LENTERA

LENTERA
Part 24


__ADS_3

Happy Reading


------------------------


"Mau minum apa?" Tanya Helsha setelah mereka kembali ke lapangan


"Apa aja"


"Yaudah, Beli di Kelas aku aja ya? Minumannya enak loh" ucap Helsha


Varka mengangguk, Helsha hendak melepaskan tautan tangan mereka tapi Varka malah semakin menggenggam erat tangannya membuat Helsha cemberut karena merasa dijahili.


"Ihh Varka mah, apa?" Tanya Helsha


"Aku mau ketemu Sama ka Gibran dulu sebentar ya, kamu beli minum aja terus tunggu disini nanti aku balik lagi"


Helsha menatap Varka khawatir, ia khawatir Gibran akan melakukan hal yang tidak-tidak atau mengeluarkan perkataan yang membuat Varka terluka


"Tenang aja, Aku yakin Kok kak Gibran gak bakal ngapa-ngapain aku" ucap Varka mengerti tatapan khawatir Helsha


"Aku temenin aja ya?" Tawar Helsha


"Gak usah, Varka bisa sendiri"


"Tapi.."


"Udah sana beli minum nya Varka haus nanti ketemu disini lagi" ucap Varka mendorong pelan tubuh Helsha untuk pergi


Helsha menatap Varka yang kini tersenyum kearahnya, perasannya benar-benar tidak tenang. Tapi melihat Varka yang menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, membuat Helsha mau tak mau berusaha berpikir positif.


Varka melangkah masuk kedalam kelas yang sudah Gibran sebutkan, Disini tidak terlalu gelap juga tidak terlalu terang, suasananya juga sepi karena para siswa memang sedang berkumpul dilapangan.


Varka bisa melihat Gibran yang saat ini berdiri membelakanginya dekat jendela.


"Kak." Panggil Varka


Gibran berbalik saat mendengar suara Varka memanggilnya, Ia menatap dengan serius kearah Varka lalu berjalan menghampirinya.


Hanya ada keheningan untuk beberapa saat membuat suasana menjadi lebih canggung diantara keduanya.


"Gue mau ngomong" ucap Gibran


"Apa?"


"Gue suka Sama Helsha"


Varka yang tadinya menatap kearah lain langsung mengalihkan pandangannya pada Gibran.


"Buat gue ya? Sebagai gantinya nanti apapun yang Lo mau bakal gue kasih, Lo mau apa? Mau kasih sayang mama sama papa? Gampang nanti gue tinggal bilang sama mereka supaya merhatiin Lo"


"Lo pikir Helsha barang kak? Seenaknya dituker gitu aja. Lucu banget sih Lo" ucap Varka sedikit kesal mendengar ucapan Gibran yang seakan merendahkan Helsha


"Gue cuma Minta Helsha sama Lo"


"Emang gak puas apa Lo? Selama ini Lo udah punya semuanya Kak, Bahkan perhatian mama sama papa aja Lo dapetin. Gue cuma punya Helsha dan sekarang Lo mau ambil juga dari gue? Gak waras Lo!!"


"Gue cuma suka sama Helsha, emang salah? Wajar dong. Gue cuma minta itu apa susahnya sih? Tinggal Lo kasih dia ke gue nanti apa yang lo mau gue kasih termasuk mama sama papah)"


"Udah gue bilang Helsha Bukan Barang Kak!!" Ucap Varka dengan intonasi tinggi


"Santai aja, gue bicara-bicara baik-baik" ucap Gibran


Varka menghela napasnya lalu menatap Gibran kembali


"Engga bisa kak, Sorry ya? Biarin gue egois kali ini. Gue gak bakal biarin Helsha pergi dari hidup gue, kalo Lo emang suka sama dia gapapa kok. Tapi gue mohon jangan ambil dia dari hidup gue"


"Lo gak sayang sama gue Varka?" Tanya Gibran


"Sayang? Sama Lo? Gue sayang banget sama Lo kak, Gue rela kok ngasih apa aja buat Lo. Asal jangan Helsha ya?"


"Varka..."


"Gue gak mau berantem sama Lo cuma gara-gara hal ini kak"


"Lo sayang banget sama Helsha? Apa kali ini gue kalah dari Lo?"


"Kak, gue cum..."


"Dengerin dulu gue ngomong!" Potong Gibran


"Varka, gue sayang sama Lo, sayang banget. Sebenarnya gue juga peduli banget sama Lo, tapi gimana ya? Gue gak bisa jelasin alasan sikap gue selama ini.."


"Varka sorry ya? Tapi gue juga sayang sama Helsha. Gue gak bisa pura-pura gak suka lagi, gue gak bisa lagi nahan perasaan Gue. Lo tau kan dari dulu gue gak suka kalah? Jadi biarin gue dapetin Helsha ya?" Ucap Gibran


"Kak, gue tau kalo Lo gak suka kalah. Bahkan Lo bakal lakuin segalanya supaya kemauan Lo tercapai, bahkan dari sejak kita masih kecil Lo selalu kayak gitu."


"Ya itu Lo tau, jadi gapapa dong kalau gue suka sama Helsha!!" Ucap Gibran yang juga sedikit menaikkan suaranya


"Gue gak nyalahin Lo kalau suka sama Helsha, Itu hak Lo Kak. Tapi kak, sadar gak sih selama ini Lo jahat banget? Setelah selama ini Lo jadi kesayangan mamah sama papah, Lo masih tega mau ngambil satu-satunya orang yang berharga buat gue? Lo sebenci apa sih kak sama gue? Sampe-sampe Lo kayak gini?"


Varka tak habis pikir dengan kakaknya, selama ini apa yang tidak didapatkan Olehnya justru kakaknya mendapatkan hal itu, selama ini siapa yang selalu mengalah? Siapa yang selalu berkorban? Siapa yang selalu merelakan? Cuma Varka saja. Kapan kakaknya itu membiarkan satu hal miliknya agar bisa Varka miliki? Bahkan kasih sayang pun Gibran tak pernah mau membaginya.


"Gue sayang sama Lo tapi gue juga sayang sama Helsha, gimana dong? Udahlah sekarang mending lo mundur aja, ya? Lo sayang kan sama gue?" Ucap Gibran


"Gue sayang sama Lo, tapi kalau buat mundur gue gak bisa kak. Rasanya udah cukup gue selalu ngalah selama ini"


"Daripada gue lepasin Helsha, lebih baik gue dibenci sama Lo yang bahkan gak pernah sekalipun nunjukin rasa sayang ke gue sebagai kakak. Udah ya kak? Please gue mohon jangan usik Kebahagiaan gue ya"


"Dasar adek gak tau diri!!"


"Apa Lo bilang?" Tanya Varka


Apakah ia tidak salah dengar, Gibran mengatakan jika dirinya tidak tahu diri? Tidakkah itu terlalu berlebihan?


"Lo gak tau diri, Gak sadar diri Lo. Lo itu gak pantes buat Helsha, dia itu cantik, pinter, dari keluarga baik-baik. Sedangkan Lo? Lomba olimpiade aja kalah!! Gak tau diri banget" ucap Gibran meremehkan


"Daritadi gue udah ngomong dan minta baik-baik sama Lo ya, dan Lo malah ngajak gue adu argumen kayak gini? Lo pikir Lo siapa? Bisa ngalahin gue emang? Gak usah jadi manusia yang ngerasa paling tersakiti"


"Kak..!!!" Bentak Varka


"Sekali lagi deh, Kasih Helsha buat Gue dan gue bakal ngasih apapun yang Lo mau. Kita sama-sama untung disini"


Varka mengepalkan tangannya menahan emosi, tidak masalah jika kakaknya itu memarahi atau mengatakan hal yang menyakitkan kepadanya. Tapi Varka tidak terima jika kakaknya ini sudah merendahkan Helsha seperti ini, Helsha itu bukan barang yang bisa ditukar seenaknya

__ADS_1


"Gue... Udah bilang sama Lo. HELSHA BUKAN BARANG!!" Teriak Varka emosi


"Dia cuma cewe biasa Varka, gak seharusnya Lo ngebela dia sampai sejauh ini. Dia itu cuma kasihan sama Lo, Dia sama aja kayak perempuan diluar sana"


"KAK..!!" Ucap Varka meraih kerah baju Gibran


Gibran tersenyum kecil,


"Helsha itu gak ada harganya!! Gue cuma suka sama dia karena dia Deket sama Lo. Gue gak suka Lo punya sesuatu yang gue gak punya" bisik Gibran


Varka hendak melayangkan pukulan kearah wajah Gibran namun sebuah suara berhasil menghentikan Varka


"Varka... Stop!!" Teriak Helsha berdiri diambang pintu.


Ya Karena terlalu lama menunggu Helsha akhirnya memutuskan untuk mencari Varka. Dan ia sama sekali tidak menyangka akan menemukan Varka dengan pemandangan yang seperti ini. Setau Helsha Varka tidak pernah semarah ini, entah apa yang dibicarakan oleh Gibran hingga membuat Varka seperti sekarang. Yang jelas Helsha yakin Gibran pasti mengatakan sesuatu yang keterlaluan.


Gibran menjauhkan wajahnya dan tersenyum lalu menatap Varka yang masih mencengkram kerahnya


"Lihat?" Ucap Gibran pelan


Helsha langsung berjalan kearah Varka, ia meraih tangan Varka yang dengan erat mencengkram kerah Gibran. Helsha bisa melihat jika Varka saat ini sedang marah.


"Udah ya, Lepasin, Varka.." ucap Helsha


Helsha memegang lembut wajah Varka agar melihat kearahnya.


"Udah ya? Lepasin? Inget dia Kakak kamu" ucap Helsha


Varka menghela napas kemudian melepaskan Cengkraman tangannya dengan kasar membuat Gibran sedikit terhuyung kebelakang. Ia tidak ingin Helsha khawatir karena pertengkaran antara dirinya dan Gibran.


Jika bukan karena Helsha, Varka pasti sudah memukul Kakanya ini dengan keras. Ia menatap tajam kearah Gibran yang kini malah tersenyum remeh kearahnya.


Apakah orang seperti itu layak disebut kakak? Pantaskah seorang Kaka bersikap seperti ini? Bukankah seharusnya seorang kakak itu menyayangi adiknya?


"Ayo kita pergi aja ya" ucap Helsha memegang tangan Varka


Saat Helsha dan Varka hendak pergi, Gibran dengan lancang menahan tangan Helsha yang satunya lagi. Membuat langkah Helsha terhenti begitupun dengan Varka.


"KAK..!!" Bentak Varka karena Helsha hampir terjatuh akibat Gibran yang menahan lengannya


"Gue mau ngomong sama Helsha, jadi Lo diem aja"


"Gak usah pegang-pegang bisa kan" ucap Varka melepaskan tangan Gibran dari tangan Helsha


Gibran kini beralih menatap Helsha. Ia lalu sedikit mendekat kearah perempuan itu.


"Sha mumpung kamu juga ada disini aku mau ngomong, sejak pertama aku liat kamu gabung sama OSIS aku udah tertarik sama kamu. Aku gak akan bertele-tele, Aku suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?" Ucap Gibran yang berhasil membuat Helsha terkejut


Berbeda dengan Varka yang hanya menundukkan kepalanya lalu berjalan mundur, Ia tak ingin mendengar jawaban dari Helsha yang mungkin saja menyakitkan untuknya. Rasa takut akan kehilangan Helsha kembali hadir ketika dengan beraninya Gibran menyatakan perasaannya, Varka saja belum seberani itu. Walaupun jauh dilubuk hatinya ia begitu mencintai dan menyayangi Helsha.


"Hah? Maksudnya?" Tanya Helsha masih kaget


"Kaget ya? Maaf ya, aku mendadak banget bicara kayak gini. Tapi aku serius suka sama kamu. Mau ya jadi pacar aku?" Tanya Gibran sekali lagi


Helsha melihat kearah Varka yang kini berdiri diambang pintu membelakanginya, Helsha tau lelaki itu sengaja menjauh. Helsha menarik napas Kemudian menatap Gibran.


"Gimana ya kak, Tapi Saya gak suka sama Kakak Helsha sukanya sama adik Kakak Varka. Kakak lebih baik cari perempuan lain aja, ya? Saya juga gak secantik dan sepintar itu buat bersanding sama seorang ketua OSIS kayak kakak. Maaf ya kak" ucap Helsha


"Kenapa ya? Saya juga gak tau kenapa saya gak suka sama Kaka, kakak gak kurang apa-apa kok, Kaka itu orang yang hebat. Kalau Kaka tanya kenapa saya lebih milih Varka? Saya juga gak tau kenapa saya milih Varka. Tapi satu hal yang saya tau kak, Varka itu adalah laki-laki yang paling manis yang pernah saya kenal, Saya sayang sama dia Kak. Bukannya cinta yang tulus itu gak perlu alasan kak?" Jelas Helsha


"Helsha, saya lebih baik daripada Varka!" Ucap Gibran dengan suara yang sedikit tinggi membuat Varka langsung berbalik saat mendengarnya


"Tapi maaf kak, saya tetep gak suka sama kakak. Mau sebaik apapun Kaka dibanding Varka, saya tetep sayangnya sama Varka. Saya sesayang itu sama Varka kak, Maaf kalau Kaka tersinggung sama ucapan Helsha."


"Oh iya, satu lagi kak. Jangan jadi egois ya kak? Helsha tau Kaka orang baik, jadi tolong jangan hancurin Kebahagiaan orang lain ya? Apalagi Kebahagiaan adik Kaka sendiri, Helsha permisi kak"


Helsha langsung berjalan menghampiri Varka dan menggenggam tangan lelaki itu. Keduanya saling melempar senyum satu sama lain lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Gibran sendirian.


Gibran masih berdiri disana, Inikah akhirnya? Akhirnya ia kalah? Dengan semua hal yang selalu ia menangkan kenapa hal ini tidak bisa ia menangkan? Apa yang kurang darinya?


"Kenapa harus Varka yang lebih dulu bertemu dengan kamu Sha, kenapa gak aku" gumam Gibran.


Soal perasaan nya terhadap Helsha itu benar-benar murni dan tulus. Tidak ada setitik nodapun dalam Perasaannya untuk Helsha, tapi kenapa justru Perasaannya tak terbalas?


____


"Gak mau mampir dulu?" Tanya Helsha


"Engga deh, bilangin sama bunda maaf gak mampir. Besok aja aku main kesini lagi"


"Yaudah gapapa, Kamu hati-hati pulangnya ya. Jangan emosi lagi kalau ketemu kak Gibran"


"Iya, makasih juga udah nganter aku beli makanan kesukaan papah. Kira-kira papah bakalan terima gak ya?"


"Pasti diterima Varka. Helsha yakin"


"Semoga ya, yaudah aku pulang dulu ya. Kamu masuk terus langsung tidur istirahat, makasih buat tadi ya Sha"


"Iya, sama-sama. Hati-hati Varka"


"Iya"


___


Gibran berjalan gontai masuk kedalam rumahnya, ia masih tidak habis pikir dengan kejadian disekolah tadi. Rasanya ada sesuatu didalam dirinya yang Begitu sakit, penolakan dari Helsha merupakan hal pertama dalam hidupnya. Sakit sekali, Apakah selama ini Varka juga merasa seperti ini? Apakah ini sedikit balasan untuknya?


"Kamu kenapa Kak?" Tanya Clara saat melihat Gibran berjalan dengan lemas menghampirinya


"Mama Rasanya Sakit Banget" ucap Gibran setelah duduk disamping Clara


Clara mengusap lembut kepala Gibran, ia tidak tahu hal buruk apa yang menimpa anak kesayangannya ini.


"Kenapa sayang? Kamu kenapa? Apanya yang sakit?"


"Mamah, Gibran suka sama Helsha. Apa itu salah ya?" Tanya Gibran


"Helsha? Temen Varka?"


Gibran menganggukkan kepalanya


"Loh engga salah dong sayang"


"Mama, Gibran kurang apalagi sih? Apa yang kurang dari diri Gibran?"

__ADS_1


"Engga ada sayang, Kamu adalah anak yang paling sempurna buat Mama"


"Tapi Helsha gak suka sama Gibran, dia sukanya sama Varka. Dia nolak gibran mah, Rasanya sakit bangett..." Lirih Gibran menundukkan kepalanya


Clara sedikit terkejut mendengar penuturan Gibran, jadi anak kesayangannya sedih karena ditolak oleh Helsha dengan alasan lebih menyukai Varka? Pasti Varka yang telah menghasut Helsha pikir Clara


"Udah ya jangan sedih lagi, nanti mama bicara sama Varka supaya mau relain Helsha buat kamu" ucap Clara


"Loh Kaka kenapa? Kok murung gitu?" Ucap Juna yang baru saja keluar dari kamar


"Ini tuh gara-gara anak yang gak berguna itu, gara-gara dia Gibran ditolak cintanya" ucap Clara


"Varka?" Tanya Juna


"Iya, bisa-bisanya dia bikin kakaknya sedih kayak gini Jun" ucap Clara


"Jadi ini semua salah Varka?" Tanya Juna kembali


"Ya iyalah, aku yakin dia pasti ngomong yang engga engga tentang Gibran sama Helsha"


Juna menghela napas panjang Kemudian menatap Clara.


"Udah deh Clara, cukup berpikiran buruk terus soal Varka. Anak itu gak sejahat yang kamu pikir, dia anak baik" ucap Juna muak dengan semua hal


Ia sudah muak selalu menjadi budak dari Clara, gara-gara Clara juga dia tidak bisa menunjukkan kasih sayangnya.


"Kamu kenapa belain dia sih Jun? Ini semua juga salah kamu!! Kamu yang maksa aku buat ngelahirin anak itu" Bentak Clara


"Ayolah kita harus belajar Nerima dia, gimanapun dia anak kamu Clara. Darah daging kita, sampai kapan kita mau kayak gini" bujuk Juna


"Tapi cuma kamu yang pengen dia lahir, dari awal aku selalu nolak buat lahirin dia Jun. Sekarang liat Gibran jadi menderita kayak gini!! Dia itu gak berguna sama sekali dan malah bikin Carrier ku hancur"


Tanpa mereka semua sadari dibalik tembok, ada seorang anak yang mendengar semua ucapan dengan hati yang begitu sakit. Rasanya dunianya hancur sehancur hancurnya.


"Udah aku bilang dari awal kan Jun, Harusnya Varka gak lahir!! Harusnya anak itu gak ada!!" Ucap Clara


"Aku tau, Emang salah aku yang maksa kamu buat lahirin dia... Ta.."


Perkataan Juna terhenti saat melihat Varka berjalan kearah mereka Dengan senyum diwajahnya. Gibran yang ada disana juga terkejut karena melihat kehadiran Varka, apakah adiknya mendengar semua hal yang diucapkan oleh kedua orang tuanya? Sedangkan Clara hanya melihat dengan malas kearah Varka.


Varka terkekeh dihadapan Juna dan Clara, rasanya begitu sakit saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut mereka tadi.


"Hahaha.. ternyata selama ini Varka adalah anak yang nggak diinginkan ya? Pantes aja kalian selalu memperlakukan Varka dengan berbeda. Varka kira, selama ini kalian bedain aku sama kak Gibran cuma gara-gara aku gak sepinter dan gak sehebat kakak. Ternyata alasan sebenarnya karena ini? Karena kalian gak mau punya anak lagi?" Tanya Varka


"Ma Pa kalau emang dulu kalian gak mau punya anak lagi, kenapa mamah malah lahirin aku? Kenapa mamah gak sekalian aja gugurin aku? Kenapa!!!" lanjut Varka


"Varka, apa sih maksud kamu? Gak jelas!" Ucap Clara


"Iya Varka, Lo kenapa sih?" Ucap Gibran


"Varka kenapa ngomong gitu?" Tanya Juna


Tiga orang itu sama-sama berusaha menutupi apa yang telah mereka ucapkan tadi, mereka seolah tidak ingin tahu jika sebenarnya Varka mendengar hal itu. Miris sekali.


"Maaf Tadi Varka gak sengaja denger pembicaraan mama sama papa. Mama sama papa sebenci itu ya sama Varka? Mama juga terpaksa lahirin Varka? Maaf ya Ma kalau selama ini Varka udah jadi beban buat mamah. Maaf juga karena Varka harus lahir di keluarga ini, anak Mama sama papa harusnya ka Gibran aja kan? Harusnya Varka gak hadir dan ngehancurin kebahagiaan kalian, maaf ya ma. Kalau aja Varka bisa milih, mungkin Varka juga bakal nolak buat lahir dari rahim mama" tutur Varka.


"Varka bukan begitu, kamu salah paham nak" ucap Juna berusaha menjelaskan


"Papa, gak ada yang salah paham kok disini, semuanya udah jelas buat Varka. Tadi mamah bilang kalo seharusnya dulu Varka gak lahir, seharusnya Varka gak ada disini. Ah rasanya sakit banget ternyata" ucap Varka


"Varka..." Ucap Gibran hendak menjelaskan juga


"Ternyata gini ya rasanya jadi seorang anak yang gak pernah diinginkan. Kalo kalian emang gak suka sama kehadiran Varka gapapa kok, kalo gitu Varka bakalan pergi dari rumah ini aja. Gapapa mamah hapus aja nama Varka dari keluarga ini, Varka gapapa kok Mah"


"Varka jangan bilang gitu Nak..." Ucap Juna


Tapi Varka hanya tersenyum kearah Juna lalu menatap Clara yang bahkan sejak tadi hanya diam.


"Mama tau gak? Sebenarnya Varka cuma pengen ngerasain dipeluk sama mama kayak mama meluk ka Gibran. Mama selalu bilang sama kak Gibran kan kalau anak laki-laki itu harus kuat, gak boleh nangis, iya kan mah? Sekarang Varka akan lakuin semua kata mamah. Tenang aja mah, Varka bakalan jadi anak yang kuat dan gak cengeng kok"


Varka berjalan mendekat kearah Clara dan berdiri dihadapan perempuan itu. Varka tersenyum dan memandangi lama wajah yang bahkan selalu ia rindukan.


"Mama makasih ya udah lahirin Varka walaupun sebenarnya mamah gak mau lahirin aku. Aku tetep mau berterimakasih karena mamah udah ngerawat dan ngebesarin aku. Maaf ya kalau selama ini Varka cuma bisa jadi beban buat mama, emang mungkin harusnya varka gak ada"


"Ma, Varka sayang Banget sama Mama maaf ya kalau selama ini Varka nakal dan gak pernah bisa banggain mama. Mama sehat-sehat disini ya jangan sampe sakit"


Varka menghela napas lalu berjalan mendekati Juna yang kini menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan


"Papa, ini gitarnya Varka kembaliin ya sama tadi Varka beliin makanan kesukaan papa dimakan ya Pah."


"Varka... Jangan kayak gini Nak"


"Papa kalau boleh jujur Varka sayang banget sama papa tapi sayang banget papa gak sayang sama Varka. Papa apa bener seharusnya Varka gak ada disini ya? Maaf ya Pa. Tapi apapun itu varka tetep sayang sama papah kok dan makasih Karena papa udah ngasih nama yang bagus ke Varka"


"Papa tau gak? Kalo dari dulu Varka selalu pengen jadi anak laki-laki jagoannya papah. Papa selalu bilang ke kak Gibran kalau ka Gibran itu anak jagoannya papa, Boleh gak sih Pa Varka minta papa ngomong kayak gitu sama Varka? Tapi kayaknya gak bisa ya?" Ucap Varka melihat Juna yang hanya terdiam


Varka melangkahkan kakinya menjauh dari mereka semua.


"Varka pamit ya Ma, Pa, Kak. Mungkin emang rumah Varka bukan Disini. Papa makasih karena akhir-akhir udah baik sama varka, buat mama makasih udah ngasih kehidupan buat Varka. Tenang aja Varka gak bakal gangguin kalian lagi Kok, Varka pamit"


Setelah mengatakan semua itu Varka berjalan keluar rumah tanpa menoleh sedikitpun, tekadnya sudah bulat untuk pergi dari rumahnya. Tidak ada yang menginginkan kehadiran nya disini, mereka semua tidak menginginkan Varka untuk hadir. Rasanya memang sakit, sakit sekali disaat ternyata memang tidak pernah ada satu orangpun yang mengharapkan kehadiran Varka.


Belum sempat Varka membuka gerbang tangannya kembali ditahan oleh Gibran.


"Varka, Lo mau kemana?" Tanya Gibran


"Gue mau pergi aja dari rumah kak, toh seharusnya Gue gak lahir kan"


"Varka please, Mama pasti cuma lagi banyak pikiran aja makannya bilang kayak gitu. Ayo masuk" ajak Gibran


"Engga kak, Udah ya pokoknya Kaka harus jaga mamah sama papah. Mereka sayang banget sama Lo kak jadi gue harap Lo gak ngecewain mereka ya"


"Varka... Jangan kayak anak kecil deh"


"Rasanya sakit banget Kak, Lo mungkin gak tau rasanya Gimana tapi gue harap Lo gak bakal ngerasain hal ini, udah cukup gue aja yang ngerasain sakit kayak gini. Tenang aja kak, gue gak bakal ngerepotin Lo lagi kok, gue bakal bener-bener pergi dari kehidupan Kalian"


"Varka gue tau Lo Ngerasa sakit banget, tapi Please kalau Lo cape jangan kayak gini. Lo harusnya istirahat aja Varka" ucap Gibran


"Istirahat ya Kak? Iya gue bakal istirahat Kok kak kalau emang itu yang Lo mau. Gue pamit ya jaga mamah sama Papah" ucap Varka kemudian benar-benar pergi dari rumah itu.


Setiap anak pasti memiliki rasa sakit mereka sendiri, Namun rasa sakit yang paling menyakitkan adalah fakta jika ternyata kehadiran mereka tidak pernah diharapkan oleh kedua orang tuanya. Lalu salah siapa hal ini terjadi? Bahkan seorang anak tak pernah meminta untuk dilahirkan. Terkadang orang yang sering menyakiti kita adalah orang terdekat kita sendiri.


Varka sendiri hanyalah seorang anak yang ingin dianggap ada, kehadiran nya diakui, segala sesuatu tentang dirinya diketahui. Tapi kenyataannya yang ia dapat justru Begitu menyakitkan. Anak mana yang tidak merasakan sakit saat tahu jika ternyata dirinya tidak pernah diinginkan kehadirannya.

__ADS_1


__ADS_2