
wanita cantik dengan balutan seragam pasien, kini terbaring lemah diatas berangkas. dengan mata yang masih setia tertutup rapat bagaikan orang enggan untuk melihat cahaya bumi.
du asosok wanita yang selalu setia mendampingi, menatap kawatir dengan keadaan pasien yang masih setia dengan ketenangan dalam tidurnya.
seperti yang di katakan dokter bahwa keadaan pasien baik-baik saja hanya saja fisiknya yang melemah serta beban fikirannya yang terlalu banyak sehingga membuat dirinya pusing yang mengakibatkan tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya hingga tak sadarkan diri.
karena kawatir akhirnya salah satu dari mereka memanggil dokter untuk memeriksanya kembali.
"dokter Riko, sebenarnya apa yang terjadi dengan menantu Tante? kenapa hingga sekarang belum ada tanda-tanda akan sadar. padahal kata kamu, dia akan pulih secepatnya tapi kenapa Rindu tidak bangun-bangun juga". todongnya dengan pertanyaan.
"tenang dulu, biar saya cek kembali keadaan Rindu". ujarnya dengan mengarahkan alat medis keatas kulit rindu guna mengetahui sejauh mana perkembangannya.
dengan menarik nafas lalu melipat beberapa alat medis yang tadi digunakan, kemudian mengalihkan pandangannya kepada 2 wanita yang tidak mudah lagi.
"keadaannya sudah stabil tapi sepertinya Rindu tertidur karena pengaruh obat yang sempat di suntikn kedalam impus jadi untuk itu, tidak perlu kawatir". jelasnya dengan seulas senyuman menghias wajah tampannya.
"tapi serius rindu tidak apa-apa dokter?". timpal ibu rindu yang juga ikut menyaksikan anak sulungnya yang masih setia dalam keterpejamanya.
mendengar pertanyaan dari salah satu wanita yang ada didekatnya, Riko menganggukkan kepalanya.
"dia hanya tertidur". jawabnya dengan menatap perempuan pucat di atas tempat tidur.
"usahakan obat dan vitamin serta makanannya teratur agar tubuhnya kembali normal". jelasnya lagi mengingatkan.
__ADS_1
di tengah percakapan mereka, pasien yang dinyatakan tidak stabil kondisi tubuhnya, samar-samar mendengar suara orang di dekatnya, ada suara laki-laki dan perempuan. dengan susah payah akhirnya kelopak matanya bergerak.
"air". pintanya terbata-bata yang membuat percakapan tiga orang disana terhenti dan mengalihkan atensi mereka ke sumber suara yang serak dan terdengar samar-samar karena baru bangun tidur.
"rindu, nak". paggiknya secara bersamaan lalu berlari ke arah pasien.
"air". ucapnya lagi.
dengan sigap, Riko yang berdiri tidak jauh dari tempat air, langsung menuangkan air kedalam gelas, lalu memberikan kepada kerindu.
"ini". memberikan di dekat mulut sang pasien.
"Alhamdulillah nak kamu sudah sadar". legah sang ibu yang sudah duduk disamping anaknya. "rindu mau makan". sambungnya lagi mengingat perkataan dokter untuk memastikan makanannya. namun hanya di jawab gelengan kepala oleh rindu.
"rindu mau mas Erlangga". ucapnya dari ketersadaran akan kondisi suami dan hampir melepas selang infus jika saja orang-orang di sana tidak sigap menahannya.
bukan tanpa alasan, orang yang hilang kesadarannya di akibatkan beberapa penyebab. jika bangun akan jadi trauma tersendiri dan itulah yang di rasakan Rindu. trauma dengan kenyataan pahit yang terjadi didalam hidupnya beberapa jam yang lalu. bahwa dimana fikirannya bergulir pada bayang-bayang suami tercinta terbaring lemah tidak sadarkan diri dan dinyatakan komah hingga tidak bisa di prediksi waktu sadarnya.
bagaikan mimpi buruk.
istri mana yang tidak takut akan ada hal-hal baru yang bisa saja terjadi kedepannya. mengingat betapa dahsyatnya peluru yang bersarang di tubuhnya beberapa waktu yang lalu dan juga racun yang ikut serta menjalar ke beberapa syarafnya.
dengan wajah sendu memohon menatap 3 manusia yang berdiri di hadapannya secara bergantian agar dirinya di pertemukan dengan suami tercinta.
__ADS_1
"aku mau ketemu mas Erlangga". pintanya lagi dengan memelas dan mata berkaca-kaca.
Sinta selaku mama dari erlangga menatap dokter yang berdiri tidak jauh darinya untuk meminta saran. sedangkan orang yang di berikan isyarat melalui mata, hanya bisa menarik nafas lalu mengalihkan pandangan keatas brangkas yang di huni istri dari sahabatnya.
"tunggu cairan infusnya habis dulu baru kamu bisa ke ruangan ICU". nasehatnya. " saya janji jika cairan infusnya sudah habis, kamu bisa kesan untuk menjenguk suami kamu". sambungnya lagi
"iya nak. sebaiknya cairan infusnya habis dulu baru kita akan kesana. rindu pahamkan kalau kondisi rindu sekarang tidak stabil dan untuk bisa kembali pulih, rindu harus rutin mengkonsumsi resep yang sudah dokter anjurkan serta makan harus teratur agar asupan gizi terpenuhi. lagipula kalau rindu sakit, siapa yang akan menemani nak Erlangga dan mendukungnya?". timpal Ratna yang ikut membantu dokter Riko meberikan pengertian kepada anak sulungnya. "dan satu lagi. di perut kamu ini, ada calon malaikat kecil yang harus kamu jaga kesehatan ya". sambung Ratna dengan menyentuh perut sang anak.
rindu yang mendapat nasehat dari Ratna, hanya bisa pasrah karena mau merengek seperti apapun dirinya, jika situasinya tidak memungkinkan maka hasilnya akan tetap sama. alasnya adalah kesehatan dirinya dan janinya.
"tapi Rindu mau melihat mas Erlangga biar hanya lewat kaca. Rindu akan merasa tenang jika sudah melihatnya". pintanya dengan sedikit bernegosiasi. entah kenapa perasan rindu begitu kental untuk menemui suaminya. hormon ibu hamil membuat perasannya tidak menentu. seperti saat ini, dia begitu merindukan sosok didalam ruangan yang penuh dengan peralatan sekaligus tempat berjuang sang suami untuk melawan mautnya.
sedangkan orang-orang yang ada di ruangan bersama dengan Rindu, saling melempar tatapan untuk meminta persetujuan lewat isyarat. Riko selaku dokter yang paham akan tahu kondisi setiap pasien,langsung memberikan kelonggaran untuk menemui sang suami tapi itu tidak lamah sebab kondisinya begitu lemah dan butuh waktu istrihat yang cukup.
meskipun waktu yang di tentukan oleh dokter begitu singkat, rindu tidak keberatan asalkan bisa mengobati rasa rindunya dengan melihat wajah sang suami.
setelah berusaha mohon memohon, disinilah Rindu. didepan ruangan yang di huni oleh lelaki pemilik hatinya. wajahnya tetap sama, pucat. seperti terakhir kali melihatnya beberapa jam yang lalu sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
dengan menyentuh kaca penghubung antara ruangan sang suami dan dirinya. seulas senyuman terukir di wajah rindu berharap dengan senyuman tersebut, suaminya bisa merasakan kehadirannya dan harapan dari rindu akan kembali suami tercinta dari perjalanan panjangnya di alam mimpi. dan setelah itu, rindu mengelus perutnya. guna meminta pertolongan kepada sang anak untuk menuntun jalan Erlangga agar cepat kembali ke raganya.
"hubby, apa tempat tidur itu terlalu empuk, hingga lupa bahwa ada istri mas yang begitu mengharapkan kehadiran hubby. hubby tahu apa yang menyakitkan dari luka fisik saat tergores belati atau terkena tembakan hingga peluru menembus organ tubuh ?". tanyanya dalam hati dengan menggenggam pinggiran kursi roda yang menjadi alat jalannya guna mengurai rasa sakitnya.
"melihat orang yang di cintai secara nyata namun tidak merasakan kehadirannya. sakit hubbyb, sakit". lanjutnya lagi dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipi mulusnya yang terlihat tirus.
__ADS_1
sakit tapi tak berdarah
jangan lupa like, komen dan voute Kaka.