
Seperti yang disampaikan bahwa Erlangga harus di berangkatkan sore ini. Awalnya Rindu sangat syok akan keadaan yang sebenarnya, resah, kecewa dan rasa sakit semua bercampur menjadi satu. Namun demi keselamatan suami, Rindu tidak bisa berlama-lama untuk berfikir. Yang harus dilakukan adalah mengikuti segala instruksi dari dokter sebab bagaimanapun, dokterlah yang lebih paham. menyangkut apa yang harus dilakukan.
Dan dirinyalah sebagai istri harus mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Baik dalam bentuk fisik maupun mental.
Sekarang Rindu berada di negara tetangga, setelah beberapa saat menempuh perjalanan Yang memakan waktu beberapa jam hingga membuatnya cukup lelah.Mengingat perkataan dokter yang langsung mengambil alih Erlangga.
"Kami hanya medis namun kami akan melakukan semaksimal mungkin. Tapi untuk itu, doa' ibu juga di butuhkan disini sebagai keluarga dan tentunya sebagai istri". Penjelasan dokter beberapa menit yang lalu sebelum mengambil alih Erlangga untuk di bawa masuk ke ruangan operasi, untuk mengangkat sisa-sisa jaringan racun yang ternyata Masi bersarang didalam.
"Setelah pemeriksaan yang kami lakukan atas sampel yang dikirim beberapa waktu yang lalu, kami menemukan ke aktifkan racun didalam tubuh pasien. Meskipun hanya 0,01% namun jika di biarkan akan menyebar luas dan membuat beberapa jaringan lain dan hal itu bisa merusak organ-organ pasien atau merujung pada kematian".
Semua yang di katakan dokter, kini berputar di atas kepalanya. Kemungkinan, jaringan racun, yang artinya racun yang bersarang di tubuh sang suami adalah racun bersifat virus yang kapan saja bisa menguasai tubuhnya dan tidak tidak, dengan menggelengkan kepala lalu memegang kepalanya yang terasa berdenguk akibat berfikir kerasa.
Didekatnya ada sang mertua, Arka dan siska. Ibunya tidak bisa mendapingi sang anak sebab Andre sedang tidak bisa di tinggal karena kondisinya yang tiba-tiba kurang sehat beberapa hari ini. Namun, Rindu tidak Masalah untuk hal itu. asal ibu dan adiknya tetap sehat, dan tentunya menjaga kesehatan mereka. Rindu sudah lega pasalanya dirinya tidak akan sanggup lagi jika harus ada yang ikut terbaring lemah hingga tak berdaya.
"Sayang kamu makan dulu ya. Ini udah ada bubur di beliin sama nak Arka dan Siska. Kalau dingin mg enak jadi sekarang makan ya".
Sinta yang berada di samping Rindu merasakan hal yang sama namun tubuhnya juga butuh asupan makanan Agar tetap kuat.
"Iya Rindu, sekarang makan ya. Kamu perluh mengisi tenaga. Kasian anak kamu jika tidak di berikan makanan". Timpal Siska yang memang tidak bisa memanggil Rindu dengan sebutan nona atau nyonya pasalanya itu permintaan Rindu dan tentunya dia tidak keberatan.
Melihat kondisi dari istri sahabatnya, membuat Siska tidak tega. di usia yang masih mudah dan sekarang sedang hamil. Harus menghadapi banyak ujian dan lebih parahnya lagi adalah suami yang masih di tunggu kelanjutan kondisinya sebab ruang operasi Masi hening tanpa ada manusia yang keluar dari sana.
Membayangkan dirinya berada di posisi Rindu, rasanya Siska tidak sanggup. Menoleh kearah Suami lalu memberikan senyuman manis yang ternyata juga ikut memperhatikan dirinya dari tadi.
__ADS_1
Siska berharap agar cobaan dan mara bahaya di jauhkan dari keluarga kecilnya. Meskipun masih malu-malu mengakui bahwa dirinya telah jatuh dalam pesona Askara Abimanyu. Namun jika berada di posisi Rindu, maka dirinyalah orang pertama yang akan kritis.
Tidak ada wanita yang sanggup di posisi Rindu. Melihat sang suami secara nyata namun tidak merasakan kehadirannya.
Sedangkan Rindu yang mendengar ada sang anak di dalam rahimnya, membuat dirinya tersadar. Ternyata dia lupa akan satu hal itu.
Dengan gerakan lambat, Rindu mengusap perutnya "maafkan bunda sayang". Gumamnya lirih yang masih di dengar orang-orang disana. "Makasih kak". Lanjutnya lagi Dengan melirik makanan yang disiapkan untuk nya.
"Sama-sama. Makan yang banyak ya". Ucap Siska lalu berjalan menuju tempat Arka berada lalu mengambil posisi duduk disana.
"Mas. RIndu kasihan ya". Panggilnya setelah mengambil posisi bersandar di bahu sang suami dengan menyuarakan isi hatinya.
Arka yang merasakan kepala sang istri sudah menempel kepadanya, kini tangannya terangkat dan membelai rambut istri tercintanya.
Setelah hari dimana dirinya dan Siska bertengkar hebat, Arka tiba-tiba teringat akan perubahan mood sang istri serta pembalut didalam kamar mandi Masi utuh dan hal itu langsung di tanyakan terkait hari terakhir nya datang bulan dan setelah Siska mengetahui menstruasinya telat 2 minggu, Arka Langsun memberikan alat cek ke hamilan kepada Siska dan setelah beberapa menit, Ternyata hasilnya positif. namun untuk memastikan kebenarannya Arka membawa Siska ke rumah sakit dan setelah pemeriksaan kandungan, Siska dinyatakan hamil. Tetapi janinya terlalu lemah sehingga Siska di himbau untuk tetap menjaga fikiran positif serta melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Siska yang mendapat nasehat dari sang suami, Langsun mengeratkan pelukannya di lengan Arka dan kemudian mengangkat wajahnya untuk bisa menatap intens wajah Arka. Laki-laki sederhana menurut mamanya namun ternyata dia keluarga Wijaya.
"Makasih, mas suami ku". Dengan memberikan senyuman manis lalu melabukan kecupan di wajah tampan sang penanam benih.
Entah kenapa Siska akhir-akhir ini agresif, Kadang-kadang suka tidak tahu tempat untuk bermesraan.
Arka yang mendapatkan kecupan tiba-tiba langsung membeku. Bukan tanpa alasan, sebagian mata orang-orang melihat ke jadian yang tak biasa.
__ADS_1
"Sayang, suka bangat sih curi ciuman di tempat umum begini". Tegur Arka dengan liri yang juga semakin merapatkan dirinya agar sang istri lebih mudah memeluk lengannya. Dan tentunya Arka juga merindukan dekapan sang istri. Pasalnya, dirinya sangat sibuk beberapa hari ini untuk mengurusi keperluan Erlangga serta memantau keamanannya.
"Emang mas Ng mau Siska cium". Protesnya karena tidak terima dengan ucapan Arka yang seakan-akan tidak ingin di sentuh. Dengan perasaan kesal, Siska melepaskan dekapannya dari Arka lalu mengambil jarak dengan cara menggeser duduknya namun belum sampai di tempat duduk yang di inginkan, Arka langsung menahan sang istri lalu menarik kedalam dekapannya.
"Istrinya mas kok Suka ngambekan sih. Anaknya papa bilang sama mama agar jangan suka salah paham". Ucapnya denga mengusap perut sang istri lalu melabukan kecupan di kening sang istri guna mengemembalikan moodnya. Siska yang mendengar pengaduan sang suami, malah mencebikkan bibirnya kesal.
"Sayang, nanti kamu balik sama Tante Sinta ya dan juga Rindu. Biar mas yang jagain Erlangga disini". Dengan mengusap rambut sang istri lalu menatap wajah gadis cantik sang pemilik hatinya.
"Iya mas". Jawabnya cuek karena moodnya Masi sama.
Beberapa menit kemudian lampu di ruangan operasi telah mati dan tidak lama kemudian pintu di buka dari dalam dan memperlihatkan seorang lelaki yang usianya kisaran 40 tahun.
Orang-orang yang tadinya masing-masing sibuk dengan fikirannya, kini berhamburan berdiri guna mengetahui hasil operasi tuan muda Wijaya.
"Dok bagaiman dengan keadaan suami saya". Rindu yang memang lebih dulu berada di depan sang dokter dan langsung menodongkan pertanyaan.
Dokter yang mendapat kan pertanyaan dari wanita mudah di depannya, langsung memfokuskan tatapannya sebelum melirik satu-satu orang-orang yang juga membutuhkan jawaban Yang sama.
"Untuk operasi mematikan jaringan virus di dalam tubuh pasien". Ucapnya terpotong lalu menarik nafas dalam-dalam dengan tatapan serius. "Kami sudah berhasil menjinakkannya dan untuk respon tubuhnya, sejauh ini sudah mulai membaik. Tapi untuk kesadarannya, kami belum memastikan kapan". Lanjutnya lagi sebelum meninggalkan orang-orang disana.
Semua orang yang mendengarkan penuturan sang dokter merasa legah sebab operasi yang di lakukan beberapa jam yang lalu, kini berhasil. Tak terkecuali Rindu yang kini berhambur kepelukan Sinta guna menyalurkan rasa syukurnya
maaf teman-teman Ng up kemarin soalnya listrik padam dari sore sampai malam terus tembus siang.
__ADS_1