
sesuai dengan harapannya yaitu tidak akan ada yang memiliki. jika dendamnya tidak tertunaikan. meskipun harus ada nyawa yang melayang. dengan tembakan yang meleset menembus kesunyian malam dan tepat sasaran meskipun kabar korban belum di ketahui akhirnya seperti apa
di sebuah ruangan, berdindingkan tembok bercak gelap. dengan berhiaskan lentera merah. entah berapa banyak asap yang telah di semburkan dari tembakau yang di bakar, tatapannya begitu tajam, memancarkan kebencian yang mendalam, luka dan rasa sakit yang di torehkan orang-orang yang telah merenggut nyawa keluarganya dan setelahnya harus menderita akan didikan yang tidak sesuai dengan umurnya.
setiap hembusan napasnya akan mendapatkan bunyi dari ketukan jari di atas meja, bagaikan mengikuti alunan melodi. dengan bertumpukan pada kursi empuk berwarna hitam pekat.
fikirannya menerawang jauh. kecelakaan yang melibatkan dirinya dan hampir merenggut nyawa jika tuhan tidak berbelas kasih memberikan hidup yang ke dua.
diselamatkan lelaki berjas hitam yang tidak mudah lagi. di didik hingga besar dengan proses begitu ekstrim. membuat dirinya lupa akan rasanyan bermain dan menikmati hidup. tidak terasa setetes air mata yang jatuh dari kelopak matanya.
sesak?
sakit?
itulah yang dirasakan.
__ADS_1
hidup bagaikan tak bernyawa. meskipun kesenangan dunia selalu dilakukan tetapi itu tidak memberikan kepuasan jika tidak merenggut nyawa dari cucu sang pembunuh.
"kematian yang menimpah keluargamu di sebabkan oleh keluarga wijaya. balaskan dendammu. buat mereka menderita sama halnya dengan dirimu". pesan seorang lelaki tua. membuat dirinya buta akan kebenaran hingga membangun kebencian.
waktu begitu singkat hingga membawanya kepada kehidupan yang penuh dengan drama. melihat ayah angkatnya yang melakukan kasi sayang kepada keluarganya membuatnny tersenyum kecut. pasalnya, apa yang di suguhkan bukanlah kebenaran. semua sudah di modifikasi sedemikian rupa hingga waktu itu datang. dimana lelaki tua itu mengusulkan agar dirinya menghilang dari pandangan keluarganya guna melancarkan aksi balas dendam. jika hal itu terjadi maka tidak akan ada yang curiga.
hingga malam itu. satu tembakan berhasil menembus ragah yang berdiri di antara banyaknya manusia.
puas? belum.
peluru yang telah di modifikasi dengan campuran racun yang dapat mematikan dalam waktu 1 jam, jika menembus organ vital manusia. itulah yang di masukkan kedalam tubuh sang korban."Erlangga". nama yang telah menjadi sasaran empuknya. "aku tidak butuh harta seperti laki-laki tua itu. tetapi tangisan pilu dari istri tercintamu dan anakmu adalah kepuasan tersendiri untuk diriku". sambungnya lagi dengan sorotan mata tajam."hahahaha, sampai jumpa di akhirat".
deringan pembawa pesan benda pipi di atas mejanya membuat atensinya teralihkan.
"Tuan Erlangga hingga hari ini belum sadarkan diri". kabar dini hari yang didapatkan.
__ADS_1
membuat nafasnya memburu."****". bukan ini yang di harapkan. dia ingin jika Erlangga merenggang nyawa agar penderitaan terakhirnya jadi buronan tidak terasa berat sebab dendam terakhirnya terbalaskan. tetapi apa yang di dapatkan. nyawanya kemungkinan bisa Masi tertolong.
"lakukan tugas kalian dengan baik". perintahnya.
cukup sudah penderitaan yang harus dialami dengan sendiri, dia ingin semua mengikuti jejaknya.
"maaf tuan. kami tidak bisa mematuhi perinta anda untuk kali ini". jawab sang pemberi pesan di sebrang sana, pasalnya setiap sudut di penuhi dengan pengawasan ketat yang artinya tidak ingin kecolongan lagi dan jika mereka nekat menembus maka nyawa mereka akan jadi korban. dan hal itu harus mereka hindari.
"aku membayar kalian bukan untuk jadi pengecut. sekarang laksanakan tugas kalian". perintahnya lagi dengan tidak ingin di bantah.
"maaf tuan, kami Masi memiliki anak dan jika hari ini kami tertangkap maka nyawa kami akan melayang". pesan terakhir membuat sang penerima murka.
tidak terima? jelas. bukan ini yang di harapkan . semua rencana yang disusun matang hancur berantakan.
ah sial
__ADS_1
teriaknya dengan frustasi atas kabar yang tidak sesuai ekspektasi