
malam semakin larut memperlihatkan cahaya bulan mengentip diseleah-selah gorden. seorang gadis mudah memejamkan mata, menghirup setiap udara yang berhasil melintas untuk memenuhi rongga dadanya yang terasa kosong.
meskipun seperti itu, dadanya Masi terasa kosong, hampa dan tidak bergairah serta memiliki semangat hidup.
esok adalah hari yang di nantikan seperti hari-hari sebelumnya, menemui suami dan mengajaknya berbicara meskipun tidak mendapatkan respon apa-apa selain membisu.
tenggorokannya sangat gatal. bangun dari pembaringannya lalu mengambil teko di atas meja untuk menuangkannya kedalam cangkir. tapi ternyata kosong.
dengan lesuh, rindu melangkah keluar lalu menuruni anak tangga satu persatu. melihat kearah dapur yang cahayanya remang-remang. membuka kulkas mengambil satu botol air lalu membukanya untuk menuangkan kedalam gelas.
di tengah meneguk air dari gelas, tiba-tiba ada langkah kaki mendekatinya.
"Rindu, kenapa belum tidur nak ini sudah jam 12 malam".
ternyata sang ibu mertua yang juga belum tidur sedang mengambil tasnya di ruang tengah melihat anak menantunya turun dari tangga dan melangkah ke arah dapur.
"eh, mama. rindu belum ngantuk ma". jawabnya setelah meneguk habis air minumnya lalu mengangkat botol yang tadi di ambil dari dalam kulkas dan diletakkan pada tempat awalnya.
setiap pergerakan dari sang menantu tidak luput dari pandangan Sinta.
"mama sendiri kenapa belum tidur?". setelah selesai dari aktivitasnya kini rindu menghadap sang mertua lalu memberikan pertanyaan serupa.
"mama ada kelupaan dan baru ingat tadi jadi mam bergegas keruangan tamu karena tas mam tergeletak disana". dengan menjawab pertanyaan Rindu lalu ikut duduk di hadapan sang menantu.
"oi, besok kamu istirahat saja di rumah biar mama yang jenguk El sekalian jagain El d irumah sakit. kasian jika kamu ikut nak, mengingat kondisi kamu yang kurang stabil karena Masi hamil mudah". karena selama suaminya di rumah sakit, rindu sangat rutin menjenguknya bahkan sekali-kali nginap di rumah sakit.
__ADS_1
rindu yang melihat sang mertua berbicara sambil mengeluarkan beberapa isi tasnya untuk mencari sesuatu yang di lupakan sewaktu sampai di rumah.
mendengar permintaan Sinta yang memintanya istirahat esok hari dan mungkin beberapa hari jika di perlukan, membuat rindu tidak bisa menerimanya, mengingat dirinya yang begitu sangat terbiasa berada didekat sang suami dan rasa takut selalu menghantuinya jika tidak selalu di dekat sang suami.
meskipun dalam keadaan tidak sadar, Rindu tidak Masalah untuk tetap bersama sang suami. meskipun harus berkorban waktu dan tenaga karena saatnya dirinya berjuang menggantikan sang suami yang pernah berjuang untuk dirinya.
"maaf ma, tapi rindu tidak bisa. bagaimana rindu disini jika jiwa rindu berada bersama mas Erlangga".
Sinta sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat sang menantu yang begitu mencintai sang anak. meskipun umur mereka terpaut jauh tetapi cinta di antara mereka sangat luar biasa.
rindu wanita sederhana yang harus terjebak dengan pria dewasa seperti anaknya. yang dulunya sangat bebas akan pergaulan, sekedar sholat idul Fitri atau idul adha harus dipaksa dulu baru mau.
meskipun memiliki dasar Agama dari sekolah yang di tempuhnya beberapa tahun yang silam, tapi itu tidak membuatnya pada kebaikan hingga umurnya dewasa bahkan berkepala tiga
tapi, kehadiran Rindu bagaikan berkah dalam dirinya. anaknya yang dulu malas melakukan ibadah, kini dirinyalah yang menjadi imam untuk istrinya.
melihat menantunya yang tidak bisa di goyahkan pendiriannya jika menyangkut Erlangga, Sinta hanya bisa berdoa agar sang anak cepat sadar dan calon cucunya tetap baik-baik saja di dalam rahim.
"baiklah nak jika itu sudah menjadi keputusan kamu. tapi mama mohon, berjanjilah tetap baik-baik saja dan menjaga calon anak kalian".
jika rindu tidak bisa tetap diam di rumah menunggu sang suami terbangun dari tidur panjangnya, setidaknya dirinya haru baik-baik saja hingga cobaan yang menerpanya kembali ke peraduan.
rindu yang mendengar permintaan sang mertua. mengangkat kedua tangannya lalu menggenggam tangan keriput yang ada di hadapannya. dengan wajah di hiasi senyuman tulus, rindu memberikan keyakinan lewat pancaran mata agar sang mertua tidak berfikiran hal-hal buruk menyangkut dirinya.
"insya Allah ma, rindu akan baik-baik saja selama rindu berada di dekat mas Erlangga. meskipun hanya bisa melihat dan menyentuh tanpa menerima balasan, rindu sudah sedikit tenang". jawabnya masih dengan senyuman yang sama namun matanya terlihat berkaca-kaca. tetapi sebisa mungkin air mata itu di tahan agar tidak meluncur begitu saja.
__ADS_1
sekalipun dirinya kuat di mata orang-orang tetapi jika berada di dekat tubuh tanpa gerak dan ekspresi apapun, rindu akan menumpahkan semua kesedihannya disanag.
menceritakan isi hatinya, aktivitas sehari-hari yang tidak jauh-jauh dari mengharapkan kesadaran sang suami dan memberikan semangat hidup agar cepat sadar.
melihat mata sang anak menantu akan tumpah dari pelupuk matanya. Sinta memberikan tepukan hangat di tangan Rindu.
"mama tau sayang, kamu tidak sekuat itu. menangis lah jika ingin menangis, jangan di tahan. mama punya bahu untu kamu saat lelah untuk berdiri dan mama punya pelukkan saat kamu tidak kuat lagi berpijak".
dengan berdirih dan berjalan memutari meja lalu menarik rindu agar masuk kedalam pelukannya dengan pelan.
rasanya tidak sanggup melihat wanita mudah yang sedang hamil muda di hadapannya. yang setiap saat harus menangis jikalah mengingat sang suami bagai raga tak bernyawa.
tentang yang di katakan Riko beberapa jam yang lalu, membuat Sinta mengurungkan niatnya untuk memberitahu Rindu terkait keadaan Erlangga yang sebenarnya.
namun meskipun seperti itu, rindu harus tau sebab keadaan suaminya tidak bisa di biarkan berlama-lama dalam keadaan seperti ini. dan mungkin waktu yang tepat untuk membahasnya adalah besok. mengintai ini sudah sangat malam ditambah dengan mood rindu yang tidak baik-baik saja dan jangan sampai kabar tersebut, malah membuat rindu terjaga hingga fajar.
"rindu. sebenarny ada hal yang ingin mama sampaikan tapi waktu sudah sangat larut dan kamu juga harus istrihat jadi besok saja kita ngobrol lagi". jelasnya setelah melepas dekapan sang menantu.
"apa ma". rindu yang kepo dan tidak sabaran akhirnya bertanya karena tidak ingin menunda-nunda lagi. sebab rindu yakin bahwa apa yang akan di sampaikan sang mertua, ada kaitannya dengan sang suami.
Sinta yang melihat wajah penasaran Rindu mencoba memberikan senyuman agar menghilangkan kegundahan hati sang menantu sebab mama erlangga paham betul akan isi kepal Rindu. akhir-akhir ini rindu sangat sensitif dan curiga .
" besok ya sayang. ini udah malam kamu butuh istirahat sebelum menemui El besok pagi dan mama tidak ingin melihat kamu terbangun dalam keadaan sembab dan lelah jadi mam minta sekarang rindu tidur karena mama juga harus tidur". jelas Sinta menguap untuk memper mudah aksinya.
"baiklah ma, rindu tidur". putusnya dengan melangkahkan kakinya menuju kamar dengan meninggalkan sang mertua yang masi memperbaiki barang-barang isi tasnya.
__ADS_1
jangan lupa voute teman-teman