
Seperi janji sang mertua dan ibu. pagi ini akan bergeser kekediaman Erlangga. seperti permintaan ibu hamil. namun melihat pemberontakan alam dengan menumpahkan air dari atas langit membuat perjalannya harus tertunda hingga hujan redah. menerobos bukanlah solusi yang tepat sebab hujan begitu lebat dan petir menggetarkan beberapa pohon bahkan hingga menumbangkan.
kawatir, itulah yang kini menggerogoti hati. orang tercinta tidak juga memberi kabar dan orang-orang yang berhubungan dengan suaminya, tidak satupun yang membuka suara.
sebagai istri yang tidak biasa dengan kediaman suami akan merasa ada hal yang tidak beres di Tamba dengan membisu nya kedua wanita yang sudah tua di dekatnya mengapit keberadaan dirinya, guna menyalurkan ketenangan meskipun sama sekali tidak memberikan pengaruh.
banyak pertanyaan di kepalanya. seputar menghilangnya kabar dari suami tercinta. tetapi demi menjaga kesehatan dan kestabilan kondisinya maka yang harus dilakukan adalah menghilangkan demikian yang membuat keadaanya droop.
"ma". panggilannya yang sudah sangat gelisa dengan situasi yang terasa mencekam.
"iya sayang". jawabnya yang berusaha menetralkan perasaannya yang sebenarnya sudah ingin mengeluarkan kristal bening dari balik kelopak matanya.
"kok hujannya makin lebat ya". pertanyaan yang sama selalu di ulang-ulang. membuat yang ada Disana tidak bisa menjawab.
"sabar sayang. kalau nanti redah, kita akan langsung berangkat". jawabnya mencoba menenangkan dan melirik ibu rindu agar ikut membantu memberikan alasan agar sang menantu tidak banyak memberikan pertanyaan macam-macam.
"iya sayang. yang sabar ya nak. meskipun kita menerobos, yang di kawatirkan akan membuat kita dalam masalah". jawab sang ibu mencoba menatap wajah sang anak yang sudah sangat merah karena tidak berhenti menangis.
"anaknya bunda". ucapnya pada perutnya yang sudah mulai membuncit. "bantu mama untuk bisa kuat ya?". ucapnya lagi meminta kekuatan dari sang calon bayi dengan senyuman. " sebentar lagi kita ketemu ayah".
__ADS_1
kata-kata terakhir yang di ucapkan rindu, membuat orang-orang disana menahan nafas dan saling melempar tatapan. membayangkan bagaiman nasib ibu hamil jikalah tau kondisi ayah dari bayi yang di kandung. tidak mendapatkan kabar sudah membuat air matanya bagaikan aliran sungai. apa lagi jika melihat kondisinya.
ibu rindu menarik sang anak kedalam pelukan guna memberikan kehangatan. "nak apapun yang terjadi, kamu harus ikhlas. tapi ibu harap suami kamu baik-baik saja". nasehatnya dengan mata berkaca-kaca.
"sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang kalian sembunyikan dari aku?". tanyanya dengan melepas dekapan sang ibu dan menatap dua wanita di hadapannya dengan saling bergantian. dan yang di tanya mencoba menarik nafas.
"Rindu tau apa yang sebenarnya membuat mas Erlangga membawa kita kesini. sampai kapan kalian menyembunyikan ini dari Rindu?". tanyanya dengan air mata yang begitu deras. " Rindu diam sebab Rindu tidak mau dianggap sebagai istri egois dan kekanak-kanakan. jadi rindu mohon kasi tau rindu apa yang sebenarnya terjadi kepada suami Rindu?.
mama Erlangga yang mendapat pertanyaan seperti itu, langsung membuat tangisnya pecah. menghindar akan tetap di teror tidak menghindar akan mempengaruhi kondisi sang menantu. memiliki 2 pilihan yang sama-sama beresiko.
"sebenarnya Erlangga..". ucapnya terpotong setelah kedatangan tamu yang tidak di undang.
ckleat
"arka". panggil Rindu. "suami aku mana. kenapa kamu datang tanpa mas Erlangga". todong ya dengan pertanyaan tanpa membiarkan sang tamu menikmati oksigen yang ada disekelilingnya.
"maaf nyonya. belia yang memerintahkan kami untuk menjemput nyonya". jelasnya berbohong untuk memberikan sedikit ketenangan kepada istri sang tuan sekaligus sepupu. dengan situasi seperti ini, Arka tidak mungkin menjelaskan kejadian yang sebenarnya. jika hal itu terjadi, maka akan mempengaruhi kondisi ibu hamil yang ada di hadapannya.
rindu yang tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya mencoba kembali bertanya. "suami saya baik-baik saja?". tanyanya memastikan."karena tidak biasanya mas Erlangga hilang tanpa kabar". lanjutnya lagi untuk mengingatkan hubungan mereka seperti apa jika tidak ada kabar.
__ADS_1
"tuan sudah menunggu nyonya jadi sebaiknya kita berangkat sekarang". lagi-lagi Arka harus mengalihkan atensi sang istri bos guna meloloskan diri dari banyaknya pertanyaan. "mari nyonya". ajaknya pada semua keluarga Erlangga Wijaya. yang langsung di ikuti semu para bodyguard nya di belakang.
"Arka, bisa kita bicara". panggil sang mertua yang sebenarnya sangat ingin bertanya tapi takut akan keadaan rindu yang tidak baik-baik saja.
arka yang namanya disebut langsung berbalik"maaf nyonya. sebaiknya kita berangkat sekarang". lagi dan lagi Arka harus menghindari dua wanita yang sama-sama rapu. "jika kita tidak segera berangkat, maka hujan akan kembali deras dan itu akan menghalangi perjalanan kita nantinya". jelas Arka mengamankan diri.
mendapat penolakan, membuat mama Erlangga berfikir akan banyak kemungkinan terjadi kepada sang bua hati. anak satu-satunya dan keluarga satu-satunya. apalah arti dari kemewahan jika harus sendiri. ditinggalkan untuk kesekian kali membuat mama Erlangga trauma. sudah cukup waktu yang di lewati dengan tangisan dan mencoba bangkit dari keterpurukannya. dan jika apa yang menjadi kekawatirannya nanti, lantas untuk apa hidup nya.
menengok kesamping melihat perut buncit sang menantu membuat air matanya menetes dengan sendiri, namun sebisa mungkin di sembunyikan agar tidak terlihat oleh calon mama muda disampingnya. meskipun seperti itu, rasanya sangat sulit untuk menyimpan sesak yang menghimpit dadanya.
"mama kenapa?". tanya rindu yang berhasil memergoki mama El menangis.
"Ng apa-apa sayang". jawabnya singkat
"terus kenapa mama nangis?. tanyanya lagi yang dibalas senyuman tulus dari mertua.
dengan menarik nafas dalam-dalam."mama cuman sedih liat kamu yang dari semalam tidak berhenti nangis". jelasnya berbohong. "mama bersyukur Erlangga didampingi perempuan seperti kamu. Sholeh, cantik, Mura hati dan tidak sombong. meskipun suaminya memiliki segala-galanya ". sambungnya lagi dengan air mata sudah mengalir deras dan memeluk sang menantu.
pernyataan mama Erlangga mengenai dirinya, membuat rindu merenggangkan dekapan lalu beralih memegang kedua tangan keriput di hadapannya."mama, rindu tau apa yang mama omongin tidak semuanya benar. tangisan mama mungkin sebagian di tujukan kepada Rindu tetap lebih banyaknya kepada mas Erlangga. Rindu tau, alasan dari diamnya mama dan ibu serta Kaka Arka. itu semua demi kebaikan Rindu. tetapi bungkamnya mama dan semua orang malah membuat Rindu semakin sakit. seakan-akan ada rahasi yang tidak bisa rindu ketahui". jelasnya panjang lebar. dari apa yang membuat mereka tidak bicara, menjadi isyarat untuk Rindu akan keadaan sang suami yang tidak baik-baik saja dan bahkan mungkin jauh dari kata baik-baik saja.
__ADS_1
"rindu harap mas Erlangga baik-baik saja". sambungnya lagi yang melihat kearah perutnya.
"doakan mama sayang". gumannya.