LENTERA

LENTERA
part 9


__ADS_3

__________________________


Happy Reading


____________________________


Hujan mengguyur jalanan Kota denga begitu deras. Varka berjalan menuju Rumah Helsha, Perasaannya sedikit tidak tenang setelah tadi kakaknya menanyakan tentang Helsha. Ia takut jika kakaknya dikemudian hari bisa merebut satu-satunya yang ia miliki saat ini. Tidak peduli dengan Tubuhnya yang kini sudah basah kuyup, ia ingin memastikan dan menanyakan satu hal pada Helsha.


Varka menekan bel rumah Helsha beberapa kali namun tak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya, apa dirumah ini sedang tidak ada orang? Varka kembali menekan bel dan berharap kali ini ada yang keluar.


Varka berusaha menghubungi Helsha namun gadis itu tak kunjung mengangkat telpon atau sekedar membalas pesannya.


Sudah satu jam varka menunggu dibawah guyuran hujan, namun tidak ada yang membukakan pintu dan Helsha juga tak membalas pesannya. Mungkin benar Helsha sedang tidak berada dirumahnya.


Varka menghela napas panjang, menatap sendu rumah dihadapannya dan Pada akhirnya Varka melangkah pergi dari rumah itu.


____


Helsha memandang keluar jendela mobilnya, ia baru saja selesai makan malam diluar bersama keluarga Neneknya. Namun karena hujan jalanan jadi macet dan Helsha harus pulang terlambat. Ia sedikit kesal karena handphone nya tertinggal dirumah, ia takut jika varka menghubunginya.


Mata Helsha membulat saat melihat Varka yang sedang berjalan menjauhi rumahnya dengan kondisi yang basah kuyup, apa pria itu menunggunya?


"Kak... Berhenti..." Ucap Helsha menepuk-nepuk pundak Kakaknya


"Apa?"


"Berhenti, Helsha mau turun disini"


"Diluar hujan sayang, bentar lagi juga sampe kan" ujar Bunda mengingatkan


"Helsha mau turun disini aja, ada Varka Bun"


"Yaudah kak berhenti disini aja gapapa, Pake payung turunnya"


"Iya Bun"


Helsha langsung turun setelah mobil berhenti, Ia berlari sambil memegang payung yang hampir terbawa angin


"Varka....tunggu... Varka..." panggil Helsha


Varka menoleh saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Ia menyipitkan matanya agar bisa melihat siapa yang sedang berlari kearahnya.


"Helsha?" Gumam Varka


"Varka..." Panggil Helsha sambil terus berlari


Varka langsung menghampiri Helsha yang hampir saja terjatuh akibat jalanan yang licin.


"Hati-hati dong Sha, kalau jatoh gimana? Jalan aja bisa kan? Kenapa harus lari sih, mana ada yang sakit gak? Kakinya sakit gak?" Tanya Varka sambil mengecek kaki Helsha takut-takut jika ada yang terluka


Helsha lalu mengarahkan payung nya pada Varka agar lelaki ini tidak kehujanan lagi, Varka yang menyadari hal tersebut langsung memberikan kembali payungnya pada Helsha


"Hujan Helsha, nanti sakit" omel Varka


"Kamu juga ngapain ujan-ujanan disini? Ada apa?" Tanya Helsha


"Ayo pulang... Bunda kamu nanti marah" ucap Varka sambil menarik tangan Helsha untuk kembali kerumahnya.


Setelah sampai dirumah, Helsha langsung mengambil handuk dan teh hangat untuk Varka. Ia tidak ingin Varka sakit karena kehujanan dan akhirnya masuk angin


"Kenapa?" Tanya Helsha setelah duduk disamping Varka


"Apanya?" Tanya balik Varka


"Ihh.. kamu kenapa ujan-ujanan?"


"Gapapa"


"Ihhh Varka,,, sumpah deh Helsha kesel banget hari ini sama Varka. Biasanya juga kalau kenapa-kenapa pasti ngasih tau, kenapa sekarang jadi susah lagi. Helsha gak suka Varka, kenapa sih? Helsha ada salah sama Varka?"


"Helsha gak bakal ninggalin Varka kan? Gak bakal biarin Varka sendirian lagi kan?" Tanya Varka tiba-tiba


"Hah? Varka kenapa sih? Helsha gak ngerti"


"Tadi Kak Gibran nanyain kamu Sha" ucap Varka sambil menunduk


"Aku takut banget kalau nanti Kak Gibran ngalihin Fokus kamu yang lain, aku takut kamu jadi lupa sama aku" lanjut Varka


"Ihh... Varka ngomong apaan sih, kan Helsha udah bilang bakal terus ada buat Varka. Varka gak usah takut"


"Aku cuma takut Sha, aku gak punya siapa-siapa lagi yang peduli sama aku selain kamu. Aku takut Sha" ucap Varka menatap Helsha


"Jangan takut ya, Helsha janji gak akan pernah biarin Varka sendirian."


"Maaf ya aku jadi cowok cengen banget, jangan ngeledek loh" ucap Varka sambil mengusap air mata yang tak sengaja jatuh


"Ihh.. Helsha gak ngeledekin tau, yang bilang Varka cengen siapa? Kan Helsha selalu bilang kalau Varka itu kuat!! Udah ya jangan takut lagi, Helsha janji gak bakal ninggalin Varka sendirian"

__ADS_1


"Beneran?"


"Iyaaa, percaya kan sama Helsha?"


"Iya, Makasih ya Sha"


Varka senang sekali karena akhirnya Perasaan nya bisa sedikit tenang malam ini. Tidak peduli jika nanti ia akan dimarahi karena pulang terlambat yang terpenting ia sudah mendengar sendiri dari Helsha jika gadis ini tidak akan meninggalkannya.


"Sha..."


"Hmm..."


"Pokoknya nanti kalau udah SMA, Varka janji bakal selalu jagain Helsha, Varka gak bakal takut lagi sama apapun itu. Asalkan Helsha tetep ada disisi Varka dan jadi temen Varka ya"


"Iya, Helsha janji bakal terus ada buat Varka dan jadi temen Varka seterusnya"


"Pokoknya aku nanti pasti bakal ajak kemana aja yang Helsha mau, asal Helsha harus bahagia" ucap Varka


"Beneran ya?"


"Iya, aku mau kita bisa keliling dunia sama-sama. Mau kan?"


"Ihhh mau banget.. Helsha mau diajak pergi ke Paris ya? Pokoknya Varka harus bawa Helsha kesana" ucap Helsha antusias


Varka tersenyum, rasanya bahagia sekali melihat Helsha yang begitu antusias mendengarkan ucapannya. Varka benar-benar merasa dihargai dan didengar


"Iya Varka janji, Tapi Tunggu Varka sukses dulu ya. Varka bakal buktiin sama Kamu, Mamah, papah dan kak Gibran kalau Varka bisa banggain mereka"


"Iya, Helsha pasti selalu doain yang terbaik buat Varka"


Varka menatap lekat gadis disampingnya yang kini sibuk mengerjakan Pr nya, Lucu sekali. Bagaimana bisa gadis secantik ini mau berteman dengannya, tapi demi apapun Varka bersyukur karena Helsha selalu menepati apa yang dikatakannya.


"Helsha..."


"Iya?" Ucap Helsha mengangkat kepalanya


"Aku bahagia banget"


"Karena apa?" Tanya Helsha antusias


"Gak tau, Pokoknya semenjak aku ketemu sama kamu, aku jadi sering senyum, ketawa dan bisa ngelupain rasa sakit aku. Makasih ya"


"Nah gitu dong, Helsha seneng dengernya. Varka harus selalu bahagia oke?"


"Siappp... Ibu negara"


Varka tertawa melihat wajah Helsha yang sedikit memerah karena ucapannya, Gadis ini begitu menggemaskan. Benar-benar candu untuk dipandang, Penawar rasa sakit yang selalu bisa membuatnya sembuh hanya dengan mendengar suaranya.


_____


Beberapa bulan kemudian


Hari ini keluarga Varka sedang makan siang bersama di meja makan seperti biasa, suasana terlihat sangat menyenangkan untuk 3 orang yang berada di sana kecuali varka yang hanya bisa diam menyaksikan perlakuan kedua orang tuanya yang begitu menyayangi Gibran.


"Ada yang mau Varka omongin" ucap Varka


Clara dan Juna langsung menoleh pada varka menatapnya dengan tatapan sedikit tidak suka karena telah mengganggu waktu makan mereka.


"Varka masuk IPA juga kayak Gibran, papa sama Mama banggakan?" Ucap Varka


"Tapi maaf Karena Varka nggak bisa masuk kelas unggulan kayak Kak Gibran" lanjut Varka


"Tuh Mama bilang juga Apa! makanya belajar yang benar Varka!"


"Varka juga udah belajar, tapi Varka bukan kak Gibran!!" Ucap varka


"Nggak ada yang nggak mungkin kalau kamu mau usaha,kamu enggak malu apa Kakak kamu masuk kelas unggulan tapi kamu engga?? Mama kecewa sama kamu!!" Bentak Clara


"Ma, Aku Bukan kak Gibran, aku sama Kak Gibran beda!!"


"Makanya jadi anak tuh usaha dong" ucap clara sinis


Varka meletakkan alat makanya agak keras di piring menyebabkan Clara dan juna semakin menatapnya tajam dan kesal dengan apa yang Varka lakukan. Varka mengangkat wajahnya dan menatap dengan mata yang sedikit memerah.


"Ma, Pa, sekali aja kalian bilang 'iya nggak apa-apa kamu udah berusaha' sama Varka, Varka cuma pengen denger itu dari kalian. Kenapa sih Mama sama papa selalu aja bandingin varka sama Kak Gibran!"


"Varka... papa sama Mama cuma mau kamu jadi anak yang pintar yang bisa banggain orang tua sama kayak kakak kamu" ucap Juna


"Contoh tuh Kakak kamu, dia nggak banyak main kayak kamu yang keluyuran terus!!" Sinis Clara


Varka menghela nafas lalu berdiri.


"Aku juga punya prestasi, nilai ujian aku juga baik, Aku juga pernah dapet juara. Tapi mama sama papa pernah enggak apresiasi kerja keras aku? Selama ini kalian Cuma ngapresiasi kak Gibran!! Aku juga pengen mah pah diapresiasi!!. selama ini Varka udah ngelakuin semua hal yang Mama sama papa mau, tapi apa? Kalian sama sekali nggak pernah ngehargain kerja keras Aku!!!."


"Varka...!!" Bentak Juna


"Varka udah usaha biar bisa masuk kelas unggulan kayak kak Gibran, tapi apa hasilnya?? Aku tetep gak masuk kan?? Ya itu semua karena Varka bukan kak Gibran!! Sebenarnya Varka ini anak kalian atau bukan sih? Kayaknya bukan ya?? Karena anak kalian cuma ka Gibran aja!!"

__ADS_1


"Varka!! Jaga sopan santun kamu ya, mamah sama papah cuma mau yang terbaik buat kamu. Jangan kurang ajar jadi anak!!" Ucap Clara


"Varka maafin Kaka kalau kamu ngerasa dibedain terus ya..." Ucap Gibran berusaha menenangkan Varka


"Gak perlu minta maaf kak!" Ucap Varka melepaskan tangan Gibran


"Emang kenyataan yang selama ini aku terima kayak gitu kok. Mungkin emang bener kalau aku ini cuma anak buangan aja!!"


"Anak kurang ajar!!!" Bentak Juna sambil melemparkan sebuah lap tangan kearah Varka dengan kerasa


"Gak tau di untung banget jadi anak!!"


Varka mengusap pipinya yang terkena lemparan lap tangan, ia yakin pasti pipinya merah lagi. Ia mengangkat wajahnya dengan senyuman diwajahnya, lihat bagaimana cara orang tuanya menjawab semua hal yang ia katakan.


"Maaf kalau Varka belum bisa Banggain kalian dan malah ngecewain kalian" ucap Varka lalu berlalu pergi, menghiraukan teriakan Juna yang memanggil namanya.


Sekarang ia sudah akan masuk SMA, umurnya sudah beranjak dewasa. Tidak ada lagi alasan untuk dirinya tetap diam ketika diperlakukan semena-mena, ia juga ingin mendapatkan hak nya dirumah ini dan mendapatkan apa yang selama ini hanya Kakaknya yang dapatkan. Mungkin Varka memang masih sedikit takut untuk melawan, tapi setidaknya ia sudah berani menjawab bentakan dan amarah kedua orang tuanya.


Varka mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelpon Helsha. Sekarang ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan nya, Varka tidak lagi menyembunyikan apapun dari Helsha, ia ingin mempercayai gadis itu sepenuhnya.


"Helsha... Ke taman yuk, Varka mau cerita" ucap Varka begitu telpon tersambung


"Varka gapapa kan? Yaudah Helsha kesana sekarang ya, tungguin"


"Iya, hati-hati Sha"


Sambungan telponpun terputus, Varka sedikit tersenyum karena Helsha selalu saja tau keadaan dirinya tanpa harus ia yang memberi tahu. Gadis itu selalu bisa membuat ia tenang dan nyaman, Helsha bisa memahami Varka dengan baik. Terkadang ketika ada masalah kita hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi.


____


"Varka...." Teriak Helsha saat melihat Varka yang sedang duduk dikursi taman


Varka tersenyum saat melihat Helsha yang datang menghampirinya dengan senyum manis gadis itu.


"Maaf ya lama, tadi rebutan dulu motor sama Kaka hehe"


"Iya iya, yang udah bisa naik motor emang beda" ucap Varka sambil mengacak pelan rambut Helsha


"Hehehe... Kan udah mau SMA"


Varka terkekeh mendengar ucapan Helsha


"Varka kenapa? Mau cerita apa?"


Varka terdiam untuk beberapa saat, matanya fokus memandang langit yang cerah. Varka berusaha menenangkan pikirannya agar tidak terlalu kalut


Helsha hanya memperhatikan Varka dari samping. Ya lelakinya ini memang terlihat sedih sekarang, bahkan Helsha bisa melihat jika pipi Varka sedikit merah. Sungguh Helsha selalu merasa sakit sekali jika melihat luka yang terdapat ditubuh Varka.


"Varka...."


"Sha... Cape banget" lirih Varka


"Varka cape banget ya?" Tanya Helsha lembut


Varka hanya mengangguk


"Rasanya tuhan jahat banget sama aku Sha, dari dulu aku cuma sendirian. dulu aku itu Anak kecil yang seharusnya dapet kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya tapi ternyata aku gak pernah ngerasain hal itu. Helsha, aku cuma mau mamah sama papa ngerhargain apa yang udah aku lakuin selama ini. Apa aku salah berharap kayak gitu?"


"Engga salah Varka.."


"Sha.. rasanya dipeluk sama mamah gimana? Rasanya bercanda sama papah gimana? Rasanya diperhatiin gimana? Bahkan mungkin terakhir aku dipeluk sama mereka cuma pas aku baru lahir aja"


Helsha mengusap lembut punggung varka sambil menatap hangat lelaki itu


"Rasanya dipeluk itu hangat Varka.."


"Helsha...."


Sesaat kemudian Varka langsung menitikkan air matanya dihadapan Helsha, untuk kesekian kalinya Varka kembali menangis dihadapan gadis ini.


"Varka jangan nangis..." Ucap Helsha yang juga bersusah payah menahan tangis


"Sha rasanya aku pengen jadi ka Gibran aja... Aku pengen disayang juga Sha, aku pengen dipeluk, dicium dan dibanggain sama mereka. Sakit banget Sha rasanya terus-menerus kayak gini... Capek..." Ucap Varka dengan suara bergetar


Demi apapun, Helsha sakit melihat Varka seperti ini, ia tidak suka melihat Varka menangis dan bersedih.


"Varka... Helsha peluk gapapa ya?"


Tanpa menunggu persetujuan dari Varka, Helsha langsung medekap dengan hangat tubuh Varka, ia menepuk-nepuk lembut punggung Varka sambil membisikkan sesuatu.


"Varka cape banget ya? Varka nangis aja gapapa kok, Helsha gak bakal ngeledekin Varka. Jangan ditahan lagi ya Varka? Keluarin aja semua yang selama ini Varka tahan, keluarin semuanya gapapa. Ada Helsha disini, Varka punya Helsha kok Varka gak sendirian.."


Tubuh Varka bergetar hebat dipelukan Helsha, ia menangis sejadi-jadinya, bahkan pundak serta baju Helsha sampai basah terkena air mata Varka. Sudah cukup lama sejak terakhir kali Helsha melihat Varka menangis dan kali ini tangis lelaki kesayangannya akhirnya pecah..


"Varka bertahan ya? Varka hebat, Varka kuat, jadi tolong bertahan ya? Helsha tau ini semua sulit banget buat Varka, Tapi Helsha mohon Varka harus kuat sampai nanti Varka bisa buktiin sama keluarga Varka kalau Varka itu hebat... Dan semua usaha Varka itu gak sia-sia"


"Nangis sepuasnya Varka, Gapapa. Helsha disini nemenin Varka, Varka kuat. Pokoknya Varka hebat dan harus bertahan ya??" Ucap Helsha lembut.

__ADS_1


Semesta tidak bisakah kau berikan kebahagiaan pada anak satu ini, mengapa ia harus dihadirkan di dunia ini jika engkau tak memihaknya. Sampai kapan semesta akan selalu mengabaikan anak ini, anak yang begitu rapuh luar dalam.


__ADS_2