LENTERA

LENTERA
part 12


__ADS_3

______________


Happy Reading


______________


Varka sampai didepan rumah Helsha setelah sebelumnya ia mampir terlebih dahulu ke minimarket untuk membeli cemilan dan es krim kesukaan gadis itu. Ia yakin sekarang Helsha pasti sedang kesal karena tadi ia mematikan sambungan telpon Begitu saja.


Drrrttt....drtt...


Lihat bahkan perempuan itu masih terus menelponnya walaupun tidak diangkat, benar-benar lucu sekali. Perasaan Varka sudah lebih tenang sekarang, itulah kenapa ia memutuskan untuk bertemu dengan Helsha


"Ihh... Kenapa gak diangkat terus sih?? Varka..." Ucap Helsha disebrang telpon sedikit berteriak


"Sini turun aku dibawah" ucap Varka


"Bawah mana?" Tanya Helsha bingung


"Depan rumah kamu, Ayo sini"


Helsha langsung berjalan menuju balkon kamarnya, memastikan apakah Varka berkata benar atau hanya menggodanya seperti biasa. Saat Helsha melihat kebawah benar saja pria itu sedang berdiri disana sambil tersenyum kearahnya.


"Kesini, turun..." Ucap Varka


"Kamu aja yang kesini, aku lagi ngambek" ucap Helsha ditelpon dan berlalu masuk kedalam kamar


"Ngambek kok bilang-bilang, Yaudah aku pulang aja"


"Yaudah sana pulang, gak usah kesini-sini lagi"


Varka terkekeh mendengar ucapan Helsha, ia yakin pasti saat ini Helsha sedang cemberut dan kesal Padanya.


"Yaudah, jangan nyesel ya" ucap Varka lalu mematikan telponnya


Helsha melongo begitu saja saat Varka mematikan telponnya, menyebalkan sekali pikir Helsha. Helsha selalu kesal jika sikap jahil Varka sudah kumat seperti sekarang.


Helsha melempar ponselnya Begitu saja dan membenamkan wajahnya di bantal, kenapa juga tadi ia menyuruh Varka pulang harusnya ia bertemu saja tadi. Ah tapi pria itu juga tidak peka dengan dirinya.


"Varka nyebelin..." Omel Helsha Sendirian sambil berguling-guling diatas kasur


"Nyebelin pokoknya..." Gerutu Helsha


Selang beberapa menit tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Helsha langsung duduk bingung


"Sayang... Helsha" ucap bunda sambil mengetuk pintu


"Iya Bun sebentar.."


Helsha segera merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan akibat ulahnya sendiri dan juga merapikan sedikit rambutnya. Bisa-bisa ia diberi pertanyaan yang aneh oleh bunda jika melihat kamarnya yang tadi berantakan.


Helsha melangkah untuk segera membuka pintu. Tidak ingin membuat bundanya menunggu lama


"Ada apa Bu..."


Ucapan Helsha terhenti saat melihat yang sekarang berada didepannya bukanlah Bunda melainkan Varka. Helsha hanya diam sambil mengedip-ngedipkan matanya Lucu.


Varka yang melihat hal tersebut hanya tersenyum, apakah kedatangannya membuat Helsha kaget? Sampai-sampai perempuan ini mematung Begitu saja.


"Gak usah ngeliatin kayak gitu juga Sha, aku tau Kok aku ganteng" ledek Varka yang melihat Helsha masih saja menatapnya.


"Ihh... Apaan sih" ucap Helsha salah tingkah


Varka terkekeh melihat ekspresi Helsha yang semakin salah tingkah dan pipi nya yang juga sedikit memerah karena malu.


"Katanya mau pulang.." ucap Helsha setelah mereka duduk diruang televisi


"Udah kesini juga masa langsung pulang, lagian aku juga bawain ini buat kamu" ucap Varka sambil menaruh cemilan dan es krim kesukaan Helsha diatas meja


Helsha langsung mengambil es krim rasa strawberry kesukaan nya, Perasaan kesal yang tadinya ia rasakan terhadap Varka langsung hilang seketika. Tidak ada alasan untuk kesal lagi karena sekarang ia sudah melihat varka, dan ternyata pria ini baik-baik aja.


"Jauh-jauh aku kesini karena kangen liat wajah cantik kamu Sha, ehh kamunya malah sibuk ngemil. Akunya dilupain" goda Varka


Helsha langsung menatap Varka sejenak lalu segera mengalihkan pandangannya. Bisa-bisanya lelaki itu mengatakan hal seperti itu dengan raut wajah biasa saja. Helsa mengelus dadanya pelan yang terasa tak karuan akibat ucapan Varka.


"Gombal..." Celetuk Helsha


"Beneran Sha, kamu cantik" ucap Varka yang kini menatap Helsha


"Ihhh jangan ngeliatin malu Varka..." Ucap Helsha sambil menutupi wajahnya


Varka tergelak melihat reaksi Helsha yang menurutnya menggemaskan, Helsha selalu saja malu jika ia memujinya cantik.


"Udah dong jangan ditutupin mukanya." Ucap Varka langsung menarik turun tangan Helsha


"Sha.." panggil varka


"Iya?"


"Kamu cantik" ucap Varka tersenyum jahil


"Varka..... Ihhh"


Helsha langsung melempari Varka dengan isi cemilan yang sedang ia makan, bahkan sesekali memukul lengan Varka, membuat Varka tertawa dibuatnya. Ya inilah alasan Varka datang menemui Helsha, ia ingin melupakan kejadian yang baru saja ia dapatkan dirumah.


Helsha langsung berhenti saat melihat raut wajah Varka, lelaki itu memang tersenyum dan tertawa tapi tidak seperti biasanya. Senyuman dan tawa itu agak sedikit dipaksakan.


"Kenapa?" Tanya Varka saat Helsha langsung diam


"Kamu yang kenapa? Kenapa tadi gak angkat telpon aku? Kenapa dimatiin gitu aja? Kenapa?"


Varka hanya diam


"Helsha khawatir sama Varka, Varka kenapa? Lagi sedih?" Tanya Helsha.


"Udah nggak sedih kok, makannya Varka kesini biar gak sedih"


"Tadi kenapa bilang Cape? Mau lakuin apa?"


Varka terdiam, Merasakan jika saat ini perbincangan mereka jadi lebih serius. Ia tahu apa yang sempat terpikirkan olehnya adalah hal yang salah, ia hanya kalut dan merasa lelah dengan semua hal yang menimpanya. Tidak pernah ada satu haripun Varka merasa tenang dan nyaman, selalu ada saja masalah bahkan rasanya jika tidak ada masalah pun keluarganya pasti mencari-cari kesalahan nya.

__ADS_1


"Varka..." Panggil Helsha Lembut


"Maaf... Aku kalut Sha" ucap Varka menunduk


Helsha menghelas napas, tidak ada sepatah katapun yang Helsha katakan pada Varka lagi. Tidak Helsha tidak lelah mengahadapi Varka, ia hanya takut akan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Ia takut Varka bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak, Helsha tau Varka cape tapi bisakah lelaki itu bertahan untuknya.


"Sha... Maafin Varka"


"Varka kenapa sih? Kenapa selalu berpikir buat ngelakuin hal buruk kayak gitu. Helsha udah bilang kan sama Varka, kalau Varka lagi cape dan udah gak kuat bilang sama Helsha. Varka tuh gak sendirian sekarang, ada Helsha disini."


"Maaf..."


"Varka boleh kok ngerasa cape. Tapi jangan pernah berpikir buat pergi Ya, Daripada memilih buat pergi mending Varka memilih untuk ngasih tau Helsha aja ya? Seenggaknya Varka bisa bertahan disini sama Helsha, Bertahan buat Helsha ya? Jangan memilih buat pergi" ucap Helsha memegang lembut tangan Varka


"Tapi pasti ada waktunya aku pergi Sha"


"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi Varka.. Varka harus inget ada Helsha yang nungguin Varka"


Helsha langsung memeluk Varka, ia ingin menyakinkan Varka jika tidak apa-apa merasa lelah namun jangan lupakan kenyataan jika Dirinya akan selalu ada untuk Varka.


"Jangan terburu-buru untuk pergi Varka... Kita masih harus menghabiskan waktu bersama dan mewujudkan impian kita berdua" bisik Helsha.


____


Karena kesibukan mengikuti masa orientasi siswa di sekolah Varka dan Helsha jadi cukup jarang bertemu apalagi mereka berbeda kelas, ya walaupun jurusannya sama. Tapi Varka selalu menjemput dan mengantar Helsha pulang dengan aman, Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Bunda Helsha jika Varka akan menjaga Helsha dengan baik.


Untungnya hari ini hari Jum'at jadi sekolah pulang lebih awal. Varka cukup senang karena setidaknya ia bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Helsha, sudah 3 Minggu ini mereka jarang sekali bersama.


Varka membereskan Buku-bukunya kedalam tas setelah pelajaran matematika berakhir. Ia sudah memberitahu Helsha untuk menunggunya di parkiran sekolah seperti biasanya.


"Varka..." Panggil Nathan teman sekelasnya yang bisa dibilang sering mengajak nya ngobrol


"Eh iya than.. ada apa?" Tanya Varka setelah menggendong tas nya


"Ikut main sama gue yuk.. daripada gak ada temen kan" ajak Nathan


"Nggak bisa kayaknya, gue harus Nganterin dulu Helsha pulang nih..takut Bundanya nyariin"


"Kalian pacaran ya?" Tanya Nathan


Varka hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.


"Udah ah gue duluan ya" ucap Varka sambil menepuk lengan Nathan


"Beneran nih gak ikut"


"Beneran" teriak Varka sambil terus berjalan


Nathan hanya diam menatap kepergian Varka, jujur saja ia sudah satu sekolah dengan Varka sejak SMP namun baru berani mengajak Varka mengobrol sekarang.


"Varka anaknya baik kok, tapi kenapa Gibran selalu larang gue buat jadi temen dia ya?" Gumam Nathan menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Nathan ayo!!' teriak Justin dari luar kelas


"Ayo..." Ucap Nathan lalu mengikuti langkah Justin dan dua temannya lainya.


Helsha duduk diatas jok Vespa milik Varka sembari memakan es krim yang baru saja ia beli, Pemilik motor belum juga menampakkan diri padahal sudah cukup lama sejak bel pulang. Motor siswa yang lain juga sudah tidak ada karena berhamburan dibawa pulang.


Varka menepuk pelan bahu Helsha yang masih fokus dengan es krim nya.


"Tumben gak kaget" ucap Varka melihat reaksi Helsha yang biasa saja.


Varka menatap Helsha yang masih sibuk memakan es krim nya, ah sekarang ia tahu alasan kenapa Helsha tidak terkejut.


"Pantesan... Ada es krim ternyata"


"Wleee..." Ejek Helsha


"Jangan makan es krim terus Sha nanti batuk lagi loh, udah dibilangin juga"


"Hehehe... Cuma sekali ini doang kok"


"Bilangnya gitu, tapi kalau ada yang jualan es krim pasti pengen beli" omel Varka sambil memakai helm nya


Helsha hanya cengengesan menanggapi Omelan Varka sambil memundurkan duduknya


"Yuk pulang..." Ucap Helsha setelah es krim nya habis


Varka berdecak lalu mengambil helm satunya lagi dan memakaikan nya ke kepala Helsha, perempuan ini selalu saja melupakan hal-hal penting seperti ini.


"Ihh.. Helsha kan gak mau Pake helm makannya dari tadi gak dipake" ucap Helsha cemberut


"Kalau nanti ada apa-apa gimana Sha? Aku ini udah dikasih amanah sama bunda buat jagain kamu, jadi Jangan banyak protes. Lagian pake helm tuh buat keselamatan juga kok" ucap Varka sambil memasangkan helm


"Iya-iya yang udah jadi anak kesayangannya Bunda aku" ledek Helsha


Varka hanya tersenyum mendengarnya. Ya selama ini Bunda Helsha selalu memperlakukan Varka seperti anaknya sendiri, bahkan Varka merasakan kasih sayang yang tulus dari Bunda Helsha. Varka sangat bersyukur akan hal itu, ternyata Semesta masih mengijinkan ia untuk sedikit merasakan kebahagiaan.


"Sha.. pegangan"


"Ehh ... Lupa" ucap Helsha lalu melingkarkan tangannya pada tubuh Varka


"Oke, berangkat..." Ucap Varka.


Hanya waktu-waktu seperti inilah yang bisa Varka habiskan dengan Helsha sekarang ini. Tidak banyak namun sebisa mungkin tetap menikmatinya, Tugas sekolah yang sudah lebih banyak dan juga kesibukan lainnya memang mengikis habis waktu mereka.


"Varka..." Panggil Helsha ditengah jalan


"Apa? Mau jajan?"


"Ihh... Jajan terus masa"


"Abisnya kamu kalau pulang sekolah minta jajan Mulu" ucap Varka sambil sesekali melirik Helsha lewat kaca spion


"Ihhh...." Tangan Helsha langsung mencubit perut Varka kesal


Bukannya kesakitan Varka malah tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi wajah Helsha yang cemberut.


"Yaudah mau apa?" Tanya Varka setelah melihat Helsha hanya diam saja

__ADS_1


"Mau ke pantai"


"Kapan?"


"Gak tau, Helsha lagi banyak banget tugas tau. Gurunya nyebelin ngasih tugasnya banyak banget"


"Namanya juga sekolah Sha"


"Ya tetep aja, kalau kebanyakan tugas itu sama aja gurunya gak berperiKemuridan tau"


"Ya ampun ngomongnya bisa aja" ucap Varka sambil terkekeh


"Beneran mau ke pantai?" Tanya Varka lagi


"Iya, sekarang yuk!!"


"Kapan-kapan aja ya janji deh.. jangan sekarang ya Varka belum izin soalnya"


"Yaudah iya.. eh tapi Varka udah lama loh gak cerita sama Helsha?" Ucap Helsha menyadari jika beberapa hari terakhir ini Varka tidak menceritakan apapun


"Lagi baik-baik aja kok"


"Beneran? Kalau sedih bilang ya" ucap Helsha mengingatkan


"Iya pasti"


Helsha mengeratkan pelukannya pada Varka dan menyandarkan kepalanya dibahu Varka. Ia merindukan Varka akhir-akhir ini, kesibukan di sekolah sangat menggangu mereka tapi mau bagaimana lagi kan.


"Yakin gak mau jajan dulu? Udah mau nyampe soalnya" tanya varka


"Hmm.." gumam Helsha setengah sadar


"Kamu tidur sha?"


"Ketiduran aja" ucap Helsha lalu membenarkan helm nya yang sedikit turun


"Yaudah mau jajan gak?"


"Engga deh mau pulang aja" ucap Helsha


Varka mengangguk mengerti dan tetap melanjutkan perjalanan tanpa membeli sesuatu terlebih dahulu.


"Aku langsung pulang ya, gapapa kan?" Tanya Varka setelah sampai


Helsha hanya mengangguk lalu melepaskan helm dan menyerahkannya pada Varka.


"Aku masuk ya, hati-hati"


Saat hendak masuk Varka langsung menahan lengan Helsha. Helsha berbalik dan menatap Varka yang kini juga menatapnya


"Kenapa?" Tanya Varka


"Pusing.." ucap Helsha


"Mau aku Anter kedalem?"


"Gak usah, gapapa beneran"


"Yaudah langsung istirahat ya jangan kemana-mana, ngerjain tugasnya nanti aja kalau udah gak pusing. Jangan diporsir juga badannya, makan yang banyak jangan ngemil terus, jangan dulu makan es krim"


"Bawel..."


"Kamu juga bawel, Sana masuk"


"Ya ini aku mau masuk tapi kamu megangin tangan aku terus, gimana mau masuk nya?"


"Kirain aku, kamu yang sengaja gak mau lepas"


Varka terkekeh saat melihat ekspresi malas dari Helsha


"Yaudah yaudah, sana masuk istirahat. Salam buat Bunda, bilangin maaf gak mampir"


"Iya, Hati-hati ya kalau udah nyampe rumah kabarin"


Varka mengangguk lalu melanjukan kembali Vespanya untuk pulang kerumah.


____


Gibran berdiri didepan rumah menunggu kedatangan Varka yang tak kunjung pulang. Padahal ini sudah sore, kemana dulu itu anak perginya pikir Gibran. Gibran tau tadi Varka pergi mengantarkan Helsha pulang tapi biasanya juga langsung pulang kenapa sekarang lama sekali.


Setelah beberapa menit akhirnya Varka pulang dan penanntian Gibran berakhir, ia langsung berjalan menghampiri Varka yang masih melepas helm nya


"Darimana aja baru pulang, Kaka nungguin dari tadi" ucap Gibran


"Nganterin Helsha dulu"


"Lama banget... Perasaan suka langsung pulang, kemana dulu?" Tanya Gibran penasaran


"Ketemu dokter" ucap Varka


"Bercanda aja Lo mah dek"


Varka terkekeh setiap kali ucapannya perihal pergi ke dokter dianggap candaan, tapi tidak apa-apa itu lebih baik.


"Ada apa emang? Cepet bilang, Varka cape"


"Oh itu, Kaka mau minta nomer temen kamu"


"Siapa?"


"Helsha, kebetulan dia tadi daftar ikutan OSIS tapi lupa ngisi nomor handphone di formulirnya"


"Beneran cuma buat itu?"


"Iya, curigaan banget"


"Yaudah nanti aku kirim lewat Wa" ucap Varka lalu berlalu pergi masuk kedalam rumah.


Varka sedikit tidak enak hati karena Gibran meminta nomor Helsha, jujur saja Varka sering melihat kakaknya itu sengaja mencari perhatian Helsha disekolah. Dan Varka sangat takut jika Helsha juga ternyata bisa saja memiliki perasaan untuk kakaknya.

__ADS_1


Ah entahlah semoga saja Semesta tidak Menghancurkan hati Varka yang perlahan sembuh.. semoga saja Semesta tidak mengambil satu-satunya orang yang saat ini berada disisi Varka.


__ADS_2