Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
55. Koma


__ADS_3

Setelah masa kritis yang dialami Nur usai, ia pun koma.


Dilihatnya oleh Azam dari balik pintu, sungguh ia sangat sakit melihat seseorang yang telah mengambil hatinya itu terbaring tidak berdaya. Ia pun mendekatinya


"Assalamu'aikum Nur, ini aku kak Azam. Aku mohon bangun Nur" ucap Azam seraya menitikkan air mata


"Maafkan aku" balasnya lagi seraya meninggalkan ruangan dimana Nur dirawat


Tak lama kedua orang tua kandung Nur, Nurma dan Rahman masuk keruangan itu


"Anakku, kami telah menemukanmu, bangun nak, ini momy dan papi. Kami merindukanmu" ujar Nurma dengan mengelus kepala anaknya


"Sabar mom, kita banyak berdoa ya semoga anak kita lakas sembuh" balas Rahmas


"Tapi sampai kapan pi, momy tidak tega melihanya pi" balas Nurma dengan deraian air mata yang sudah tak bisa di tahannya


Keesokan harinya, belum ada perkembangan atas keadaan Nur


"Dokter, bagaimana keadaan anak kami?" tanya Furqon yang juga sedang menunggu diruangan Nur beserta istri dan kedua orang tua kandung Nur


"Sampai saat ini keadaannya belum ada perkembangan pak, kita berdoa saja, semoga Allah memberikan yang terbaik" balas dokter


Tak lama monitor yang berada diruangan itu berbunyi


"Tiiit....tiiiit...."


"Dokter...dokter...." panggil Fatih adiknya dengan hawatir


Dengan segera seorang dokter dan suster menghampiri mereka.

__ADS_1


"Mohon maaf bapak ibu sekalian, mohon tunggu diluar terlbih dahulu, kami akan memeriksa keadaan pasien" ujar salah satu suster dan dengan segera ia kembali ke ruangan itu


"Bagaimana ini pak, ibu sangat takut" ujar Laili menangis di dekapan suaminya


"Kita berdoa saja ya bu, semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya, bapak yakin Nur akan kembali sehat" balas Furqon


"Pak Furqon, Bu Laili terimakasih selama ini sudah menjaga putri kami, kami bersyukur ia bisa hidup dengan orang baik seperti kalian" ujar Rahman


"Ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa pak Rahman, kami juga selama ini menganggap Nur dan merawatnya sudah seperti anak kandung kami, kami sungguh sangat menyayanginya" balas Furqon


"Terimakasih sekali lagi pak, bu Laili"


"Sama-sama pak"


Tak selang lama dokter pun keluar


"Alhamdulillah pasien masa kritisnya telah usai, tapi saat ini pasien sedang koma" balas dokter


"Lalu kapan ia akan sadar dok?" tanya Furqon


"Kita berdoa saja pak, semoga pasien segera sadar, dan pulih kembali" balas dokter lagi


"Apakah tidak ada cara lain dok agar anak kami segera pulih?" tanya Rahman


"Kemungkinan ada pak, tapi fasilitas di rumah sakit kami sangat kurang"


"Tapi kami mempunyai saran untuk merujuk pasien ke rumah sakit dengan fasilitas yang cukup baik, namun untuk biaya nya cukup besar pak"


"Tidak masalah untuk biayanya dok, asalkan anak kami lekas pulih" balas Rahman

__ADS_1


"Baiklah pak, ada salah satu rumah sakit terbaik di negara J, jika bapak bersedia kami akan membantu untuk membuat surat rujukan kesana"


"Tidak masalah pak, kebetulan sekali saat ini kami tinggal di negara J dok"


"Baiklah pak, mari ikuti saya keruangan saya pak, untuk membahas yang lebih lanjut dan membahas prosedur selanjutnya" ujar dokter seraya berjalan


"Silakan duduk pak, bu" ujar dokter mempersilakan


"Ini adalah nama rumah sakit yang cukup terkenal dengan fasilitas yang cukup baik" ujar dokter memperlihatkan sebuah map kemereka


"Karena saat ini pasien belum sadarkan diri, maka team kami akan ada yang menemani kalian kesana, dan untuk keberangkatannya bisa dilakukan 2 hari kedepan dengan melihat kondisi pasien, jika bapak dan ibu sekalian setuju, bisa di tanda tangani berkasnya pak" ujar dokter


"Kami setuju pak, asalkan itu yang terbaik untuk putri kami" balas Rahman


Setelah mereka menyetujui saran dari dokter, mereka pun kembali ke ruangan Nur berada


"Maaf pak Rahman, tapi jika Nur dibawa ke negara J, kami tidak cukup biaya pak" ujar Furqon


"Maaf pak, kami yang akan membiayai nya pak, kami ingin putri kami pulih kembali" balas Rahman


"Tapi pak..."


"Tidak apa-apa pak, Nur adalah putri kami, jadi sudah tanggung jawab kami pak, bila perlu bapak, ibu dan nak Fatih juga ikut kesana jika memang kalian bersedia" balas Rahman


"Kami bersedia pak, karena memang kami ingin selalu bersamanya"


"Tapi kami tidak ada cukup uang pak"


"Tidak masalah pak Furqon, kita kan sekarang adalah keluarga pak, dan saya yang akan membiayai semuanya" balas Rahman dengan menepuk pundak pak Furqon

__ADS_1


__ADS_2