LENTERA

LENTERA
part 26


__ADS_3

Happy Reading


Saat Helsha keluar kelas ia sudah mendapati Gibran berada didepan kelasnya, pria itu tersenyum kearahnya. Jujur Helsha masih begitu khawatir pada Varka, apalagi Varka sama sekali belum memberinya kabar ataupun membalas pesan-pesan nya.


"Sha.." ucap Gibran menghampiri Helsha


"Pulang sama aku aja ya? Varka kan gak sekolah, daripada kamu pulang sendiri mending aku anterin aja ya? Mau kan?" Tanya Gibran


"Kak, aku khawatir sama Varka, kita cari bareng bareng yuk? Ayo kak kita cari Varka. Dia pasti belum makan dari semalem, dia pasti kedinginan kak. Ayo cari Varka aja ya?" Ajak Helsha pada Gibran


"Sha, dengerin aku Varka pasti baik-baik aja. Sekarang ayo aku anterin kamu pulang dulu, tenang aja"


"Cari Varka aja ya? Mau kan kak?"


"Kalo buat nyari Varka aku gak bisa Sha, hari ini aku ada kerja kelompok jadi gak bisa nyari dia"


"kalau gitu ngapain mau anterin aku?"


"Sekalian berangkat kerumah temen Sha, daripada kamu pulang sendirian. Aku juga udah coba telpon Varka kok cuma gak diangkat sama dia"


Helsha terdiam untuk beberapa saat


"Sha ayo aku anterin"


"Gak usah kak, Helsha bisa pulang sendiri kok."


"Sha..."


"Kalau ada kabar tentang Varka langsung kasih tau Helsha ya. Helsha gak mau bikin Varka salah paham gara-gara kakak nganterin Helsha, maaf kak"


"Kamu sepeduli itu sama dia?"


"Banget kak, aku bahkan khawatir, aku gak tenang kak. Jadi biarin aku pulang sendiri ya, aku gak mau nambahin masalah"


"Yaudah kalau itu mau kamu, Hati-hati pulangnya"


"Iya kak"


Lebih baik Helsha pulang sendiri daripada harus diantarkan oleh Gibran, ia tidak mau nanti Varka melihatnya dan malah berpikir yang aneh-aneh. Dalam keadaan seperti ini Helsha harus berusaha setenang mungkin untuk bisa menemukan Varka.


Bagaimana keadaan Varka sekarang? Dimana Varka tidur semalam? Pasti lelakinya itu belum makan apapun sejak kemaren. Helsha benar-benar khawatir, ia takut. Takut jika Varka akan melakukan hal yang aneh-aneh.


~Varka Adibumi♥️~


• Helsha: Varka kamu dimana sih? Helsha mau nyari kamu ya, tolong bilang kamu baik-baik aja sekarang.


• Helsha: Varka, Helsha lagi marah sebenarnya sama Varka Karena Varka udah bohongin Helsha, tapi aku juga khawatir banget sama kamu


• Helsha: please Varka Jangan kayak gini. Kalau Varka gak bales Helsha marah beneran nih


• Helsha: Varka?? Ihh dimana sih? Bisa kan bales...


• Helsha: Varka.. Helsha khawatir



Helsha menghela napasnya saat melihat jika pesannya belum juga dibalas oleh Varka. Dimana Varka? Bagaimana keadaannya? Hanya itu yang ada dipikiran Helsha sejak ia mengetahui jika Varka pergi dari rumah.



Entah apa yang terjadi hingga Varka pergi dari rumah, kenyataan pahit Apalagi yang harus Varka rasakan sekarang



"Varka.. kamu dimana?" Gumam Helsha memandang keluar jendela Bus



\_\_\_\_\_



Gibran menghentikan motornya ditepi pantai, ia tahu Varka pasti ada ditempat ini. Bagaimana pun juga Varka adalah adiknya dan ia cukup tau kebiasaan adiknya yang selalu pergi ke pantai jika ada masalah.



Gibran bisa melihat Varka yang kini tengah terduduk disana memandang jauh hamparan lautan yang begitu tenang. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekat, ada hal yang ingin Gibran katakan.



"Lo tuh ya, udah pergi tapi masih nyusahin orang aja" ucap Gibran setelah sampai dibelakang Varka.



Varka sedikit terperanjat saat mendengar suara Gibran, bagaimana bisa kakaknya tau jika dirinya ada disini?



"Gue benci banget sama Lo Varka" ucap Gibran



Varka hanya menghela napas dan tak sedikitpun beranjak dari duduknya.



"Gue nyusahin? Gak kebalik? Harusnya gue yang bilang gitu. Gue benci sama Lo, gue juga benci jadi adek Lo"


__ADS_1


"Ya bagus, gak usah jadi adek gue lagi."



"Kalau gue bisa dari dulu juga gue gak mau jadi adek Lo"



"Gak usah muncul-muncul lagi ya, Helsha nyariin Lo Mulu. Gue gak suka" ucap Gibran memandang lurus kedepan



"Kalo nyatanya Helsha cuma mau sama gue gimana? Lo masih mau ngambil? Sorry ya, tapi kalau perihal dapetin Helsha Lo udah kalah kak."



"Lagian gue gak ngilang kok, gue cuma butuh waktu aja" lanjut Varka



Gibran tertawa sesaat kemudian kembali berkata jujur



"Percaya diri banget sih Lo, dari dulu gak pernah tuh ada kata kalah dalam kamus seorang Gibran, apalagi kalah sama anak yang lemah kayak Lo. Pantes aja mamah sama papah selalu marahin Lo, Lo lemah banget Varka"



Varka lagi-lagi hanya menghela nafasnya, ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berdiri dan melampiaskan amarah pada kakaknya itu. Jika saja Varka memiliki cukup tenaga pasti ia akan menghabisi kakaknya.



Varka tersenyum kecut, belum cukup kah? Belum cukup mereka menyakitinya? Haruskah sampai sejauh ini mereka menyakitinya?



"Lo jahat banget kak. Gue benci sama Lo, kalo aja gue punya cukup tenaga Lo pasti udah abis. Tapi inget ya kak, Lo bakal nyesel. Bakal ada waktu dimana Lo mohon-mohon sama gue kak, liat aja"



"Hahahaha, gak akan..." Ucap Gibran



"Jangan balik lagi deh Lo, muak gue liat Lo" lanjut Gibran lalu pergi begitu saja



Varka sedari tadi memang berharap akan ada satu orang saja dari keluarga nya datang dan menyuruhnya pulang, tapi kenyataanya yang datang malah menyuruhnya untuk tidak pernah kembali.



Sejauh apalagi semesta akan menyakitinya?



Varka mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar



~~Helsha Anastasya~~



• Helsha: Varka kamu dimana? Aku nangis loh, kamu gak peduli lagi kalau aku nangis?



• Helsha: Sumpah Helsha bakal marah banget sama Varka, kenapa harus ngilang kayak gini sih? Bales varka!



• Helsha: kamu mau jauhin Helsha?



• Helsha: jawab Varka!! Helsha tau kamu baca ini. Ayo bilang kamu dimana?



• Helsha: Varka Helsha mohon jangan bikin Helsha jadi gila karena nyariin kamu...



• Helsha: Helsha khawatir Varka



"Maafin Varka Sha..." Gumam Varka.


Varka ingin sekali memeluk gadis itu, ia ingin menangis dibahu Helsha. Rasanya terlalu sakit jika harus sendirian seperti ini.


Varka menundukkan kepalanya, kembali terisak untuk kesekian kalinya. Ia memukul-mukul dadanya yang begitu terasa menyesakkan, ia merutuki takdirnya yang begitu kejam.


Kenapa harus Varka? Kenapa?


Suara dering ponsel kembali membuat Varka mengalihkan pandangannya, tangannya terulur untuk melihat siapa yang menelpon. Varka membulatkan matanya saat melihat na si penelpon, apakah ia tidak bermimpi? Mamah menelponnya? Benarkah? Sungguh?


Dengan cepat Varka menghapus jejak air matanya lalu mengangkat telpon dari Clara dengan Perasaan senang sekaligus penasaran

__ADS_1


"Varka..." Ucap Clara


"Mama? Ini beneran mama nelpon Varka?" Tanya Varka masih tak percaya


"Jangan lupa ambil barang kamu" ucap Clara langsung


Senyum yang hampir saja terpatri diwajah Varka langsung hilang seketika saat Clara mengatakan hal itu.


"Ma." Lirih Varka


"Kenapa? Bukannya kamu sendiri yang mau pergi? Yaudah pergi aja kalau gitu, sekalian bawa barang kamu"


"Mama sebenci itu ya sama varka? Mama kenapa gak suka sih sama Varka? Varka salah apa ma?" Ucap Varka menahan tangis


"Salah kamu kenapa lahir"


"Tapi aku gak pernah minta buat dilahirin ma, kalau mama emang gak suka kenapa mama gak gugurin Varka aja waktu itu? Jadi Disini Varka yang salah?"


"Udah gak usah banyak ngomong, jangan lupa ambil barang kamu. Udah diurus juga masih gak tau diri" ucap Clara langsung menutup telponnya


Varka Diam tak bergeming, Kata-kata itu sudah cukup membuat luka Varka bertambah kembali.


___


Helsha diam termenung dikamarnya sambil menatap foto Varka yang tengah tersenyum diponselnya. Helsha sama sekali tidak melepaskan ponsel dari genggamannya, ia takut jika Varka akan menghubungi nya saat ia tidak sengaja meninggalkan ponsel.


Helsha melihat keluar jendela kamar kemudian menghela napas.


"Varka...." Gumam Helsha


Ia belum pernah sekhawatir ini sebelumnya, tapi kenapa kali ini perasaan nya Begitu tak tenang. Semoga saja apa yang dia pikirkan dan khawatirkan tidak terjadi, semesta tolong jangan sakiti Varka terus menerus.


Dering ponsel berhasil membuat Helsha tersadar dari lamunannya, Helsha langsung mengangkat telpon tersebut dengan begitu cepat.


"Varka... Akhirnya, kamu dimana" ucap Helsha begitu mengangkat telpon Varka


"Helsha..." Lirih Varka


"Varka dimana? Kemana aja sih?" Ucap Helsha


"Sha, Maafin aku ya? Maaf karena udah bikin kamu khawatir"


"Udah gapapa, kamu dimana?" Tanya Helsha kembali


"Sha, rasanya sakit banget" ucap Varka terisak


"Varka? Varka dimana? Helsha kesana sekarang, coba kirim lokasinya sama Helsha. Helsha jemput kesana sama Ayah ya?" Ucap Helsha berusaha tenang


"Helsha, ternyata gini ya rasanya dibenci sama orang yang paling kita sayang, Sha rasanya sakit banget.. hikss... Aku harus apa? Sha aku udah gak punya siapa-siapa lagi hiks... Semuanya pengen aku pergi hiks... Helsha... Sha hikss... Sakit" ucap Varka semakin terisak


Hati Helsha Begitu sakit saat mendengar penuturan Varka apalagi Varka terisak disana sendirian.


"Varka tenang ya? Varka dimana? Varka dengerin Helsha dulu ya, kamu salah Varka siapa bilang semuanya pengen kamu pergi? Engga, nggak semua, Helsha Disini. Helsha gak mau Varka pergi"


"Varka punya Helsha, punya Bunda, punya Ayah, yang sayang sama Varka. Helsha kesana ya? Helsha kesana sendirian deh gak sama ayah. Tapi Varka bilang dulu, Varka ada dimana? Please"


"Sha... Aku mau nyerah aja ya? Cape banget" lirih Varka


Deg...


Helsha langsung berdiri saat mendengar Varka mengatakan itu, jantungnya berdetak lebih cepat dibanding biasanya, pikiran-pikiran buruk langsung bermunculan dikepalanya.


"Varka!! Jangan macem-macem please!!"


"Sha, pengen dipeluk... Helsha hancur banget, sakit banget Sha, aku sendirian hiks... Aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu.... Sha... Sakit.."


"Varka Helsha mohon tenang dulu ya, Helsha kesana ya? Jangan macem-macem please"


Air mata Helsha turun begitu saja membasahi pipinya, tidak Helsha mohon, semesta jangan ambil Varka.


"Varka..." Panggil Helsha setelah lama tak ada suara, yang terdengar hanyalah suara isakan tangis


"Sha... Gapapa ya aku nyerah? Izinin aku buat istirahat, Aku cape" ucap Varka


"Engga, Varka gak boleh istirahat. Helsha gak pernah nyuruh Varka buat istirahat, Helsha selalu bilang kan Varka kalau cape itu harus bertahan... Helsha mohon bertahan"


"Maafin aku ya Sha... Untuk kali ini aku menyerah, makasih buat semuanya. Izinin aku buat pulang ya"


"Varka... Please... Tunggu aku"


Tidak ada Jawaban apapun


"VARKAA...!!"


Tut...Tut...Tut...


Sambungan Telpon terputus begitu saja, Helsha langsung terduduk lemas dilantai dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Varka... Jangan pulang..." Gumam Helsha dengan isakan tangisnya


Kenapa Helsha tidak pernah berkata pada Varka untuk istirahat karena bagi seseorang yang mentalnya sudah begitu terluka kata istirahat memiliki arti yang berbeda. Jika kita menyuruh mereka untuk istirahat ketika mereka lelah itu sama saja dengan menyuruh mereka untuk menyerah, karena bagi orang seperti mereka kata istirahat sama dengan MATI. Jadi jangan pernah mengatakan pada mereka untuk istirahat jika mereka sedang lelah. Lebih baik kita berkata pada mereka Untuk tetap bertahan, Karena setiap orang memiliki mental yang berbeda.


Pulang?


Itulah yang pada akhirnya dilakukan?


Hanya itulah pilihannya?


Tidak bisakah semesta menolongnya sekali ini saja?

__ADS_1


__ADS_2