
"Sudah tak usah kamu fikirkan, aku tahu adikku meski kami belum lama saling mengenal, dia menuruni sifat kedua orang tuanya, jadi aku sangat memahami" ujar Dito
Keesokan harinya Zalwa pun terbangun dengan kepala yang dibalut oleh perban, Azam pun menemaninya atas permintaannya sendiri
Dibukanya mata itu pelan-pelan
"Eh..."Zalwa pun terbangun, namun kepalanya masih terasa sakit
"Kamu sudah bangun?" tanya Azam
"Maaf kemana jilbabku?" tanya Zalwa
"Kepalamu sedang terluka, jadi disarankan tidak mengenakan penutup kepala" jelas Azam
"Tolong ambilkan jilbab untukku, anda bukan makhromku" pinta Zalwa
"Kalau begitu, menikahlah denganku" balas Azam
"Apa maksud..." tanya Zalwa terpotong
"Kak Azam" ucapnya lagi
"Ya ini aku Nur, kamu masih mengingatku?" tanya Azam dengan badan membelakangi Zalwa
"Iya aku masih mengingatnya" balas Zalwa
"Bagaimana aku melupakanmu kak, sedangkan setiap kali mata ini terpejam selalu ada bayangamu, meski sudah berusaha" batin Zalwa
"Alhamdulillah jika begitu, maukah kamu menikah denganku?" tanya Azam sekali lagi dengan mata mengarah ke wajah Zalwa
"Maaf kak, tolong jangan melihatku seperti itu, kita bukan makhrom"
"Karenanya menikahlah denganku, jadi kita halal untuk saling pandang dan saling memiliki" balas Azam
__ADS_1
"Tapi bukankah.."
"Soal perjodohan waktu itu, aku sudah tidak terikat dengannya, ia sudah menikah dengan orang lain" jelas Azam
"Maksud kakak?" tanya Zalwa, ada rasa senang dari dalam hatinya
"Kamu tahu Nur eh maksudnya Zalwa, seseorang yang akan dijodohkan denganku waktu itu adalah Syafa"
"Syafa?" tanya Zalwa
"Ya dia Syafa temanmu dulu, teman sekolah kita"
"Kami tidak saling mencintai, ia mencintai seseorang yang tak lain adalah ilham sahabatku" jelas Azam
"Kak ilham?"
"Iya ilham Tamimi, mereka sudah menikah beberapa hari yang lalu, dan kemungkinan mereka sedang berbulan madu" jelas Azam
"Iya, jadi bagaimana kamu menerima tawaranku?"tanya Azam dengan memandang Zalwa penuh harap
"Aku..." balas Zalwa menggantung
Tanpa mereka sadari sudah ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka
"Kami merestui kalian" ujar mereka serempak, ya mereka adalah keempat orang tua Zalwa, Nurma, Rahman, Laili dan Furqon, beserta dengan Yuda, Dito dan juga Fatih, tak selang lama datang 2 orang lagi
"Kami juga merestui kalian" ujar Malik dan Ira orang tua Azam sembari tersenyum
"Jadi apakah kamu bersedia menikah denganku Khairani Nur alias Zalwa Kania Sanjaya?" tanya Azam lembut dengan penuh harapan
Zalwa pun memandang ke arah keluarganya, mereka pun hanya mengangguk dan tersenyum
"Iya" balas Zalwa singkat
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah" ujar Azam senang, ia pun ingin memeluk Zalwa
"Eits belum sah" kata Dito
"Hehe maaf kakak ipar, saking senangnya" balas Azam
"Kalau begitu ayo Zam kita pulang dulu, nanti kesini lagi" ajak Ira mama Azam
"Nanti saja ya ma, aku masih rindu dengan calon istriku" ujar Azam
"Hush kamu belum halal untuknya, nanti jadi tambah zina, sudah ayo biarkan calon istrimu istirahat lagi" ajak Ira dengan menyeret tangan Azam
"Nanti saja ya ma, please" Azam memohon
"Pa anakmu ini susah sekali" adu Ira pada Malik
"Itu kan anakmu juga sayang, dia persis denganmu" balas Malik dengan mencubit hidung istrinya
"Anak sama bapak sama aja" balas Ira kesal
"Sudah kak Azam pulanglah dulu, kamu juga perlu istirahat" pinta Zalwa
"Tapi aku masih ingin disini" balas Azam
"Nanti saja kamu kesininya Zam, gantian dengan kami menjaga Zalwamu ini" timpal Dito
"Ok baiklah"
"Nur eh Zalwa, kakak pulang dulu ya, nanti kakak kesini lagi, Assalamu'alaikum" pamit Azam seraya hendak mencium kening Zalwa
"Eits belum halal!" teriak Dito tegas
"Hehe baik lah kakak ipar" balas Dito dengan menggarikuk kepalanya yang tidak gatal
__ADS_1