
____
Varka POV
kehidupanKu tak sama dengan kebanyakan anak dunia ini, Disaat anak yang lain mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka, aku sama sekali tidak bisa merasakan hal itu. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa aku rasakan, bukan aku tak ingin merasakannya namun semesta seperti tidak pernah mengijinkan aku untuk merasakan hal itu.
Aku ingin tau bagaimana rasanya dipeluk dan disayangi oleh seorang Ayah?
Aku ingin tau bagaimana rasanya dipeluk dan disayangi oleh seorang Ibu?
Aku ingin tau bagaimana rasanya dipeluk dan Disayangi oleh seorang Kakak?
Apa kalian tau bagaimana rasanya diasingkan di keluarga sendiri? Tidak pernah dianggap ada dan selalu saja dibandingkan dengan sodara kalian? Kalian tau rasanya SAKIT sekali.
Begitulah kehidupan ku selama ini, Papah dan Mamah hanya menyayangi KakakKu saja. Mereka tidak pernah menganggap keberadaan aku selama ini. Semuanya hanya perduli terhadap KakaKu saja.
Aku tau Kak Gibran jauh lebih baik dariKu, dia Pintar, dia selalu juara umum disekolah nya, selalu mengikuti perlombaan apapun. Tapi bukankah setiap anak memiliki kelebihan masing-masing, begitu juga denganKu yang berbeda dari Kak Gibran.
Kak Gibran ya Kak Gibran, Aku ya aku. Kita tidak bisa disamakan hanya karena kita sodara.
Entah hal apa yang telah aku perbuat sehingga mereka tidak bisa Menyayangiku seperti mereka menyayangi ka Gibran
Varka POV End
____
Varka melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah setelah menyelesaikan kegiatan nya disekolah. Ia berjalan seorang diri menyusuri trotoar jalan untuk menuju ke halte Bus agar bisa pulang kerumah. Kakaknya sudah pulang lebih dulu karena selalu dijemput oleh Mamanya, sedangkan Varka selalu saja ditinggalkan dengan alasan 'Mobilnya penuh'. Sesulit itukah untuk menerima kehadirannya sebagai seorang anak dari Mama juga.
Mirisnya lagi Ketika semua siswa berjalan bersama teman-temannya, Varka hanya bisa sendirian. Ia tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai seorang teman karena tidak pernah ada seorangpun yang ingin berteman dengannya. Semesta tidak pernah mengijinkan Varka berteman dengan siapapun.
___
Sesampainya dirumah, Varka melihat Papa, Mama dan Kak Gibran sedang duduk diruang tamu sambil tersenyum senang, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku pulang" ucap Varka menghampiri mereka
Tak ada yang menjawab ataupun memperdulikan kehadirannya, rasanya ia sudah Lelah mendapatkan perlakuan seperti ini tapi bagaimanapun juga mereka adalah keluarganya, ia tidak bisa membenci Keluarga nya sendiri.
"Oh iya Ma Gibran mau hadiah boleh? Kan Gibran juara satu lagi sekarang"
"Tentu sayang, mau apa?" Tanya Papa
"Mau Handphone boleh Pa?"
"Boleh, nanti papa belikan ya"
"Makasih Pa"
Sudah cukup, Varka muak melihat nya. Setelah diabaikan kini ia juga harus melihat Kakaknya yang selalu diperhatikan dan disayang oleh orang tuanya.
"Aku ke kamar dulu Mah Pa" ucap Varka pada akhirnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu..." Cegah Mama
Varka kembali berbalik dengan senyum merekah diwajahnya, ia merasa senang karena akhirnya Mamah memanggilnya dan mengajaknya bicara
"Kakak kamu hari Ini juara satu lagi disekolah, Nilai mata pelajarannya juga diatas 80 semua. Kamu gimana? Juara berapa?" Tanya Mamah
"Aku juara 4 Mah, Bagus kan Ma? Peringkat aku naik dari semester sebelumnya, Nilai aku juga udah lumayan bagus Ma, Aku boleh kan minta hadiah juga" jawab Varka dengan semangat
"Apa kamu bilang? Juara 4? Malu-maluin banget, apa bagusnya juara 4 Hah.. liat Tuh Kaka Kamu selalu dapet juara 1 dan bisa Juara Umum. Kamu tuh jadi anak gak ada ngebanggain orang tua ya, bisanya cuma bikin malu" Bentak Mama
"Jangan harap papah kasih kamu hadiah, Bukannya bikin bangga malah bikin malu" ucap Papa sinis
Varka menghela napas lelah, Ia benar-benar bingung dengan keluarganya. Sebenarnya salah nya dia disini apa sih?
"Makannya belajar yang bener!!! Jangan keluyuran gak jelas" ucap mama kembali
"Aku gak keluyuran ma, Aku cuma main keluar sebentar aja. Emang apa yang salah sih kalau aku cuma dapet juara 4? Itu juga udah bagus daripada semester kemarin, kenapa mamah sama papa gak bisa ngehargain usaha aku buat bisa naikin nilai aku sih" tanya Varka
"Ya ampun kamu tuh ya.. liat Kaka kamu, dia selalu rajin belajar setiap hari, selalu bisa diandalkan sama mamah Papa. Selalu banggain kita!! Kamu apa?? Apa yang udah kamu kasih ke kita? Udah syukur masih diterima dirumah ini"
"Aku ya Aku, ka Gibran ya Kak Gibran Ma. Gak akan pernah bisa sama. Kenapa aku harus selalu kayak Kaka? Kenapa?? Emangnya kalian gak bisa melihat aku sebagai Varka? Aku ini juga anak kalian!!"
"Varka..!!!" Bentak Papa
"Aku cape Pa selalu dibandingin sama Ka Gibran, Cape pa"
"Cape kamu bilang?! Kamu cuma diem dirumah dan tidur aja cape kamu bilang?? Lihat kakak kamu yang selalu belajar tiap hari, sela...."
Varka memotong ucapan Papanya, Ia sudah tahu dan cukup hapal akan kemana pembicaraan ini jika dilanjutkan lagi. Dan hari ini sudah cukup untuknya, ia sudah cukup lelah dengan sekolahnya.
"Terserah mama sama Papa aja, aku minta maaf kalau aku belum bisa kayak kak Gibran. Maafin aku Ma Pa" ucap Varka
"Baguslah kalau kamu nyadar." ucap Mama
Varka langsung melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya yang kini kembali terfokus pada Kakanya. Lihat bagaimana semesta tak pernah berpihak Padanya, selalu saja yang menjadi fokus semua hal adalah Kakaknya. Ia sebagai adik juga merasa iri terhadap kasih sayang yang diterima oleh Kakaknya namun Varka bisa apa jika semesta saja tak berpihak padanya.
___
"Kak Gibran, Turun Nak makan dulu..." Teriak mama dari Bawah
Tidak lama dari itu Gibran dan Varka turun untuk sarapan bersama. Walaupun kehadiran nya tidak pernah dianggap tapi Varka akan tetap selalu berusaha agar bisa terlihat ada. Nyatanya kejadian semalam saja tidak membekas pada keluarganya, hanya dirinya saja yang selalu mengingat kejadian kejadian tak mengenakan
"Duduk sayang."
"Iya ma, papa mana?" Tanya Gibran
"Papa disini. tumben banget nyariin papa" ucap papa lantas mencium kening Gibran
"Hehehe... Biasa Pa, Gibran mau bicara sesuatu"
"Apa?" Tanya Papa
__ADS_1
Varka hanya memperhatikan sambil memakan sarapannya, Toh seperti biasa kehadirannya tidak pernah dianggap ada bukan.
"Gini mah Pa, Kan Sekarang Gibran udah Kelas 3 SMP. Boleh gak kalau Gibran pengen bawa motor kayak temen-temen Gibran?"
"Boleh dong sayang, iya kan pa?"
"Iya Boleh, tapi kamu harus hati-hati ya bawa motornya. Mau motor model gimana sayang?"
"Terserah papa aja deh, aku gak Minta yang bagus-bagus kok. Biar bisa dipake aja pa"
"Yaudah kalau begitu gimana kalau motor Vespa model sekarang aja?"
"Wah.. Boleh pa, Gibran juga suka. Makasih ya" jawab Gibran bahagia
Varka yang melihat hal tersebut merasa sedikit sesak tapi apalah daya ia hanya seorang anak yang tak dianggap
"Ma, Pa, aku juga boleh minta sesuatu gak?" Tanya Varka ragu
Varka sendiri tidak yakin jika permintaannya akan dikabulkan tapi apa salahnya mencoba kan
"Minta apa?"
"Varka cuma minta dibeliin pensil warna aja Pa, Boleh??"
"Kamu masih suka ngegambar?" Tanya Mama
"Iya Ma"
"Gak ada kerjaan banget pantes aja nilai kamu jelek ternyata malah sibuk ngegambar. Lihat tuh Kaka kamu belajar terus jadi nilai bagus" ucap mama sinis
Varka menghela napas panjang, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terpancing emosi
"Lagian kamu ini, kemaren-kemaren kan udah beli sepatu masa sekarang udah minta dibeliin pensil warna sih. Gak usah lah buang-buang uang, gak penting" ucap papa
"Yaudah Pa, kalau emang gak mau beliin gak papa kok." Ucap Varka lantas berdiri
Sebenarnya apa yang bisa Varka harapkan dengan meminta sesuatu dari keluarga ini, permintaan nya dikabulkan?? Rasanya tidak mungkin hal itu terjadi. Padahal ia hanya meminta sebuah barang kecil yang harganya tidak seberapa itu.
"Varka berangkat sekolah dulu"
Lagi dan lagi ucapannya tak direspon. Ia melenggang pergi dari rumah itu tanpa ucapan kasih sayang dari orang tuanya.
Apa sih yang Varka bisa dapat, kasih sayang? Perhatian? Apresiasi? Rasanya mustahil sekali hal itu terjadi pada seorang Varka Adibumi
Varka berjalan menyusuri trotoar jalan dengan senyum kecut. Sakit? Tentu saja, apalagi ia hanya seorang anak laki-laki yang baru saja menginjak kelas 2 SMP dan selalu saja merasa diabaikan.
Varka duduk dikursi halte sambil menghela napas lelah, ia lelah dengan segala hal
"Ma, Pa, Varka juga pengen disayang dan diapresiasi sama kalian kaya Kak Gibran" Gumam Varka sambil berusaha menahan air matanya
Varka marah, Varka kecewa, Varka lelah, ia cemburu pada segalanya. Jauh dilubuk hatinya Varka cemburu, karena semesta Hanya berpusat pada saudaranya begitupun juga Kedua orang tuanya. Sedangkan Varka? Ia sendirian, entah ada yang peduli Padanya atau tidak.
__ADS_1