LENTERA

LENTERA
part 6


__ADS_3

Happy Reading


Helsha dengan semangat Mengayuh sepedanya menuju rumah Varka, sebenarnya ia belum mengatakan pada Varka jika hari ini Helsha akan kerumahnya, itung-itung memberikan kejutan pada lelaki itu. Hari ini ia ingin mengajak Varka berkeliling naik sepeda lagi.


"Permisi...!!" Ucap Helsha saat sampai didepan rumah


Tidak ada Jawaban apapun, ia turun dari sepeda dan melangkah mendekati pagar rumah Varka.


"Varkaaa... Permisi..!!" Teriak Helsha didepan rumah


"Permi__"


Tiba-tiba saja pintu terbuka menampakkan sosok Clara dengan senyum manisnya


"Eh cari siapa nak?" Ucap Clara ramah


"Ahh.. pasti nyari Gibran ya? bentar ya Tante panggilin" lanjut Clara


"Ehh.. bukan tan__"


Ucapan Helsha terpotong saat melihat kedatangan Gibran menghampiri mereka


"Ini loh Kak, temen kamu nyariin. Ayo nak masuk" ucap Clara sambil merangkul pundak Helsha


"Ma, dia siapa?" Tanya Gibran


"Loh? Ini bukan temen kamu" ucap Clara kaget


Gibran hanya menggeleng pelan


"Terus ini temen siapa? Kamu nyari siapa Nak?" Tanya Clara pada Helsha


"Anu.. Tante saya nyari..."


"Varkaaaaa.....!!" Teriak Helsha saat melihat Varka yang berjalan sambil membawa Nampan


"Nyari Varka??" Tanya Clara


"Iya Tante saya temennya Varka" jawab Helsha tersenyum senang


Raut wajah Clara langsung berubah seketika saat mendengar jawaban Helsha, yang tadinya ia tersenyum ramah berubah menjadi datar tanpa ekspresi


"Oalah, Tante kira kamu temennya Gibran. Biasanya yang datang kesini pasti nyariin Gibran, temennya Gibran banyak"


Ya betul sekali, kebanyakan yang datang kerumah ini adalah teman-teman Gibran. Belum pernah sekalipun ada yang datang kerumah ini dan mencari Keberadaan Varka, jadi tak heran jika Clara sangat kaget melihat ada yang datang mencari Varka.


Sebetulnya Varka dan Helsha sudah berteman hampir 2 bulan, tapi baru kali ini Helsha berani mengunjungi Varka kerumahnya.


"Hehe iya tante, saya temennya Varka. Tapi maaf boleh gak Tante saya ngajak Varka main?" Tanya Helsha canggung


Varka langsung melirik kearah Clara dan tak lama kemudian Clara mengangguk


"Yaudah iya, sana main"


"Beneran Ma?" Tanya Varka kaget


Clara hanya menghela napas lalu mengangguk pelan


"Iya sana"


Varka tersenyum lebar, pasalnya baru kali ini Clara memberikan izin secara cuma-cuma kepada Varka. Biasanya Varka akan dimarahi terlebih dahulu atau bahkan Varka pergi diam-diam dari rumah. Karena meskipun Varka meminta izin pasti tidak pernah ditanggapi


"Makasih Tante, ayo Varka.." ucap Helsha menarik tangan Varka untuk ikut dengannya.


Clara langsung masuk begitu saja diikuti Gibran dibelakangnya tanpa menghiraukan kedua anak yang akan pergi bermain.


"Mau kemana?" Tanya Varka setelah Helsha membawanya kedepan sepeda


"Mau main sepeda sama Varka"


"Yaudah bentar aku bawa sepeda dulu"


"Ehh... Jangan..." Tahan Helsha


"Pake sepeda aku aja" lanjut Helsha


Varka mengerutkan keningnya tak mengerti


"Ihh... Varka mah, Helsha mau dibonceng lagi sama Varka heheh..." Ucap Helsha


"Huhh..." Ledek Varka sambil naik ke sepeda Helsha


Helsha hanya tersenyum senang melihat Varka yang kini sudah bersiap diatas sepedanya.


"Ayo.. malah senyum-senyum" Ucap Varka...


Saat Helsha hendak naik dibagian belakang sepedanya, dengan sigap Varka menahan lengan Helsha


"Jangan dibelakang nanti jatoh, didepan aja Sha" perintah Varka


"Pas pertama ketemu kan kamu gak suka kalau aku naik didepan, sekarang kok jadi..."


"Udah gak usah protes" potong Varka


"Iya iya.."


Helsha langsung naik kebagian depan sepeda, lalu mereka pergi bersepeda bersama. Kembali menghabiskan waktu bersama.


____


"Helsha jangan ngebut-ngebut bawanya" teriak Varka yang kali ini dibonceng oleh Helsha


"Helsha nanti jatoh... Biar aku lagi aja yang bawa sepeda nya" ucap Varka


Helsha malah terus semakin kencang membawa sepeda nya Sampai akhirnya ia berhenti ditempat pertama mereka bertemu


"Kok berhenti?" Tanya Varka setelah turun

__ADS_1


"Cape Varka..."


"Kan Varka udah bilang jangan ngebut-ngebut..." Ucap Varka lalu memakirkan Sepedanya.


"Iya iya... Yaudah sini duduk istirahat dulu" ucap Helsha menepuk tempat kosong disampingnya


Varka kemudian mendekat dan duduk disamping Helsha. Ia menatap gadis disampingnya yang sedang mengatur napas


"Makannya dibilangin tuh denger, capek kan" ucap Varka


Helsha menatap Varka dengan cemberut, kesal karena Varka terus mengomel saja


"Apa? Kenapa lihat nya kayak gitu? Gak suka aku ngomel?" Tanya Varka


"Udah ah berisik..nih minum dulu aja" ucap Helsha sembari mengeluarkan botol air yang dibawanya dari rumah


"Kamu aja Sha, kamu kayaknya cape banget" tolak Varka


"Ihh Varka minum,, aku bawa dua kok soalnya tadi bunda langsung nyiapin dua pas aku bilang mau pergi sama Varka" ucap Helsha


"Makasih ya" ucap Varka tersenyum senang.


Dibawah rindangnya pohon dan teriknya matahari, Helsha dan Varka sama-sama memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang menerpa kulit mereka. Menyejukkan sekali rasanya.


"Varka..." Panggil Helsha tiba-tiba


"Iya Helshaa?"


"Kok tadi mamah kamu kayak gak seneng gitu ya pas tau aku nyariin Varka?" Ucap Helsha sedikit sedih


"Emangnya dari dulu gak pernah ada yang ngajakin Varka main ya? Sampe-sampe mamah kamu kaget banget pas Helsha nyariin Varka" lanjut Helsha


Varka hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Helsha


"Udah aku bilang kan kalau kamu itu temen pertama aku.. aku kan gak punya temen Sha, kebanyakan yang datang kerumah itu pasti nyariin kak Gibran, makannya mamah kaget banget pas tadi kamu nyariin aku" ucap Varka terkekeh pelan


Entahlah rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dada Helsha, sakit sekali mendengar jika selama ini Varka tak mempunyai satu orang pun teman, Rasanya ngilu sekali mendengar penuturan Varka. Helsha bahkan bisa merasakan apa yang selama ini dirasakan Varka, Varka kesepian lelaki disampingnya ini sangat kesepian.


"Hmm... Kalau gitu mulai sekarang Varka jangan sedih lagi ya? Soalnya mulai dari sekarang sampai nanti kita dewasa Varka punya Helsha yang bakal nemenin Varka terus. Jadi Varka jangan sedih lagi ya?" Ucap Helsha


"Kalaupun Varka sedih, Varka gak boleh sedih sendirian! Harus ada Helsha yang nemenin Varka Waktu Varka sedih. Supaya nanti sedihnya bisa dibagi sama Helsha ya?" Lanjut Helsha


Varka menatap dalam perempuan disampingnya yang kini tengah tersenyum padanya.


Cantik...


Varka kemudian tersenyum dan mengangguk.


Helsha kemudian merogoh saku tas nya dan mengeluarkan handphone pemberian ayahnya.


"Varka ayo sini...difoto dulu" Ucap Helsha senang


"Ihh.. malu Helsha, Varka gak pernah foto-foto tau" ucap Varka menggeleng


Helsha kemudian menarik pundak Varka agar mendekat kearahnya, ia kemudian mengarahkan ponselnya supaya mereka berdua terlihat dilayar.


"Varka senyum... Satu...dua...tiga..." Ucap Helsha


"Lagi lagi ya... Satu...dua...tiga....aaaaaaa"


Lagi-lagi Helsha tertawa saat melihat hasil jepretannya yang menunjukkan wajah lucu Varka.


Helsha kemudian berdiri dan menarik tangan Varka untuk ikut berdiri.


"Varka sekarang berdiri disana... Ayo cepetan Helsha fotoin" ucap Helsha


"Nggak mau ah.."


"Sekali aja ya.." ucap Helsha memelas


"Yaudah sekali tapi ya..."


"Oke oke..."


Helsha langsung mengarahkan ponselnya untuk memotret Varka.


"Varka ganteng banget deh liat.... Hahaha" ucap Helsha saat melihat hasil jepretannya.


Varka hanya tersenyum lalu merebut ponsel Helsha


"Sekarang kamu, cepetan.."


"Ihh..."


"Cepetan Helsha.. aku fotoin nih. Yang cantik ya" ucap Varka


Helsha kemudian berdiri didepan Varka dengan senyuman diwajahnya


"Satu... Dua... Tiga..." Ucap Varka


Lalu akhirnya Varka beberapa kali memotret Helsha dengan berbagai macam pose andalan Helsha.


Setelah itu mereka beruda tertawa bersama, seolah tidak ada luka dan rasa sakit hari ini, seolah hari ini adalah hari paling bahagia untuk mereka berdua, seolah didunia ini hanya ada mereka berdua yang sangat bahagia.


Varka selalu bisa tertawa lepas saat berada didekat Helsha, entah hal apa yang bisa menyebabkan itu semua tapi pada kenyataannya Helsha adalah obat penawar untuk Varka.


Iya penawar bagi semua luka dan rasa sakit yang selalu Varka rasakan.


Varka tersenyum saat Helsha kembali berpose dihadapannya.. lucu sekali tingkah perempuan ini


Ahh, ternyata semesta masih peduli ya terhadapnya?


Varka, ia senang bisa bertemu dengan Helsha, walaupun mereka belum lama kenal namun Varka tau semua perkataan dan perlakuan Helsha terhadap nya itu sangat tulus tanpa ada paksaan dan kebohongan.


Akhir-akhir ini semesta baik padanya, semesta berhasil membuat lengkungan indah diwajahnya bertahan cukup lama.


Tidak seperti dulu, kali ini semesta benar-benar baik dalam menyembuhkan luka yang dirasakan Varka.

__ADS_1


____


"Varka pulang..." Ucap Varka memasuki rumah.


Saat Varka baru saja masuk kedalam, Varka melihat Juna yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Apa Juna marah lagi??


"Duduk!!" Ucap Juna yang berhasil membuat jantung Varka berdegup tak karuan


"Darimana?" Tanya Juna dingin


"D-dari l-lu_"


Belum sempat Varka menjawab ia sudah kembali dibentak oleh Juna


"Darimana!!! Jawab!!" Bentak Juna


"Maaf pa, Varka barusan keluar main sepeda sama temen Varka. Maaf gak bilang dulu sama papa" ucap Varka sambil menunduk


Tiba-tiba saja Juna berdiri dan menghampiri Varka dengan tatapan penuh amarah


"AWW... SAKIT PA..." Teriak Varka saat tiba-tiba saja Juna memukulnya


Ya benar, lelaki yang merupakan Papa Varka itu memukul nya dengan sangat kerasa membuat Varka berteriak kesakitan


"Siapa yang ngijinin kamu main hah!!" Bentak Juna pada Varka


"Pa...sakit ..." Ucap Varka lirih


"JAWAB!!!!" Ucap Juna sambil kembali memukul Varka


"Maaf pah, Varka cuma keluar Se.. Sebentar... Ma_maafin Varka" ucap Varka


"Halah.. kamu tuh ya makin gede makin nakal aja ya!! Mau kamu apa sih Hah!! Dasar anak gak Berguna!!"


Lagi dan lagi Juna memukul Varka tanpa ampun, membuat anak lelaki itu berteriak kesakitan.


Pukulan demi pukulan diterima oleh Varka, ia berteriak meminta ampun pada papanya agar berhenti memukulinya.


"Pa..sakit... Udah,, maafin Varka..."


"Liat tuh Kakak kamu, dia belajar seharian buat bisa banggain papah, kamu apa hah?!! Malah keluyuran gak jelas!! Mau jadi apa nanti pas gede!! Jadi gembel??!! Duit masih dari orang tua juga. Banyak tingkah banget jadi anak!!" Bentak Juna


Sakit... Sakit sekali


Varka ingin marah, ia ingin berteriak dan melawan tapi ia belum mampu. Jiwanya terlalu takut untuk melawan semua pukulan dan cacian yang dilakukan oleh Papahnya.


Varka tidak salah, sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi lagi-lagi untuk kesekian kalinya Varka diam membisu tanpa bisa melawan. Varka hanya bisa memohon ampun dengan terus berusaha bertahan dari rasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan Papahnya.


"Papa ampun... Maafin Varka pa... Varka janji gak Nakal lagi, pa sakit... Udah pa.." ucap Varka menahan tangisnya


"Awas aja kalau kamu ketahuan keluar tanpa izin lagi"


"Ta__Tapi tadi mamah udah ngijinin Pa"


Varka berusaha duduk dan melihat Clara yang memang sejak tadi berada di sana menyaksikan semua nya tanpa ada niatan melerai


"Mama... Iya kan? Mama tadi udah kasih izin Varka??" Tanya Varka


Clara hanya diam, ia benar-benar diam tanpa menjawab ucapan Varka


"Halah!!! Alasan aja kamu!. Papa gak suka ya kamu bohong!! Mau papa pukul lagi!!??" Bentak Juna


"Sekarang kamu ke kamar!! Dasar anak nakal!!" Ucap Juna sambil berlalu pergi meninggalkan Varka


Varka hanya bisa Menangis diam-diam.


Didalam kamarnya Varka hanya Meringkuk sambil terus mengusap pelan bekas pukulan papanya yang sedikit membiru.


Sakit... Ini sakit sekali....


"Varka gak pernah bohong pah.... Varka gak suka bohong..." Ucap Varka terisak sambil memeluk dirinya sendiri.


Varka menangis sendirian tanpa ada yang menemaninya..


Baru saja tadi Varka tertawa bahagia, baru saja Varka merasa jika tadi semesta sudah memihaknnya, baru saja tadi Varka merasakan jika ia adalah manusia yang paling bahagia.


Tapi mengapa lagi-lagi semesta seperti menyadarkan Varka akan kenyataan? Kenyataan bahwa dirinya tidak pernah diinginkan, dirinya yang hanya menjadi beban bagi keluarganya dan Dirinya yang ternyata tidak Pernah diinginkan oleh semesta.


Varka ingin pelukan, Varka ingin dilindungi. Tapi kenyataan apa? Apa yang ia dapat??


Bahkan tadi, saat Juna memukul dan memarahinya. Disudut ruang tamu ada Gibran dan Clara yang hanya berdiam diri tanpa ada niatan untuk melindunginya.


Salah tidak jika lagi-lagi Varka ingin Takdirnya berubah?


Salah tidak jika Varka ingin menjadi seseorang yang diharapkan oleh orang lain??


Varka kecewa, ia marah pada dirinya sendiri dan juga takdirnya


Kenapa hanya Varka?


Kenapa hanya Varka yang mendapat Takdir menyedihkan seperti ini? Kenapa??


Varka memukul dadanya berusaha menghilangkan rasa sesak yang begitu menyesakkan dadanya.


"Sakit.... Sakit sekali..." Gumam Varka ditengah isakan


Ternyata semesta suka bercanda ya??


Setelah diajak terbang tinggi semesta tiba-tiba menjatuhkan nya.


Sama seperti Varka.


Setelah tadi ia dibuat tertawa kini Varka kembali merasakan sakit yang luar biasa


"Helsha.... Varka cape..." Gumam Varka.

__ADS_1


Lalu setelah itu Varka terkulai lemas dilantai kamarnya dengan posisi yang masih meringkuk...


Memang semesta tidak pernah mengijinkan anak laki-laki ini untuk bahagia


__ADS_2