
Nathan dan teman-temannya yaitu Eza, Reyhan dan Tama kini sedang berkumpul ditempat mereka biasa berlatih Band.
Ya mereka adalah anak Band sekolah, sebenarnya band ini didirikan juga karena inisiatif mereka. Lumayan kan jika sudah ada yang menyuruh mereka untuk tampil mengisi acara.
"Udah dibales Belum Za?" Tanya Nathan
"Belum, yang bales malah orang lain nih. Katanya lagi sakit"
"Kalian berdua ngomongin siapa sih?" Tanya Tama yang sibuk membenarkan kunci gitarnya
"Ada deh, ntar mau gue ajak gabung band kita" jawab Nathan
"Tapi anaknya juga belum ngebales lagi" keluh Eza
"Yaudah lah kita tunggu aja, gue yakin nanti juga ada ngebales. Ntar gue deh yang chat dia"
"Nah iya tuh, Lo kan sekelas sama dia masa gak dibales"
Nathan hanya mengangguk mengerti, ya memang dia sekelas tapi kan mereka tidak terlalu akrab.
___
Varka terbangun saat mendengar alarm dikamar Helsha berbunyi, Varka mengerjapkan matanya lalu duduk sambil mengucek matanya yang sedikit perih. Ia melihat kearah meja belajar dimana terdapat Helsha yang tertidur dengan posisi duduk dikursi dan kepala diatas meja. Varka menghela napas, pasti perempuan itu menjaganya semalaman padahal hari ini Helsha harus Sekolah.
Lagi-lagi Varka merasa beruntung karena Helsha telah hadir di hidupnya. Perempuan yang selalu berusaha membuat nya tersenyum dan memastikan jika Varka baik-baik saja. Jika kemarin Helsha tidak datang mungkin Varka sudah tidak ada di dunia ini lagi, dan dengan bodohnya Varka malah berpikir untuk menyerah padahal selama ini selalu ada Helsha yang memintanya bertahan.
Varka berjalan kearah Helsha kemudian mengelus lembut kepala Helsha, Perempuan ini amat berharga untuk Varka bahkan lebih dari dirinya sendiri. Terimakasih semesta, walaupun hanya luka yang sering diberikan pada Varka setidaknya semesta memberikan Helsha untuk Varka.
Helsha menggeliat perlahan kemudian membuka matanya. Helsha tersenyum Karena Begitu membuka mata yang ia lihat Adalah Varka yang tersenyum didepannya.
"Semaleman tidur kayak gini?" Tanya Varka
Helsha hanya mengangguk sambil terus menatap Varka yang kini sibuk mengelus rambutnya, rasanya begitu nyaman sekali ketika Varka mengelus rambutnya
"Maaf ya, Varka ngerepotin kamu"
Helsha menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Sekolah kan?" Tanya varka
Lagi-lagi Helsha hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Helsha masih ingin menikmati pemandangan wajah Varka yang begitu indah dihadapannya
"Kenapa sih? Ada yang salah ya sama wajah aku?"
"Engga ada, Suka aja liatin wajah Varka. Candu banget" ucap Helsha tersenyum
"Ganteng ya?"
"Ganteng, apalagi kalau senyum. Tapi lebih ganteng lagi kalau Varka nya udah sehat jadi gak keliatan pucet nya"
"Besok juga pasti sembuh, apalagi obatnya ada didepan aku" ucap Varka
Helsha berdiri kemudian langsung memeluk Varka erat, Helsha masih sangat khawatir dan takut. Varka mungkin memang tersenyum kearahnya sekarang tapi kita tidak tahu apa yang ada dipikiran laki-laki ini.
"Kenapa Hm?" Tanya Varka
"Jangan kayak kemaren lagi ya? Helsha beneran takut Varka kenapa-kenapa"
"Iya, maafin Varka ya karena udah berpikir untuk menyerah"
Helsha merenggangkan pelukannya tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang varka. Helsha menatap kedua mata Varka dalam
"Maaf ya karena Helsha masih belum bisa bikin Varka bahagia.. maaf"
"Jangan bilang gitu, Kamu itu anugerah paling indah dalam hidup aku Sha. Dengan hadirnya kamu disisi aku itu udah bikin aku bahagia banget. Jadi jangan minta maaf ya?"
"Sekarang mending siap-siap sekolah dulu. Tadi kayaknya bunda udah kesini deh tapi kamu masih tidur"
"Ihh Helsha pengennya dirumah aja sama Varka, tapi ada ulangan matematika hari ini. Nyebelin" ucap Helsha cemberut
"Sekolah lebih penting daripada aku, aku kan udah mendingan"
"Yaudah aku siap-siap dulu ya? Nanti kesini lagi" ucap Helsha sambil melepaskan pelukannya pada Varka
"Ini kan kamar kamu..."
"Ya masa aku siap-siap nya disini... Ihh Varka mah ya"
Varka hanya terkekeh melihat reaksi Helsha yang malu-malu karena ucapannya. Sedangkan Helsha langsung keluar dari kamar dengan semburat merah di pipinya.
Untuk sesaat Varka melihat-lihat kamar Helsha, terlihat begitu rapi dan tertata. Perpaduan warna antara pink dan putih membuat kamar ini terkesan Begitu feminim.
Varka berhenti didepan lemari pakaian Helsha, tangannya terulur mengusap sebuah foto yang tertempel disana. Itu adalah foto dirinya dan Helsha yang diambil beberapa waktu lalu, kapan perempuan ini mencetak fotonya? Begitu berarti kah dirinya bagi Helsha?
Varka tersadar dari lamunannya saat ponsel miliknya yang berada diatas meja belajar Helsha berdering. Ah benar juga sejak kemarin ia tidak melihat atau memegang ponselnya. Varka berjalan untuk mengambil ponselnya dan sedikit terkejut saat melihat siapa yang menelpon
Untuk apalagi kakak nya menelpon? Belum cukup kah rasa sakit yang diberikan kakak nya itu?. Dengan terpaksa Varka mengangkat telpon itu
"Gimana? Enak ya pura-pura jadi anak yang tersakiti? Enak ya bisa tidur bareng Helsha.. murahan Lo" ucap Gibran langsung
"Maksud Lo apa sih kak? Tiba-tiba nelpon gue dan bilang kayak gitu"
"Gak usah so polos Lo"
"Pertama gue emang sakit, kedua gue gak pura-pura, ketiga gue gak murahan, keempat Lo sirik kak?" Tanya Varka
"Lah ngapain gue sirik sama anak lemah kayak Lo" remeh Gibran
"Kak please, Gue cape kak, cape banget. Bisa gak berhenti buat nyakitin gue?" Ucap Varka
Ia sudah lelah dengan semua hal ini, baru saja tadi Varka berusaha untuk melupakan masalahnya sekarang Gibran malah seperti sengaja kembali menyakitinya
"Gue gak ngapa-ngapain, lebay Banget sih Lo."
"Gue masih sabar ya kak selama ini. Jadi tolong ya kak berhenti jadi jahat, gue ini adek Lo dan gue sayang sama Lo"
"Hahaha Tai Lo.. iya Lo emang sayang sama gue, tapi gue gak sayang sama Lo, Gimana dong? Mamah sama papah juga gak sayang sama Lo, kasian banget hidup Lo"
"Terserah deh kak, gue capek. Benci aja gue sepuas Lo, tunggu aja dunia pasti akan berbalik nyakitin Lo suatu saat nanti" ucap Varka langsung mematikan telponnya
Ternyata keputusan untuk mengangkat telpon dari kakaknya adalah hal yang salah. Varka pikir setidaknya Gibran akan menanyakan kabar atau kondisinya tapi itu Adalah hal yang mustahil, seharusnya Varka sadar akan hal itu.
Varka terduduk lalu mengusap kasar wajahnya, Ada rasa sesak yang kembali menyeruak kedalam hatinya. Beberapa kali Varka menghela napasnya untuk sekedar meluapkan rasa lelahnya. Ia lelah, lelah sekali.
_
Helsha membuka pintu kamar dengan membawa nampan yang berisi dua piring makanan untuk keduanya sarapan.
"Varka.. sarapan dulu yuk__" ucap Helsha
Varka menoleh kearah helsha yang sedang menaruh nampan diatas nakas. Wajah Helsha langsung berubah khawatir saat melihat kearah Varka membuat Varka sedikit mengernyitkan dahinya.
"Varka..." Ucap Helsha langsung mengambil beberapa tisu dari dalam laci
Helsha menghampiri Varka dan langsung menempelkan beberapa lembar tisu ke hidung Varka. Varka langsung menengadahkan kepalanya, ia baru sadar jika hidungnya kembali mengeluarkan darah.
Sebenarnya bukan hal yang aneh lagi bagi Varka, ia sudah sering mimisan seperti ini. Tapi Varka tidak menyangka ia akan mimisan saat sedang bersama Helsha.
__ADS_1
Varka memegang tangan Helsha lalu menurunkan dari wajahnya.
"Gapapa Sha.. gak usah panik ya?" Ucap Varka menatap lembut Helsha
"Gimana aku gak panik, kamu mimisan kayak gini" ucap Helsha
"Udah gapapa, sebentar lagi juga berhenti kok. Varka cuma kecapean"
"Ini bukan kali pertama Helsha liat Varka mimisan kayak gini Loh. Varka sering mimisan?" Tanya Helsha
"Engga kok, engga sering Sha" ucap Varka cepat tidak ingin membuat Helsha semakin curiga
"Helsha jadi makin khawatir ninggalin Varka sendirian. Helsha gak usah sekolah aja ya? Boleh ya?" Ucap Helsha
Bagaimana bisa Helsha meninggalkan Varka dalam kondisi seperti ini, apalagi setelah mimisan, Varka terlihat lebih pucat dan seperti menahan sakit.
"Ihh...gak boleh gitu, Kan disini ada Bunda jadi gak usah khawatir. Katanya ada ulangan juga"
"Tapi..."
"Udah ah sekarang sarapan nanti telat berangkat nya. Liat udah gak mimisan lagi kan" potong Varka
Helsha menatap sendu Varka, kenapa Varka selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
"Gapapa Sha, percaya ya? Ayo sarapan" ucap Varka
"Iya.."
____
"Sha... Ada yang nyariin.." ucap teman sekelas Helsha
Pagi-pagi seperti ini? Siapa?
Helsha akhirnya berjalan keluar kelas untuk menemui seseorang yang katanya mencari dirinya
Helsha memutar bola matanya malas saat melihat siapa yang sekarang berada dihadapannya.
"Sha.." ucap Gibran
Helsha tidak mungkin meninggalkan Gibran begitu saja, apalagi saat ini banyak siswa yang lewat dan teman-teman kelasnya juga masih banyak yang nongkrong didepan kelas
"Apa sih kak?"
"Tolong jangan blokir nomor aku ya? Buka ya?"
"Udah deh kak, aku gak mau ada hubungan apapun lagi sama Kaka"
"Aku minta maaf sama kamu kalau kata-kata aku ke Varka udah berlebihan dan nyakitin dia, aku cuma emosi. Maaf ya? Please"
Helsha menatap Gibran tak mengerti, kenapa malah minta maaf padanya? Yang Gibran sakiti kan Varka? Kenapa malah minta maaf padanya?
"Yang kakak sakitin itu Varka bukan aku. Kenapa minta maafnya sama aku, kalau emang kakak ngerasa bersalah sama Varka minta maaf sama dia"
"Oke aku bakalan minta maaf sama Varka, tapi kamu jangan blok nomor aku ya."
"Kalau Kaka minta maaf sama Varka cuma supaya aku gak marah lagi, itu percuma kak. Mau Kaka minta maaf sama Varka kayak gimanapun aku tetep benci sama Kaka"
"Sha.."
"Udah ya Kak, aku gak mau anak-anak kelas jadi ngomongin yang aneh-aneh" ucap Helsha langsung pergi
Gibran terdiam, kesal sekali melihat perilaku Helsha yang jadi begitu menghindar. Apalagi tatapan perempuan itu menyiratkan sekali kebencian padanya.
"Gara-gara Lo Varka.." gumam Gibran
_
"Woy.. woy... Orangnya nelpon" teriak Eza heboh pada yang lainnya
"Ae lah gak usah pukul pukul juga kali" teriak Reyhan yang tak abis pikir Karena Eza memukulnya
"Hahahh.. sorry Han.." ucap Eza cengengesan
"Siapa? Si Varka bukan" Tanya Nathan
"Varka? Iya nih anaknya nelpon. Kayaknya penasaran deh, karena kemaren gue ancem dia kalau gak nelpon bakal gue bunuh.."
"Busettt... Anceman loh so iye" celetuk Tama
"Yaudah angkat lah Za" perintah Nathan
"Oke oke"
Eza langsung menggeser tombol hijau di hpnya agar tersambung pada varka, tidak lupa ia juga menekan Tombol loud speaker agar yang lainnya juga bisa mendengar obrolan mereka.
"Hallo, Sorry siapa ya? Ini gue Varka" ucap Varka
"Beneran Varka?" Tanya Eza
"Iya beneran..." ucap Varka
"Busett beneran cuy.." teriak Tama
"Iya,, beneran katanya" ucap Reyhan tak mau kalah
"Lo siapa ya?" Tanya Varka
"Varka kan? Bener? Adeknya Gibran" Tanya Eza sekali lagi memastikan
Eza mengetahui hal mengejutkan itu dari Nathan yang mengatakan jika Gibran dan Varka sebenarnya sodara. Itu adalah hal yang sama sekali tidak diketahui oleh siapapun di sekolah ini.
"Iya bener. Maksud Lo apa ngancem mau bunuh gue?" Tanya Varka
"Galak bener Bro, soory gue kemaren cuma ngetes aja. Takutnya salah nomor"
"Ya terus Lo siapa?"
"Kenalin gue Eza"
"Gue Tama"
"Gue Rayhan"
"Masa gak kenal sama gue, Nathan Varka"
"Eza? Tama? Rayhan? Siapa sih gue gak kenal. Kalau yang bilang Nathan itu Nathan yang sekelas sama gue?" Tanya Varka karena begitu banyak orang yang memperkenalkan dirinya masing-masing
"Iya gue Nathan... Masa lupa sama temen sekelas"
"Kalau gue Eza, kelas IPA 1 seangkatan sama Lo juga. Yang lainnya nanti aja lah kalau ketemu" ucap Eza mencegah Tama dan Rayhan yang sudah bersiap untuk memperkenalkan diri mereka lebih lanjut
"Terus? Tujuannya apa ngechat gue?"
"Gini, gue mau ngajakin Lo"
"Ngajakin apa?"
__ADS_1
"Gabung band Varka. Soalnya kemaren gue liat pas acara tahunan suara Lo bagus, bisalah jadi vokalis. Mau gak?" Tanya Nathan
"Ahh becanda lo mah Than.. "
"Astagfirullah siapa yang bercanda bro,, serius ini mah" celetuk Tama
"Gimana mau join gak? Suara Lo bagus tau" ucap Rayhan menambahkan
"Ahh gue masih gak percaya... Tapi gue pikirin dulu deh tawarannya"
"Yaudah dipikirin aja dulu bro tapi jangan lama-lama. Nanti langsung kabarin ke Nathan aja ya, kalian kan sekelas" ucap eza
"Oke..."
Tut...Tut...
"Wahh... Dimatiin gitu aja, kaku banget ni anak" ucap Eza yang tak percaya jika telepon dimatikan begitu saja
Sementara Nathan hanya tertawa melihat reaksi Eza yang menurutnya berlebihan, Nathan tidak terlalu terkejut dengan sikap Varka karena ya memang Varka seperti itu. Bahkan pada teman-teman sekelasnya.
"Kayaknya tuh anak gak punya temen ya" tanya Tama
"Ya emang, dikelas aja dia sendiri terus. Gue sih sering liat dia sama cewe yang anak OSIS itu loh..."
Ketiganya hanya ber oh ria menanggapi ucapan Nathan.
"Eh tapi, beneran dia adeknya Gibran?" Tanya Eza
"Eh yang bener Lo.. kata siapa?" Tanya Tama
"Noh si Nathan" tunjuk Eza pada Nathan
Nathan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Wahh... Gila bener gue baru tahu cuy, berita besar nih" celetuk Raihan
"Jangan bilang sama yang Laen, bisa berabe ntar" ucap Nathan mengingatkan teman-temannya.
Nathan sebenarnya juga tidak mengerti kenapa banyak sekali orang yang tidak mengetahui hubungan Varka dan Gibran yang sebenarnya adalah adik dan kakak.
____
Setelah menerima telpon dari Eza Varka hanya melamun didalam kamar Helsha, rasanya sedikit bosan juga sendirian disini. Mau turun kebawah Varka sedikit malu, kemaren kan ia datang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Varka pun akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Helsha, Varka sedikit terkejut karena dibelakang nama kontak Helsha kini berubah ditambah ada sebuah emot love, seingatnya Varka tidak menamai kontak helsha seperti ini.
~Kesayangan♥️~
Varka: Helsha? Masih lama ya sekolahnya?
Helsha: loh? Iya lah ini baru jam 10 Varka
Varka: Yah.. aku sendirian dikamar kamu bosen, mau ke bawah tapi malu
Helsha: Ih jangan malu, kebawah aja. Bunda juga khawatir sama kamu, apalagi semalem demam
Varka: maaf ya jadi bikin khawatir
Helsha: gapapa, yang penting Varka cepet sembuh
Varka: Sha mau nanya
Helsha: apa?
Varka: disekolah ada yang namanya Eza? Tama? Sama Rayhan?
Helsha: sebentar...
Helsha: kalau Eza sih aku tau, yang lainnya gak tau. Eza anak band kan? Kalo gak salah dia juga sering keliatan bareng Nathan temen sekelas kamu deh
Helsha: kalau yang lainya Helsha gak tau. Maaf ya
Varka: oh yaudah gapapa. Makasih ya, Semangat sekolahnya kesayangan♥️
Helsha: Varka harus cepet sembuh ih, biar bisa nemenin Helsha lagi
Varka: iya, besok Varka sekolah. Semangat
Varka sedikit bingung karena tiba-tiba saja ada yang mengajaknya untuk ikut band, rasanya sedikit aneh saja. Karena biasanya tidak ada yang mau berteman dengannya.
\_\_\_\_
Tok.. Tok..
"Masuk ..." Ucap Juna
Lelaki itu berjalan masuk kedalam ruangan Juna dengan menbawa amplop coklat ditangannya, lelaki ini adalah lelaki yang kemarin Juna perintahkan, Ia langsung menyerahkan amplop tersebut kepada Juna.
Dengan sigap Juna menerimanya dan langsung melihat isinya yang membuat Juna sedikit terkejut melihatnya
"Itu hasil dari beberapa foto yang saya ambil pak."
"Tapi dia bagaimana kabarnya?"
"Sepertinya untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak"
"Oke kalau begitu, Pastikan semua bersifat Rahasia jangan sampai ada yang tahu."
"Baik Pak"
Juna memandang foto yang ada ditangannya, lalu menghela napas lega. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk sekarang
__ADS_1