
Happy Reading
"Lombanya hari ini kan?" Tanya Gibran pada Varka yang sedang bersiap digarasi rumah
Varka hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Helsha biar gue aja yang jemput, Lo langsung berangkat aja nanti telat"
Varka langsung menatap Gibran tak suka, bisakah kakaknya ini sekali saja tidak menggangu hubungannya dengan Helsha.
"Kenapa? Lo masih marah gara-gara Gue nanyain hubungan Lo sama Helsha?" Tanya Gibran menyadari raut tak suka yang terpatri dari wajah Varka
"Gue gak marah, gue cuma khawatir"
"Kan gue udah bilang, gue cuma nanya Lo nya aja yang kelewatan nanggepin nya" ucap Gibran sambil mengelap motornya sebelum dipakai ke sekolah
"Gue khawatir, karena selama ini semuanya cuma berpusat sama Lo. Dari mulai mamah, papah sampe temen-temen gue, Gue gak mau Lo sekarang berusaha ngambil Helsha"
Varka menatap Gibran tajam, tak peduli lagi apa yang akan terjadi setelah ini. Sudah cukup selama ini ia berusaha tahan semuanya.
"Gue gak sejahat itu" ucap Gibran tak mau kalah
"Iya gue tau!!"
"Lo adek gue Varka, mana tega gue nyakitin Lo"
"Tapi dengan sikap Lo yang kayak gini. Lo yang gak pernah sekalipun peduli sama Gue, itu udah nyakitin gue"
Varka langsung menyalakan Vespanya, tak mau lagi memperpanjang urusan ini yang akan berakhir dengan mood nya yang menjadi rusak.
"Gue masih bisa jemput dia, jadi gak usah macem-macem" ucap Varka lalu pergi.
"Gue gak suka Lo punya satu hal yang gak gue punya" gumam Gibran
____
Hari ini adalah hari yang Varka nantikan, dimana ia akan mengikuti olimpiade biologi. Varka sangat bersemangat mengikuti kegiatan ini, karena bagi Varka ini adalah kesempatan agar ia bisa membuat bangga kedua orang tuanya.
Awalnya Varka semangat sekali tapi setelah ia membaca balasan pesan dari kedua orangtuanya Varka tiba-tiba saja menjadi murung.
'Kalau gak dapet juara jangan banyak tingkah!!'
Varka menghela napasnya, pesan itu sangat simple sebenarnya tapi dampak dari pesan itu sangat menyakitkan bagi Varka.
Apakah mereka tidak yakin pada kemampuan Varka? Apakah Varka sebodoh itu Dimata mereka? Padahal Varka merasa ia tidak sebodoh itu untuk mengikuti olimpiade seperti ini.
Varka menghela napas, sekarang ia jadi tidak percaya dengan dirinya sendiri. Bisakah ia mendapatkan hasil sensuai yang diharapkan.
Apakah salah jika Varka meminta restu dan semangat dari keluarganya? Apakah salah jika Varka ingin kedua orang tuanya mendukung penuh dirinya seperti yang selalu orang tuanya lakukan pada Gibran.
Varka tersenyum miris saat mengingat bagaimana perlakuan mereka terhadap dirinya yang begitu berbanding terbalik dengan yang mereka lakukan pada Gibran.
"Mah, Pah, Varka cuma mau kalian nyemangatin dan bangga sama Varka, seperti yang selalu kalian lakukin sama kakak.." gumam Varka.
Saat Varka sedang duduk menunggu rombongannya masuk tiba-tiba saja ponsel Varka bergetar menandakan adanya pesan masuk.
Varka merogoh saku celana nya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan, lalu sedetik kemudian lengkung indah terpancar diwajah Varka. Ternyata pesan itu adalah dari Helsha, wanita kesayangannya.
"Varka....!! SEMANGAT... Nanti kalau udah selesai kita ketemu, ya? Nanti Helsha traktir Varka hehehe. Jangan terlalu fokus sama hasil akhirnya, ya? Yang penting Varka udah berusaha. Helsha yakin Varka pasti bisa, SEMANGAT...!! Helsha sayang sama varka♥️"
Varka tersenyum saat membaca pesan dari Helsha.
Perasaan khawatir yang sebelumnya Varka rasakan perlahan menghilang. Ah sepertinya memang hanya Helsha lah yang peduli padanya.
Varka menarik napas dalam-dalam kemudian memejamkan matanya, memanjatkan doa guna Meminta agar ia dilancarkan dan diberi kemudahan dalam mengerjakan soal-soal.
"Semangat..!" Ucap Varka pada dirinya sendiri.
___
Sudah hampir satu jam Varka menunggu pengumuman juara pada olimpiade hari ini. Demi apapun jantungnya berdegup sangat cepat, ia khawatir, Jika nanti hasil yang keluar tidak sesuai dengan harapan dirinya dan kedua orangtuanya.
Ah, Varka benar-benar takut saat ini. Seandainya disini ada Helsha, mungkin rasa gugup dan takutnya tidak akan berlebihan seperti ini.
Varka berusaha mengatur napasnya untuk meredakan semua ketakutan yang ada dalam dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara lelaki paruh baya dipengeras suara membuat Varka dengan cepat mendekat kearah suara itu.
"Pengumuman juara olimpiade akan segera diumumkan, kepada seluruh peserta harap berkumpul di aula. Terimakasih"
Varka buru-buru pergi ke aula dan memilih untuk duduk dikursi paling belakang. Jantungnya benar-benar berdetak tak karuan, ia takut sangat takut.
Beberapa saat Varka menunggu akhirnya pengumuman itu diberitahukan, Varka sangat was-was takut jika dirinya tidak masuk kedalam Tiga besar.
"Baik, untuk juata ketiga diraih oleh Adinata Pradika. Untuk saudara adinata mohon untuk segera naik keatas panggung..."
Varka mengepalkan tangannya begitu kuat, ia takut jika dirinya tidak masuk..
"Selanjutnya, untuk juara kedua diraih oleh Varka Adibumi.."
Deg..!
Varka mematung untuk beberapa saat, namun akhirnya ia tersenyum puas.
Akhirnya...
Varka Langsung berlari kecil menuju keatas panggung untuk menerima penghargaan itu.
Dalam hatinya Varka sangat bersyukur, karena dari hampir lima puluh orang yang mengikuti olimpiade ini Varka bisa mendapatkan posisi yang cukup tinggi. Meskipun ia tidak mendapat juara pertama tapi itu tidak apa-apa.
Sebenarnya Varka berharap bisa juara pertama, tapi tidak apa-apa. Setidaknya ia bisa mendapatkan hasil yang tidak beda jauh dengan posisi juara pertama.
___
Varka pulang dengan perasaan bahagia nya, ia berlari kecil sambil membawa satu buah piala serta piagam perhargaan. Varka bahkan tidak sabar ingin segera memberitahukan nya kepada orang tuanya.
"Mama papa, kakak, Varka pulang!!" Teriak Varka
Tak lama kemudian datanglah Clara, Juna dan Gibran menghampiri Varka diruang tengah.
"Ada apa sih? Pake teriak teriak segala" ucap Clara
"Ma, pa, Kak liat!!" Ucap Varka sambil menunjukkan piala serta piagam yang ia dapatkan.
Mata Clara membulat tak percaya, ia langsung mendekat kearah Varka dengan senyuman hangat
"Kamu menang?" Tanya Clara
"SERIUS!!" Tanya Gibran memastikan
"Iya, Varka dapet juara!!" Ucap Varka senang
Clara meraih piala dari genggaman Varka, Ia melihat dengan teliti piala yang didapatkan Varka.
Varka tersenyum bahagia saat melihat wajah bahagia yang Clara tunjukkan untuknya.
"Mama Varka udah bisa banggain mamah kan? Varka udah bisa buat mama bahagia kan??" Tanya Varka sambil tersenyum
PRAAKK.....
__ADS_1
Suara lemparan barang yang menyatu dengan lantai terdengar begitu keras, membuat Varka terperanjat kaget.
"Ma..." Ucap Varka
"Apa apaan Ini hah!! Cuma juara dua?! Mama bilang apa kemaren!!" Bentak Clara
Disana Juna hanya diam disamping Clara, memperhatikan istrinya yang saat ini dipenuhi amarah.
"Kenapa? Gak dapet juara satu lagi?" Tanya Juna
Varka terdiam menunduk, disamping Clara juga ada Gibran yang kini tengah mengambil serpihan piala yang tadi dilempar oleh Clara.
"Mama bilang apa kemaren, kamu harus juara satu!! Masih aja gak bisa dapet!!"
Varka menghela napas
"Kan papa juga udah bilang, kalau gak mampu gak usah so soan mau ikutan" ucap Juna pada Varka
Raut wajah yang tadinya terlihat bahagia seketika berubah murung. Diam-diam Varka mengepalkan tangannya, berusah meredam emosi yang tiba-tiba memuncak dalam dirinya.
"Dasar Bodoh!! Masih aja gak bisa bang___"
"Bisa gak sih...." Ucap Varka memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosi yang kian memuncak
"Bisa gak sekali aja mamah sama papah hargain usaha Varka.." ucap Varka memotong ucapa Clara.
"Bisa gak kalian Ngeliat usaha Varka..."
"Kamu enggak sopan ya Varka!! Orang tua lagi ng____"
"Engga cukup!! Biarin Varka bicara dulu" ucap Varka sambil mengatur napasnya
"Kenapa sih mama sama papa gak pernah bangga atas hal apapun yang Varka lakuin? Bisa gak? Sekali aja mama sama papa hargain usaha Varka!!!" Ucap Varka dengan napas yang tidak teratur
Dadanya sesak menahan semua amarah yang selama ini selalu ia pendam tanpa bisa ia keluarkan.
"Varka..." Ucap Gibran menepuk pelan pundak Varka, namun sayang Varka langsung menepisnya
"Diem Kak!!" Bentak Varka
"Varka..!!" Teriak Juna melihat Varka yang menepis tangan Gibran dengan lumayan keras.
Varka menatap kedua orangtuanya dengan tatapan penuh amarah.
"Sekali aja kalian apresiasi usaha Varka, Bisa?"
"Kenapa sih? Kenapa kalian selalu mojokin Varka? Seolah Varka itu adalah anak yang paling bodoh diseluruh jagat semesta, kenapa??!"
"Mama papa, emang salah ya kalau misalkan Varka minta mamah sama papah hargain keberadaan Varka?.. salah banget ya?"
"Sebenernya Varka itu anak kalian atau bukan!!! Jawab pah!!" Teriak Varka
"Ah... Atau anak kalian sebenarnya cuma kak Gibran aja? Hahaha pantes aja!!" Lanjut Varka tertawa, miris sekali
"Jaga omongan kamu!!" Ucap Juna marah
Varka Terkekeh pelan
"Kenapa? Papa mau pukul Varka lagi? Ayo sini pukul" ucap Varka
"Varka... Udah" ucap Gibran menengahi
"Diem! Lo gak pernah tau rasanya diposisi gue gimana dan Lo gak akan pernah ngerasain, karena apa? Karena selama ini cuma Lo doang yang dianggap ada disini sama mamah dan papah!!" Bentak Varka
"Dek... Gak gitu.."
"Gak gitu gimana sih!! Jelas-jelas dari dulu mereka cuma peduli sama Lo! Sedangkan gue? Gue dari dulu cuma dianggap anak nakal sama mereka!"
"Varka, mama sama papa kayak gitu karena peduli sama Lo" ucap Gibran
Varka menatap Gibran
"Peduli Lo bilang?? Peduli dimananya? Kalo emang mereka peduli, papah gak bakal pernah mukul gue cuma karena pulang telat dan keluar rumah gak bilang!! Bukannya Lo juga sering kayak gitu, tapi liat!! Mereka gak pernah mukul ataupun marahin Lo kak"
"Kalo Lo juga emang peduli sama gue, gak mungkin Lo diem aja ketika gue dipukulin sama papah atau mamah. Tapi kenyataannya apa? Lo sama aja kayak mereka!! Jadi jangan so peduli sama gue, gue muak!!" Ucap Varka menunjuk Gibran
"VARKA.!!!!" Teriak Juna
"Varka cape Pa, Ma !! Varka cape kalau harus selalu ngalah, Varka cape selama ini diem aja, VARKA CAPEK!!" Ucap Varka yang tiba-tiba saja berteriak.
Napasnya tersengal-sengal tak beraturan, tangannya terkepal berusaha menahan emosi yang membludak.
"Sekali aja kalian liat keberadaan Varka, bisa gak? BISA GAK KALIAN NGELIAT VARKA KAYAK KALIAN NGELIAT KAK GIBRAN??! BISA GAK KALIAN MEMPERLAKUKAN VARKA SAMA KAYAK YANG KALIAN LAKUKAN KE KAK GIBRAN!!" Teriak Varka penuh amarah
Rasa marah, kecewa, sakit, semuanya meluap bersamaan dengan teriakan yang Varka keluarkan
Sorot mata Varka bahkan mengisyaratkan jika ia sudah berada di titik paling lemah...
"Varka... Ia ini Varka..." Ucap Varka menunjuk dirinya sendiri
"Varka cuma mau kalian ngeapresiasi usaha Varka, Varka cuma mau diperlakukan adil disini mah pah" ucap Varka dengan mata yang sudah memerah
"VARKA CAP..."
PLLAAAAKK....
Tiba-tiba saja suara tamparan yang begitu keras terdengar.
Benar sekali, Varka ditampar dengan begitu keras oleh Clara
"Anak kurang ajar!!" Ucap Clara
Varka mengusap pelan pipinya yang panas dan memerah akibat tamparan itu, Varka hanya terkekeh sambil melihat kearah Clara.
"Liat, Bahkan mama malah nampar Varka disaat Varka cuma minta keadilan di keluarga ini? Hahahaha lucu!!"
Varka lalu meraih piala serta piagam yang berada digenggaman Gibran, lalu menginjak-injaknya dihadapan Clara sampai hancur
"Liat ini... Mama gak butuh ini kan!! Jadi udah hancurin aja!!"
Setelah semuanya hancur berkeping-keping, Varka mengusap air matanya kasar dan beranjak dari sana
"Kalian itu rumah tapi kayak Neraka!!"
"Varka..." Panggil Gibran
"Varka pergi!!" Ucap Varka lalu beranjak keluar dari rumah itu
Amarah dan kekecewaannya masih tersisa direlung hati Varka, bahkan luka yang dulu masih belum sempat ia sembuhkan tapi sekarang sudah bertambah dan terus bertambah.
Varka menjatuhkan dirinya ditepi jalanan yang sepi, lalu menangis Sendirian.
Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka bangga, tapi lihat justru tidak ada satupun usahanya yang dihargai.
"Sakit... Sakit..." Ucap Varka memukuli dadanya sendiri.
Napasnya sudah tidak teratur, rasanya sulit sekali untuk sekedar bernapas. Kepalanya terasa sakit seperti ada yang memukul dengan begitu keras, dengungan yang begitu membuat Varka tersiksa.
Varka berusaha mengatur napasnya namun terasa Begitu sulit, sesak sekali rasanya. Varka mencengkeram rumput yang terdapat dijalan itu.
__ADS_1
Dering ponsel sekilas terdengar begitu nyaring ditelinga Varka, Varka menyadarkan tubuhnya pada pohon lalu berusaha mengambil ponselnya yang berada didalam saku.
"Varka halo..." Panggil Helsha
Varka menghela napasnya, berusaha menahan sakitnya agar suaranya terdengar baik-baik saja
"Varka..." Panggil Helsha lagi saat tidak ada jawaban apapun
"I__ya" dengan susah payah Varka menjawab
Disana Helsha langsung terdiam saat mendengar suara Varka yang seperti sedang kesakitan.
"Varka kenapa? Ahh engga... Varka dimana? Helsah kesana ya? Dimana bilang sama Helsha"
"Varka gapapa... Nanti Varka kesana, tunggu aja" jawab Varka dengan napas yang masih belum teratur
"Varka dimana?? Kasih tau Helsha, Helsha jemput aja,"
Hening tidak ada jawaban, hanya terdengar suara rintihan dari Varka.
"Varka...." Panggil Helsha khawatir
"A..ku dijalan.. Deket rumah" ucap Varka
Ia tidak ingin mati konyol dijalanan seperti ini, Varka berusaha berpikiran positif. Ia hanya kelelahan dan stress karena tadi dan itu membuat kondisinya seperti ini, tidak akan terjadi apa-apa
"Helsha kesana, tunggu ya"
Tiba-tiba Varka merasa penglihatannya seketika menghitam dan setelah itu hanya terdengar suara Helsha dalam Panggilan yang belum terputus.
____
Helsha mengendarai motor miliknya dengan kecepatan tinggi, Walaupun jaraknya dengan rumah Varka tidak terlalu jauh namun Helsha ingin cepat sampai disana.
Sambungan telpon yang tiba-tiba saja terputus dan tidak terdengar suara apapun lagi dari varka, membuat Helsha khawatir bukan main. Ia takut sangat takut terjadi sesuatu dengan Varka, atau lebih tepatnya Helsha takut Varka melakukan hal yang tidak-tidak.
"Varka, Helsha mohon jangan....." Gumam Helsha dengan air mata yang jatuh
Helsha memperlambat kecepatan motornya ketika sudah berada di dekag rumah varka. Ia mengedarkan pandangannya ke area jalan.
Deg...!!
Helsha langsung menghentikan motornya saat netra matanya menemukan sosok Varka tergeletak disana. Helsha langsung berlari kearah Varka dengan ketakutan dalam hatinya.
"Engga...engga..." Gumam Helsha sambil berlari kearah Varka
Helsha terduduk dan langsung membalikkan tubuh Varka yang tak sadarkan diri menghadap kearahnya.
"Darah..," gumam Helsha saat melihat darah yang keluar dari hidung Varka.
"Varka... Varka..." Panggil Helsha menepuk-nepuk pipi Varka lembut
"Varka...bangun... Varka..." Ucap Helsha terisak
Tidak... Jangan Helsha berdoa dalam hati semoga apa yang dipikirkannya tidak terjadi, Helsha memeluk Varka dan berteriak berusaha meminta pertolongan pada orang yang mungkin berada disana.
"Varka... Jangan kayak gini... Bangun..."
"Tolong.....Varka....hey ini Helsha..."
_____
Helsha menggenggam tangan Varka yang kini terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah sekitar tiga jam Varka dibawa kesini namun lelaki ini tak kunjung sadar juga. Helsha tidak tau apa yang terjadi pada Varka sehingga bisa seperti ini, padahal Varka sudah berjanji akan datang kerumahnya. Dokter juga tidak mengatakan banyak hal, Hanya mengatakan jika Varka akan sadar dalam beberapa jam.
Helsha mengelus lembut kepala Varka, berharap jika lelaki ini segera siuman. Melihatnya seperti ini saja membuat hati Helsha begitu sakit.
"Varka kenapa? Kok bisa kayak gini? Kenapa gak bilang sama Helsha...."
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, sudah pukul 5 sore dan Varka masih belum sadarkan diri juga. Helsha dengan setia menunggu Varka disana tanpa meninggalkan lelaki itu sedetikpun dan tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Varka..." Panggil Helsha lembut saat melihat Varka mengerjapkan matanya
Varka mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam matanya.
"Akhirnya bangun juga..." Ucap Helsha lembut
Helsha langsung membenamkan wajahnya disamping tangan Varka, Helsha terisak disana dengan menggenggam erat tangan Varka. Tangisan yang sejak tadi Helsha tahan kini tumpah disana, Helsha takut, takut sekali.
"Sha..." Panggil Varka dengan suara parau
Varka menghela napas saat tidak mendapat jawaban apapun dan hanya terdengar isakan tangis dari perempuan itu.
"Maafin Varka... Helsha"
Varka berusaha bangun dan hal itu berhasil membuat Helsha mengangkat wajahnya.
"Mau apa? Kemana?" Tanya Helsha khawatir
Varka menghela napas panjang, ia sungguh tidak suka jika Helsha sudah menangis seperti ini.
"Aku cuma mau duduk aja..." Ucap Varka sambil membenarkan posisi duduknya
"Kenapa nangis?" Lanjut Varka sambil menghapus air mata Helsha
Bukannya menjawab Helsha malah langsung menghambur memeluk Varka dan menangis lagi disana.
"Helsha takut.... Takut..." Ucap Helsha ditengah isakan nya
Varka dengan lembut mengelus Surai hitam Helsha, berusaha menenangkan Helsha. Percuma juga jika Varka mengatakan sesuatu saat Helsha menangis seperti ini.
Setelah dirasa Helsha sudah cukup tenang, Varka melepaskan pelukannya dengan hati-hati. Varka lalu menghapus air mata yang tersisa disana dengan lembut.
"Udah ya... Jadi jelek kalau nangis"
"Varka kenapa? Varka sakit? Kenapa?" Tanya Helsha
"Varka gapapa Sha, cuma kecapean aja karena terlalu diporsir belajar buat olimpiade kemaren.."
"Bohong..."
"Beneran, emang kapan Varka bohong sama Helsha? Gak pernah kan"
"Varka, gak mungkin Varka cuma kecapean tapi sampe mimisan kayak tadi. Pas Helsha sampe disana hidung Varka berdarah, badan Varka juga keringetan"
"Varka kenapa? Apa yang Varka sembunyiin dari Helsha..."
"Gak ada Sha, Varka baik-baik aja. Tadi Varka cuma emosi aja karena dimarahin mamah ditambah kecapeaan jadi ya gitu akibatnya"
"Beneran?"
"Iya... Kalau Varka sakit atau kenapa-kenapa, orang pertama yang bakal aku kasih tau pasti kamu.. jadi udah ya jangan sedih lagi"
"Varka bertahan ya? Gapapa kok kalau cape tapi jangan kayak gini ya. Helsha takut"
"Iya, maafin Varka ya. Gak diulang deh, Janji"
Helsha hanya mengangguk, jujur saja Helsha ragu dengan jawaban Varka tapi ia memilih untuk percaya sepenuhnya dengan varka. Asalkan Varka baik-baik saja dan tidak terluka, itu adalah hal terpenting untuk Helsha.
"Nanti kerumah Helsha ya... Jangan dulu pulang kan udah janji"
__ADS_1
"Iya.. makasih ya"