga
"Assalamu'alaikum semua" sapanya
"Wa'alaikumsalam" balas ke empat orang itu secara serempak
"Wah cantiknya, apa bener ini adikku?" batin Dito
"Hai kak, aku Zalwa, kakak pasti kakak sepupuku kan?" tanya Zalwa seraya hendak menyalami tangan Dito
"Kakak kenapa kak?" tanya Zalwa
"Kamu beneran Zalwa adikku?" tanya Dito
"Iya kak, aku Zalwa Kania Sanjaya, putri dari Rhman Sanjaya dan Nurma Sanjaya, yang baru ditemukan setelah hampir 20 tahun menghilang kak" jelas Zalwa
"Kamu benar adikku dek, kakak senang" ujar Dito langsung memeluk adiknya tanpa memperdulikan tangan Zalwa yang akan menyalaminya
"Akhirnya kakak bisa bertemu dengamu dek" ujar Dito dengan memeluk Zalwa lagi
"Iya kak, tapi Zalwa tidak bisa bernafas nih" ujar Zalwa dan membuat Dito melepaskan pelukannya
"Hahaha Dito, Dito, kamu tidak kasihan dengan adikmu itu? Lihat dia susah bernafas karena kamu memeluknya terlalu erat" ujar papa Dito yang bernama Yuda Sanjaya kakak kandung dari Rahman Sanjaya
"Maafin kakak ya dek, kakak terlalu senang tadi, dan kamu kok cantik banget ya, manis lagi" puji Dito dengan menjembel pipi Zalwa
"Kakak berlebihan" balas Zalwa mengusap pipi yang dijembel kakaknya itu
"Jangan kau cubit atau jembel pipi putri bibi Dit" sergah Nurma
"Ini balasan bibi, karena bibi tadi juga mencubit pipiku" ujar Dito tak terima dan membuat yang lain terkekeh
__ADS_1
"Oh iya nama kakak siapa kak? Terus Zalwa manggil kakak apa?" tanya Zalwa
"Dito Putra Yuda, itu nama kakak, kamu bisa panggil kakak dengan panggilan Dito" ujar Dito dengan mendekap badan adiknya
"Em kalau manggil kak Putra gimana kak, bolehkah?" tanya Zalwa
"Wah kayaknya panggilan kesayangan itu Dit" ujar Rahman
"Em.. boleh, itu panggilan kesayangan dari adikku tersayang iya kan?" tanya Dito
"Iya kak, akhirnya Zalwa punya kakak" ujar Zalwa senang
"Ok adikku tersayang, istirahatlah, kakak juga lelah"
"Iya kak, kalau gitu Zalwa ke kamar dulu ya semua, assalamu'alaikum" pamitnya seraya meninggalkan yang lain
"Wa'alaikumsalam" balas mereka serempak
Setelah Zalwa pergi, mereka pun melanjutkan obrolan di kantor tadi
"Istirahatlah Dit, paman sama papamu masih ada yang ingin dibahas mengenai permasalahan kantor" ujar Rahman
"Tidak paman, Dito ingin mengetahui apa permasalahannya" ujar Dito
"Sepertinya ada kejanggalan dari beberapa laporan yang selama ini dijalankan, dan beberapa dana sepertinya telah salah dipergunakan" ujar Rahman
"Seperti nya gitu dek, tapi kakak juga belum tahu, karena selama ini memang laba keuntungan dari perusahaan tidak cukup banyak dan relatif, terlebih selama kamu terpuruk mencari keberadaan putrimu dek" balas Yuda
"Maafkan Rahman ya kak, seharusnya Rahman yang mengelola karena itu perusahaan Rahman, tapi justru merepotkan kak Yuda" ujar Rahman meminta maaf
"Tidak apa-apa dek, aku adalah kakakmu, kita usaha sama-sama saja ya, toh perusahaan kakak juga sudah tidak ada karena kakak juga dulu terpuruk akan keadaan mama nya Dito, dan untung masih ada kamu dek" ujar Yuda
"Em artinya ada yang tidak beres ya paman, Dito merasa ada yang sengaja ataupun melakukan penyelewengan" ujar Dito menimpali
"Kamu benar Dit, tapi untuk pelakunya siapa paman belum tahu, karena paman masih memeriksa beberapa laporan" ujar Rahman seraya memeluk pundak istrinya
Tanpa mereka sadari, Zalwa pun mendengar pembicaraan mereka, dan ia tak melanjutkan jalannya ke kamarnya
"Papi, bolehkah Zalwa besok ikut papi ke kantor?" tanya Zalwa tiba-tiba
"Zalwa sayang, kamu tidak jadi ke kamar nak? "tanya Nurma
"Maaf mom, tadi Zalwa tidak sengaja mendengar pembicaraan papi dengan paman, jadi Zalwa tidak melanjutkan jalan ke kamar
"Aish adikku ini, boleh besok kamu ke kantor, bareng kakak saja ya" ujar Dito
"Beneran boleh kak?" tanya Zalwa dan diangguki oleh yang lain
__ADS_1
"Terimakasih semua, kalau gitu Zalwa ke kamar dulu" ujar Zalwa meninggalkan yang lain