LENTERA

LENTERA
seperti nyata


__ADS_3

menikmati hari-hari yang akan di lalui kedepannya di mulai dari sekarang dan membayar hari kemarin yang sempat tertunda oleh keadaan.


jika kesenangan adalah pilihan maka dirinya akan memilih dan mengabaikan kesedihan namun karena alur tuhan yang begitu hebat hingga mengabaikan bagaimana caranya tersenyum setelah badai hebat yang menghantam perjalanan hidupnya bersama keluarga kecilnya.


di atas tempat tidur dengan menggunakan selimut dirinya terasa enggan untuk sekedar membuka mata apa lagi untuk beranjak. rasanya nyaman sekali.


namun dirinya harus mengambil air wudhu dan melakukan kewajiban rutinitasnya untuk bercengkrama dengan kekasihnya di atas sajadah.


dengan gerakan lambat, dirinya menyibak selimut lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


selang beberapa menit, dirinya telah keluar lalu menuju tempat sholat, mengambil mukenah lalu merentangkan sajadah kemudian sholat dan setelahnya membaca ayat suci Al-Quran.


"tok tok tok, Rindu....". suara dari luar kamar terpaksa membuat alunan indah yang tercipta dari mulutnya guna menyambut orang yang terdengar panik. dengan melihat jam yang masih menunjukkan 04:50. sepagi ini, ada apa ya?


namun karena dirinya tidak ingin menerka-nerka akhirnya Rindu bangkit dari kesenangannya menuju pintu.


cekleat.


seorang perempuan dengan piyama tidur, rambut acak-acakan dengan berurai air mata dan jangan lupa benda pipi serta tas kecil sudah di genggamnya seperti orang yang ingin bepergian namun tidak biasanya karena pakaiannya dan jam yang seharusnya Masi si gunakan untuk istirahat.


"ada apa ma. ini masih subuh tapi kenapa keadaan mama seperti ini dan mama mau kemana". todong rindu dengan berbagai pertanyaan. namun hanya gelengan yang di dapatkan.


"nak, kita harus keruma sakit sekarang, dokter yang menangani El barusan nelpon mama". jawabnya yang belum ke inti pembahasan.


deg

__ADS_1


mendengar kata rumah sakit dan El membuat jantung rindu berpacu hebat. jika tidak sepenting ini, tidak mungkin seorang dokter mengganggu istirahat mertuanya. ada apa dengan suaminya. namun Rindu berusaha menghilangkan fikiran negatif yang sudah bersarang di kepalanya. setidaknya dia harus memastikan dulu sebelum mengambil kesimpulan.


"emang harus se subuh ini ma. dan kenapa mama acak-acakan sekali, sebenarnya ada apa sih ma". tanyanya lagi yang malah mendapatkan jawaban yang sama.


"mama Ng bisa jelasin sekarang, sekarang kita harus keruma sakit". jelasnya dengan menarik tangan rindu namun belum juga beranjak rindu langsung berbalik.


"Rindu ambil tas dulu ma". jelasnya melepas genggaman tangan sang mertua lalu melepas mukenanya dan melihat dirinya di cermin sekilas.


sedangkan mertuanya masih di luar menunggu dengan orang linglung. harapannya, semogah kabar yang di dengarkan tadi hanya kabar burung. dia tidak sanggup dengan pemberitaan ini, entah seperti apa nasib dirinya dan menantunya serta cucunya kelak jika lahir dan beranjak dewasa.


"yuk ma". ajak Rindu membuyarkan lamunan Sinta dan langsung melangkah bersama Sinta untuk menuju mobil.


sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, rindu yang tak biasa dengan keterdiaman mertuanya merasakan kecemasan yang luar biasa. ingin bertanya tapi pasti jawabannya sama tapi tidak bertanya, dirinya yang akan penasaran.


"ma, ada apa sih, kok mama dari tadi nangis. jelasin sama rindu ma". tanya Rindu untuk kesekian kalinya, berharap sang mertua mau buka mulut namun nihil hanya gelengan kepala yang di dapatkan dan air mata terus mengalir.


selang beberapa menit, mobil yang di kendarai rindu dan Sinta telah terparkir di depan rumah sakit. dengan langkah terburu-buru, Sinta meninggalkan Rindu buang Masi dengan keterdiamann dan ke bingungannya.


"pak rindu tinggal dulu ya". pamit rindu pada sang sopir pribadi keluarga Wijaya.


"iya non". jawabnya yang langsung di tinggalkan sang majikan


dengan langkah ringan, rindu berjalan melewati lorong-lorong yang masi begitu sepuh hanya ada beberapa orang yang menggunakan baju serba hitam dan rindu tau, mereka orang-orang Wijaya dan Sam.


dari jarak beberapa meter, Rindu dapat melihat ruangan rawat pasien VIV dan di depannya sudah ada dokter Riko, Sam, Siska dan Arka. semua terlihat membeku seperti patung namun rindu tidak memperdulikannya, matanya hanya fokus kepada Siska yang kini berada di pelukan sang suami dengan berurai air mata. entah apa yang terjadi tapi kecemasan rindu berlipat-lipat.

__ADS_1


melangkah mengabaikan orang-orang yang memusatkan perhatian kepadanya setelah dirinya datang disana. tatapan sedih itulah yang rindu tangkap.


dengan gerakan kecil, rindu melangkah hingga berada di depan pintu sedikit lagi dirinya akan melangkah masuk, namun harus berhenti sebab melihat pemandangan yang tak biasa.


mertuanya menangis meraung-raung, memeluk orang yang tanpa memberikan respon apapun ke padanya. ada apa sebenarnya.


dengan berbalik, rindu mengarahkan pandangan kepada orang-orang yang menatap dirinya.


"kak, sebenarny ada apa". tanya rindu salah satu di antara mereka namun tidak ada yang menjawab.


dengan bibir melengkung, mata berkaca-kaca, dan kepala menggeleng lalu memutar arah pandangnya. melihat sang suami yang pucat pasih dengan tubuh sudah sangat dingin dan kaku. ada apa ini.


"mas E.....l ke....napa m....a". dengan ucapan terbata-bata, rindu mendekati mertuanya laku bertanya akan keadaan sang suami yang sepertinya sangat buruk dan terbilang tidak memiliki harapan.


"nak ikhlaskan suami kami". jawaban bagaikan petir yang menghantam kepala dan hati rindu. sakit sekali.


" mama jangan ngaco, gimana ceritanya Rindu mau ngikhlasin mas El kalau mas El Masi ada di hadapan rindu bahkan Masi di rawat, mama mau misahin rindu dengan mas El". tuturny dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Sinta yang melihat kesedihan anak menantunya, mengambil langkah mendekat namun dan menariknya kedalam pelukan.


"bukan itu maksud mama, suami kamu, anak mama, Erlangga. udah ninggalin kita nak". jelas Sinta yang membuat Kepa rindu semakin sakit serta nafasnya sangat berat.


"ma, ini Ng benar, mas El Masi baik-baik aja kemarin dan bahkan dinyatakan akan sadar setelah operasi". jawab Rindu yang menolak pernyataan dari sang mertua.


"mas eeeeeeel". teriak rindu histeris yang membuat orang-orang diluar ruangan merasa sama hancurnya dengan Rindu. dengan menatap nanar kepada perempuan Nokia yang sudah merengkuh sang suami hingga meraung-raung, berharap ada keajaiban setelahnya.

__ADS_1


"mama Rindu mau mas El, rindu Ng ikhlas, rindu Ng bisa melahirkan tanpa di dampingi mas El, rindu Ng bisa ma". teriaknya dengan berurai air mata. dengan merodotkan badannya hingga duduk di lantai


__ADS_2