LENTERA

LENTERA
teman SMA


__ADS_3

suasana kota yang begitu padat dan ramai, ditambah dengan cahaya mata hari yang begitu panas. kipas tangan tak juga membuat hati seorang gadis belia menghangat. entah karena panas atau permasalahan dalam hidupnya Batak kunjung redah. memilih menika dengan dokter tampan secara tertutup, membuat hidupnya tak senyaman seperti yang ada dalam fikirannya. ternyata, menikah siri bukanlah jalan yang baik untuk kehidupan di dunia yang penuh dengan hukum.


kedatangan mertua di apartemen mereka, yang tadinya akan memberikan pertemuan pertama dan menciptakan kesan yang baik, malah sebaliknya. realita tak semanis konsep hidupnya.


awal pertemuan yang begitu memilukan, mendapatkam penghinaan yang luar biasa karena status sosial yang berbeda. emang apa yang sindi bisa lakukan? hanya mendengarkan dan menangis. sebab apa yang di katakan mertuanya memang benar adanya. dirinya tidak kurang dari kalangan bawah yang hanya menumpang hidup di rumah suaminya.


"saya heran dengan pilihan Riko. kamu! yang seharusnya pantas menjadi pembantu, malah di jadikan nyonya oleh anak saya. apa yang Riko lihat dari kamu? miskin, jelek dan tidak berpendidikan. terus apa yang membuat anak saya tertarik". segalah sumpa serapah di lontarkan kepada wanita belia di depannya. dengan wajah menunduk dan air mata mengalir deras. "asal kamu tau. anak saya akan menikah dengan gadis yang sederajat. bukan sama kamu yang harus berada di dapur dan melayani kami. jadi sebelum kamu terluka lebih dalam lagi, mending sekarang angkat kaki dari rumah ini dan pastikan sebelum Riko pulang, kamu suda tidak disini lagi". lanjutnya yang semakin membuat sindi menangis.


"tapi, aku mau kemana". dengan tatapan sendu mencoba memberi akun diri bertanya.


"bodoh! saya tidak tahu". jawabnya lalu melangkah keluar dari apartemen anaknya.


setelah mendengar penuturan sang mertua, sindi akhirnya bergegas membereskan barang-barang nya lalu meninggalkan gedung tempatnya bernaung beberapa bulan tanpa berpamitan kepada pemiliknya.


"mas. aku pergi". sebelum memberikan barang-barangnya, sindi Masi sempat menulis surat untuk di jadikan jejak terakhir.


air matanya tak kunjung redah, hingga membawa dirinya kepada tempat orang-orang mengeluarkan setiap keluh kesahnya dan tempat para musafir untuk berteduh hanya sekedar beristirahat sejenak.


senyum tersungging di wajahnya setelah masuk kedalam halaman tempat beribadah yang begitu luas. ada kehangatan yang membuat pasokan oksigen semakin menguasai dadanya. dan ini ke dua kalinya dia menginjakkan diri setelah mengucapkan kalimat tauhid beberapa waktu yang lalu. guna mengikuti paham sang suami yang telah menjadikan dirinya mualaf.


rasanya sangat nyaman, ada kehangatan membuat hatinya terasa damai. duduk di atas sajadah sembari menunaikan sholat wajib dan setelah selesai, sindi akhirnya melipat mukenanya dan berniat akan membawa ketempat semula. tapi, fokusnya teralihkan dengan orang yang berada di sampingnya. wanita yang terpaut satu tahun darinya. perempuan mudah yang sempat di kagumi di sekolahnya. memiliki hati selembut sutra bak malaikat, setiap ada Maslah, pasti perempuan ini selalu ada untuknya. entah itu takdir atau secara kebetulan, tapi semua terjadi begitu saja.

__ADS_1


"Rindu". sapanya takut-takut karena jangan sampai salah orang. dan orang yang di sapa, langsung memutar arah pandangnya dan membuat matanya membulat.


syok, tentu. sebab, setau diri ya, sindi bukan dari kalangan dirinya yang seiman, tapi entah dirinya yang salah lihat atau memang benar ini adalah wujud nyata dari perempuan tersebut.


"kak, Rindu kan?". tanyanya lagi yang berhasil membuat Rindu tersadar dari keterkejutannya.


"ah, iya. sindi bukan". tanyanya balik untuk memastikan.


"iya kak. ini aku". jawabnya dan langsung memeluk Rindu dengan semangat. tapi, pelukan itu tidak berselang lama sebab, sindi merasa ada yang ganjal. seperti ada penghalang di antara pelukannya.


"kak, aku yang salah atau emang ini nyata. perut Kaka, kayak besar gitu". tanyanya bingung dengan matanya mengarah ke arah perut rindu yang masih terbungkus mukenah.


"iya, saya lagi hamil". jawabnya yang sukses membuat sindi mengerutkan keningnya.


mengingat hubungannya dengan suaminya tak baik-baik saja karena peristiwa beberapa jam yang lalu, membuat hatinya sulit menjawab. meskipun pada kenyataannya, mereka sudah menikah tapi, hatinya seperti di permainkan.


dengan mengingat isi dari perutnya adalah buah cinta dari laki-laki yang sekarang membawa dirinya hingga bertemu dengan sindi disini.


"iya, Alhamdulilla. udah hampir setahun". jawabnya dengan tatapan sendu. baru belum genap setahun usia pernikahan mereka, tapi sudah di terjang badai. rasanya miris, mengingat dirinya yang kemungkinan besar akan menjadi janda di usia mudah.


"wah sindi sebentar lagi akan jadi Tante". hebo sindi, melupakan kesedihannya beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"do'akan, semogah kami sehat dan persalinan di mudahkan". ucapnya dengan senyuman.


"Aamiin". dengan mengangkat ke dua tangan sindi lalu mengaminkan permintaan Rindu.


"tapi ngomong-ngomong, sejak kapan jadi mualaf". mendapat pertanyaan seperti itu membuat sindi membuang nafas. jika membahas perjalananya, itu akan menorehkan luka didalam hatinya.


"kisaran sebulan". jawabnya dengan senyuman kecut.


"semogah Istiqomah ya".


"insyaallah, kak".


"terus suami Kaka dimana?". penasaran dengan keberadaan sang pemilik wanita cantik didepannya, akhirnya sindi melontarkan pertanyaan.


mendengar pertanyaan sindi, membuat hantu kembali gunda. "kerja, tadi saya kesini sendirian". jawabnya sebisa mungkin membuat wajahnya tenang agar tak menimbulkan kecurigaan.


" ya udah ya kak, sindi pamit". setelah merasa cukup, akhirnya sindi berpamitan.


"iya, hati-hati ya". ucapnya yang di balas senyuman dan anggukan dari sindi.


setelah beberapa saat membersikan peralatan solat, akhirnya rindu melangkah keluar. memandangi hamparan pepohonan yang di jadikan hiasan lalu menghirup udara banyak-banyak. rasanya sangat nyaman.

__ADS_1


"sayang". fokusnya tiba-tiba menguap saat mendengarkan suara yang begitu familiar di telinganya.


__ADS_2