LENTERA

LENTERA
kabar


__ADS_3

helli yang tadi mengawan di udarah, kini telah mendarat di tanah. pintu terbuka dan menampakkan sosok perempuan cantik yang bersiap keluar. di depan pintu sudah di sambut oleh beberapa orang dan beberapa mobil yang siap mengantar, membawa kepada tempat sang suami tertidur nyenyak.


Rindu yang tidak sabar, langsung berlari ke arah mobil dan hampir saja jatuh jika saja Arka tidak sigap menahan pinggan istri dari tuannya.


"maafkan saya nyonya. tapi nyonya harus berhati-hati". nasehat Arka yang kawatir atas kecerobohan perempuan mudah yang ada di hadapannya. "ingat didalam diri anda ada nyawa lain yang harus anda fikirkan dan anda jaga". sambung nya lagi dengan melepas tangan dari pinggan Rindu.


Rindu yang mendapat teguran langsung menatap kebawah perutnya lalu memberikan usapan disana "maafkan bunda sayang, bunda terlalu Rindu dengan ayah hingga bunda tidak mengingat keberadaan kamu". ucapnya sesal dengan air mata yang sukses membanjiri wajahnya.


orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut, ikut meneteskan air mata. di usianya yang masi muda, terlalu banyak kemalangan yang harus di hadapi. dengan keadaan hamil muda harus berjuang sendiri tanpa dekapan sang suami.


"ayo sayang kita berangkat". ajak sang mertua yang sudah berada disampingnya siap membimbing menuju mobil yang di tumpangi.


"iya ma". jawabnya lalu berjalan dan masuk kedalam kursi penumpang dan di ikuti ibu dan adiknya serta bodyguard yang mengawal di belakang.


sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian. sekali-kali Arka melirik ke arah kaca untuk memastikan ekspresi istri dari tuannya. dengan wajah datar dan fokus kedepan, Arka menarik nafas dalam-dalam. entah seperti apa kejadian yang akan di hadapinya nanti setelah rindu tau keadaan yang sebenarnya. memikirkan saja sudah membuat dirinya kawatir.


sedangkan mama dari suami Rindu, dengan setia merangkul sang menantu aembati mengusap-usap bahunya guna memberikan kenyamanan selama dalam perjalanan.

__ADS_1


disamping kiri Rindu terdapat ibunya yang juga ikut memegang tangan sang anak. sedangkan dikursi belakang ada adik Rindu yang menatap kedepan dengan fikiran menerawang jauh. kebahagiaan yang beberapa hari dinikmati, kini disambut oleh duka.


"loh, ini kita mau kemana". tanya rindu yang keheranan dengan arah jalan. "ini bukan arah jalan kerumah". lanjutnya lagi sembari menatap bahu Arka, berharap ada jawaban dari depan.


"iya nyonya. kita akan langsung ketemu dengan tuan Erlangga". jawabnya singkat yang langsung mendapat tatapan horor dari orang-orang yang ada disana tidak terkecuali dengan rindu yang sudah merasakan atmosfer berbeda dari jawaban sang asisten.


" emangnya suami saya ada dimana". merasa ada yang ganjal, akhirnya Rindu melemparkan pertanyaan gunan mancing orang yang di hadapannya. berharap dengan itu bisa mengorek informasi lebih dalam lagi.


"maaf nyonya". jawabnya dengan tatapan mengarah kedepan. "kita sudah dekat dari lokasi". lanjutnya lagi dengan melirik kaca untuk memastikan keadaan istri dari tuannya. yang hanya di balas anggukan


"baiklah jika kalau tidak ingin memberi tahu aku keberadaan suamiku". jawabnya pasrah dengan mengelus perutnya. "sayang, sebentar lagi kita ketemu ayah". ucapnya dengan senyum merekah. "apapun yang terjadi nantinya dan bagaimanapun keadaan ayah, Mama mohon agar membantu mama untuk tetap kuat". lanjutnya berbicara dengan janin yang masih belum berbentuk sempurnah didalam perutnya.


"Rindu, ibu tau sekuat apa kamu. sebesar apapun badai yang menghantam, Rindu tidak sedikitpun gentar. ibu tahu kondisi kamu saat ini tidak baik-baik saja, dengan keadaan hamil muda begini pasti hormonya tidak stabil tapi terlepas dari itu, ibu harap Rindu bisa lebih dewasa lagi dan lebih tegar lagi karena semakin kita kuat maka semakin besar pula ujiannya. dengan cara seperti iulah Allah ingin melihat sekuat apa hambanya. dan ibu tahu, Rindu adalah anak yang kuat". dengan Masi setia membelai tangan rindu, ibu rindu mencoba memberikan sedikit nasehat sekaligus semangat agar anaknya tidak droop ketik kenyataan menyambut didepan.


"terimakasih ibu. rindu tidak tau tetapi rindu akan tetap berusaha. karena bagaimanapun, sekarang Rindu tidak sendiri melainkan ada calon anak kami disini". ucapnya dengan mengelus perutnya. meski mulutnya berkata begitu. tetapi hatinya begitu sakit.


"apa yang dikatakan ibu kamu memang benar adanya. terlepas kamu berada di posisi seorang istri. jangan lupa bahwa kamu akan menjadi seorang ibu nantinya. ketika bundanya mengalami krisis kebahagiaan maka itu akan berdampak kepada calon anak kalian. jangan sampai kesedihan kamu berimbas terhadap janin yang masih lemah dalam rahim". nasehat sang mertua kepada Rindu.

__ADS_1


"iya ma. terimakasih telah menjadikan Rindu menantu di keluarga ini. Rindu bahagia dan sangat bahagia. mama dan mas Erlangga orang baik. bagaikan malaikat untuk rindu dan keluarga aku". balasnya dengan tatapan sendu. yang dibalas gelengan kepala dan senyuman oleh mamanya Erlangga.


" mama yang harusnya berterimakasih. diusia kamu yang begitu mudah, harus menjadi seorang istri dan mengandung anak. yang tadinya harus di gunakan bermain bersama teman-teman sebaya kamu tetapi harus kamu gunakan untuk mengabdi menjadi seorang istri". Dengan mengusap Surai indah sang menantu dan tak lupa menatap manik mata yang menyiratkan kesedihan guna untuk menyalurkan kekuatan.


mobil yang di tumpangi dengan waktu 30 menit, kini telah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi dengan bercak puti dan terdapat pohon-pohon di sekelilingnya.


di tengah percakapan mereka, pintu tiba-tiba di buka dari luar dan langsung membuat atensi dari penumpang yang duduk di kursi tumpangannya teralihkan.


dengan langkah berat akhirnya rindu mencoba berpijak pada tanah didepan gedung menjulang tinggi. kedatangannya disambut dengan barisan laki-laki berjas serba hitam. selaku istri orang besar, harus terbiasa dengan adat mereka.


namun bukan itu yang penting, ada hal yang lebih penting yang harus dia tahu sebelum melangkah kedalam.m


menarik nafas dalam-dalam sambil menengok kesamping asisten sang suami lalu menghembuskan, berharap ada penjelasan dari arti kedatangan mereka kerumah sakit.


"boleh saya bertanya sekali lagi?. saya tidak meminta dikawal 24 jam. saya tidak meminta di ratukan. saya tidak meminta penyambutan semegah ini. saya tidak meminta di bentangkan karpet merah. dan saya tidak meminta nyawa kamu". ucapnya panjang lebar dengan sindiran sembari melirik sinis wajah kaku di sampingnya. dengan ekspresi yang kemarin-kemarin tidak pernah berubah. ah rasanya rindu ingin mencakar wajah sang asisten jika tidak ingat bahwa perbuatan tersebut tidak bermoral. " suami saya ada dimana tuan Arka yang terhormat". tanyanya kesal.


arka yang mendengar itu hanya melirik sekilas lalu berkata "beliau ada di dalam". jawabnya mengarah kepada jalan menuju lorong rumah sakit.

__ADS_1


Dag


__ADS_2