LENTERA

LENTERA
keterangan


__ADS_3

sesuai yang di katakan mama Sinta bahwa setelah sampai di rumah sakit dan urusannya selesai, Sinta akan menjelaskan apa yang sempat tertunda semalam.


disinilah rindu duduk di hadapan dokter Riko dengan tatapan serius, bingung campur aduk dan was-was menjadi satu. apapun hasilnya, rindu akan tetap menerimanya.


dokter Riko yang sebenarnya berada di dalam di lemah besar, sangat sulit untuk mengambil tindakan namun situasinya sedang tidak baik-baik saja dan harus segera di selesaikan. apapun yang akan terjadi nantinya, itulah resiko yang harus di hadapi.


"dokter Riko memanggil Rindu kesini, ada apa?". Rindu yang sudah duduk beberapa menit dan bosan dengan suasana hening, akhirnya memulai percakapan.


mendengar pertanyaan dari wanita di hadapannya, akhirnya dokter Riko menghentikan aktivitas pura-pura nya. dengan senyuman manis terukir indah di wajahnya.


"apa kabar nona Rindu". tanya dokter Riko dengan niat membuat suasana lebih hidup lagi sebelum memulai percakapan yang serius.


dengan memperbaiki berkas-berkas yang ada di atas meja sembari mendengarkan balasan dari wanita hamil di hadapannya.


"Alhamdulillah Rindu baik". jawab Rindu dengan menunduk lalu mengusap perutnya di iringi dengan senyuman hangat.


"Ng mual-mual atau ngidam macem-macem". tanyanya lagi setelah memastikan satu persatu barang yang ada di atas meja disimpan kembali kedalam laci meja. " biasanya ibu hamil ke inginannya aneh-aneh". lanjutnya lagi dengan memperbaiki posisi duduk lalu mengambil selembar kertas yang ada di laci sebelah.


"Alhamdulillah Dede bayinya Ng banyak tingkah dok. mungkin karena dedek nya tau kalau bundanya lagi tidak punya tenaga untuk merengek". jawabnya lucu di telinga dokter Riko. pantas saja Erlangga jatuh sejatuh-jatuhnya kedalam pesona wanita muda yang sebentar lagi akan jadi seorang ibu. ternyata sangat menggemaskan dengan ekspresi lucunya.


"syukurlah jika dedenya anteng. Ng nyusahin bundanya". ucapnya dengan membuka kertas berbentuk surat yang tadi di ambil dari laci untuk memeriksa keutuhan isinya "tapi nafsu makan rindu tidak menurunkan, karena biasanya kalau nafsu makan menurun, akan berpengaruh kepada kesehatan janin sebab bundanya kekurangan asupan gizi". terangnya lagi yang masih dengan aktifitas yang sama.

__ADS_1


"kalau untuk itu, rindu beberapa hari ini tidak begitu berselera di tambah dengan keadaan mas Erlangga". mengingat keadaanya yang beberapa hari ini ngedrop dan hilang selera makan karena suaminya yang entah kenapa sangat betah memejamkan mata.


dokter Riko yang mendengar itu, sebenarnya sudah tau akan penyebab dari mood makan Rindu. namun, Rindu tidak bisa seperti itu terus. jika hanya dirinya yang ada di sana itu tidak Masalah tetapi ada nyawa lain yang sekarang memenuhi rahimnya yang harus di jaga kesehatannya hingga melihat dunia luar.


"Rindu". ucapnya menghembuskan nafas panjang". kamu tahu kan konsekuensi jika Rindu jadi seperti itu. janin yang ada di kandungan kamu membutuhkan asupan gizi yang harus kamu kontrol terus dengan cara, makan teratur dan minum vitaminnya teratur". jelasnya dengan menyandarkan kepala dengan sandaran kursi yang sekarang diduduki.


Rindu yang mendengar penjelasan sang dokter, merasa bersalah atas perbuatanya namu, dirinya tidak bisa memaksa sebab nafsu makannya benar-benar hilang.


"maafkan Rindu dok. rindu udah coba semaksimal mungkin tapi rindu tidak bisa". sesalnya dengan meremas dres yang di gunakan. Riko yang melihat raut wajah Rindu yang berubah sedih, merasa tidak enak.


"tapi Rindu bisa janji kalau Rindu bisa tetap baik-baik saja demi Erlangga suami kamu". tanya dokter Riko dengan menggenggam serut tersebut sebelum menyerahkan kepada Rindu.


Rindu yang mendapatkan permintaan dari sang dokter hanya bisa mengiyakan. berada di posisinya tidaklah mudah. mungkin dari luar secara fisik, semua terlihat normal namun hatinya tidak baik-baik saja.


melihat Rindu seperti itu, membuat Riko berdiri lalu berjalan memutari meja dan mengusap-usap bahu Rindu guna menenangkannya. 'maaf kan aku El'.


"menangis lah. Kaka tau kamu hanya pura-pura Tegar di hadapan banyak orang tapi sebenarnya kamu sangat rapu". pintanya yang masih setia memberikan kekuatan lewat sentuhan nya. melihat surat yang ada di atas mejanya membuat Riko menarik nafas dalam-dalam. apa dia sanggup untuk memberitahukan keadaan Erlangga kepada istrinya. belum juga dimulai inti dari pembahasan, sang istri dari sahabatnya sudah banjir air matanya. apa yang harus dilakukannya, Riko sendiri tidak memiliki pilihan yang baik selain mengatakannya.


setelah beberapa menit berada di posisi berdiri sambil mengusap bahu Rindu, kini dokter Riko telah kembali ke tempat duduknya.


"maafkan Rindu kak. seharusnya Rindu tidak bersikap seperti itu". jawabnya yang masih menghapus air matanya yang tersisa.

__ADS_1


"tidak apa-apa. lagipula menangis adalah obat dari setiap kegundahan hati dan beban fikiran". jelasnya dengan seulas senyuman. "jadi gimana, udah tenangkan?". sambungnya lagi dengan memastikan kondisi istri dari pasiennya.


"Alhamdulillah kak. terimakasih". jawabnya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"sebenarnya ada hal penting yang ingin Kaka katakan". ucapnya dengan sedikit Jedah. "saya berada di hadapan kamu, bukan sebagai dokter tapi sebagai kaka. bahkan keberadaan saya, anggap saya sebagai Kaka kamu. jadi jika kamu butuh bahu untuk menangis atau butuh luapan cerita, Kaka siap mendengarkannya. jangan sungkan". lanjutnya lagi sebelum masuk ke inti pembahasan. rindu yang mendengarkan itu langsung tersenyum.


disaat kondisinya seperti ini, ternyata masih banyak orang-orang yang begitu menyanyinya hingga menganggap dirinya keluarga padahal mereka bukan siapa-siapa dan tidak pernah masuk kedalam kisah hidupnya semasa kecil. namun hari ini Allah lagi-lagi memperlihatkan betapa Rindu sangat di sayangi.


"terimakasih kak. insya Allah jika Rindu butuh, Rindu akan menghubungi Kaka". jawabnya mantap. "emang Kaka mau ngomong apa tadi". lanjutnya dengan bertanya perihal pembahasan yang sempat tertunda.


mendengar itu, Riko hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. 'semogah tak ada lagi air mata' . pintanya


"Rindu ini ada surat dan yang akan Kaka sampaikan sudah tertulis didalam sini". ujarnya dengan mendorong sebuah surat kehadapan Rindu. "jika ada yang tidak kamu mengerti, bertanyalah". sambungnya lagi dengan melihat ekspresi Rindu yang berubah.


"Kaka ini apa?". merasa ragu untuk membuka akhirnya Rindu bertanya.


"bacalah. setelah itu kamu akan tau semuanya". jelasnya dengan mendorong kertas tersebut lebih dekat lagi.


"tapi Rindu tidak terlalu tau bahasa medis Kak". jujur Rindu yang membuat Riko sedikit tertawa. ah sepertinya riko melupakan satu fakta bahwa Rindu hanya tamatan SMA dan bukan dari jurusan kesehatan.


"baiklah, jadi Rindu ingin di jelasin secara langsung". tanya Riko dengan sedikit mengembalikan suasana hati Rindu sebelum pembahasan yang sebenarnya akan di paparkan. dan hal itu langsung di iyakan Rindu.

__ADS_1


dengan mengambil surat yang sempat di sodorkan lalu di buka dan memperlihatkan selembar kertas yang entah apa isinya.


"ini adalah surat keterangan medis terkait dengan kondisi terakhir Erlangga dan nanti sore kita akan memberangkatkan Erlangga ke Singapura". jelasnya dengan merentangkan kertas lebar-lebar dan hal itu sukses membuat rindu terpaku, dengan jantung berdetak kencang. 'ada apa dengan hubby'.


__ADS_2