
"by? rindu Ng papa. nanti kalau ada apa-apa, hubby Langsung di hubungi. Jadi Ng usah kawatir. udah sekarang hubby kekantor. kasihan kak arka.
setelah bulan-bulan mendekati hadirnya malaikat kecil di dunia ini, El, enggan pergi barang sebentar saja. dia begitu sia dalam situasi apapun, meskipun pekerjaan dan rindu membuatnya sangat sibuk tapi sebagai seorang pemimpin dari sebuah perusahaan, El tidak bisa melalaikan tanggung jawabnya sebab itu juga adalah masa depan mereka dengan anak-anaknya kelak. dan sibuk sebagai suami, harus pintar-pintar membagi waktu, bahkan semua pekerjaan di alihkan ke rumah. agar lebih muda memantau keadaan sang istri.
mengingat kata dokter, bahwa Rindu sebentar lagi akan melahirkan. hanya tunggu hari saja. pesan dokter juga dua bulan yang lalu, rindu tidak boleh banyak fikiran dan stres. jadi untuk bisa menghindari itu semua, El standby di dekat Rindu.
"sayang, hubby Ng bisa ninggalin kalian. bagaimana kalau kamu tiba-tiba merasa sakit seperti kemarin malam?". suaminya semakin overprotektif kepada Rindu.
tentu El, sangat takut jika dirinya berada diluar tapi Rindu Langsung dilarikan keruma sakit. El, sudah meminta agar rindu mau di bawa keruma sakit untuk menunggu paca lahiran agar di saat dirinya merasa sakit, ada dokter yang langsung turun tangan. tapi pada dasarnya Rindu yang tidak suka bau obat-obatan, memilih tetap diruma hingga waktu melahirkan tiba.
rasa sakit yang tiba-tiba membuat perut Rindu bak orang yang tidak bisa bernafas dengan benar, meskipun hanya sekali. membuat El, kalangkabut. tapi itu hanya hitungan detik setelahnya semua kembali normal.
"hubby mah aneh, Disini kan ada ibu dan mama, sama dokter yang udah di siapkan. kenapa mesti kawatir coba?". rindu bisa gemas lama-lama akan kelakuan El, bak anak balita yang susah meninggalkan maknanya jika tidak di bawa ikut serta.
"hubby tahu sayang. tapi janji dulu? kalau tiba-tiba perutnya sakit, langsung kabari hubby dan kedua, Ng boleh mikir aneh-aneh kayak kemarin. hubby takut kalau otak kecil kamu ini, bikin perut kamu sakit". dengan gemas, El menangkup wajah istrinya yang cemberut. rindu sebenarny sangat takut jika El, jauh-jauh. mengingat gencarnya tikungan tajam diluar dan banyak pembelokan, yang membuatnya was-was agar tidak di lambung.
ah, memikirkan kisah suaminya dan Raina dua bulan yang lalu, membuat Rindu legah, setelah pertemuan mereka yang cukup mendramatis dan memilukan untuk pihak perempuan, sebagai perempuan, rindu juga sedih dengan kisahnya yang kandas karena warisan. lucu juga sih. tapi yang namanya meninggalkan kekasih tanpa berpamitan dan alasan yang jelas, tentu itu sebuah kesalahan yang tak patut di budidayakan.
__ADS_1
dari setiap penjelasannya yang di paksa untuk pergi dan kemudian di paksa lagi menikah setelah gelar doktor nya telah tersemaitkan dengan indah. perasaan mana yang tidak hancur? berkorban demi sang Ayah, tentu tak mudah. apa lagi harus mengorbankan Cinta. terlepas dari rasa ibah yang membuat suasana semakin canggung, El, malah asik dengan Rindu tanpa menghiraukan manusia yang telah menangis sesegukan.
entahlah, apa El, sudah tidak lagi merasakan apa-apa dengan orang lain sehingga rasanya hanya tersemaitkan kepada Rindu secara utuh ataukah memang Raina hanya angin lalu yang mengajarkan bagaimana ikhlasnya dalam menjalani hidup.
"iya by, lagipula sambungan telpon kita tidak akan pernah terputus sayang ku". akhirnya ini, rindu suka memanggil El, dengan sayang ketika sudah sangat gemas kepada suaminya atau hanya sekedar meyakinkan bahwa rindu baik-baik saja.
"ya udah, hubby berangkat ya. ma, ibu. tolong titip istri El. El tidak akan lama". tuturnya degan menyalami kedua manusia sepu di hadapannya lalu mencium pipi sang istri.
setelah El meninggalkan kediaman Wijaya, tinggallah rindu dan keluarganya.
...****************...
"El, bagaimana keadaan Rindu?". arka yang tidak lepas dari sang sepupu, memastikan keadaan sang ipar yang katanya kelahiran anak mereka tidak lama lagi.
menoleh kesamping. "dia tidak baik-baik saja. meskipun ucapanta mengatakan bahwa dia tidak apa-apa, tapi aku sebagai suami, sangat paham bahwa dia menahan sakit". jelasnya. mungkin rindu tidak berkata jujur bahwa sakitnya sangat menyiksa, tapi El, tahu dari raut wajah sang istri.
"kenapa tidak di bawa keruma sakit saja? jika sewaktu-waktu dalam keadaan genting, Rindu, bisa langsung di tangani oleh dokter. lagipula di rumah sakit, alat-alatnya lengkap". memberikan saran kepada sang sepupu, itulah yang bisa Arka katakan. diposisi El, Arka sangat paham, sebab istrinya juga dalam keadaan mengandung meskipun waktunya masih menunggu beberapa bulan untuk melahirkan. arka sebagai calon bapak, hanya bisa berdoa, semoga dua manusia yang akan berjuang melawan maut, bisa terselamatkan.
__ADS_1
"kamu tahu sendirikan? dia masih trauma dengan suasan rumah sakit yang dimana merenggut nyawa ayah mertuaku dan juga keadaanku yang sempat koma". kejadian yang menerjang keluarganya, cukup menjadi pemicu untuk mental Rindu hingga mengantarkan kepada ketakutan yang sangat besar.
tentu Arka tahu dengan cerita itu, hanya saja, dia tidak menyangka jika sangat parah. " kasihan juga Rindu, di usianya yang terbilang mudah, dia harus memaksa untuk dewasa demi keluarganya".
el, setuju dengan pernyataan Arka. bagaimanapun, istrinya terlalu dalam mengalami penderitaan hingga membawanya kepada ketakutan terbesar. tapi satu hal yang El, syukuri, Rindu sangat kuat dan bisa melawan semuanya meskipun sangat sulit
"Hamm". dengan melihat perbincangan orang yang berada di layar. "bahkan kalau bisa, Rindu hanya ingin melahirkan diruma, tapi aku tidak mungkin bisa membahayakan istriku". di satu sisi traumanya, dan di sisi lain, dua nyawa yang harus di selamatkan. tentu saja El sangat takut dengan segalah kemungkinan yang akan terjadi.
"El, bukankah itu sangat beresiko? jika harus di lakukan di rumah. apa tidak ada pilihan lain?". arka tentu kaget dengan keputusan sepupunya yang menurutnya tidak tepat. melakukan persalinan dirimu cukup akan beresiko karena peralatannya yang tidak selengkap Ruma sakit.
"lantas aku harus apa? aku dilema". ucapnya liri. untuk pertama kalinya, El sangat takut dalam hidupnya. jika di hadapannya dengan banyak pekerjaan dan musuh, El tidak pernah gentar bahkan mundur. hanya sekali gerakan, El bisa menumbangkan siapapun yang ada di hadapannya. tetapi menyangkut istri dan anaknya, El seperti orang bodoh yang tak tentu arah.
"bukanya rumah sakit memiliki aula yang jarang di gunakan dan hanya akan di jadikan pertemuan para dokter di saat ada rapat dadakan?". mendengar itu, El, Langsung m ngangkat wajahnya. "dan disana juga tidak ada bau obat serta tidak terlalu mencolok jika itu adalah rumah sakit".
"tapi itu masih lingkup rumah sakit, ka". entah ini solusi atau apa, El tidak paham namun dia masih setia mendengarkan nya, berharap ada jalan yang bisa di temukan.
"gw tau. tapi istri Lo cuman tidak suka bau obatkan? atau kalau tidak ingin di aula, kita bisa gunakan satu kamar rumah sakit yang kedap suara atau jauh dari jangkauan orang lalu lalang, sehingga nuansanya tetap seperti dirumah". dengan mata menatap layar, dan telinganya terpasang dengan baik. "kamar yang akan di gunakan Rindu, biar di ubah jadi kamar pribadi yang nuansanya seperti di rumah serta aromanya harus aroma kesukaan Rindu". pernyataan Arka cukup untuk di jadikan sebagai solusi tapi itu kurang memuaskan
__ADS_1
"ka, Rindu trauma bukan hanya aroma dan tempat, tapi juga penglihatan". dengan mengangkat alisnya, Arka menatap sang sepupu lalu tersenyum dan hal itu tentu membuat El memasang wajah datar.
"matanya ditutup El". ucapnya yang membuat El merasa bodoh dengan alur pemuasan Arka.