LENTERA

LENTERA
part 10


__ADS_3

_________________


Happy Reading


_________________


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, itu artinya Keluarga Varka sedang melakukan kegiatan makan malam seperti biasa. Ada Varka, Juna, Clara, dan Gibran disana, tapi seperti biasa Varka hanya diam tanpa ikut menyahuti obrolan mereka.


"Papa, motor baru Kaka udah dateng?" Tanya Gibran pada Juna dan dibalas anggukan oleh Juna


"Wahh,, berarti aku udah boleh ya bawa motor ke sekolah. Sekarang kan aku udah mau kelas 2" ucap Gibran membuat Juna langsung mengusap lembut kepalanya


"Iya Kak boleh"


"Yes.. makasih Pa Kakak sayang banget sama papa" ucap Gibran


Disana Ada Varka juga tolong jangan lupakan itu, ada Varka yang sejak tadi memperhatikan interaksi anak dan ayah itu dengan tersenyum kecut.


Dalam hatinya Varka ingin sekali seperti Gibran, Varka ingin Juna juga menatapnya dengan tatapan yang tulus dan penuh kasih sayang seperti yang sering Juna lakukan pada Gibran. Tapi kenyataannya? Hanya sekedar menanyakan bagaimana keadaan Varka pun Juna terlihat enggan, apalagi memberikan kasih sayang. Rasanya mustahil sekali.


Varka menghela napasnya lalu beranjak lebih dulu, memilih untuk menyelesaikan makan malam nya lebih awal. Varka muak, Muak sekali karena setiap hari ia harus selalu menyaksikan kehangatan di keluarga ini tanpa bisa merasakannya sekalipun.


Lagi-lagi rasa sesak memenuhi ruang dadanya, membuat Varka kembali menangis dalam diam sambil mencuci piring. Rasanya terlalu sakit, sampai untuk bernapas pun terasa amat sulit..


Varka buru-buru menyeka air matanya saat merasa ada seseorang yang mendekat ke arahnya.


"Varka..." Ucapnya membuat Varka menoleh


"Kakak? Ada apa?" Ucap Varka yang mendapati Gibran dihadapannya.


Sebenarnya Varka masih sedikit kesal dengan Gibran karena Kakaknya ini terus-menerus menanyakan perihal Helsha. Ia benar-benar merasa jika kakaknya ini mungkin saja ingin mendekati Helsha, tapi Varka tidak bisa meluapkan perasaan nya. Bagaimanapun juga Gibran adalah kakaknya dan ia sebisa mungkin harus menghormati dan menyayangi kakak nya ini.


"Gak usah nyuci piring, Kesini dulu Kaka mau ngomong" ucap Gibran.


Varka pun menurut dan mengikuti langkah Gibran yang membawanya ke ruang tengah agar hanya ada mereka berdua saja.


Varka kemudian duduk disamping Gibran yang kini masih sibuk dengan ponselnya.


"Ada apa kak?" Tanya Varka


Gibran kemudian Menoleh pada Varka dan menatapnya


"Kak..."


"Kakak cuma mau nanya, kamu ke sekolah suka naik apa?" Tanya Gibran


"Kakak gak tau?" Tanya Varka


Gibran menggeleng pelan, membuat Varka tersenyum samar.


Lihat.. bahkan selama ini Gibran tidak tau Varka ke sekolah naik kendaraan apa? Miris sekali bukan.


"Varka naik Bus kak" ucap Varka


Gibran terdiam beberapa detik saat mendengar jawaban Varka


"Ah.. iya-iya"


"Iya kak"


"Varka..."


"Iya?"


"Kamu besok kan hari pertama masuk SMA, kamu pake motor Vespa Kaka yang dulu aja ya?"


Mata Varka membulat saat mendengar ucapan Gibran barusan


"Beneran kak?" Ucap Varka dengan suara yang terdengar begitu senang


"Iya beneran, kan Kaka udah dapet motor baru dari papah. Lagian Vespa nya juga udah lama gak dipake kok, tapi harus dibenerin dulu deh kayaknya" ucap Gibran


Varka tersenyum lebar lalu menggenggam tangan Gibran


"Gapapa kak, nanti biar Varka yang benerin Kaka gak usah khawatir" ucap Varka yang terlampau senang sampai melupakan Kenyataan bahwa sebenarnya Vespa tersebut sudah sulit dinyalakan


Gibran hanya tersenyum tipis, ia lalu beranjak namun sebelum Gibran menjauh Varka menarik pelan ujung baju Gibran yang membuat lelaki itu kembali menoleh


"Kaka.." ucap Varka sambil menatap mata Gibran


"Kalau Varka nanya sesuatu boleh?"

__ADS_1


Gibran membalikkan tubuhnya menghadap Varka lalu kembali duduk


"Apa?"


"Kaka suka Sama Helsha?"


Gibran hanya mengerutkan keningnya dan diam tak sedikit pun ingin menjawab


"Kakak sayang gak sama aku?"


Lagi-lagi Gibran hanya terdiam membisu bingung harus menjawab apa


Varka hanya tersenyum tipis, pasalnya sudah lebih dari semenit tapi Kakaknya ini tetap diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Varka. Varka lalu menghela napasnya.


"Kakak gak sayang ya? Gapapa kok kak, Tapi aku cuma minta kakak jangan ambil Helsha. Kakak boleh benci dan gak sayang sama aku tapi jangan pernah ambil Helsha dari aku" ucap Varka


Gibran masih saja terdiam tak menjawab.


Varka beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamarnya. Rasanya apa yang ia ucapkan sudah sangat jelas untuk diterima dengan baik oleh Kakaknya.


"Kak, Makasih buat Vespa nya, Varka janji bakal jaga baik-baik. Dan apapun itu yang kakak lakuin sama aku, Aku tetep sayang sama Kakak" ucap Varka sebelum meninggalkan Gibran sendirian.


Gibran masih saja terdiam disana tanpa mampu menjawab pertanyaan Varka. Lidahnya tiba-tiba saja terasa Kelu ketika ia ingin menjawab pertanyaan adiknya itu, seperti ada sesuatu dihatinya yang terus menahannya untuk berbicara.


Entah sudah berapa kali Varka selalu menanyakan kedua hal itu, dan lagi-lagi Gibran hanya bisa diam tanpa menjawab.


Gibran menghela napasnya lalu ikut beranjak dari sana.


"Maafin kakak Varka..." Gumamnya.


____


Helsha buru-buru turun ke bawah untuk menghampiri Varka yang tadi menghubunginya dan mengatakan jika ia sudah didepan rumah Helsha.


Ya memang saat ditelpon semalam Varka mengatakan jika ia ingin menunjukkan sesuatu padanya, tapi kenapa sampai harus datang kerumahnya pagi-pagi sekali, apalagi hari ini hari pertama masuk sekolah SMA.


Saat Helsha membuka pintu rumah, terlihat Varka yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Helsha.


"Varka kok kesini? Bukannya kita mau naik Bus ya? Kesini jauh loh" ucap Helsha


Varka hanya terkekeh sebentar


"Bentar dulu, aku kan mau nunjukin sesuatu" ucap Varka


"Ihhh kok merem segala??" Tanya Helsha


"Cepetan..."


Akhirnya Helsha menurut lalu menutup kedua matanya menggunakan tangan.


"Jangan ngintip ya.." ucap Varka sambil menuntun Helsha untuk berjalan


"Helsha... Sekarang buka matanya" ucap Varka


Dengan pelan Helsha membuka matanya


"TAAADAAAA...." Ucap Varka tersenyum sambil memperlihatkan sebuah Vespa yang terlihat seperti, Bekas?


"Liat aku bawa Vespa, Ayo naik Vespa ke sekolah sama aku" ucap Varka sambil tersenyum pada Helsha


"Ini Vespa siapa Varka? Kok Helsha baru liat? Punya Varka ya?"


"Bukan, ini Vespanya bekas kak Gibran. Semalem dia bilang pake aja buat aku berangkat ke sekolah. Jadi aku pake deh, semalem aku gak tidur sampe subuh karena ngebenerin ini biar bisa nyala. Aku seneng bangettt tau Sha" ucap Varka yang memang terlihat sangat senang.


Ahh pantas saja penampilannya seperti barang bekas ternyata memang benar itu bekas.


Varka tersenyum sangat bahagia, bahkan Helsha jarang sekali melihat senyum Varka yang seperti ini dan tanpa sadar Helsha pun ikut tersenyum.


"Varka sebahagia ini ya? Padahal ini cuma barang bekas yang dikasih Kaka kamu..." Gumam Helsha dalam hati


"Ayo naik Sha..." Ucap Varka sambil menepuk pelan jok kosong dibelakangnya.


Helsha tersenyum, lalu mengangguk dan langsung duduk dibelakang Varka.


"Pegangan jangan?" Tanya Helsha


"Pegangan, nanti jatoh"


"Kemana pegangannya? Tanya Helsha tersenyum


Varka menoleh sambil terkekeh karena pertanyaan gadis ini, apa gadis ini ingin menggodanya atau apa

__ADS_1


"Wah.. Sha kamu..." Ucap Varka sambil tertawa dan hendak mencubit hidung Helsha


"Ehh jangan coba-coba ya..." Ujar Helsha sambil menahan lengan Varka


Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama, benar-benar hal kecil namun menyenangkan jika dilakukan dengan seseorang yang berharga untuk kita


"Nih ya, kalau pegangan tuh kesini juga gapapa kok" ucap Varka sambil menarik kedua tangan Helsha lalu melingkarkan dipinggang Varka


Helsha tersenyum mendengarnya, entahlah Varka selalu bisa membuatnya tersenyum walaupun hanya hal kecil.


"Oke, kita berangkat ya" ucap Varka dengan bahagia.


Entahlah, melihat Varka seperti ini membuat Helsha sadar, kalau selama ini ternyata Varka selalu bersyukur dan tersenyum atas apa yang ia miliki dan dapatkan. Meskipun sekarang Varka mendapatkan Vespa yang kenyataannya hanyalah barang bekas tapi Helsha bisa melihat jika senyum yang ditampilkan Varka adalah senyum kebahagiaan yang paling tulus yang pernah Helsha lihat.


Ternyata Varka sebahagia itu sekarang.


Sepanjang perjalanan ke sekolah Helsha dan Varka tak henti-hentinya tertawa. Bahkan Varka sangat bahagia karena bisa mengendarai Vespa bersama Helsha.


"Helsha, maaf ya Vespa nya berisik" ucap Varka


Helsha terkekeh mendengar ucapan Varka


"Ihh gapapa, Helsha seneng kok asal itu sama Varka"


Varka benar-benar bersyukur karena Gibran memberikan Vespa miliknya pada Varka, meskipun itu bekas tapi Varka sangat senang sekali. Setidaknya sekarang Varka tidak perlu repot-repot berangkat lebih awal untuk mengejar bus agar tidak tertinggal.


Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke sekolah, Awalnya tidak terjadi apa-apa namun tiba-tiba saja Vespa yang dikendarai Varka berhenti ditengah perjalanan.


Varka dan Helsha akhirnya turun dari Vespa.


"Loh? Kok berhenti ya?" Ucap Varka kebingungan


"Varka kayaknya ada yang rusak deh, Soalnya tadi Helsha kayak denger mesinnya berisik pas sebelum berhenti"


Varka terdiam, lalu melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Sha, 10 menit lagi gerbangnya ditutup" ucap Varka


"Ya ampun iya, Terus gimana dong?"


"Helsha naik taksi aja ya? Varka pesenin sekarang oke? Helsha berangkat duluan aja takutnya telat" ucap Varka


"Terus Varka gimana?"


Varka tersenyum lalu mencubit pipi Helsha gemas


"Gapapa, gak usah mikirin aku ya? Yang penting sekarang Helsha gak telat"


"Engga Varka, Helsha disini aja sama Varka" ucap Helsha


"Helsha kalau kamu disini nanti telat, Kamu duluan aja ya?" Bujuk Varka


"Engga Varka, Helsha mau nemenin Varka. Gapapa telat juga, Helsha gak mau ninggalin Varka sendirian disini"


"Helsha..."


"Nggak mau"


Varka menghela napas, ia menyerah untuk membujuk Helsha agar mau berangkat lebih dulu. Nyatanya gadis ini jika sudah punya pendirian sulit sekali untuk dirubah.


"Maafin aku ya? Harusnya aku gak ngajak naik Vespa, harusnya aku cek dulu keadaan Vespanya. Maaf ya Sha, gara-gara aku kamu jadi telat" ucap Varka menunduk.


"Gapapa kok, Helsha seneng naik Vespa sama Varka, Gapapa telat juga asalkan ada Varka Helsha seneng. Sekarang daripada diem disini, mending kita dorong Vespanya sampe ke bengkel yu? Kalo gak salah di Deket sekolah ada bengkel deh" ucap Helsha


Varka menatap Helsha, kemudian menunduk


"Ihh... Udah gapapa, ayo kita dorong" ucap Helsha menepuk bahu Varka


"Gapapa?" Tanya Varka memastikan


"Iya gapapa" ucap Helsha


"Makasih ya dan maaf sekali lagi" ucap Varka


"Varka, asalkan itu sama Varka, Helsha gak masalah, jadi jangan sedih ya? Bukan salah Varka kok, nanti pulang sekolah kita benerin Vespanya sama-sama ya Varka" ucap Helsha sebisa mungkin agar Varka sedikit tenang dan tidak merasa bersalah.


Varka tersenyum saat melihat Helsha yang sedang berusaha membantunya mendorong Vespa, ia bersyukur sekali memiliki Helsha.


Seandainya Varka mampu, ia ingin sekali membelikan sesuatu hal untuk gadis ini. Tapi untuk sekarang rasanya Varka belum mampu.


Sambil mendorong Vespa, diam-diam Varka memanjatkan doa. Ia sangat berharap jika sekarang dan nanti Helsha bisa selalu berada disampingnya, menguatkannya, bahkan menjadi rumah untuk ia pulang.

__ADS_1


Semoga saja ya Varka


__ADS_2