
Happy Reading
"Varka udah liat Mading Sekolah belum?" Tanya Helsha setelah duduk didepan Varka yang sedang menyantap makan siangnya
"Kenapa emang?"
"Ih, sekolah kita mau ngadain festival musik tahunan" ucap Helsha antusias
"Hmm terus?" Tanya Varka
Bukannya menjawab Helsha malah terkekeh pelan sambil memandang Varka penuh makna
"Kenapa? Mau apa sekarang?" Tanya Varka mengerti tatapan Helsha
"Suara Varka kan bagus, ikutan ya? Biar orang-orang tau kalau sebenernya Varka juga punya bakat"
"Hah? Ini maksudnya kamu nyuruh aku tampil gitu?"
"Iyaa.." ucap Helsha mengangguk-anggukan kepalanya
"Ih gak mau" tolak Varka
Helsha langsung cemberut begitu mendengar jawaban Varka, padahal ia sudah berharap lelaki ini akan mau menuruti keinginan nya
"Kenapa?" Tanya Helsha
"Sha, suara aku itu jelek. Udah, cukup kamu aja yang tau, ya? Aku gak mau pokoknya"
"Please..." Mohon Helsha
Varka dengan tegas menggeleng
"Ih Varka mah, Helsha pengen liat Varka tampil didepan banyak orang, Helsha pengen Varka belajar buat berani nunjukin bakat Varka didepan banyak orang. Mau ya?" Bujuk Helsha
Varka menghela napas saat melihat wajah memelas Helsha didepannya, apalagi perempuan ini mengedip-ngedipkan matanya seperti anak kecil. Seperti inilah jika Helsha sudah ada kemauan.
"Percuma aja Sha, orang-orang gak bakal ada yang suka mau gimanapun juga" ucap Varka
Ya mau bagaimanapun Varka berusaha terlihat baik didepan semua orang tetap saja mereka semua tidak menyukainya, apalagi orang-orang yang dekat dengan Gibran pasti menganggap Varka adalah anak yang nakal dan tidak punya hati. Varka tau selama ini Kakaknya selalu mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.
"Percaya sama Helsha. Ikutan ya?" Bujuk Helsha
"Engga..." Tolak Varka
"Ahh gak mau tau pokoknya, harus ikutan ya nanti Helsha daftarin. Gak ada kata penolakan lagi" ucap Helsha pada Varka,
Varka hanya melongo tak percaya, lalu untuk apa gadis itu Meminta persetujuan nya jika pada akhirnya Varka tetap dipaksa untuk tampil.
"Varka..."
"Hmm.."
"Udah kenyang belum?"
"Udah, ini kan udah selesai. Kenapa?" Tanya Varka menatap Helsha
"Lagi sedih gak?"
"Engga, Varka baik-baik aja"
"Kalau sedih bilang ya sama Helsha"
"Iya Sha.."
_____
Helsha berjalan masuk kedalam ruang OSIS untuk mendaftarkan Varka tampil dalam acara festival musik yang sebentar lagi diadakan.
"Kak Gibran.." ucap Helsha setelah sampai didepan Gibran yang sedang sibuk dengan beberapa proposal
__ADS_1
"Iya Sha?"
"Mau nanya boleh?"
"Apa? Mau nanya apa silahkan" ucap Gibran kemudian fokus pada Helsha
"Kak Gibran panitia buat acara tahunan ya?"
"Iya nih makannya lagi banyak banget kerjaan, Ehh tapi kamu ikutan panitia juga gak?"
"Hehe engga kak, Helsha gak daftar buat jadi panitia"
"Yahh... Sayang banget" keluh Gibran.
Padahal jika Helsha ikut mendaftar untuk jadi panitia ia bisa sedikit lebih banyak menghabiskan waktu dengan perempuan ini.
"Oh iya mau nanya apa Sha?"
"Daftar buat yang mau nyumbang bakat ke Kaka kan?" Tanya Helsha
"Iya, kenapa nih? Kamu mau nyumbang? Boleh Banget Sha"
"Eh, engga kak Bukan aku" ucap Helsha langsung saat melihat Gibran hendak menuliskan namanya
"Lah? Terus?" Tanya Gibran kebingungan
"Tolong daftarin nama Varka ya Kak, Dia mau nyanyi"
"Varka? Nyanyi? Seriusan?"
Gibran sedikit terkejut mendengarnya, sejak kapan Varka bisa bernyanyi?
"Iya kak!! Aku gak sabar banget pengen liat Varka tampil. Suaranya bagus banget loh kak, gak bohong"
"Ahh... Iya-iya"
"Jangan lupa ya kak tulis nama Varka hehe, kalau ada biaya daftar nya kasih tau Helsha aja ya kak, makasih sebelumnya" ucap Helsha
"Udah aku tulis" ucap Gibran
"Makasih ya kak, kalau gitu Helsha permisi"
Gibran menatap nama Varka yang baru saja ia tuliskan. Gibran jadi penasaran sejak kapan adiknya ini memiliki bakat dalam hal bernyanyi, setau dia Varka jarang sekali bernyanyi dirumah.
"Sejak kapan Lo bisa nyanyi Varka? Kenapa gue gak tau? Segitu banyak hal tentang Lo yang ternyata gue gak tau" gumam Gibran.
Sejatinya Gibran Adalah anak yang baik untuk orang tuanya namun ia gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk adiknya. Terlalu sering diperlakukan istimewa oleh orang tuanya membuat Gibran merasa dirinya paling hebat, ia tidak ingin apapun yang ia miliki diambil oleh orang lain.
___
"Kenapa sih? Kayak seneng banget gitu. Sejak dari sekolah sampe Sekarang udah nyampe rumah kamu gak berhenti senyum Perasaan" tanya Varka setelah Helsha turun dari motornya
"Iya dong Helsha seneng banget, soalnya Varka udah Helsha daftarin wleee" ucap Helsha
"Ya ampun Sha..."
Varka tak menyangka ternyata perempuan ini benar-benar mendaftarkan dirinya untuk ikut tampil dalam kegiatan nanti.
"Semangat ya!! Jangan lupa latihan, Helsha yakin kok bakal banyak yang suka sama penampilan Varka nanti. Oh iya satu lagi, jangan kasih tau lagunya sama Helsha ya. Biar nantinya Helsha bisa merasakan perasaan dari lagu yang Varka nyanyiin heheh..." Ucap Helsha panjang lebar
Varka terkekeh mendengarnya, sebegitu bahagianya kah Helsha karena ia akan tampil?
"Tapi seriusan ini beneran udah di daftarin?" Tanya Varka
"Iyaaaa...."
"Hmm..."
"Kenapa? Masih gak mau?" Tanya Helsha khawatir
__ADS_1
"Yaudah deh, aku bakal tampil demi Kamu" ucap Varka pada akhirnya
"Yessss....." Ucap Helsha kegirangan
"Seneng enggak??"
"SENENG BANGET!!! NGGAK SABAR IHH"
Varka terkekeh melihatnya, Jika hal ini bisa membuat Helsha bahagia maka Varka akan melakukan nya dengan senang hati. Varka tau Helsha Melakukan semua ini agar ia lebih berani berinteraksi dengan orang lain. Helsha selalu mengajarkan hal yang Varka belum ingin melakukannya, dan Varka bersyukur akan hal itu.
"Yaudah aku pulang ya"
"Hati-hati... Langsung kabarin ya kalau udah nyampe"
"Iya"
Bagi Helsha Varka masihlah seorang lelaki yang begitu tertutup, walaupun lelaki itu sering kali menceritakan kesedihannya selama ini tapi Varka tidak menceritakan semuanya. Varka masih sering bersembunyi dibalik senyumannya dan itu adalah hal paling berbahaya. Helsha takut jika suatu saat nanti Varka bisa melakukan hal yang diluar dugaannya, Seseorang yang selalu tersenyum terkadang adalah orang yang paling banyak terluka.
___
Varka menarik napasnya dalam-dalam, menyiapkan hatinya untuk menemui Juna yang saat ini sedang berada di ruang kerja. Varka sedikit khawatir untuk menemui Juna, ia takut Papahnya itu malah akan memarahinya karena sudah mengganggu waktu bekerja.
Tok..tok...
Varka mengetuk pintu dan menunggu dengan was-was apa reaksi yang akan terjadi, bahkan sebelum kesini Varka sudah mencatat apa saja yang akan ia katakan pada papahnya. Sebegitu takutnya Varka untuk hanya sekedar menemui Juna.
"Masuk...."
Varka bernapas lega saat mendengar suara Juna yang mempersilahkan nya masuk, dengan keyakinan yang ada Varka membuka pintu dan masuk kedalam
"Papa..." Panggil Varka
Juna yang tadinya sibuk dengan laptopnya langsung mengalihkan pandangannya saat melihat siapa yang masuk.
"Ada apa?" Tanya Juna
"Anu...Pa Varka mau..."
"Apa cepetan!"
"Itu boleh gak Varka pinjem gitar papa Boleh?" Tanya Varka hati-hati
Juna melirik gitarnya yang berada disofa, ya selama ini hobi Juna Adalah bermain musik. Jadi wajar jika didalam ruang kerjanya ini ada sebuah gitar.
"Gitar itu?"
"Iya Pa"
"Buat apa?" Tanya Juna sedikit penasaran
"Varka mau belajar aja Pa, kebetulan nanti Varka mau tampil disekolah hehe"
"Kamu bisa nyanyi Varka?" Tanya Juna semakin penasaran
"Engga Begitu bagus sih Pa tapi lumayan lah" ucap Varka
Dalam hatinya Varka begitu senang karena Juna banyak menanyakan hal-hal Padanya, ia merasa Juna mulai sedikit peduli padanya. Jarang sekali Juna mau mengajaknya bicara apalagi bertanya seperti sekarang.
"Oh yaudah, kalau gitu bawa aja"
"Beneran pa? Serius? Papa gak bakal marahin Varka kan?"
"Iya pake aja, tapi dijaga baik-baik" ucap Juna kemudian kembali fokus dengan laptopnya
"Beneran Pa?"
"Iya Varka"
Varka tersenyum bahagia saat Juna dengan suara lembut menyebut namanya, hati Varka menghangat hanya dengan perlakuan kecil dari Juna.
__ADS_1
"Makasih banyak Pa Varka janji bakal jagain gitarnya baik-baik dan gak bakal rusak. Makasih banyak papa Varka sayang sama Papa" ucap Varka
Juna hanya mengangguk kecil dan menyuruh Varka untuk keluar dari ruangannya. Setelah kepergian Varka Juna termenung sendirian, dalam lubuk hatinya ia amat sangat merasa bersalah pada Varka karena sudah bersikap buruk selama ini. Selama ini ia juga lelah karena harus terus bersikap kasar pada Varka, namun untuk saat ini Juna belum bisa melakukan apapun untuk anaknya itu, Rasa takut dan egonya masih terlalu besar.