LENTERA

LENTERA
kecewa


__ADS_3

hari ini, Rindu akan bertamu ke perusahaan El untuk membawa makanan siang.


dengan dress warnah hitam dihiasi Vita berbentuk bunga-bunga di sebelah kanannya semakin membuat dirinya bulat dengan perut buncit tapi tentunya Rindu keliatan imut.


berjalan menuruni tangga dengan menenteng tas kecil di sebelah kirinya lalu menuju dapur untuk mengambil kotak bekal yang sudah di siapkan sang bibi.


"Rindu sudah mau berangkat". Sinta yang baru dari arah belakang melihat rindu yang kini sudah ingin beranjak dari dapur.


"iya ma, ini Rindu udah mau ke kantora El sekalian mau makan siang bareng". jawabnya dengan memperjelas tujuannya. " tapi mama jangan bilang ya kalau Rindu mau kesana, soalnya Rindu mau ngasi kejutan sama mas El". lanjutnya lagi.


"iya sayang, tapi hati-hati ya". ucapnya menuruti ke inginkan sang menantu.


"ya udah, Rindu berangkat dulu ma". dengan menyalin tangan sang mertua lalu mwngucapkan salam dan melangkah keluar dari rumah.


sepanjang perjalanan, rindu tidak henti-hentinya tersenyum sambil mengusap perutnya yang membuncit. rasanya tidak sabar cepat sampai di tempat tujuan untuk bertemu sang pemilik hatinya.


...****************...


dua orang yang sedang makan siang di cafe gedung perusahaan wijaya. perempuan dengan perut buncit yang sebentar lagi memasuki bulan ke 7.


"sayang makan yang banyak agar kalian sehat". dengan menyodorkan daging yang sudah di potong-potong kecil.


"terimakasih mas suami". ucapnya dengan mengambil piring berisi makanan lalu memasukannya kedalam mulut.


arka yang melihat betapa lahapnya sang istri makan, merasa bahagia. beberapa hari ini, Siska susah menelan makanan, lebih banyak yang terbuang dari pada yang masuk kedalam perut dan bahkan istrinya tidak selera makan jika tidak melihat dirinya. jadilah mereka selalu mengadakan makan rutin, pagi, siang dan malam.


"hmm, enak banggat mas". pujinya yang membuat arka mengusap sisa makanan di sudut bibir Siska.

__ADS_1


"makan yang bener sayang, jangan belepotan kayak gini". nasehatnya setelah membuang tisu kotor di tangannya.


"abisnya enak sih mas". arka sudah tahu bahwa istrinya sangat lahap jika ada dirinya. entah dirinya vitamin atau sejenisnya tapi Arka bersyukur akan hal itu. karena diluar sana banyak yang muntah jika disentu suaminya bahkan ada yang sampai tidak ingin melihat dan mencium bau suaminya.


"mau nambah sayang". tawar Arka saat melihat isi piring Siska yang sisi dua potong tapi istrinya seperti Masi sangat lahap.


"emang boleh mas". tanyanya yang.


"boleh, sayang". jawabnya denga memanggil pelayan yang berada di pojok dan langsung memesan dua piring lagi yang membuat Siska tersenyum bahagia.


"makasih mas". ucapnya dengan memasukan potongan daging terakhir kedalam mulitnya.


"sama-sama istriku". jawabnya dengan membelai rambut sang istri yang tergerai indah.


...****************...


perempuan mungil yang kini menginjakan kaki di gedung tinggi menjulang ke langit. dengan senyuman manis, perempuan tersebut terus berjalan hingga tidak sadar berada di depan resepsionis.


"ketemu suami aku" jawabnya mantap yang membuat sang resepsionis bingung.


"Adek tau suami Adek di ruangan mana". tanya resepsionis memastikan.


"tidak kak". resepsionis yang mendengar jawaban Rindu, merasa bingung.


"emang suami adek siapa". tanyanya untuk memastikan.


"mas El". jawabnya polos yang membuat resepsionis megerjap kan matanya. El siapa? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"El siapa ya dek". tanyanya lagi.


"Erlangga wijaya mbak". ucapnya mantap dengan perasaan dongkol. tidak tahu saja kalau kaki rindu pegal karena berdiri.


resepsionis yang mendengar itu langsung menelpon seseorang dengan tangan gemetar. pasalnya dia orang baru dan sangat takut jika salah langkah. bisa-bisa dirinya di pecat.


"halo mbak raya, disini ada perempuan mudah yang mengaku istri tuan Erlangga dan dia hamil besar".


"namanya siapa". tanya sang penelpon.


"bentar mbak". dengan menjauhkan telpon tersebut lalu beralih ke rindu yang sepertinya kelelahan berdiri lama.


"nama adek siap". tanyanya denga memastikan.


"Rindu". ucapnya malas karena kakinya benar-benar pegal, untung saja suara Rindu Masi bisa di dengar raya


"astagah, suruh cepat masuk". teriak orang di sebrang sana yang langsung membuat mita pucat pasi.


"ayo dek, biar saya antar". ucapnya takut-takut dengan menawarkan diri.


setelah beberapa menit perjalanan kini rindu sudah berada di depan ruangan suaminya namun sebelum itu, raya Langsung menyapanya dengan ramah.


"selamat siang nyonya". ucapnya dengan menunduk.


"siang". jawabnya kikuk karena tidak nyaman dengan nama barunya.


dengan berjalan hingga sampai di depan pintu lalu membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.

__ADS_1


DEG


pemandangan didepan sana cukup membuat hatinya ngilu dan nafasnya terasa memberat.


__ADS_2