Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
57. Sadar dari koma


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Sesuai persyaratan dari papa nya, Azam pun selama hampir 1 minggu disibukkan dengan berbagai berkas yang harus ia tangani, ya saat ini telah menggantikan posisi papanya sebagai direktur utama di perusahaan Malik milik papanya.


Karena kesibukkannya ia pun melupakan keberadaan seseorang yang ia cintai.


"Oh ya ampun, bagaimana keadaan Nur saat ini" batinnya seraya beranjak pergi menuju rumah sakit


Sebelum sampai ia pun sempatkan untuk membeli sepaket bunga, sebuah cincin dan beberapa buah.


"Semoga Nur suka dan ia cepat sadar" batin Azam dengan senyum dibibirnya


Sesampainya ia langsung menuju ruangan rawat Nur sebelumnya


"Assalamu'alaikum" sapanya


"Wa'alaikumsalam, maaf nak mencari siapa?" tanya seorang perempuan paruh baya yang berada tak jauh dari pintu tuangan itu


"Saya ingin menemui Nur teman saya bu" balas Azam


"Maaf nak, diruangan ini tidak ada yang bernama Nur, putri saya bernama Clara bukan Nur" balas ibu tadi menjelaskan


"Dimana kamu Nur, apakah sudah pindah ruangan?" batin Azam seraya berlalu, ia pun menuju meja receptionist


"Permisi sus, saya ingin menanyakan pasien atas nama Khairani Nur dirawat dimana ya sus?" tanya Azam


"Maaf pak, pasien yang yang mengalami kecelakaan dan sempat koma itu ya pak?" tanya salah suster


"Iya benar sus, dimana dia sekarang?"


"Maaf pak, pasien sudah dipindahkan ke rumah sakit lain oleh keluarganya"


"Bolehkan saya meminta alamat rumah sakit itu sus? saya adalah temannya" tanyanya


"Ini rumah sakit rujukan nya pak" balas Suster itu seraya memberikan alamat rumah sakit yang diminta Azam

__ADS_1


"Terimakasih sus" ujar Azam berlalu


"Di negara J, bagaimana ini, dalam waktu yang dekat aku tidak mungkin bisa kesana" ujar Azam menggerutu


.


.


.


.


Setelah beberapa hari dipindahkan dari rumah sakit sebelumnya ke rumah sakit di negara J, keadaan Nur pun makin hari makin membaik


"Assalamu'alaikum sayang, bangun nak, disini ada momy, papi, ibu, bapak dan juga adikmu fatih sayang, apakah kau tak rindu dengan kami?" ujar Nurma


"Sabar sayang, papi yakin sebentar lagi anak kita akan bangun" balas Rahman


"Kita do'akan saja ya mbak, semoga Nur bisa ceria kembali bersama kita" timpal Laili


"Baiklah nak, kami akan makan dulu, kamu mau makan apa nak?" tanya Furqon


"Nanti aku beli sendiri saja pak"


"Ya sudah kalau ada apa-apa hubungi kami ya tih" ujar Laili seraya berlalu pergi dan diikuti suaminya beserta kedua orang tua kandung Nur


Setelah kepergian para orang tua, Fatih pun menedekati ranjang kakaknya itu


"Kak ini aku Fatih, apakah kakak tahu, sebenarnya kita bukanlah saudara kandung kak, Fatih sebelumnya sedih mendengarnya kak, dan betapa terkejutnya Fatih kala itu saat kakak kekurangan darah, bukan bapak atau ibu yang mendonorkan darahnya untuk kakak, melainkan papi, yang tak bukan adalah orang tua angkat kakak, dan ternyata Allah mempertemukan kakak dengan kedua orang tua kandung kakak yaitu papi Rahman dan momy Nurma kak" ucap Fatih


"Mereka sangat bahagia saat mengetahui bahwa kakak adalah anak kandung mereka kak" ujar Fatih lagi


"Tapi Fatih sedih kak, apakah kita akan selalu bersama dan Fatih akan selalu menjadi adik kakak?" tanyanya namun tidak ada jawaban


"Ternyata kita adalah anak angkat dari bapak dan ibu kak, kita..." ujarnya dengan menangis

__ADS_1


Saat Fatih akan menyeka air mata nya dan melanjutkan ucapannya, ia merasa ada yang bergerak dari tangan kakaknya yang saat ini ia pegang


"Kak, kakak sadar? benaran kan kak?" tanya Fatih memastikan, dan tak lama mata kakaknya yang semula terpejam kini terbuka, nampak senyuman yang terukir diwajah kakaknya itu


"Alhamdulillah kakak bangun"


"Dokter...dokter..." panggilnya, dengan segera dokter dan suster pun menghampiri keruangan itu


"Alhamdulillah, pasien sudah bangun dari komanya, dan keadannya sungguh baik" ujar dokter berkata


"Terimakasih dok" balas Fatih


"Kak, kakak masih ingat denganku kan kak?" tanya Fatih


"Ha..us..." ucap Nur lirih


"Kakak haus, ini minumlah kak" ujar Fatih dengan membantu Nur agar mudah untuk minum


"Kakak ingat aku?" tanya Fatih dengan mata berkaca-kaca dan memastikan


"Tentu adik nakal" balas Nur lirih


"Alhamdulillah kak, aku bahagia kak, akhir kakak bangun" ujar Fatih dengan memeluk kakaknya itu


"Aku tidak bisa bernapas adik nakal" ujar Nur


"Oh maaf kak, habisnya aku terlewat bahagia" ujar Fatih


"Memang nya aku tidur berapa lama?" tanya Nur


"Kakak itu habis koma, bukan tidur kak, dan sudah 1 minggu lebih kakak tidak bangun" ujar Fatih


"Pantas saja badan kakak pegal-pegal dek, bisakah kau memijat pundakku, rasanya aku lelah sekali" ujar Nur kepada adiknya


"Ais kakak ini, kebiasaan deh" gerutu Fatih seraya menghampiri dan meminjat pundak kakaknya itu dengan pelan

__ADS_1


"Aku bahagia kak, akhirnya kau bangun, aku tak tahu jika kehilanganmu kak" batin Fatih dengan menitikkan air mata, dan tak lama ia pun menghampusnya agar kakaknya tidak melihat bahwa ia bersedih


__ADS_2