
Happy Reading
__________________
Helsha menatap sendu layar ponselnya, sudah dua hari ini Helsha berusaha menghubungi Varka namun tak kunjung mendapatkan balasan. Pesan yang Helsha kirimkan juga tidak dibalas, telpon pun juga tidak diangkat dan yang lebih membuat Helsha khawatir lelaki itu sudah dua hari ini juga tidak masuk sekolah.
"Varka... Kemana sih?
Helsha khawatir" gumam Helsha sambil memandang foto Varka di Ponselnya.
____
Sudah dua hari ini Varka hanya mendekam dikamarnya, ia tidak pergi ke sekolah ataupun keluar rumah. Varka hanya sesekali keluar kamar jika merasa haus dan lapar. Bahkan, semenjak kejadian dua hari lalu baik Clara ataupun Juna tidak ada yang datang menghampiri Varka atau bertanya bagaimana keadaannya. Varka hanya bisa sendirian disaat merasakan sakit
Varka menghela napas pelan saat tiba-tiba saja bagian kaki yang terkena pukulan tempo lalu terasa ngilu sekali. Varka mengusapnya pelan sambil sesekali meniupnya agar rasa ngilunya sedikit berkurang.
Varka beranjak dari tempat tidur, ia ingin pergi kebawah mencari obat untuk meredakan rasa sakit dibagian tubuh yang memar. Varka melangkahkan kakinya yang sedikit pincang dengan pelan, ia juga agak sedikit berhati-hati takut jika ternyata dibawah sana ada kedua orangtuanya.
Varka menghela napas lega saat mendapati bahwa hari ini dirumahnya tidak ada siapa-siapa. Sebenarnya jikapun mereka semua ada itu tidak jadi masalah, hanya saja lagi-lagi Varka merasa dirinya tidak pernah dianggap ada dirumah ini. Bahkan hari ini ketika semua orang pergi ia tidak diberitahu dan hanya ditinggalkan seorang diri.
Varka tersenyum kecut saat mendapati tidak ada apa-apa dibawah, ia kemudian duduk diruang tengah dan menghela napasnya yang sedikit sesak. Beberapa kali Varka berusaha menghubungi kedua orangtuanya namun tidak ada seorangpun yang menjawab. Benar-benar tidak ada yang perduli padanya.
Varka berjalan pelan sambil melangkahkan kaki keluar rumah, dan tanpa pikir panjang Varka berjalan menjauhi rumahnya untuk pergi ketempat yang sering ia datangi saat sedih. Tidak perduli dengan kondisi dan rasa sakit yang ia rasakan, Varka tetap berjalan menuju pantai.
Sesampainya disana Varka langsung mendudukkan tubuhnya ditepi pantai, lagi-lagi Varka menghela napas lelah. Matanya menatap kagum langit jingga dihadapannya, rasanya menenangkan.
Saat sedang menikmati pemandangan indah dihadapannya, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan adanya pesan masuk, sebuah lengkung indah langsung terukir indah diwajah Varka saat membaca pesan dari Helsha. Dalam pesan itu Helsha mengatakan jika dirinya ingin bertemu dengan Varka, memang sudah dua hari ini Varka menghindari Helsha dan tidak pernah mengabari perempuan itu.
Tak lama kemudian ponsel Varka berbunyi dan kali ini adalah sebuah telepon, Varka terkekeh saat melihat nama penelpon dilayar Ponsel.
"Vaaarrrrkkaaaaaaa....." Panggil Helsha disebrang sana membuat Varka tertawa
"Hmm iya... Gak usah teriak-teriak" ucap Varka
"KESEL BANGET GAK KETEMU DUA HARI...!! KESEL BANGET VARKA GAK NGABARIN HELSHA IHH...!!" Omel Helsha yang lagi-lagi membuat Varka tertawa
"Maaf ya.." ucap Varka.
"Helsha Mau ketemu Varka...." Ucap Helsha
Varka mengalihkan pandangannya pada Beberapa memar yang terdapat ditangan dan kakinya, ia hanya tersenyum pelan
"Jangan sekarang ya Sha" ucap Varka
"Ihh kenapa??"
"Gapapa...jangan sekarang ya" Ucap Varka
"Varka gapapa kan??"
Varka terdiam saat Helsha bertanya tentang keadaannya, haruskah ia memberitahu apa yang terjadi padanya dan alasan kenapa ia menghindari Helsha selama dua hari ini. Varka menghela napas lalu menggeleng, tidak ia tidak bisa memberitahu perempuan itu.
"Aku Gapapa kok Sha.." ucap Varka
"Bohong... Varka jawabnya lama.." ucap Helsha
Varka tersenyum, ternyata Helsha bisa tau ketika ia sedang berbohong.
"Varka jangan bohong ih, Helsah tau kalau Varka bohong. Jawab Helsha... Varka Gapapa? Varka sakit? Varka kenapa? Jawab dong Helsha khawatir ihhh..." Ucap Helsha terdengar sangat khawatir
Lagi-lagi ucapan Helsha mampu membuat Varka tersenyum, ternyata seperti ini rasanya dikawatirkan oleh seseorang.
"Helsha.." panggil Varka
"Hmm.. Varka kenapa?"
"Maafin varka ya?"
"TUHKAN..?!! KENAPA MINTA MAAF?? VARKA KENAPAAAA????" Ucap Helsha setengah berteriak
"Maaf Ya Helsha, Varka lagi sakit" ucap Varka
"AAHH VARKA MAH!! KENAPA GAK BILANG... HELSHA KERUMAH VARKA YA, TUNGUUUUU!!"
"JANGAN!!!"Teriak Varka saat mendengar ucapan Helsha
"Jangan kerumah" ucap Varka
"Kenapa?"
"Kesini aja, ke pantai ya? Aku lagi disini"
"SAMA SIAPA IHH?"
Varka tertawa mendengar suara Helsha yang hampir berteriak karena kaget
"Sendirian, ayo kesini. Tapi nanti jangan marah ya?"
"Kok gitu? Kenapa?"
"Pokoknya Janji dulu jangan marah" ucap Varka
"Hmm iya iya... Yaudah aku kesana ya. TUNGUUU!!"
"Iya Sha, hati-hati dijalannya"
Setelah itu sambungan telpon terputus. Varka tersenyum senang, Helsha itu benar-benar menggemaskan sekali. Meskipun Varka hanya mendengar suaranya saja tapi gadis itu mampu membuat Varka tertawa.
__ADS_1
Varka segera menarik lengan bajunya untuk menutupi beberapa luka memar yang terdapat di tangannya. Varka hanya tidak ingin Helsha melihat luka memar itu, ia tidak ingin Helsha khawatir dan akhirnya ikut sedih. Sudah cukup, Biarkan Varka saja yang merasakannya.
____
"Varkaaaa....!!" Teriak Helsha membuat Varka yang sedang duduk langsung menolehkan kepalanya.
Helsha berlari kecil menghampiri Varka dan langsung ikut duduk disamping Varka.
"Sama siapa kesini?" Tanya Varka
"Sendirian"
"Maaf ya jadi ngerepotin kamu karena nyuruh kesini.."
"Ihh gapapa, kan Helsha yang mau ketemu sama Varka"
Varka tersenyum, ia melihat beberapa helai rambut Helsha yang berterbangan tertiup angin dan menerpa wajah mungil Helsha. Varka terkekeh pelan, lalu tangannya terulur untuk merapihkan helaian rambut Helsha dan menyelipkan nya ke belakang telinga Helsha.
"Kalau ke pantai itu bawa iket rambut Helsha, biar rambutnya gak kena angin kayak gini"
Helsha terkekeh lalu menoleh pada Varka.
"Hehehe iya Varka, maaf lupa"
Sejak kedatangan Helsha, netra Varka tak lepas dari wajah gadis itu. Hanya sekedar memandang betapa cantik dan menggemaskannya gadis ini. Matanya yang berbinar, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, wajahnya yang mungil, serta senyumannya yang benar-benar Mampu menyembuhkan sakit Varka.
Entah sejak kapan ini dimulai, tapi Varka merasa jika Helsha adalah candu baru bayinya. Candu yang selalu saja membuat Varka ingin bersama Helsha.
"Sha.." ucap Varka
"Iya Varka" jawab Helsha lembut.
"Kamu kenapa cantik banget sih" ucap Varka membuat Helsha yang tadinya sedang memainkan pasir berhenti seketika dan menatap Varka dengan tatapan kaget.
"Ihh... Gombal!!"
Varka tergelak, ia tertawa cukup keras saat melihat wajah Helsha yang sedikit memerah.
"Aku gak gombal Helsha..." Ucap Varka
"Varka jangan gombal, kita masih kecil tau..."
"Udah gede Sha, sebentar lagi kita tujuh belas tahun wleee" ucap Varka sambil menjulurkan lidahnya kearah Helsha
"Ya tapi sekarang kita masih enam belas tahun wleee..." Balas helsah tak mau kalah yang lagi-lagi bisa membuat Varka tertawa
"Yaudah sih kalo ga percaya, tapi aku bicara kenyataan loh. Kamu cantik Helsha kayak Bunda kamu"
"UDAHHH JANGAN BILANG GITU... HELSHA MALUUU IHH VARKA MAHHH..." Ucap Helsha yang langsung membekap mulut Varka dengan tangannya membuat Varka semakin tertawa.
"Hahahaha cieee malu...hahaha"
"Hahaha lucu banget sih..." Ucap Varka.
Saat Varka sedang tertawa, mata Helsha tidak sengaja melihat sesuatu yang menurutnya sangat aneh.
"Varka?" Ucap Helsha
"Hmm.."
"Tangan kamu kenapa biru?"
Varka mengalihkan fokus yang awalnya melihat Helsha kini pandangannya tertuju pada lengannya.
Varka terdiam sejenak, lalu dengan cepat ia menarik kembali lengan bajunya agar menutupi luka memar itu, namun Helsha menahan tangan Varka dan langsung menarik lengan baju Varka keatas membuat Varka tersentak kaget.
"Ini kenapa Varka?" Tanya Helsha menujuk beberapa memar yang ada
Helsha kemudian menarik kembali lengan baju Varka yang satunya, membuat Helsha kembali dibuat terkejut saat melihat nya.
"Varka kenapa?" Tanya Helsha
"Gapapa kok Sha" jawab Varka
"Bohong..."
Varka terdiam
"Varka, kamu dipukul ya?" Tanya Helsha
Lagi-lagi Varka hanya terdiam
"Kalau Varka diem berarti bener. Varka dipukul sama siapa?" Tanya Helsha
"Varka.... Jawab, dipukul siapa?"
Varka menghela napas lalu menatap Helsha
"Papah Sha..." Lirih Varka.
Entah mengapa, tiba-tiba saja tubuh Helsha terasa lemas, dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menghantamnya. Hatinya perih dan ngilu melihat luka memar Varka.
"Varka... Jadi kamu gak sekolah dan gak mau ketemu sama Helsha selama dua hari kemarin gara-gara ini?" Tanya Helsha yang dibalas anggukan oleh Varka.
Helsha mengusap luka memar Varka dengan lembut, rasanya sakit sekali melihat lelaki ini terluka.
"Varka kenapa?... Kenapa Varka selalu nyembuiin hal-hal kayak gini? Kenapa Varka suka banget sedih sendirian? Kenapa Varka?"
__ADS_1
"Helsha kan udah bilang sama Varka... Kalau Varka sakit, Varka sedih, bilang sama Helsha. Seenggaknya Varka gak sedih sendirian, gak sakit sendirian. Seenggaknya Varka bisa bagi rasa sakit Varka sama Helsha...kenapa sih??" Ucap Helsha yang tanpa sadar sudah menjatuhkan air matanya.
Varka terdiam melihat Helsha yang kini terisak sendirian
"Helsha maafin Varka... Sha jangan nangis"
Helsha menatap Varka dengan air mata yang masih mengalir, ia bingung dengan sifat laki-laki dihadapannya ini. Kenapa lelaki ini selalu menyimpan semuanya sendiri.
"Varka,, Helsha gak suka liat Varka kayak gini. Rasanya sakit banget ngeliat Varka kayak gini sendirian. Helsha udah berapa kali bilang sama Varka sih, Jangan sendirian Helsha gak suka Varka... Pokoknya Helsha gak suka..!!" Ucap Helsha semakin terisak.
Varka sedikit panik melihat Helsha menangis, baru kali ini ada seseorang yang menangis karena melihat keadaannya.
"Sha jangan nangis, aku gapapa kok. Ini sama sekali gak sakit, aku gapapa. Udah ya jangan nangis? Maafin aku Sha..." Ucap Varka sambil mengusap punggung Helsha lembut
"Helsha gak suka...." Ucap Helsha semakin terisak kencang
"Sha jangan nangis... Heyy... Udah dong.."
Varka menggenggam tangan Helsha lembut, ia ingin meyakinkan Helsha bahwa dirinya sudah baik-baik saja sekaarang
"Udah ya nangisnya... Varka belum bisa meluk Helsha soalnya...."
"Kita masih kecil jadi Varka belum bisa meluk Helsha buat nenanging helsha... Udah ya jangan nangis lagi, maafin Varka..." Ucap Varka berusaha menenangkan Helsha
"Janji dulu?" Ucap Helsha ditengah isakan tangisnya
"Apa?"
"Varka jangan sakit, jangan sedih lagi Helsha gak suka liatnya" ucap Helsha
Varka tersenyum, ia lalu terkekeh pelan. Tangannya beralih menghapus air mata dipipi Helsha
"Iya aku janji... Sekarang udah ya berhenti nangisnya" ucap Varka.
"Promise?" Ucap Helsha mengacungkan jari kelingkingnya
"Iya janji Helsha"
Kemudian Varka menautkan jari kelingkingnya pada Helsha
"Udah ya nangisnya... Jelek tau" ucap Varka kembali menghapus air mata yang masih tersisa dipipi Helsha
"Gara-gara Varka juga..."
"Iya iya.. maafin ya..."
"Varka..."
"Hmm..."
"Jangan sakit lagi ya?" Ucap Helsha
"Iya Helsha, aku gak bakal sakit lagi"
"Kalau sakit bilang ya sama Helsha?"
"Iya nanti Varka bilang,, makasih ya"
"Helsha sayang bangett sama Varka..."
Varka tersenyum lalu mengacak-acak rambut Helsha
"Varka mah...."
____
•Helsha POV•
Bagi Helsha, Varka adalah sosok anak lelaki yang terlampau baik, Varka juga anak yang ceria, dia suka senyum juga walaupun terkadang sering jutek sama Helsha. Tapi Varka itu Perhatian banget, Varka sering nunjukin dan ngingetin Helsha tentang hal-hal kecil yang bahkan Helsha gak sadar. Varka juga suka ketawa dan waktu ketawa Varka keliatan ganteng banget...
Tapi...
Varka itu Rapuh,sangat rapuh...
Varka suka nangis, suka sedih dan Sakit sendirian... Helsha gak suka hal itu.
Kenapa ya anak sebaik Varka bisa diperlakukan seperti itu... Padahal Helsha tau Varka anak yang baik.
Kenapa Varka suka sedih sendirian? Padahal Helsha gak mau ngeliat Varka sedih sendirian, Helsha mau nemenin Varka, pokoknya Helsha akan terus berusaha supaya Varka ketawa terus dan bahagia
Rasanya Helsha pengen cepet-cepet dewasa supaya bisa meluk Varka kalau Varka lagi sedih...
Varka maafin Helsha ya? Maaf karena Helsha belum bisa ada disamping Varka setiap hari, Helsha sedih banget. Maafin Helsha ya....
Helsha janji gak bakal ninggalin dan ngebiarin Varka sendirian....
Helsha POV end
___
Helsha menatap lekat Varka yang tengah memandang langit jingga.
"Varka... Jangan sakit lagi ya, Helsha gak suka liatnya.."
Varka menoleh sebentar dan tersenyum mendengar ucapan yang selalu berulang kali dikatakan Helsha.
"Helsha sayang sama Varka..."
__ADS_1
Terimakasih semesta Karena masih mengijinkan sebuah senyuman terukir diwajah Varka... Terimakasih sudah mengirimkan sosok Helsha kedalam hidupnya.