LENTERA

LENTERA
mengibarkan bendera perang.


__ADS_3

Sinta yang sedang di meja makan menata satu persatu makanan yang akan di jadikan makan siang hari ini. dari berbagai macam makanan, seperti sayur bening, hingga daging yang di masak rendang serta ikan yang di masak asam manis. melihat hasil tatanan yang sudah siap di santap akhirnya Sinta duduk di meja makan sembari menunggu sang tamu yang tak kunjung datang. padahal ini sudah lewat dari beberapa menit. harusnya orang yang di tunggu sudah tiba di rumah. dengan langkah pelan, Sinta membawa kakinya ke depan televisi untuk mengambil telpon genggam. mencari nama yang akan di hubungi dan beberapa menit kemudian, nama yang di cari telah di temukan. sebelum masuk ke menu panggilan, tiba-tiba bel berbunyi.


"nyonya, biar saya yang buka". sang bibi yang sudah selesai dari aktivitasnya, berniat untuk bergabung di depan televisi untuk menonton serial kesukaannya. apa lagi kalau bukan siaran indosiar yang penuh drama menangis.


dengan gerakan cepat, sang bibi melangkah menuju arah pintu untuk membuka pintu. dengan memegang handle pintu lalu memutar kemudian menarik, menampakkan wanita paru baya dengan kerudung sedada tersenyum hangat tak lupa di sampingnya berdiri lelaki mudah yang juga tersenyum hangat.


"assalamualaikum".


"waalaikumsalam".


"apa kabar bi". dengan salam Ramah yang di lontarkan kepada sang bibi.


"baik nyonya, silahkan masuk". balasnya dengan memberikan ruang untuk dua orang agar bisa melewati pintu.


"bi, saya kan sudah pernah bilang. jangan panggil saya nyonya karena saya bukan orang kaya kayak mba Sinta". protes Ratna yang memang tidak suka dengan nama cukup di segani yang di sematkan padanya.


"tidak apa-apa nya, menikmati hidup itu perlu dan di mulai dari hal-hal yang kecil. seperti panggilan nama lalu di layani layaknya tuan dan nyonya lagipula nyonya memang seharusnya di panggil seperti itu mengingat nona Rindu adalah isteri tuan Erlangga". bukannya menurut, malah memberikan nasehat.


"apa kabar Ratna". Sinta yang sudah sangat merindukan besannya, Langsung menghambur memeluk Ratna seperti orang yang tidak bertemu dalam waktu cukup lama. padahal baru terhitung Ratna pulang 4 hari. memang kalau sudah sehati, bawaanya bahagia kalau udah ketemu.


"Alhamdulillah, saya sehat". jawabnya dengan mengikuti langkah Sinta menuju meja makan. mengingat kedatangan mereka karena di undang untuk makan siang yang katanya Sinta tidak nafsu makan karena tidak ada yang menemaninya. biasanya teman makan siangnya El dan Rindu tapi menantu dan anaknya sedang di luar.


"nak, Andre katanya kemarin demam lagi ya?". tanyanya Dengan melihat Andra yang langsung di jawab senyuman dan anggukan. "maaf Bangat, saya tidak sempat keruma soalnya saya ada acara dan sampai malam. ini aja kabar saya dapat dari Rindu semalam". sambung nya lagi.

__ADS_1


Andre yang di kabarkan terserang infeksi kronis yang disebabkan tuberkulosis paru atau bronkitis. dimana, gejala ini akan Kambu karena adanya faktor resiko seperti kebiasaan merokok, terpapar debu dan polusi udara membuat sistem saluran pernapasan terutama rambut silia dan lapisan dinding bronkus rusak sehingga penderitanya akan lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan berulang. jadi untuk mencega adanya penyerangan virus dadakan yang bisa membuat penyakit Andre kumat, maka semua faktor penyebabnya harus di jauhkan dengan lingkungan yang steril hingga dia benar-benar sembuh total. dan semua itu sudah di siapkan oleh El, dokter khusu yang akan menangani penyakit Andre yang beberapa bulan ini membuat tubuhnya mudah drop. dari kecil Andre terbilang anak yang lemah imun sehingga berpengaruh di usia remaja.


"Ng papa mbak, lagipula saat Andre sakit, sudah ada dokter khusus yang di utus untuk memantau kesehatannya. saya sangat bersyukur berdampingan dengan mbak dan nak El, selain dermawan dan Mura hati, kalian juga Sangat peka terhadap lingkungan. andaikan mbak dan keluarga mbak tidak ada, saya tidak tau nasib anak-anak seperti apa?". mengingat perjuangan hidupnya setelah suaminya meninggal, membuat mata Ratna memanas.


"ah mbak berlebihan sekalih, semua yang terjadi atas kehendak Allah. saya ini bukan apa-apa. harta yang kami miliki hanya titipan dan apa yang kami lakukan, hanya sebagai perantara untuk lebih dekat kepada Allah. udah yang Ng usah sedih-sedih, sekarang kita makan". dengan mempersilahkan tamunya untuk memulai mengisi kampung tengah yang sedari tadi meronta-ronta minta di isi. namun sebelum menuangkan nasi ke dalam piring bunyi bel menghentikan gerak tangan Sinta.


"bentar ya Mbak saya buka pintu, mungkin yang datang El dan Rindu". dengan perasaan bahagia karena makan siang akan ramai karena menantu dan anaknya sudah pulang. kebiasaan, El yang suka maka Siang bersama di rumah hanya saja, Sinta bertanya-tanya pasalnya Rindu sudah bawa bekal untuk porsi dua orang jadi mana mungkin anak dan menantunya yang pulang. dengan langkah berlari kecil ke arah pintu lalu memutar gagang pintu menampakkan seorang perempuan seusia anaknya.


deg


"apa kabar Tante". sapa nya basa basi, mengabaikan wajah yang sudah menegang di hadapannya. sepertinya dia sudah lupa tentang perbuatannya beberapa tahun yang lalu. meninggalkan luka yang teramat dalam dan pedih. dengan percaya diri, datang bertamu di kediaman yang mengukir kisah begitu manis hingga berujung pedih untuk penghuninya.


"baik. ada apa". karena tidak ingin berlama-lama berada di dekat perempuan yang sudah membuat anaknya bak mayat hidup, maka Sinta langsung to the point.


"oh, tapi saya ingin keluar siang ini karena ada janji". ucap Sinta yang tidak ingin menerima tamu orang yang cukup berperan penting dalam luka anaknya dan dirinya.


"ah, begitu. berarti saya mengganggu'. ya udah kalau begitu saya permisi ya Tante. salam sama El". pamit nya yang membuat Sinta meradang dengan pesan terakhirnya, meskipun hanya 3 kalimat tapi cukup menyentil hatinya.


setelah perempuan itu pergi, Sinta buru-buru memencet tombol biru dan langsung di angkat.


"......"


"waalaikumsalam. El, Raina tadi kerumah dan sepertinya akan kembali lagi. jadi mama mohon kamu harus bisa jaga hati kamu dan perasaan Rindu. jangan buat kami kecewa". jelas Sinta panjang lebar "ya udah hanya itu yang ingin mama sampaikan. assalamualaikum". pamitnya langsung melangkah ke arah meja makan.

__ADS_1


...****************...


sedangkan di tempat berbeda, Rindu dan El Masi asik berpelukan.


"siapa by". penasaran dengan orang yang sudah menganggu momen peluk-pelukannya.


"mama". jawabnya singkat dengan menatap manik mata sang istri yang di balas dengan anggukan. "jadi sekarang kita balik kekantor atau kerumah?".


"mau makan" . balas rindu cengengesan yang langsung di hadiai cubitan di ke dua pipi tembemnya.


"gemes Banga sih istrinya aku, lapar kok sok jual mahal".


"kan aku ngambek sama hubby". dengan menyantap makanan yang masih tersisa sembari sekali-kali melirik suaminya.


"ngambek kok perut juga haru ikut-ikutan sih. kan kasihan dedek bayinya". memisahkan saos pedas dia atas potongan daging.


"ya maaf".


"ya udah makan yang banyak".


setelah beberapa jam berada di raungan VIP karena harus melewati banyak drama, kini El dan rindu sudah berada di parkiran. dengan setia mengandeng tangan sang istri dan memeluk pinggangnya, takut barang sedikit saja rindu akan lepas dari genggaman El.


"El, kamu Masi ingat restoran favorit kita". celetuk suara yang membuat Rindu kembali tersulut emosi. sedangkan El, sudah memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan. sepertinya drama bujuk membujuk akan ada kloter ke dua.

__ADS_1


__ADS_2