
di bawah langit jingga, dengan hamparan warnah ke emasan, menghiasi sepinya malam. sudah jam 01:00 malam, tapi mata seorang perempuan tak kunjung terpejam. dengan berbagai posisi untuk mencari pelabuhan mimpi paling tepat, tapi hasilnya sama. sehingga dirinya duduk menyendiri di balkon kamar dengan menatap langit jingga yang begitu cantik akan warnah dari cahaya bulan yang sebentar lagi tertutup awan.
merenung dengan meratapi nasib yang telah di ciptakan olehnya, andai kata bukan sebuah ambisi akan kekuasaan dan harta, barangkali dirinya menikmati hangatnya berselimutkan depan dari orang yang mengisi relung hati.
jika ada kesempatan ke dua, dia akan menggadaikan semuanya dan lebih mengikuti hatinya. untuk apa kemegahan jika hati terasa hampa dan kosong? harta tidak menjamin kebahagiaan. mungkin kekuasaan bisa di beli dan hukuman bisa di redam dengan uang tapi cinta dan kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang.
dirinya sadar, selama beberapa tahun hidup, terakhir kali kebahagian mengisi dadanya, dimasa putih abu-abu.
kepopuleran dan good looking, tidak bisa merubah semuanya jika orang yang di cintai malah jatuh kedalam pelukan orang lain.
dengan mengambil benda pipi di atas meja.
"El, boleh kita bertemu? ada beberapa hal yang ingin aku katakan peristiwa beberapa tahun yang lalu. aku tahu, bunglon maaf tidak lagi bisa aku dapatkan darimu tapi aku tidak tenang jika harus pergi tampar ceritakan alasan dari diriku menghilang".
send, dengan menarik nafas guna menenangkan jatunya yang kini berpacu hebat. sebesar itu kah rasa yang di miliki sehingga membuat jantungnya tidak bisa diam barang sedetikpun.
menunggu satu jam, belum di read. melihat jam, ternyata jam 02:00 pantas saja. orang sudah pada ke alam mimpi.
__ADS_1
semogah besok saat terbangun, sudah ada balasan yang di tunggu dari orang sebrang sana. meskipun sebenarnya mustahil untuk itu. tapi demi kesalahpahaman yang ada, dia perlu meluruskan agar tidak lagi membawa beban dalam perjalanan kisahnya. ternyata mencintai itu sangat merepotkan. andai kata harus memilih dan perasaan bisa di komando, barangkali dirinya memili untuk mencintai lelaki single, karena mencintai lelaki beristri sungguh sangat merepotkan.
bolehkah dirinya egois? menjemput kebahagiannya secara paksa tanpa harus melihat air mata orang lain? andaikan ada pilihan seperti itu, maka dia orang pertama yang akan melakukannya. tapi sayang semua kembali lagi dengan penyambutan hati dari objek yang akan di jadikan mangsa yang sangat empuk.
yang membuat dirinya sedih, ayahnya entah dimana setelah menyerahkan perusahaan kepadanya. dia fikir dengan menerima tawaran dan mengikuti ancaman dari sang ayah, semua akan baik-baik saja. tapi Ternyata kesuyian dan kesepian yang semakin terasa. satu persatu orang pergi dari hidupnya entah kemana.
sudah cukup dirinya bergelayut manja dengan fikirannya, waktunya untuk mengistirahatkan hati dan fikiran dengan mengambil obat dari dalam laci lalu meminumnya. setelah itu, dirinya memejamkan mata, guna mengurai rasa sesalnya yang begitu dalam.
...****************...
mengingat Rindu yang kini masih ada didalam kamar mandi membuat hatinya menghangat. dengan gerakan cepat menyibak selimut batu berlari ke arah kamar mandi sebelum waktu meninggalkan terlalu lama.
dengan mendorong kecil pintu kamar mandi agar tidak menimbukan suara lalu berjalan Pelang ke arah istrinya yang masi khuyusuk membersikan wajahnya. setelah tiba di belakang rindu yang kini membasuh wajahnya, dengan gerakan pelan, El. melingkarkan tangan di pinggang sang istri. rindu yang sudah biasa mendapatkan perlakuan manis seperti ini, tidak heran lagi.
"wudhu dulu baru kita jama'ah". bumbu rindu kepada El yang malah merebahkan dagunya di pundak sang istri lalu menenggelamkan wajahnya di leher Rindu.
"kageng bangat sayang". mendengar itu, rindu menahan nafas. hatinya masih kaku untuk sekedar bersentuhan secara fisik dengan El. setelah apa yang terjadi semalam yang di sebabkan oleh pertemuan yang tidak disengaja dengan masalalu El, hingga mengantarkan kesalah pahaman yang baru. apa masih ada rasa tersisa di hati El untuk masa lalunya? apa ungkapan cinta dan perhatian besar selama ini hanya sekedar seremonia saja untuk tetap memenjarakan dirinya dalam sebuah ikatan suci?. memikirnya saja, membuat hati rindu kembali sesak.
__ADS_1
"semalam kan kita tidur bersama, gimana bisa kangeng?". meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja, rindu berusaha keras menekan perasaannya yang ingin meledak. jika ada tempat untuk menyendiri sementara waktu sampai misteri kekawatirannya tercapai, maka Rindu akan melakukannya. jujur, hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"semalam istri aku merajuk dan suaminya tidak tahu kesalahan apa yang sudah di perbuat". dengan gerakan lambat, El mengendus-endus leher Rindu. yang membuat sang empuh kembali menegang. bukan tentang sentuhan nya tapi tentang ucapannya. apa perkataan El yang tanpa di segala waktu itu, tidak beralasan dikatakan salah? dan dirinyalah yang terlalu sensitif?.
"jangan aneh-aneh, kita mau sholat, waktunya tidak banyak". dengan terpaksa, El harus melepaskan dekapannya. dia tahu Rindu berusaha untuk menghindarinya sebab, dia selalu di layani meskipun itu hanya sebentar tapi hati ini, El bisa melihat sorot mata itu yang begitu sendu
"tapi janji dulu, semalam istri hubby kenapa sehingga tega mencampakkan suaminya sendiri jika saja tidak merengek ikut tidur di kamar mama". rajuknya manja dengan memutar arah tubuh sang istri. mungkin dengan ini, El bisa mengorek sedikit ketakutan hati sang istri atau mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
"iya, iya. tapi habis sholat ya". yang langsung di angguki oleh El. entah rindu akan mengatakan apa yang sebenarnya Rey sehingga membuat moodnya sangat jelek. jika dia jujur, apa El tidak menganggap dirinya kekanak-kanakan hanya dalam masalah ucapan saja? tapi jika diam, rindu akan terluka lebih jauh lagi sebab dia buta akan kebenaran karena egohnya.
mungkin saat ini dia akan mengalah, demi menuruti keinginan anaknya yang selalu ingin berdekatan dengan ayahnya. rindu juga sangat tersiksa jika berjauhan dari suaminya, bukan tanpa alasan, tapi ini tuntutan si anak yang sangat nyaman dengan aroma ayahnya. meskipun kandungannya sudah menginjak 7 bukan, tapi tidak membuat mual dan rasa pusingnya menghilang meskipun tak separah kehamilan di awal-awal.
degan gerakan lembut, rindu mengambil air wudhu lalu mengikuti El keluar untuk bersiap untuk melakukan jama'ah. dengan mengambil mukenah dan berdiri di belakang sang suami.
"sudah siap sayang". mendengar dan melihat wajah sang suami dengan pakaian kebesaran nya, membuat hatinya tiba-tiba merasa bersalah. apa orang seperti El, patut di curigai?.
...****************...
__ADS_1