LENTERA

LENTERA
part 16


__ADS_3

Happy Reading


"Mama, papa, Varka mau ikutan olimpiade Biologi, gapapa kan? Varka tertarik banget buat ikutan" ucap Varka disela-sela makan malam


"Lomba biologi?" Tanya Gibran yang dibalas anggukan oleh Varka


"Gak salah kamu Varka? Emang bisa?" Tanya Clara


"Bukannya nilai yang kamu dapet di sekolah gak Sebesar nilai kakak kamu? Kenapa berani banget mau ikutan olimpiade" ucap Juna ikut menyahuti


"Ma, pa, gapapa kali. Siapa tau kali ini Varka bisa juara" ucap Gibran sambil tersenyum kearah Varka.


"Mama kata wali kelas aku, buat ikutan olimpiade gak diliat dari nilai kok" ucap Varka


"Tetep aja nilai kamu gak sebesar nilai Kaka kamu, mending gak usah deh. Mama gak yakin kamu bakalan menang" ucap Clara


Lengkung indah yang tadinya terpatri diwajah Varka langsung menghilang setelah mendengar ucapan Clara.


"Mama sama papa gak percaya kalau aku bisa?" Tanya Varka


"Iya" ucap Juna


"Lagian kalau nanti kamu kalah gimana? Malu-maluin kakak kamu aja disekolah, masa adeknya kalah ikut olimpiade" ucap Clara sinis


"Ma..." Gibran berusaha menegur Clara agar tidak terlalu kasar berbicara.


Mau bagaimanapun kerenggangan hubungan Gibran dan Varka, tapi tetap saja Varka adalah adiknya kan.


"Kalau mama sama papa lupa, Varka juga sering kok dapet juara"


"Alah... Juara apaan? Pernah juara satu? Olimpiade apa? Palingan juga juara dibidang musik sama gambar kan!! Gak ada gunanya Varka!!" Ucap Clara


Varka menghela napas, memangnya salah jika ia lebih menonjol dibidang musik dan gambar?? Bukankah itu juga sebuah kelebihan dari dalam dirinya.


"Mama bisa gak sekali aja support aku, bisa gak? Kenapa sih mama selalu aja bandingin aku sama kak Gibran? Apa aku sebodoh itu Dimata mama?"


"Varka cuma butuh dukungan dari mama sama papa aja, gak lebih kok. Bisa kan kalian sekali ini aja support Varka."


Semuanya diam, tak ada satupun orang yang menjawab perkataan Varka. Bahkan Clara dan Juna malah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Kenapa pada diem? Gak mau ngasih support sama Varka?" Tanya Varka dan lagi-lagi tidak ada Jawaban apapun.


"Yaudah gapapa. Varka gak maksa, kalau kalian emang gak percaya sama Varka gapapa. Varka ngasih tau kalian cuma karena Varka butuh restu dari orang tua Varka. Seenggaknya Varka bisa bangga sama diri Varka sendiri karena udah berusaha untuk membanggakan kalian" ucap Varka.


"Terserah!! Tapi awas aja kalo kamu gak dapet juara 1, gak akan mama izinin lagi kamu buat ikutan lomba olimpiade lagi. Yang ada nanti bikin malu sekeluarga" ucap Clara yang membuat Varka hanya bisa tersenyum tipis.


"Iya ma.." ucap Varka.


Varka hanya tersenyum tipis saat melihat raut kedua orang tuanya yang terlihat tidak menyukai apa yang akan Varka lakukan.


Terkadang Varka tidak habis pikir, kenapa sih mereka selalu menganggap Varka tidak mampu? Kenapa mereka selalu menganggap bahwa apapun yang dilakukan oleh Varka selalu sia-sia? Kenapa selalu berpikiran buruk terhadap Varka ?


Salah ya? Jika Varka memiliki keinginan akan suatu hal? Varka hanya menginginkan mamah dan papah memberikan dukungan penuh terhadap apapun yang ia lakukan. Bahkan sejauh ini, Varka tidak pernah sekalipun berpikir untuk membuat mereka malu.


Dipikiran Varka selama ini cuma satu. Varka ingin sekali melihat Clara dan Juna tersenyum kepadanya, Varka ingin sekali melihat tatapan itu. Tatapan penuh kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Varka menghela napasnya lalu beranjak lebih dulu menyelesaikan makan malamnya. Setelah selesai mencuci piring Varka langsung bergegas masuk kedalam kamar.


Dibalik pintu kamar itu Varka terduduk disudut kamar, membayangkan bagaimana tatapan benci Clara dan Juna terhadapnya.


Varka tersenyum kecut lalu berdiri dan melihat pantulan dirinya didepan cermin.


"Varka... Kamu bodoh ya?" Ucap Varka pada dirinya sendiri


Varka kemudian terkekeh pelan sambil, menertawakan dirinya Yang sudah terlalu berharap lebih pada kedua orangtuanya. Ia menertawakan dirinya sendiri yang lemah, bodoh, dan tak berguna.


"Dasar Bodoh" ucap Varka pada dirinya sendiri didepan cermin.


Varka memang tertawa, tapi tawa itu sangat menyakitkan untuk didengar. Ia tertawa padahal hatinya begitu sakit dan rapuh.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar, membuat Varka menghela napas lelah. Apalagi sekarang yang akan orang rumah ini katakan


"Varka..." Panggil Gibran setelah pintu terbuka


"Ada apa kak? Aku mau istirahat" jawab Varka malas


Ia benar-benar masih malas berurusan dengan kakaknya. Apalagi sikap Kakanya sering kali berubah-ubah, kadang membuatnya senang kadang juga menyakiti perasaannya


"Jangan dengerin omongan mamah ya,"


"Tenang aja Kok kak, aku udah biasa diperlakukan kayak gitu. Kan emang cuma kakak aja anak paling pinter dirumah ini"


"Varka gak gitu..."


"Gak gitu gimana? Emang gitu kok kenyataan nya, udahlah Kaka juga paham kan sebenarnya. Tenang aja kak, aku bakal berusaha supaya gak kalah biar kakak gak malu disekolah"


"Varka..."


"Udah ya kak, aku gapapa kok beneran. Udah ya Varka mau istirahat"


Varka langsung menutup pintu kamar tanpa menunggu jawaban Gibran. Ia sudah muak denga Sikap kakak nya yang terus berubah-ubah, tapi tetap saja Varka tidak bisa membenci Kakaknya.


Varka duduk dimeja belajar nya lalu menekan tombol handphone nya dan menelpon Helsha, mungkin dengan menelpon perempuan itu hatinya bisa sedikit tenang.


"Malam..." Ucap Helsha disebrang telpon


"Udah selesai makan malamnya Sha?"


"Udah dong... Ada apa nih?" Ucap Helsha begitu ceria


"Gapapa, lagi pengen dengerin suara lucu kamu aja"


"Ohhhh..."


"Lagi apa? Udah ngerjain tugas?"


"Lagi telponan sama orang yang aku sayang... Hehehe"


Varka terkekeh mendengarnya


"Yaudah aku istirahat dulu ya Sha, makasih"


"Kok bentar banget? Udahan emang sedih nya?" Tanya Helsha


"Aku gak lagi sedih kok"


"Iya deh"


"Yaudah dah..." Ucap varka


"Dadah... Selamat istirahat Varka"


Helsha menghela napas setelah sambungan telpon terputus. Ia tau Varka sedang tidak baik-baik saja, tapi belakangan ini Varka selalu tak jujur dengannya. Helsha tau Varka selalu tersenyum dan bahagia dihadapannya, tapi tatapan lelaki itu tidak bisa bohong, ada beban dan hal yang berusaha Varka tanggung sendiri.


_____


"OH YA!!" Ucap Helsha saat mendengar jika Varka akan mengikuti olimpiade


"Iya Sha bener" ucap Varka tersenyum


"IHH.. HELSHA SENENG BANGET DENGERNYA VARKA..." Teriak Helsha kegirangan membuat Varka tersenyum

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya!!" Ucap Helsha lalu berlari menjauhi Varka


"Eh Mau kemana Helsha!!" Teriak Varka.


Varka terkekeh kecil melihat Helsha yang berlari entah kemana. Varka menghela napasnya.


Kenapa ya? Orang asing lebih peduli pada apapun yang kita lakukan? Bahkan mereka selalu ada bahkan hanya untuk sekedar memuji dan menyemangati.


Tapi kenapa orang-orang yang kita harap akan memberikan support dan pujian jutsru malah jadi alasan kenapa kita jatuh dan tersakiti? Aneh...


Tidak, Varka tidak membenci rumahnya. Hanya saja Varka sedikit kecewa dengan kenyataan yang ia dapat. Tentang bagaimana ia diperlakukan, tentang bagaimana ia dianggap asing dan bodoh oleh orang-orang yang seharusnya jadi tempat untuk Varka berkeluh-kesah.


Varka sadar, percuma saja jika ia terus merutuki Takdir jika pada kenyataannya memang tidak bisa berubah sama sekali.


Sekeras apapun Varka menangis, mengeluh, bahkan marah. Tetap saja semesta tidak akan pernah berada di pihaknya.


Kecuali Helsha...


Iya benar, kecuali Helsha. Perempuan yang sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Varka sendirian. Perempuan yang tidak akan pernah berani pergi meninggalkan penghuni rumahnya.


Helsha itu adalah sosok rumah baru bagi Varka, rumah yang sangat Kokoh dan hangat. Varka sangat menyukainya, menyukai betapa hangatnya rumah ini, dengan begitu banyak kasih sayang dan cinta yang Varka rasakan.


Varka tersenyum kala melihat Helsha yang kini tengah berlari kecil kearahnya, Varka melihat ada dua botol kecil minuman yang entah dimana gadis itu membelinya.


Varka tersenyum kemudian berteriak


"JANGAN LARI SHA!!" teriak Varka memperingatkan Helsha


Helsha berdiri dihadapan Varka sambil memberikan satu botol minuman pada Varka.


"Nih.. minum" ucap Helsha


Varka kemudian berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Helsha lalu tersenyum hangat


"Jadi tadi lari tuh beli ini?" Tanya Varka yang dibalas anggukan oleh Helsha


"Iya! Biar Varka semangat nanti ikut olimpiade nya.. kapan sih? Lusa ya?"


"Iya lusa.."


"Ayo belajar sama Helsha, Helsha suka biologi" ajak Helsha


Varka lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan Helsha, tangannya terulur untuk mengacak rambut perempuan itu.


"Iya, Abis pulang dari sini kita belajar" ucap Varka.


Mereka kemudian kembali duduk menyadarkan tubuhnya pada bangku ditaman itu.


"Dingin banget ya Sha sekarang" ucap Varka menghela napas


"Helsha juga bilang apa, pake jaketnya ih.." ucap Helsha yang melihat Varka yang sejak tadi malah membuka jaketnya


"Iya iya bawel..."


"Ihhh..." Ucap Helsha lalu mencubit lengan Varka


Bukannya kesakitan Varka malah terkekeh, Helsha selalu saja seperti ini jika dirinya bandel dan susah diberi tahu.


"Iya.. maaf Cantik" goda Varka


"Gombal..."


"Kamu tuh ya..."


"Apa...wleee..." Ledek Helsha


"Cantik" ucap Varka


"Varka..."


"Hmm..?"


"Gimana hari ini? Cape nggak?" Tanya Helsha lembut


Varka menoleh pada Helsha Kemudian tersenyum hangat. Pertanyaan ini adalah pertanyaan rutin dari Helsha, Helsha selalu bertanya hal itu setiap mereka bersama.


"Engga kok" jawab Varka


"Beneran? Lagi gak sedih?" Tanya Helsha


"Iya beneran"


"Varka?"


"Iya apa?"


"Kalau ada hal yang ngeganggu kamu, bilang ya? Kalau cape bilang ya? Kalau sedih juga bilang ya? Jangan di simpen sendirian. Inget, disini Varka gak sendirian. Varka punya Helsha, oke?"


Varka tersenyum, kemudian mengelus pelan rambut Helsha


"Iya Helsha aku pasti bilang nanti, tapi untuk sekarang Varka baik-baik aja Kok" ucap Varka membuat Helsha tersenyum


"Makasih ya, makasih karena selalu khawatir" lanjut Varka


Helsha menggenggam sebelah tangan Varka


"Soalnya Helsha suka ngeliat senyum Varka, jadi kalau Varka sedih Helsha gak bisa liat senyum indahnya Varka. Jangan sedih-sedih lagi kayak dulu ya? Jangan simpen masalah sendirian kayak dulu, ya? Varka harus bahagia ya?"


"Iyaaaa... Sha"


"Varka..."


"Iya..."


"Jangan tinggalin Helsha sendirian ya, Helsha gak tau bakal gimana hidup Helsha kalau Varka ninggalin Helsha. Secape dan sesedih apapun Varka kedepannya, Jangan pergi ninggalin Helsha ya?"


Varka tersenyum mendengar ucapan Helsha, Hanya Helsha satu-satunya yang membuat ia bertahan hingga sekarang.


"Iya, Varka janji. Varka janji akan berusaha bertahan buat Helsha"


"Helsha sayang sama Varka... Sayang banget" ucap Helsha kemudian menyadarkan kepalanya dibahu Varka.


"Makasih Sha..."


____


"Varka..." Panggil Gibran yang melihat Varka keluar dari kamar dengan pakaian yang cukup rapih.


"Mau kemana?" Lanjutnya


"Ketemu Helsha, mau belajar buat olimpiade besok"


"Belajar sama kakak aja yuk" cegah Gibran menahan lengan Varka yang hendak pergi


"Tumben..."


"Ya wajarlah kalo seorang kakak ngajarin adeknya"


Varka tertawa mendengar ucapan Gibran yang seolah-olah peduli


"Sejak kapan Lo peduli?"

__ADS_1


Gibran terdiam mendengar Varka yang kali ini memanggilnya tanpa embel-embel kakak


"Gue gak salah denger? Lo manggil gue tanpa sebutan kakak?"


"Oh maaf, kebiasaan disekolah"


"Hmm.. yaudah ayo ke kamar kakak" ajak Gibran


"Engga usah, Maaf ya. Gue udah ada janji sama Helsha, lagian gue juga gak kebiasaan diajarin sama Lo"


"Oh.. oke, gue cuma nawarin aja"


"Gak perlu, gue bisa sendiri" ucap Varka lalu pergi begitu saja.


Percuma juga jika selama ini ia bersikap baik dengan orang-orang dirumah ini. Tidak masalah bukan jika sekali-kali Varka melawan.


Kini Helsha tengah sibuk merapihkan kamarnya untuk dipakai belajar bersama Varka. Varka hilang ia sudah berangkat dan pasti sebentar lagi sampai. Tak lupa Helsha juga menyiapkan cemilan kesukaannya dan Varka, ia juga tidak terlalu tahu apa yang Sangat disukai Varka tapi lelaki itu selalu bilang 'kalau Helsha suka, Varka juga suka'... Gombal sekali kedengarannya tapi itu terbukti.


Dering ponsel membuat Helsha mengalihkan perhatiannya, saat melihat nama penelpon Helsha sedikit malas mengangkatnya tapi jika tidak diangkat ia juga merasa tidak enak.


"Ihh.. mau apa sih pake nelpon, males"


Walaupun menggerutu pada akhirnya Helsha tetap mengangkat telpon tersebut


"Helsha..."


"Iya kak.."


"Katanya kamu mau belajar sama Varka ya?"


"Eh? Kok Kaka tau?" Tanya Helsha sedikit bingung


"Varka yang ngasih tau, belajar dimana emang?"


"Dirumah aku, kenapa gitu?"


"Engga, tadinya mau aku ajarin. Tapi Varkanya gak mau"


"Oh, emang sejak kapan kakak mau ngajarin Varka? Bukannya dulu juga pas mau UN SMP Kaka malah nyuruh Varka belajar sendiri"


"Eh? Varka bilang gitu. Kalau waktu itu aku lagi ada urusan gitu Sha, jadi gak bisa"


"Oh gitu ya.." ucap Helsha sedikit malas


"Iya..."


Helsha langsung tersenyum senang saat mendengar suara motor yang berhenti didepan rumahnya, pasti itu Varka..


"Kak udah dulu ya, Varka udah Dateng" ucap Helsha langsung mematikan sambungan telpon.


Helsha berlari kecil menuju keluar rumah. Baru saja Varka ingin mengetuk pintu tapi pintu sudah terbuka dengan Helsha yang tersenyum padanya.


"Selamat datang... Pangeran"


"Ya ampun, belum juga aku ngetuk pintu"


"Hehehe... Sebagai calon yang baik aku harus siap ... Ihh gak jadi deh" ucap Helsha malu-malu


"Ih malu-malu..."


Helsha hanya tertawa kikuk, bisa-bisanya ia berkata tanpa dipikir dulu


"Bunda mana? Aku bawain buah nih" ucap Varka setelah masuk kedalam rumah


"Bunda.... Ada calon menantu nih..." Teriak Helsha lalu langsung berlari menuju kamar


Varka tertawa sekaligus kaget mendengarnya, bagaimana bisa Helsha blak-blakan seperti itu. Ayolah mereka baru saja SMA.


"Eh.. udah lama kamu gak kesini Nak" ucap bunda menghampiri Varka


"Iya nih Bunda, Maaf ya jarang mampir"


"Gapapa, tapi sehat-sehat aja kan Nak?" Ucap bunda sambil mengelus punggung Varka


"Sehat Bunda, bunda sehat?"


"Alhamdulillah, lain kali sering-sering main kesini"


Varka tersenyum lalu mengangguk


"Oh iya bunda ini Varka bawain buah, kebetulan tadi ketemu sama yang jualan buah" ucap Varka sambil memberikan kantong buah yang dibawanya


"Ya ampun repot-repot, makasih ya"


"Iya, kalau gitu Varka nyusul Helsha dulu ya"


"Semangat belajarnya ya" ucap Bunda.


Kehangatan dirumah Helsha adakah hal yang paling menenangkan bagi Varka, dimana ia bisa merasakan hangat dan kasih sayang yang ada dirumah ini.


Bunda Helsha begitu baik padanya, bunda selalu memperlakukan Varka layaknya anak sendiri. Tapi mau bagaimana pun kasih sayang dari seorang ibu kandung akan lebih berarti bagi Varka.


Hari sudah menjelang malam, Varka baru saja selesai belajar dengan Helsha. Sekarang Varka sudah berada diatas motor Vespa kebanggaan bersiap untuk pulang.


"Makasih ya udah ngajarin aku"


"Iya"


"Sha, aku mau nanya boleh?"


"Apa?" Tanya Helsha penasaran


"Tadi aku gak sengaja liat isi chat hp kamu, terus aku liat tadi ada chat dari ka Gibran. Kak Gibran sering ngechat kamu?"


"Iya, kak Gibran suka ngechat tiba-tiba"


"Oh gitu.." ucap Varka sambil memakai helm nya.


"Varka..." Ucap Helsha menahan lengan Varka yang hendak menghidupkan Vespanya


"Jangan salah paham ya, inget Helsha udah pernah bilang kalau Helsha gak suka sama kak Gibran."


"Iya Varka percaya kok, udah sana masuk diluar dingin"


"Jangan mikir-mikir yang aneh-aneh ya. Langsung pulang"


"Siap ibu negara, Aku pulang ya, dah..."


Helsha melambaikan tangannya saat Varka melajukan motornya pergi dari rumah Helsha.


____


Varka memandang hamparan laut didepannya, hari sudah malam dan hanya ada Varka seorang diri disini. Varka memilih tidak langsung pulang, ia ingin menenangkan hatinya dan melupakan semua beban yang ada


"Tuhan...Jika sesuatu terjadi padaku secara tak terduga dan aku harus melepaskan tangan yang selama ini selalu aku genggam. Tolong jangan biarkan kesedihan datang padanya, tolong beri dia kekuatan dan keberanian untuk melanjutkan hidupnya."


Varka meneteskan air matanya, ia mencengkram keras mplop kertas yang ia dapatkan dari rumah sakit. Nyatanya Semesta tidak pernah membiarkan Varka bahagia.


Sebenarnya apa yang telah Varka lakukan hingga semesta begitu jahat terhadapnya?


Kenapa tidak pernah satu kali pun semesta memihak nya??

__ADS_1


"Aku tidak ingin mati...."


__ADS_2