
___________________
Happy Reading
____________________
Seperti biasa dipagi hari, tidak ada yang spesial untuk seorang Varka. Tidak ada yang membangunkannya untuk ke sekolah, tidak ada yang menyuruhnya sarapan dan lain sebagainya yang biasa didapatkan oleh anak lainnya. Ia sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya, bukankah kita juga harus mandiri kan.
Varka berdiri didepan cermin sambil merapihkan rambutnya agar sedikit menutupi keningnya yang terluka akibat pukulan Juna kemaren. Entah apa masalah nya tapi Papahnya itu tiba-tiba saja melemparkan gelas kearahnya, untung saja ia masih baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Aku sudah melakukan yang terbaik" ucap Varka pada dirinya sendiri.
Setelah itu ia meraih tas gendongnya dan turun kebawah untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Sesekali Varka melihat ponselnya yang terus bergetar, ia yakin Helsha pasti mengirim pesan untuk membangunkannya. Ya begitulah walaupun tidak ada keluarga Varka yang membangunkannya tapi sekarang ia memiliki Helsha yang selalu ada bersamanya.
Varka langsung duduk dimeja makan tanpa memperdulikan kehadiran Gibran dan kedua orangtuanya, Bahkan ia tidak Dipanggil untuk sarapan kan.
"Ma Gibran kan sebentar lagi masuk SMA. Boleh gak Gibran Les? Biar bisa masuk IPA?" Tanya Gibran
"Boleh dong sayang,, mau les dimana?"
"Dimana ya? Gibran juga bingung"
"Di OG aja sayang, kebetulan disana ada temen papah dan bagus juga tempat les nya" ucap Papah"
"Yaudah Gibran nurut aja deh"
Varka hanya tersenyum kecut sambil memakan sarapannya, lihat betapa Mudah Kakaknya itu mendapatkan apa yang dia mau sedangkan Varka dituruti pun rasanya jarang sekali, setiap ia meminta sesuatu pasti selalu berujung dengan ia yang dimarahi bahkan dipukuli.
"Kamu gak perlu les ya Varka.. toh gak guna juga" ucap Clara
Varka mengangkat kepalanya menatap Clara yang kini menatapnya dengan sinis
"Iya Ma, aku juga tau diri Kok" jawab Varka lalu kembali melanjutkan sarapannya
Bahkan disaat Varka belum meminta hal itu, Clara sudah melarangnya lebih dulu. Sebegitu tidak berharga dan berarti dirinya dikeluarga ini.
_____
Helsha berjalan menyusuri koridor sekolah untuk menuju sebuah tempat yang selalu ia datangi dengan Varka. Taman belakang sekolah, tempat paling tenang dan indah disekolahnya. Helsha tidak berhenti tersenyum saat Varka mengatakan jika ia sudah berada disana dan menunggu kedatangannya, akhir-akhir ini mereka selalu bisa menghabiskan waktu bersama karena banyak sekali jam kosong. Para guru sedang sibuk mempersiapkan Ujian sekolah dan ujian Nasional kelas 3.
Helsha tersenyum saat melihat Varka yang sedang berbaring diatas kursi yang ada taman. Ide jahil muncul dikepala Helsha, ia pun berjalan pelan-pelan berniat untuk mengagetkan Varka.
"Gak lucu Sha..." Ucap Varka
Helsha langsung cemberut sambil berjalan kearah Varka yang masih saja berbaring, padahal ia sudah berjalan perlahan dan Varka juga menutupi matanya dengan sebelah tangan kenapa ia masih saja gagal
"Varka mah.. kenapa sih kok tau Helsha udah Dateng?? Padahal Helsha udah pelan-pelan loh jalannya" ucap Helsha sambil duduk dipinggir kaki varka
"Apasih yang nggak aku tau tentang kamu.."
"Gombal... Anak kecil!"
Varka hanya tersenyum mendengar kalimat Helsha. Selama beberapa menit Varka tetap diam diposisinya membuat Helsha menyadari jika Lelaki ini sedang tidak baik-baik saja.
"Varka baik-baik aja kan?" Tanya Helsha
__ADS_1
"Hmm..."
"Beneran? Gak mau cerita aja sama Helsha?"
"Hmm..."
"Yaudah gapapa, tapi kalo udah mau cerita bilang ya. Jangan dipendem sendirian, Helsha gak suka"
Helsha menatap lekat wajah yang kini masih betah terpejam dan diam tanpa bersuara. Helsha tau Varka pasti habis menangis dan sengaja tidak ingin memperlihatkan mata sembabnya pada Helsha. Helsha menghela napas saat menyadari jika kening Varka terluka, apa Varka dipukul lagi? Apa Varka tidak bahagia lagi? Apalagi masalah yang dihadapi lelaki dihadapannya ini..?
"Varka..." Panggil Helsha lembut
"Bangun dulu yuk.. Helsha mau ngomong"
Lagi-lagi tidak ada jawaban
"Yaudah Helsha pergi nih..."
Mendengar hal itu Varka langsung bangun dan membenarkan posisi duduknya, Saat ini ia hanya ingin ditemani oleh Helsha.
"Varka kenapa?"
"Gapapa Sha,, cuma pengen ditemenin sama Helsha aja"
"Ini kenapa? Dipukul lagi?" Tanya Helsha menyentuh kening Varka yang tertutupi rambut
"Gapapa..." Ucap Varka tersenyum
Helsha menghela napas, Lagi-lagi Varka tidak memberitahunya. Walaupun Varka sekarang lebih bisa terbuka padanya tapi lelaki ini juga masih saja selalu menyembunyikan hal-hal yang menyakitinya.
"Iya... Maaf karena Varka masih belum bisa terbuka tentang semua hal yang Varka alamin. Varka masih takut untuk..."
"Iya Helsha tau, Tapi Varka harus cerita semua hal kalau Varka udah mau cerita, Helsha bakal nunggu kok. Varka udah mulai bisa terbuka sama Helsha aja udah buat Helsha seneng banget,,"
"Makasih ya.." ucap varka.
"Inget ya Varka sekarang gak sendirian, ada Helsha disini" ucap Helsha tersenyum.
Keduanya saling melempar senyum. Helsha sedikit banyak merasa lega karena akhir-akhir ini Varka selalu bercerita dan memberitahunya jika ada masalah, Setidaknya lelakinya ini tidak merasa sendirian lagi. Helsha sendiri masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Keluarga Varka.
Memang tidak banyak hal yang diketahui oleh Helsha. Tapi dari semua yang ia lihat dan rasakan, Varka memang sama sekali tidak bahagia. Helsha bisa melihat dari tatapan yang selalu terlihat kesepian dan Rapuh, kenapa semesta memberikan sebuah keadaan yang sangat menyedihkan pada seorang anak yang begitu baik.
"Sha..." Panggil Varka kemudian
"Iya?"
"Varka cape..." Gumam Varka hampir tidak terdengar
Helsha terdiam mendengar penuturan Varka, Ia masih harus mencerna kalimat yang diucapkan Varka. Helsha tidak ingin berpikiran negatif, bisa saja Varka cape dengan sekolahnya kan?
"Varka pengen pulang aja..." Lanjut Varka
"Varka..." Ucap Helsha sambil memegang tangan Varka.
"Boleh kan?" Tanya Varka menatap Helsha dengan mata yang sedikit memerah menahan tangis
__ADS_1
"Boleh apa?" Tanya Helsha sedikit panik
"Boleh kan Varka pulang? Varka capek Sha"
"Engga, Varka gak boleh kemana-mana. Varka harus disini sama Helsha" ucap Helsha
"Aku cuma mau pulang kerumah Sha, gak usah mikir yang aneh-aneh. Gapapa kan?"
"Kerumah?"
"Iya..."
Varka hanya tersenyum dan mengacak rambut Helsha, ia tau apa yang dikhawatirkan gadis ini tapi rasanya ia memang lelah dan ingin pulang ke semesta saja. Mungkin tidak hari ini tapi rasanya akan ada hari dimana mungkin saja ia bisa melakukan hal yang dipikirkan Helsha.
"Ayo.." ajak Varka
Helsha hanya mengikuti langkah Varka yang mengantarnya ke depan kelas, lelaki ini memang mengatakan jika ia ingin pulang kerumah. Tapi jujur Helsha khawatir karena baru kali ini Varka mengatakan jika ia Capek pada Helsha, dan Helsha cukup tau jika yang dimaksud Varka apa.
"Aku pulang duluan ya, gapapa kan? Kamu pulang sama Kaka kamu aja ya" ucap Varka
"Varka... Beneran pulang kerumah ya"
"Iya..."
"Jangan kemana-mana ya, langsung kabarin kalau udah sampe rumah"
Varka hanya tersenyum dan langsung berlalu pergi meninggalkan Helsha yang mematung didepan kelasnya. Varka tau semua hal di dunia ini tak pernah ada yang memihak padanya, bahkan Ia masih belum bisa menerima Helsha sepenuhnya. Ia masih terlalu takut jika nantinya Helsha juga akan menjauh dari dirinya seperti kebanyakan orang selama ini.
_____
"Dek..." Panggil Gibran yang kini ada diambang pintu kamarnya
"Ada apa kak?"
"Kaka lihat kamu sekarang gak sendirian lagi? Punya temen ya?"
"Ahh... Itu maksud Kaka Helsha?" Tanya varka
"Oh jadi namanya Helsha ya, temen kamu?"
"Iya, kenapa?" Tanya Varka curiga
"Gapapa kok nanya aja."
"Kak.." panggil Varka saat Gibran ingin beranjak pergi
"Jangan ambil Helsha dari aku ya.."
"Maksudnya?" Tanya Gibran
"Aku cuma punya dia kak..."
"Masih kecil dek, belajar aja sana gak usah mikirin yang kayak gitu. Lagian Kaka juga cuma nanya aja"
Setelah itu Gibran pergi begitu saja dengan senyuman lebar diwajahnya. Varka yang melihatnya hanya merasa khawatir, ia khawatir jika Kakaknya akan mendekati Helsha dan Pada akhirnya Helsha juga terpokus pada kakaknya seperti yang lain.
__ADS_1
Inilah yang ia khawatirkan, Helsha adalah satu-satunya yang ia punya saat ini. Tidak bisakah semesta membiarkan gadis itu tetap bersamanya, Sekali saja ia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya.