
El yang sedang berkuak dengan berkas yang di bawakan oleh sekertaris, begitu banyak. Membuat pergerakannya tidak leluasa dan terkesan terjepit. Setiap satu laporan yang selesai, matanya tetap tertuju pada benda yang melingkar di pergelangan tangan. Kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap harinya. Pulang ke rumah di waktu istrihat untuk makan siang sekaligus memastikan keadaan sang istri. Meskipun di ruma banyak pembantu serta mamanya El, tidak bisa jika bukan dirinya sendiri yang melihat secara langsung. Entah sampaikan kapan berkas diatas mejanya akan berhenti melambai-lambai untuk mendapat giliran ukiran tangan nya. Jika tidak mengingat bahwa hari ini bukan hari terakhir, El tidak akan memikirkan dan langsung meninggalkan tempat duduknya. Setiap nafas terdengar memberat setiap kali laporan di atas meja berganti dengan laporan yang satu. Kertas yang begitu ringan tapi bagaikan beban berat baginya untuk di pikul. Kehamilan istrinya di tengah banyak ancaman membuat dirinya cemas. Andai Rindu nyaman berada di kantor setiap hari, mengekori El, El akan membopong istrinya ikut serta dengannya. dan kalau perlu, El akan memindahkan keperluan istrinya. Di tengah fikiran yang berkecamuk, pintu di buka dari luar yang memperlihatkan gadis se usia dirinya. Kehadiran gadis tersebut, tidak juga mengusik kesibukan El.
"Erlangga". Suara yang begitu mendayu dan dirindukan olehnya beberapa tahun yang lalu. Wajahnya terangkat dan menatap wanita cantik didepannya dengan wajah terbingkai senyuman indah yang tidak pernah berubah.
"Raina". Ucapnya liri dengan wajah menegang. Dadanya seperti di hantam batu keras. Tidak mungkin dirinya salah lihat. Wanita yang sudah bertahun-tahun menghilang, kini muncul lagi dengan penampilan yang tidak berubah hanya terlihat lebih dewasa dan semakin cantik.
Dengan langkah berani, Raina maju kedepan lalu masuk kedalam dekapan El yang membeku di tempat. Perasaannya belum stabil tapi kini dirinya kembali di buat kaget dengan serangan tiba-tiba.
Wanita pertama yang menjadi pengisi hatinya. memberikan banyak warna di masa Putih abu-abu, banyak kisah yang mereka ukir dan bahkan rencana kedepannya setelah selesai dari aktivitas pendidikan. Mereka akan membentuk keluarga kecil yang bahagia. Membuat cerita indah selanjutnya setelah masa Puti abu-abu usai. Namun, itu hanya hiasan bibir yang tak tertunaikan sebab wanitanya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Membawa separu hatinya serta meninggalkan banyak luka di hidupnya, hingga sang kakek meminta dirinya untuk menjadi penguntit keluarga kecil yang menjadi sasaran empuk sang penjahat. Tapi siapa sangka, jalan itu malah membuat jodohnya terlihat bahkan kini menjadi tempat penampung benihnya yang sebentar lagi akan menjelma menjadi manusia utu di Duni setelah urusannya di alam rahim selesai.
"Aku rindu padamu El". Ucapan manis yang dulunya menjadi energi positif baginya, kini hanya menjadi makanan tanpa vitamin. Seakan tersadar dari keterkejutan dan lamunannya, El mencoba melepas dekapan mereka. Namun, sudah terlambat. Pintu di buka secara pelan dari luar dan memperlihatkan wanita mungil dengan perut membuncit, seperti patung di ambang pintu. Dengan wajah terkejut dan mata berkaca-kaca, serta tangan gemetar hingga tak kuasa lagi memegang makanan siang yang akan di jadikan sumber nutrisi hingga malam menjelang.
Dengan gerakan cepat, El, Langsung melepas dekapan Raina lalu mengejar istriny yang sudah masuk kedalam lip.
"Sayang tunggu". Teriak El yang membuat semua mata tertuju padanya. Karena waktu Masi istirahat. Jadi, di luar Masi banyak kariawan Yang baru pulang dari makan dan akan kembali ke ruangan masing-masing. Namun, El tidak perduli. Yang sekarang El harus lakukan adalah menemui istrinya dan menjelaskan apa yang tadi menjadi tontonanya.
Rindu yang hatinya telah patah karena pemandangan yang tak seharusnya di lakukan oleh dua manusi berbeda jenis serta tak se mahram, membawa langkahnya semakin menjauh dari El. Dengan hati perih bagai tersayat belati dan mati bagaikan aliran sungai yang pasang, sehingga membuat tak kunjung berhenti mengalir.
Mobil dengan bertuliskan taksi, berhenti di hadapannya. Mengambil gerakan cepat, dengan membuka lalu melangkah naik dan kembali menutup nya. Tak lupa dengan menghapus setiap air yang terus mengalir di sudut matanya.
"Jalan pak".
Tanpa tau arah yang harus di tuju, Rindu hanya ingin membawa dirinya ketempat yang bisa membuat hati dan fikirannya tenang.
"Mau kemana, neng?". Supir yang bingung harus berbuat apa, akhirnya melontarkan arah tujuan yang harus di lewati.
__ADS_1
"Jalan aja dulu pak".
Rinduasih bingung harus kemana, hingga membuat sang sopir membawanya berkeliling.
"Neng habis marahan". Sang sopir yang sepertinya paham akan keadaan wanita mudah di belakangnya, memberanikan diri untuk membuka suara. Siapa tau dia bisa membantu, setidaknya memberikan solusi atau tempat membuang sedih, setelah curhat.
"Pak, kalau pasangan selingku, harus di apakan". Rindu yang tidak tau harus menjawab apa, akhirnya melemparkan pertanyaan.
Sang sopir yang mendengar itu, membuatnya bingung harus menjawab apa. Soalnya, Masalah selingkuh tidak di benarkan. Jika itu yang benar terjadi.
"Suami neng selingkuh". Dengan memastikan sebelum menjawab. Akhirnya sang sopir melemparkan pertanyaan sebelum menjawab.
"Menurut bapak, Kalau pasangan bapak, kedapatan berpelukan dengan orang, itu termasuk selingkuh kan". Dengan air mata yang masi setia mengalir, rindu mengangkat wajahnya menatap sang sopir yang pandangannya lurus kedepan.
"Secara kasat mata, itu emang benar. Tap, apa neng sudah memastikan? Misalkan tanya sama siapa atau mendengarkan penjelasan dulu!".
"Apa masih perlu penjelasan jika sudah kedapatan di ruangan sepi tanpa siapa pun, sambil berpelukan". Jawabnya dengan meremas dadanya yang terasa sesak dan tak lupa mengatur nafas agar kembali normal.
"Sebenarnya, saya juga kurang paham permasalahan seperti itu, neng. Tapi ada baiknya jika di selesaikan secara baik-baik. Jangan malah mengambil langkah dengan main kabur-kaburan. Maaf, saya paham, neng pasti sangat sakit. Tapi, alangkah baiknya jika neng, memastikan semuanya secara mendengarkan penjelasan. Tapi, jangan hanya satu pihak. Libatkan pihak yang lain.". Dengan pandangan Masi setia lurus kedepan dan sekali-kali menatap kebelakang melalui kaca spion. "Selama menikah, apa suaminya biasa melakukan hal seperti itu? Berduaan atau main dengan perempuan lain".
Mendengar jawaban sang sopir, rindu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Selama ini, El sangat setia kepadanya. Bahkan tak sedikitpun dia membuat rindu dalam kesusahan bahkan melukai hatinya. Tapi siapa yang tahu dengan perubahan manusia. Sebab, setiap perjalanan waktu, manusia akan berubah. Dan wanita yang menempel pada suaminya, sepertinya wanita dewasa dan pasti sangat cantik dibandingkan dengan dirinya. Dengan mengingat bagaimana kondisi badannya sekarang yang tidak secantik dulu.
"Tidak pak". Jawabnya yang mengalihkan pandany kepada benda pipi 'hubby'. Nama yang tertera adalah nama yang sangat di hindari.
"Selesaikan secara baik-baik, neng. Jangan sampai, hanya kesalah pahaman. Mana tau, perempuan tadi adalah kerabat atau temannya yang tiba-tiba datang lalu memeluknya. Bukankah sekarang, Maslah pelukan di kalangan teman atau sahabat sudah biasa? Jadi untuk itu, selesaikan dengan cara baik-baik. Tapi, jika sudah tidak ada lagi jalan. maka, jalan terakhir adalah berpisah. Meskipun Allah sangat membenci perpisahan tapi Allah juga tidak Suka dengan menyiksa diri sendiri".
__ADS_1
Mendengar penjelasan Abang sopir, membuat hati rindu seperti di hantam batu keras. Berpisah? Rindu tidak pernah sedikitpun memikirkannya.
"Pak, terimakasi karena sudah mendengar curhatan saya. Antar saya ke mesjid agung". Setelah menimbang-nimbang, akhirnya rindu memilih untuk berdiam diri di mesjid.
setelah beberapa menit, akhirnya rindu tiba di mesjid yang begitu luas dan banyak pepohonan di dekatnya . setelah membayar ongkos mobil, akhirnya rindu mengambil langkah ke arah toilet wanita.
...****************...
dibawa langit cerah, dengan berjejer gedung menjulang hingga menutupi bangunan-bangunan pedagang kecil. seorang lelaki berkemeja hitam dengan dasi yang sudah tidak Serapi tadi pagi, mengacak rambutnya prustasi.
"pak Bimo, buruan". teriaknya prustasi karena sudah tidak mendapatkan jejak sang istri.
"arka, dimana istri saya". teriak El setelah telponnya terhubung.
"sabar El, rindu sekarang berada di mesjid agung". jelas Arka dan langsung memutuskan sambungan dan menuju ke mesjid agung.
...****************...
dibawa pancaran matahari yang begitu panas, hingga mengeringkan lautan tenggorokan. didalam sebuah ruangan, seorang gadis remaja. duduk menghadap ke kiblat dengan tangan menengadah dan air mata yang tak kunjung redah.
memikirkan perjalanan hidupnya bersama sang suami, membuat sayatan semakin luas di dalam qalbu. hatinya tidak ikhlas atas apa yang telah menodai mata, hati dan fikirannya. tapi, apa langkah yang di ambil sudah benar?.
mengingat peristiwa beberapa menit yang lalu, lelaki beristri tak sepantasnya menerima pelukan dari yang bukan mahram, sekalipun itu sepupu. tapi apa yang tadi di saksikan olehnya, bukanlah halusinasi.
rasanya sakit, ketika hati telah dia serahkan sepenuhnya kepada sang pemilik ridho. tapi, amanah tersebut tidak di jaga dengan baik. menikah, bukan hanya persoalan menyatukan dua hati dan mengikat seseorang dalam sebuah hubungan. tapi, menikah mencakup tentang. amanah, kepercayaan, kejujuran, dan menjaga kesucian diri untuk pasangan. terlepas dari cinta, jika agama dan adat di junjung tinggi, pasagan akan tetap memuliakan pasangannya. untuk apa cinta jika rasa menghargai dan kejujuran sudah tidak ada.
__ADS_1
"Rindu".
panggil seorang perempuan yang ternyata berada di ruangan yang sama tanpa sepengetahuan Rindu. mendengar suara itu, membuat rindu terpaku lalu mengarahkan pandangannya.