
Happy Reading
_____________________________
Sejatinya orang tua adalah tempat bersandar dan berteduh bagi setiap anak dimanapun mereka berada, orang tua adalah tempat dimana seorang anak bisa berkeluh kesah menceritakan hal yang mereka alami. Namun berbeda dengan bumi, lagi-lagi untuk kesekian kalinya ia tidak pernah dapat merasakan semua hal itu. Bagaimana rasanya bercerita serta berkeluh kesah pada papa dan mama nya, ia hanya bisa menyaksikan semua hal itu secara diam-diam tanpa dapat merasakannya.
Tidak dapat dipungkiri jika Varka memang sebisa mungkin selalu bersyukur dengan semua yang ia miliki saat ini. Namun tetap saja jauh dilubuk hatinya Varka juga ingin berada diposisi itu, dimana ia disayangi dan dibanggakan oleh kedua orang tuannya juga bisa menjadi anak kesayangan Mereka.
Varka kembali menghela napas saat hendak masuk kedalam rumah, pemandangan didepan matanya yang menunjukkan jika Clara yang merupakan mamahnya sedang memeluk dan mencium Gibran.
Varka langsung berbalik dan mulai menjauh dari rumah nya, ia memilih untuk pergi dari rumah daripada harus melihat kasih sayang Clara yang hanya tertuju pada Gibran
Dadanya terasa begitu sesak, langkah kaki nya juga terasa berat dan lemah. Untuk kesekian kalinya semesta menyadarkan Varka akan posisinya dirumah itu.
Apa sih yang bisa diharapkan oleh Varka? Semua hal yang ia impikan tentang sebuah kasih sayang dan perhatian pun tidak bisa ia raih. Posisi Varka terlalu rendah dilkeluarga itu, ia terlalu asing bagi semua orang yang tidak mengenal dirinya bahkan tidak menyukai keberadaannya.
Varka berjalan menyusuri jalan dengan hati yang kesepian, tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang baru saja masuk, ia langsung merogoh ponsel disakunya. Sebuah senyum langsung terpatri diwajah Varka saat membaca pesan diponselnya.
Varka langsung bergegas pergi dengan seulas senyum manis dibibir nya.
Sepanjang perjalanan Varka tidak berhenti tersenyum, entahlah tidak seperti biasanya Varka merasa sebahagia sekarang. Tentu saja Varka bahagia karena mendapat pesan dari Seseorang yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Ya betul sekali, Varka mendapat pesan dari Helsha teman pertamanya.
Langkahnya membawa Varka pada sebuah rumah bertingkat yang tidak jauh dari kompleks rumahnya juga.
Sesaat setelah sampai disana Varka tersenyum saat melihat Helsha yang sedang duduk diteras rumah.
"VARKAA...!!!!"
Teriak Helsha saat melihat keberadaan Varka dibalik pagar rumahnya, ia segera berlari kecil menghampiri Varka yang kini tersenyum padanya.
"Ayo Varka berangkat sekarang.." ucap Helsha sambil menggandeng lengan Varka
Lagi-lagi Varka hanya tersenyum melihat tingkah Helsha yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Helsha ih.. emang udah izin sama bunda Helsha?" Tanya Varka
"Udah Varka" jawab Helsha
"Emang mau kemana?" Tanya Varka kembali
"Ihh... Katanya mau nemenin Helsha beli es krim, gimana sih" ucap Helsha cemberut
Varka terkekeh saat melihat wajah Helsha yang Tiba-tiba saja cemberut
"Malah ngetawain lagi.. Varka ayo.." Rengek Helsha menarik-narik tangan Varka
"Mau jalan kaki aja nih beneran??" Tanya Varka
"Ih banyak nanya deh, Ayo berangkat aja yang penting perginya sama Varka"
"Iya iya Helsha.. Ayo beli es krim" ucap Varka
"Yeay... Gitu dong daritadi" ucap Helsha kegirangan
____
Sore itu ditepi pantai Dua orang anak yang hampir menginjak usia 16 tahun duduk bersama sambil memandang langit jingga yang Indah.
"Varka pelan-pelan makannya" ucap Helsha saat melihat wajah belepotan Varka yang terkena es krim.
"Iya iya Helsha bawel.."
"Huh.. ngeledekin Mulu" celetuk Helsha
"Biarin.. wlee..." Ejek Varka
Varka hanya tertawa melihat wajah kesal Helsha Karena ledekan nya tadi. Benar-benar menggemaskan.
"Varka emang rasa cokelat enak ya?" Tanya Helsha untuk kesekian kalinya
Varka terkekeh saat mendengar Helsha kembali menanyakan hal itu, ini sudah keberapa kalinya Helsha terus menanyakan hal tersebut
"Helsha, kamu tuh dari tadi pas kita masih ditoko nanya itu mulu. Kan Varka udah jawab dari tadi kalau rasa coklat itu enak" ucap varka
"Euueekkk.... Coklat kan pait gak enak" ucap Helsha yang hanya dibalas kekehan oleh Varka
"Enakan punya Helsha tau rasa Stroberi.. Wleee.." ucap Helsha gemas
Varka hanya tersenyum tipis. Entahlah selama beberapa hari kebelakang ini semenjak Helsha hadir dikehidupan Varka, rasanya kesedihan yang selama ini Varka rasakan menghilang entah kemana. Apalagi jika Varka melihat senyum Helsha rasanya seakan semua luka dan rasa sakit nya hilang begitu saja.
"Helsha..." Panggil Varka
"Hmm..." Jawab Helsha tanpa menoleh
"Bunda sama ayah kamu suka banding-bandingin kamu sama Kaka kamu ga?" tanya Varka
"Engga Varka, bunda sama ayah Helsha gak pernah sekalipun ngebandingin kita. Emangnya mama sama papa Varka suka ngebandingin kalian?" Tanya Helsha menatap Varka
Varka hanya tersenyum kecut sambil menganggukkan kepalanya.
"Ih kok mama sama papa Varka gitu sih," ucap Helsha yang terdengar sedikit kesal
"Varka juga gak tau Sha" ucap Varka
"Bunda pernah bilang sama Helsha, kalau kita itu gak boleh bandingin orang. Makannya Bunda sama ayah gak pernah bandingin Helsha sama Kaka. Karena kita berdua adalah dua orang yang berbeda" ucap Helsha polos
Betul sekali apa yang dikatakan Oleh Helsha, sama seperti dirinya dan Gibran yang juga berbeda. Seharusnya orang tuanya juga tidak membandingkan mereka berdua, sudah jelas mereka adalah orang yang berbeda dan memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi kenapa Varka selalu saja dibandingkan?? Bukankah terlihat sangat jelas jika mereka berdua memiliki perbedaan yang sangat jauh dalam hal apapun, entahlah bahkan Varka sendiri tidak bisa menebak alasan pastinya.
"Helsha..."
"Iya Varka.."
"Varka pengen kayak Kakak..." Ucap Varka dengan suara yang hampir tidak terdengar
Varka menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis.
"Varka juga pengen jadi jagoan nya papa kayak kak Gibran, Varka juga pengen dibanggain sama mama dan papa kayak kak Gibran.. Varka juga pengen dipeluk sama mereka kayak mereka meluk ka Gibran, tapi kenapa mamah sama papah gak bisa ngelakuin itu Ke aku??" Ucap Varka
Demi apapun, Helsha merasakan dadanya sesak saat mendengar Varka mengatakan semua hal itu. Sakit sekali rasanya melihat Laki-laki disampingnya ini rapuh seperti sekarang, apalagi saat Helsha melihat Senyum diwajah Varka yang menghilang begitu saja dan tergantikan dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Varka..." Ucap Helsha
Tak ada sautan apapun dari Varka, ia hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Helsha yang kini memanggilnya.
"Varka jangan sedih, Helsha gak suka liat Varka kayak gini. kalau Varka sedih Helsha juga ikutan sedih..."
"Sha, sekali aja aku pengen dipuji sama papa, aku pengen mama senyum sama aku, sekali aja aku pengen mereka meluk aku dan sayang sama aku.. aku gak mau apa-apa kok, aku cuma mau mereka sayang sama aku Kayak mereka sayang sama ka Gibran. Aku cuma pengen kayak anak diluaran sana yang selalu dipeluk dan dihibur sama orang tuanya.."
Varka terisak setelah menyelesaikan kalimatnya, rasanya semua yang ia rasakan meluap begitu saja dan tak bisa ia tahan lagi membuat Varka semakin menangis.
Helsha mengusap lembut pundak Varka berusaha untuk membuat Varka sedikit tenang dan bisa berhenti menangis. Sungguh Helsha merasa sakit saat melihat Varka menangis dan kehilangan senyumannya yang indah.
"Varka dengerin Helsha, kata bunda semua orang tua didunia ini pasti sayang sama anaknya. Helsha gak tau kenapa mamah sama papah Varka kayak gitu sama Varka, tapi bunda bilang kita sebagai anak gak boleh benci dan punya dendam sama orang tua kita sendiri itu gak baik." Ucap Helsha
"Varka kalau mau nangis, nangis aja. jangan ditahan ya? Keluarin aja semuanya gapapa kok Varka, Kalau ditahan nanti malah jadi sesek jadi keluarin aja ya..." Lanjut Helsha sambil terus mengusap lembut punggung Varka
"Varka udah ya jangan nangis terus... Helsha kan udah bilang kalau Varka sedih Helsha juga ikutan sedih"
__ADS_1
Varka mengangkat kepalanya menatap Helsha yang kini menatapnya.
Teduh sekali, ya tatapan Helsha begitu teduh pikir Varka
"Udah ya..." Ucap Helsha menatap Varka dengan tatapan memohon
Helsha langsung berdiri sambil menarik tangan varka untuk ikut berdiri bersamanya.
"AAAAAAAAA........" Teriak Helsha dengan keras
"Helsha ngapain teriak? Kenapa?" Tanya Varka sambil menoleh kearah Helsha
"Kata ayah Helsha kalau kita lagi sedih teriak aja.. ayo Varka ikutin Helsha teriak biar nanti sedihnya ilang" ucap Helsha tersenyum.
"AAAAAAAAA.... " Lagi Helsha kembali berteriak
Varka tersenyum lalu mengusap air matanya pelan kemudian menghela nafasnya.
"AAAAAAAA......." Teriak Varka Begitu keras
Helsha menoleh dan tersenyum saat melihat Varka meluapkan semua kekesalan dan kesakitan nya.
"VARKA ANAK BAIK, VARKA GAK BOLEH SEDIH LAGI..." Teriak Helsha
Varka sedikit tertawa saat mendengar teriakkan Helsha.
"AKHIRNYAAAAAA VARKAAAA KETAWAAAA LAGI.....IIIIIIIII" Teriak Helsha lagi membuat Varka semakin tertawa dibuatnya.
Lihat bukan? Kehadiran Helsha mampu membuat luka dan rasa sakit yang Varka rasakan hilang. Walaupun baru beberapa hari mereka kenal, tapi Varka merasa senang dan bahagia saat sedang bersama Helsha. Helsha itu manis, Senyumannya mampu membuat Varka merasakan nyaman dan tenang.
"Varka jangan sedih lagi ya? Kalau Varka sedih bilang sama Helsha, nanti Helsha bakalan usir sedihnya dan Buat Varka ketawa lagi kayak barusan"
Varka tertawa, ia gemas sekali melihat cara berbicara Helsha kepadanya
"Iya Helsha, Varka Janji gak akan sedih lagi"
"Janji?"
Varka mengangguk pelan, lalu mereka saling menautkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian.
"Coba sekarang senyum, Helsha mau liat"
Varka tersenyum, senyum tulus yang ia tunjukkan pada Helsha teman pertamanya selama ia hidup.
"Ayo pulang..." Ajak Varka
"Kok pulang? Baru juga ketemu sama Varka nya" ucap Helsha sambil kembali duduk
"Nanti Bunda nyariin kamu Sha, ini juga udah sore banget."
Helsha hanya diam sambil cemberut. Sebenarnya Helsha masih ingin bersama Varka dan menghabiskan Waktu lebih lama lagi. Ia hanya ingin memastikan Varka tidak sedih seperti tadi.
"Sha ayo..." Ajak Varka kembali.
Diam... Helsha hanya diam tanpa menoleh sedikit pun
"Helsha... Varka marah nih kalau Helsha gak mau pulang sekarang, pokoknya kalau Helsha gak mau pulang Varka gak bakal mau la___"
"Iya iya ayo pulang,, gak usah dilanjutin lagi ngomongnya Helsha gak suka" potong Helsha sambil berdiri.
___
Juna, Papa Varka marah besar saat melihat Varka sedang memunguti pecahan Kaca yang berserakan dilantai. Saat Juna mendekat ia semakin marah saat tahu ternyata barang yang pecah adalah barang kesayangannya dirumah ini. Tanpa berpikir lama Juna langsung mengambil tongkat dan memukulkan nya pada Varka tanpa ampun.
Dengan amarah yang membara Juna terus menerus memukulkan tongkat tersebut pada Varka tanpa memperdulikan perasaan anaknya
"Pa sakit... Pa..." Ucap Varka sambil meringkuk berusaha menghindari pukulan tongkat yang dilayangkan Juna
"Varka gak sengaja Pa maaf"
"DASAR ANAK NAKAL!! KURANG AJAR BANGET KAMU, ITU PAPAH BELINYA MAHAL VARKA!! BISA-BISANYA KAMU PECAHIN..."
"Varka gak sengaja pa. maafin Varka pa..."
Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh Juna tanpa ampun dan belas kasihan, bagaimanapun Varka meminta ampun pada Juna tetap saja tak didengar membuat Varka semakin merintih merasakan sakit.
"Papa... Ampun, maafin Varka... Ampun pa.."
"DASAR..AN___"
"PAPA BERHENTI...!!"
Juna menghentikan gerakannya yang hendak memukul kembali Varka saat mendengar suara Gibran yang berteriak Padanya.
Varka menatap Gibran yang kini berdiri dihadapan Juna
"Udah pa, jangan pukul Varka lagi" ucap Gibran
Gibran yang hanya terpaut satu tahun lebih tua dari varka memang sudah sedikit lebih dewasa. Ia segera menghampiri Varka dan membantunya untuk berdiri dan menyuruh Varka untuk tetap diam dibelakangnya
"Kak, jangan ikut campur" ucap Juna
"Enggak, papa gak boleh mukul Varka lagi"
"Gibran minggir..."
Gibran menggeleng lantas merentangkan tangannya seolah ia sedang membuat benteng pertahanan agar Papanya tidak lagi menyakiti Varka
"Kalau papa berani mukul Varka lagi, aku gak bakal mau bicara lagi sama papa" ucap Gibran
Juna menghela napas lalu melempar tongkatnya kesembarang arah dan pergi begitu saja meninggalkan kedua anaknya.
"Ayo ikut Kaka.." ajak Gibran
Gibran menuntun Varka untuk ikut masuk kedalam kamarnya dan membantu Varka agar duduk disalah satu kursi yang berada dikamarnya.
Sedari tadi Varka hanya diam memperhatikan Gibran, kakaknya yang selama ini terasa asing dan jauh bagi Varka tapi tadi kakaknya menghentikan amarah Juna dan melindunginya
"Mana yang sakit?" Tanya Gibran.
Varka hanya diam membisu dan masih memperhatikan Gibran yang seperti nya khawatir padanya. Gibran menghela napas lalu bangkit mengambil kotak P3K yang berada di kamarnya untuk mengobati luka sang adik.
"Sini tangannya..." Perintah Gibran
Varka mengulurkan tangannya pada Gibran, lalu dengan cepat Gibran membersihkan luka akibat pukulan tadi yang seperti nya cukup perih. Varka tersenyum saat melihat bagaimana Gibran Begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Kak..."
"Mana lagi yang sakit?" Tanya Gibran
"Kak..." Ucap Varka lagi
"Nunduk dikit, Itu keningnya berdarah Sedikit"
"Makasih kak..." Ucap Varka
Gibran menghentikan aktivitas nya dan menatap Varka yang kini tersenyum ke arahnya
__ADS_1
"Makasih kak Gibran..." Ucap Varka sekali lagi
Gibran menghela napas lalu kembali mengoleskan obat pada luka ditubuh Varka
"Iya..." Jawab Gibran pada akhirnya
Varka tersenyum, ternyata seperti ini rasanya dibela oleh Kaka? Menyenangkan pikirnya
"Kaka...." Ucap Varka lagi
"Iya.."
"Varka sayang sama kak Gibran" ucap Varka
"Makasih kak udah mau bantuin dan belain Varka tadi, mungkin kalo gak ada Kaka Varka pasti udah babak belur dan gak bisa ngapa-ngapain lagi sekarang" lanjut Varka terkekeh
Gibran menghela napas lelah, ia kadang bingung pada adiknya sendiri. Posisi Varka dirumah ini tidaklah dianggap dan malah diabaikan, bahkan Gibran juga sering mendengar Varka diam-diam menangis sendirian dikamarnya. Tapi kenapa adiknya ini masih bisa tersenyum seperti sekarang?? Apa Varka tidak lelah??
"Varka.." Panggil Gibran menatap netra kecoklatan milik Varka.
Gibran bisa melihat tatapan yang berbinar dari Mata Varka, terlihat jelas tatapan bahagia dari Varka.. hangat namun juga terlihat kesepian
"Sakit?" Tanya Gibran
"Apanya kak?"
"Dipukul papa sakit?"
"Sakit hehehe" ucap Varka
Gibran terdiam sejenak mendengar jawaban Varka.
"Yaudah jangan nakal lagi ya" ucap Gibran
"Kak.."
"Hmm..." Gumam Gibran
"Emang Varka senakal itu ya?" Tanya Varka pada Gibran
Gibran terdiam
"Varka nakal banget ya kak? Sampe mama sama papa aja benci banget sama Varka, selama ini Varka selalu nyusahin mereka ya kak? Varka gak pernah bisa banggain mereka..." Ucap Varka sendu
"Varka..."
"Varka gak pernah nakal kok kak!! Varka gak pernah ada niatan ngebuat mamah sama papah kecewa sama Varka, tapi kenapa ya mamah sama papah kayaknya benci banget sama Varka kak?" Ucap Varka sambil memainkan jari tangan nya
Varka menghela napas saat tak mendapat kan respon apapun dari Gibran, ia lalu menatap Kakanya yang kini tengah menunduk
"Kaka benci gak sama Varka?" Tanya Varka
Gibran mengangkat kepalanya menatap dalam kedua mata adiknya, ia bisa melihat banyak sekali kepedihan yang dirasakan adiknya. Entah kenapa Gibran merasa ada sesuatu yang juga ikut sakit dalam dirinya saat melihat Varka seperti ini.
"Kaka, maafin Varka ya kalau Varka gak bisa jadi adik yang baik buat Kaka" ucap Varka
Jujur saja Gibran juga tidak mengerti arti dari kata Nakal yang selalu digunakan mamah dan Papahnya saat memarahi Varka, yang ia tahu Varka adalah seorang anak yang pendiam dan penurut namun tetap saja selalu terkena amarah orang tua mereka.
"Var..."
"Kak... Varka gak suka dipukul, Varka gak suka dibentak, Varka juga gak suka dibandingin terus sama Kaka. Varka juga mau ngerasain dipeluk sama papah dan mamah kayak Kaka, disayang sama mereka kayak Kaka."
"Varka..."
"Kak boleh gak Varka meluk kakak"
Gibran terdiam sejenak lalu berdiri begitu saja
"Kamu istirahat disini aja, biar Kaka yang keluar" ucap Gibran lalu melangkahkan kakinya keluar
Varka tersenyum kecut.. lihat bahkan Gibran pun enggan untuk memeluknya.
Varka lalu memeluk lututnya seolah membayangkan dirinya sedang dipeluk oleh keluarganya
"Dasar Varka bodoh...." Gumamnya sambil tersenyum namun setetes air mata turun begitu saja membuat Varka kembali menangis.
Dan lagi lagi semesta mengingatkan Varka akan posisinya dirumah ini, jika Varka memang benar-benar tidak diinginkan.
Tanpa Varka sadari Gibran masih berdiri dibalik pintu mendengar tangisan Varka yang begitu memilukan.
Entahlah Gibran pun bingung dengan dirinya sendiri, ia kadang merasa sakit saat melihat adiknya diperlakukan seperti ini namun saat Gibran ingin melakukan sesuatu untuk Varka ada hal yang membuat Gibran tidak bisa melakukan nya.
"Maafin Kaka Varka...." Ucap Gibran lalu bergegas pergi.
____
Varka meringkuk dikamarnya setelah bisa bersusah payah berjalan keluar dari kamar kakaknya. Rasanya sekujur tubuhnya Perih sekali, Varka yakin pasti sekarang tubuhnya terdapat begitu banyak memar.
Varka mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang yang bisa membuatnya tenang kembali disaat seperti ini.
"Varkaaaaaa....." Teriak Helsha dari sebrang sana
"Keras banget sih teriak nya, kuping aku sakit tau" jawab Varka
"Hehehe... Tumben Varka nelpon ada apa?" Tanya Helsha
"Gapapa, pengen denger suara Helsha aja" ucap Varka sedikit serak
"Varka kenapa?? Kok suaranya kayak abis nangis" tanya Helsha
Dapat Varka pastikan jika Helsha saat ini pasti khawatir, terdengar sangat jelas dari cara bicara perempuan itu
"Varka... Kok diem..."
"Varka gapapa Helsha, Helsha lagi apa?"
"Kan ini Lagi telponan sama Varka"
"Oh iya lupa hehehehe..."
Obrolan yang ringan dan tak berujung, serta candaan dari Helsha yang membuat Varka sedikitnya bisa melupakan hal yang baru saja terjadi padanya. Benar-benar ajaib bukan.
"Eh Varka, Helsha dipanggil Bunda nih. Udah dulu gapapa?? Nanti Helsha kabarin lagi ya"
"Iya iya... Yaudah sana"
"Jangan marah ya Varka,, jangan sedih juga. ⁷Helsha gak suka"
"Iya bawel..."
"Ihh... Nyebelin, udah ah Helsha tutup ya"
"Sha..."
"Hmm..."
"Makasih ya udah mau jadi temen Varka, makasih Banget. Dadah..."
__ADS_1
Varka langsung mematikan telponnya, ia menatap langit-langit kamarnya. Hidup ini aneh dan rumit, ia bisa bahagia karena orang lain tapi ia juga tersakiti oleh keluarga sendiri..
Semestanya belum berpihak padanya..