Kugenggam Namun Menjauh

Kugenggam Namun Menjauh
61. Bandara


__ADS_3

Keesokan harinya, dengan kondisi Nur alias Zalwa yang sudah cukup pulih, ia pun diperkenankan pulang, pagi-pagi sudah keluarganya menjemputnya dirumah sakit, karena hari yang sama pun adik dan kedua orang tua yang mengasuhnya selama ini akan kembali ke kota D


"Kak ayo kita keluar, barang-barang kakak sudah dibereskan semalam oleh momy, hari ini kakak akan pulanh, dan aku beserta bapak dan ibu akan kembali kak" jelas Fatih seraya membantu mendorong kursi roda Zalwa


"Yah kakak jadi sepi dong dek, kakak gak bisa jahilin kamu lagi deh" balas Zalwa menggoda adeknya


"Huh... kakak ini selalu saja begitu, sudah ayo sudah ditunggu sama ke empat orang tua kita"


"Sayang, ayo kita pulang, supir sudah menunggu mu nak, papi yang akan mengantar ibu dan bapak mu beserta adikmu" ajak Nurma


"Mom, Zalwa ingin mengantar mereka boleh ya?" tanya Zalwa


"Tapi kan kamu baru sembuh sayang, nanti ku lelah"


"Tidak mom, Zalwa akan baik-baik saja" pinta Zalwa memohon


"Baiklah ayo, biar papi yang membantumu ke mobil, kita antar mereka"


Setelah masuk ke mobil yang sama dengan sebuah mobil keluarga yang cukup untuk mereka, mereka pun menelusuri jalan yang cukup ramai menuju sebuah bandara


"Ibu, bapak, pasti Nur eh Zalwa akan merindukan kalian, nanti bapak sama ibu sering-sering kemari ya, jengukin Zalwa" pinta Zalwa

__ADS_1


"Tentu nak, kamu tetap anak kami, kami pasti akan mengunjungimu" balas Furqon dan diangguki oleh Laili


"Kita kan nanti bisa kesana sayang, tapi kamu harus sembuh total dulu" timpal Rahman dan diangguki oleh semua orang dimobil itu


"Dek, kakak titip bapak sama ibu ya, jika ada apa-apa kamu harus kabarin kakak" ujar Zalwa kepada Fatih


"Oh iya hp kakak kan hancur ya waktu itu karena kecelakaan, nanti kamu hubungi nomor momy atau papi dulu ya dek, nanti kalau kakak sudah beli hp dan kartu baru lagi, kakak hubungi kamu"


"Siap bos" balas Fatih dengan memberikan hormat dengan tangan di angkat, dan membuat orang yang didalam mobil terkekeh


"Ada-ada saja kamu dek" balas Zalwa dengan menyandarkan kepalanya di pundak adiknya


Tanpa terasa mereka sudah sampai di bandara, Zalwa pun dibantu oleh Fatih


"Simpan lah kartu nya dek, pakai saja dulu, apakah kamu lupa, kakak sudah mendapatkan bagian sendiri dari butik kakak itu, buatlah modal dan urus butik kakak ya" pinta Zalwa


"Baik lah kak, aku janji akan membantu kakak mengurusnya sebisa mungkin"


"Ya sudah kak, kami pamit dulu ya, kakak jaga kesehatan" ujar Fatih dengan memeluk kakaknya yang duduk di kursi roda


"Kami pamit ya sayang, kamu jaga diri baik-baik disini, tetaplah jadi anak yang baik dan rendah hati" ujar bu Laili juga memeluk Zalwa

__ADS_1


"Bapak pamit ya nak, lekas sembuh, agar kamu bisa mengunjungi kami disana" ujar Furqon juga memeluknya


"Kami pamit dulu ya semua, assalamu'alaikum" pamit Furqon, mereka bertiga pun beranjak berlalu


"Wa'alaikumsalam" balas Zalwa beserta kedua orang tuanya


"Fatih...!!! tunggu dek" panggil Zalwa


"Iya ada apa kak?" jawab Fatih seraya balik dan menghampiri kakaknya


"Ini lukisan wajahmu yang biasa saja, katanya kau mau memperlihatkan lukisan wajahmu ke teman-temanmu itu" balas Zalwa memberikan bingkisan yang berisi lukisan wajah adiknya itu


"Terimakasih kak, kami pamit dulu, da..." balas Fatih dan pergi dengan menyusul kedua orang tuanya yang sudah terlebih dulu masuk


"Nak ayo pulang, kamu harus istirahat" ajak Nurma dan diangguki oleh Zalwa


Disisi lain ada seseorang yang mengamatinya


"Bukan kah dia adalah perempuan pelukis kemarin, ah aku susul saja ya, tapi tadi terlihat ia berpisah dengan laki-laki yang bersamanya kemarin" batin seseorang itu


"Oh tunggu, bukankah laki-laki yang kemarin memanggilnya kakak, mungkin dia adiknya" batinnya lagi dengan masih memandang ke arah Zalwa

__ADS_1


Saat ia akan mengejar, mobil yang ditumpangi Zalwa sudah beranjak pergi


"Ah, kenapa tidak ku kejar dari tadi sih" ujarnya kesal


__ADS_2