LENTERA

LENTERA
curhat


__ADS_3

di ruangan yang bernuansa putih dengan bau obat yang sangat menyengat. terdapat perempuan mudah, sedang duduk memegang tangan lelaki yang begitu pucat.


dengan sorot mata yang begitu sendu, menandakan bahwa hatinya tidak baik-baik saja.


rasanya tidak sanggup dengan keadaan yang seakan menghukumnya. entah berapa banyak air matanya yang terkuras.


sudah berapa hari tapi belum juga ada tanda-tanda akan bangun.


"by. betah bangat ya tidurnya. Rindu bosan Ng dengar suaranya hubby". dengan suara yang serak dan lemah, rindu mencoba mengajak berbicara ayah dari calon bayi yang di kandungnya.


" tau Ng bi. Rindu udah berapa malam ini Ng bisa bobo". ucapnya dengan menyampaikan keadaannya beberapa hari ini setelah suaminya terbaring lemah diruma sakit. apa hubby tega ngebiarin Rindu kayak gini". sambungnya lagi dengan menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh seperti kristal karena berusaha untuk tetap kuat dengan menahan nafas disetiap dadanya terasa sakit. tapi sekuat apapun rindu menahannya, dia akan tetap kalah dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


sudah beberapa jam Rindu duduk disana, menemani sang suami sambil mengacak berbicara. bahkan lelah pun tidak terasa lagi.


"nak ayah kamu betah bangat ya Bobonya. bantu bunda ya agar ayah mau nemuin kita". dengan mengusap perutnya yang semakin hari semakin terlihat dan bibir melengkung berusaha menahan sesak didadanya yang kembali lagi menghantam "bunda Ng sanggup sayang, tolongin bunda. ya Allah". dengan suara bergetar menopang kepalanya diatas tangan sang suami. pecah kembali tangisnya.


di tengah kesedihannya, tiba-tiba pintu di buka dari luar, seorang dokter berjalan masuk dan disampingnya ada sang mama mertua yang juga mengekor di belakangnya.


mereka tau dengan posisi Rindu seperti itu, dia sedang menyalurkan rasa sakitnya. bukan hal baru lagi pemandangan tersebut. menangis dengan menyembunyikan suaranya di atas tangan sang suami berharap orang-orang tidak tahu tapi fikirannya salah. semua orang sangat tahu kondisi rindu setelah suaminya tidak baik-baik saja. menangis diam-diam di saat sepi dan terkadang tengah malam di saat orang-orang sudah tertidur.


tapi sebagai mama mertua, Sinta sendiri bingung harus melakukan apa sebab menantunya memiliki hati yang begitu lembut. di sentil sedikit, air matanya langsung jatuh.


sedangkan dokter Riko selaku dokter yang menangani perkembangan Erlangga, juga merasakan hal yang sama tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu keajaiban dari Tuhan karena mereka hanya bisa membantu untuk memberikan perawatan sepenuhnya ada pada sang pencipta.


sahabatnya yang biasa kuat, kini begitu lemah, wajah pucat bagaikan mayat hidup. tapi Riko berharap, semogah tuhan segera menunjukkan ke ajaiban-nya karena hanya doa harapan terakhirnya saat ini.


dengan menari nafas, Riko menyadarkan rindu dari kesedihannya karena ternyata kehadiran mereka tidak di sadari oleh Rindu.

__ADS_1


"Rindu". sapanya dengan pura-pura tidak tau apa-apa.


dengan buru-buru Rindu langsung menghapus air matanya agar tak ada orang yang tau jika dirinya habis menangis.


"eh dokter Riko". dengan mengulas senyuman akhirnya rindu mendongak untuk membalas tatapan si dokter tampan sahabat dari suaminya.


Riko yang mendapat wajah rindu begitu sendu, merasa sedih.


"Rindu pulang dulu ya. Tante Sinta udah menunggu dari tadi. kamu perlu istirahat karena beberapa hari ini kamu sibuk di rumah sakit menemani Erlangga". perintahnya agar rindu bisa istirahat diruma dulu.


"biar Erlangga saya yang jaga. jadi kamu bisa pulang dulu". lanjutnya lagi yang dibals anggukan oleh Rindu.


apa yang di katan Riko, memang benar adanya. sudah beberapa hari ini rindu hanya di rumah sakit menghabiskan waktunya namun hanya dengan cara itu agar rindu bisa tenang.


dengan berat hati, rindu melangkahkan kakinya kearah meja guna mengambil tasnya.


"baiklah dok. rindu titip mas Erlangga ya". ucapnya sebelum melangkah keluar dari ruang rawat sang suami.


setelah beberapa jam perjalanan akhirnya rindu sampai dirumah. melangkah masuk kamar dan menelisik semua sudut yang ada dikamar. dimana banyak kenangan indahnya dengan sang suami. rasanya berat untuk mengingat semua kenangan bersama sang suami yang begitu indah namun Rindu tidak bisa terbelenggu dengan keadaan. bagaimanapun Rindu tidak sendiri melainkan ada janin yang semakin hari semakin tumbuh dalam perutnya dan harus di jaga agar tetap sehat.


dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan, meletakkan tas di atas meja lalu melangkah ke arah kamar mandi guna membersikan tubuhnya dari rasa lengket.


sedangkan di bawah, sang ibu mertua sedang membantu mbok Ina untuk menyiapkan makan malam.


"mbok udah siapin makanannya". sebelum berangkat mama erlanngga sudah berpesan, sebelum sampai rumah makanan hari udah jadi.


dan semua makanan yang di hidangkan harus makanan kesukaan Rindu. pasalnya rindu mode mogok makan selama suaminya terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


"iya nya, makanan kesukaan non Rindu udah selesai di masak". jawabnya sembari mengantar makanan satu per satu dan di ikuti Sinta di belakangnya.


"makasih mbok". ucapnya setelah meletakkan mangkok yang tadi di ambil dari arah dapur.


"sama-sama nya". jawabnya mbok ina. "nya, kondisi tuan mudah gimana". lanjutnya lagi yang sebenarnya sudah dari tadi ingin mengetahui perkembangan sang majikan yang sudah beberapa hari tidak terlihat karena harus terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.


"masih seperti sebelumnya mbok, belum ada perkembangan". ujarnya sedih dengan mengambil mangkok terakhir yang akan di letakkan di meja. "sebelum ketemu rindu tadi, saya sempat berbicara dengan dokter Riko yang nanganin El. katanya Riko harus di pindahkan ke rumah sakit Singapura karena Diana peralatannya cukup canggih dan dokter di sini Ng bisa berlama-lama ngebiarin El terbaring seperti itu". lanjutnya panjang lebar.


"emang separah itu ya Nya". karena penasaran penyebab dari ke adaan Erlangga, Ina melanjutkan obrolannya.


"kata dokter. jaringan dalam tubuh el, ada beberapa yang menolak alat yang di gunakan". ucapnya mata berkaca-kaca. "saya takut mbok anak saya kenapa-kenapa di tambah lagi dengan Rindu yang bagaikan mayat hidup. mungkin jika tidak mengingat dirinya hamil, Rindu tidak akan makan. saya benar-benar takut mbok". lanjutnya lagi yang sudah menyeka air matanya.


mbok Ina yang mendengar penuturan sang majikan, sudah meneteskan air matanya.


Ternyata serumit itu kisah sang majikan. cobaannya terlalu besar. pantas saja istri dari tuannya tidak memiliki semangat hidup.


"maafkan saya Nya. karena pertanyaan saya, nyonya jadi menangis dan saya juga ikut menangis". ucapnya yang membuat Sinta secara bersamaan sedih dan terhibur karena ucapannya.


"tidak apa-apa. dan maafkan saya mbok karena sudah membuat mbok Ina ikut menangis". sesalnya dengan menghadap Ina dan menghapus air matanya.


"baiklah kalau begitu saya akan memanggil rindu untuk turun makan". pamitnya. namun belum beberapa langkah, orang yang di cari sudah menuruni tangga.


"maafkan rindu ma karena rindu tidak bisa membantu mama di dapur". ucap ya setelah berada di depan sang mertua dengan merasa tidak enak.


"iya sayang tidak apa-apa. yuk kita makan". dengan menarik tangan rinsu hingga berada di meja makan.


"wah. makanannya banyak sekali ma". pujinya dengan semangat melihat makanan yang tertata rapi di atas meja. dengan mengambil piring lalu menuangkan satu persatu makanan kesukaannya di dalam piring.

__ADS_1


"gimana sayang makannya?". tanya sang mertua yang bahagia melihat tingkah sang menantu.


"enak ma. makasih banyak". ucapnya yang tidak sesuai dengan perasannya. meskipun makanan sebanyak apa dan seenak apa jika kondisi suaminya tetap begitu, maka selera makannya juga ikut meredup.


__ADS_2