LENTERA

LENTERA
part 14


__ADS_3

Happy Reading


______________


"Aku duluan ya udah telat ini mau kumpulan OSIS" ucap Helsha Sambil terburu-buru turun dari Vespa dan berusaha melepaskan helm nya yang terasa sangat sulit untuk dilepaskan


"Pelan-pelan Sha, Nanti tangan kamu yang sakit, Sini biar sama aku aja" ucap Varka langsung membantu Helsha melepaskan helmnya


"Makasih" ucap Helsha


"Iya, Jangan buru-buru juga Sha. Lagian ini juga masih pagi kok" tegur Varka yang melihat Helsha terburu-buru merapihkan baju dan rambutnya


"Ka Gibran udah nelpon dari tadi katanya suruh cepet-cepet"


Raut wajah Varka langsung berubah saat mendengar Helsha mengatakan jika kakaknya menelpon, ternyata tanpa dia sadari Gibran sudah sedikit lebih dekat dengan Helsha. Varka menghela napas lalu memalingkan wajahnya, ia juga beranjak turun dari motor dan menggendong Tasnya. Moodnya tiba-tiba saja hancur hanya karena mendengar Helsha mengatakan itu apalagi jika hal yang selama ini Varka khawatir kan terjadi, entah apa yang akan ia lakukan.


"Varka tunggu...." Ucap Helsha langsung mengejar Varka yang malah berjalan terlebih dahulu, padahal biasanya lelaki itu selalu menunggu nya


"Aku duluan gapapa?" Tanya Helsha lagi saat berjalan bersama Varka.


Sejujurnya Helsha juga tidak mau terburu-buru seperti ini tapi sepertinya memang rapat dadakan dipagi hari ini sangat penting sehingga Gibran bahkan sampai menelponnya berkali-kali. Helsha juga menyadari perubahan sikap Varka yang sedikit mendiaminya, tapi untuk sekarang Helsha tidak ingin terlalu ambil pusing, nanti saja ketika senggang ia akan bertanya pada Varka.


"Varka..."


"Iya, yaudah sana kalau mau duluan. Nanti telat" ucap Varka tanpa melihat Helsha


"Kamu marah?"


Varka berhenti kemudian menatap Helsha


"Engga, udah gapapa kalau mau duluan tapi hati-hati. Jangan lari buru-buru nanti jatoh"


"Maaf ya, nanti istirahat aku ke kelas kamu deh janji"


"Iya, Yaudah sana."


"Duluan ya"


Varka mengangguk dan setelahnya Helsha berjalan cepat menuju kedalam sekolah, Varka sebenarnya juga diajak oleh Helsha untuk mengikuti OSIS tapi rasanya ia tidak ingin berakhir dalam satu organisasi dengan kakaknya. Hanya akan ada perbandingan antara dirinya dan Gibran nantinya, dan itu sangat tidak Varka Sukai.


____


Helsha sampai diruangan OSIS dengan napas yang sedikit ngos-ngosan, Disana memang sudah ada beberapa anggota lainnya. Helsha menarik napas lega karena ia tidak datang terlambat, ia langsung mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu disana


•Varka... Helsha udah sampe dengan selamat, Helsha gak lari kok heheh.. Yaudah sampai ketemu nanti ya♥️•


Helsha tersenyum setelah pesan yang ia kirim sudah dibaca oleh pria itu. Varka memang jarang membalas pesannya, lelaki itu lebih sering langsung menelpon jika Ada yang ingin dikatakan pada Helsha.


"Mohon perhatian nya" ucap Gibran


Semuanya langsung fokus kedepan menatap langsung kearah sang ketua OSIS yaitu Gibran. Mereka semua dengan hidmad mencerna setiap apa yang dijelaskan Gibran tentang acara yang beberapa Minggu ini akan diselenggarakan, Tidak banyak hal yang dijelaskan namun beberapa hal penting yang memang harus segera didiskusikan dan ditentukan. Helsha menatap Gibran didepan sana dan sedikit tersenyum, menurut Helsha Gibran adalah anak lelaki yang sangat cerdas dan juga memiliki sifat tanggungjawab yang Sangat bagus dalam memimpin organisasi tapi satu hal yang Helsha tidak suka dari Gibran yaitu sikap Gibran yang selalu saja mengabaikan Varka dan seperti tidak peduli pada Varka.


Sampai saat ini Helsha juga tidak tahu apa penyebab Varka selalu dikucilkan dikeluarganya sendiri, pasti selalu ada penyebab dari setiap hal kan


Setelah rapat selesai, semua anggota langsung berhamburan keluar untuk kembali ke kelas.


"Sha tunggu.." panggil Gibran lalu menghampiri Helsha


"Iya kak"


"Ayo sambil jalan keluar aja ngobrol nya" ucap Gibran


Helsha hanya mengangguk lalu kembali berjalan dengan diikuti Gibran disampingnya, sebenarnya Helsha sedikit tidak nyaman dengan situasi ini tapi tidak enak juga jika menolaknya.


"Oh iya Kamu sama Varka ketemu dimana sih? Kok bisa temenan"


"Di pantai kak" jawab Helsha singkat


"Kamu bahagia temenan sama Varka?"


"Bahagia dong kak, Varka adalah sumber kebahagiaan aku"


"Ohh... Tapi Mau gak nanti kapan-kapan jalan sama aku?"


Helsha menghentikan langkahnya mendengar ajakan Gibran


"Mau kan?" Tanya Gibran


"Maaf ya kak, Bukannya aku gak mau atau gak ngehargain ajakan kakak. Tapi aku udah janji bakal nemenin Varka setiap hari, jadi maaf ya kak"


"Ahh gitu ya, yaudah gapapa"


Helsha hanya tersenyum lalu kembali berjalan lebih dulu meninggalkan Gibran yang masih saja terdiam tak percaya dengan penolakan yang diberikan Helsha. Selama ini tidak ada yang pernah menolak ajakannya.


Saat sampai didepan kelas Helsha langsung tersenyum karena melihat Varka yang berdiri didepan kelasnya, pasti lelaki itu menunggunya.


"Varka..." Teriak Helsha sambil tersenyum dengan wajah yang menggemaskan


Varka hanya tersenyum melihatnya, Moodnya langsung kembali baik hanya karena Helsha kini sudah berada dihadapannya lagi dan menjauh dari kakaknya.

__ADS_1


"Nih..." Ucap Varka menyodorkan sebotol minum


"Buat aku?" Tanya Helsha menunjuk dirinya sendiri


"Menurut kamu? Udah ini minum, pasti belum sempet minum kan. Tadi kamu lari-larian pasti cape, sekarang minum dulu"


"Makasih, Nanti aku minum pas didalem kelas."


"Kamu ngapain disini? Kan udah bel masuk" lanjut Helsha


"Lagi gak ada guru..."


"Ihh bandel..."


"Sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu"


"Apa?" Tanya Helsha


"Nanti Helsha pulang minta dijemput Kaka aja gapapa kan?"


"Loh tumben, Varka mau kemana emang?"


"Kak Gibran barusan ke kelas aku terus ngajakin aku jalan bareng. Gak tau sih alasannya apa tapi Aku seneng banget Sha. Jarang banget kak Gibran ngajakin aku jalan, Rasanya bahagia pokoknya" ucap Varka dengan antusias penuh kebahagiaan


Helsha juga bisa melihat dari mata Varka jika lelaki itu sangat bahagia, Baru diajak jalan bareng aja Varka udah sebahagia ini. Tapi dilain sisi Helsha juga khawatir dengan niat Gibran yang tiba-tiba saja mengajak Varka jalan, ini adalah hal yang sangat jarang terjadi atau bahkan mungkin tidak pernah sekalipun terjadi.


"Gapapa kan? Atau aku anterin kamu aja dulu"


"Gapapa, nanti Helsha telpon Kaka aja minta dijemput. Varka pergi aja sama kak Gibran gapapa, Helsha ikut seneng dengernya"


"Makasih ya, Aku Bahagia banget Sha"


"Harus pokoknya Varka harus selalu bahagia"


Keduanya tersenyum secara bersamaan, Varka tersenyum karena bahagia sedangkan Helsha tersenyum karena melihat Varka bahagia tapi juga terselip kekhawatiran disana, Helsha takut Gibran malah memberi luka pada Varka.


___


Varka senang sangat senang malahan, karena sekarang ia sedang bersama kakaknya yaitu Gibran. Terlalu sulit rasanya untuk Varka mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat ini.


"Mau pesen apa?" Tanya Gibran pada Varka


"Samain aja sama kakak"


"Oke, yaudah cari tempat duduk aja sana" ucap Gibran yang dibalas anggukan oleh Varka


Demi apapun Varka belum pernah keluar seperti ini bersama kakaknya, ini adalah kali pertama dan ia sangat bahagia.


Tak lama Gibran datang dengan membawa dua porsi makanan.


"Kak ini berapa harganya? Biar nanti aku ganti" ucap Varka


"Apaan sih lo, gak usah ganti segala gue ikhlas kok. Kayak ke siapa aja sih"


"Ya kan baru pertama kali Kaka nraktir aku"


"Udah makan aja" ucap Gibran


Baik Varka maupun Gibran, keduanya fokus menghabiskan makanan masing-masing, Varka terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk keduanya menghabiskan makanan sampai akhirnya dering ponsel Gibran menyadarkan keduanya.


"Bentar ya, gue angkat telpon dulu" ucap Gibran lalu beranjak menjauh dari Varka


"Hallo Sha" ucap Gibran setelah mengangkat telpon


Ya betul sekali, yang menelpon Gibran tidak lain dan tidak bukan adalah Helsha. Sebenarnya Gibran juga tidak tahu alasan perempuan itu tiba-tiba menelponnya, tapi Gibran cukup senang karena Helsha tiba-tiba menelponnya. Bahkan Gibran sempat berpikir untuk mengangkat panggilan tersebut didepan Varka tapi ia mengurungkan niatnya itu.


"Helsha ganggu kakak gak?" Tanya Helsha disebrang telpon


"Engga kok, ada apa ya? Tumben nelpon"


"Kaka lagi sama Varka kan?"


Gibran melihat kearah Varka sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Helsha


"Iya, kenapa?"


"Tolong jangan nyakitin perasaan Varka ya kak, Helsha mohon Banget. Untuk hari ini aja kakak baik sama adik kakak, Jangan sakitin Varka sama perkataan atau sikap kakak"


"Maksudnya?" Tanya Gibran mengerutkan keningnya Karena bingung


"Varka seneng banget Karena diajak jalan sama kakak, bahkan aku belum pernah ngeliat dia sebahagia itu. Jadi Helsha mohon jangan hancurin kebahagiaan Varka dengan sikap kakak"


"Sha, kamu salah paham deh kayaknya. Aku gak pernah nyakitin Varka, dianya aja yang berlebihan"


"Apapun itu Kak, aku cuma mau nitip Varka sama kakak. Tolong jangan sakitin varka."


"Dia suka bilang yang aneh-aneh tentang aku ya Sha? Aku gak pernah sekalipun jahatin dia. Helsha... Sha"


Tut...Tut...tut...

__ADS_1


Helsha ternyata sudah mematikan sambungan telpon, menyisakan Gibran dengan perasaan kesal dan cemburu. Ia pikir Helsha menelpon nya karena ada hal penting ternyata hanya ingin mengatakan hal tidak Penting seperti itu.


"Lo salah orang Sha kalau nitipin dia sama gue" gumam Gibran


Gibran lalu kembali menghampiri Varka yang masih menghabiskan makanannya.


"Boleh gue nanya?" Ucap Gibran setelah kembali duduk dihadapan Varka


"Apa?" jawab Varka menatap Gibran


"Lo pacaran sama Helsha?" Ucap Gibran tiba-tiba membuat Varka tersedak


"Uhuk...uhuk.." Varka menepuk dadanya Yang sedikit nyeri karena tersedak air yang sedang ia minum


"Biasa aja kali, sampe keselek gitu"


Varka mengelap mulutnya menggunakan tisu kemudian kembali menatap Gibran yang kini menatapnya juga


"Kakak nanya apa barusan? Aku pacaran sama Helsha atau engga?" Tanya Varka


Gibran hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Varka


"Kenapa nanyain hubungan aku sama Helsha?"


"Ya gue pengen tau aja" jawab Gibran Santai


Varka menghela nafasnya lalu menatap Gibran


"Kak..."


"Hmm?"


"Kalau niat utama kakak ngajakin aku jalan, dan ngebaikin aku cuma karena pengen tau tentang Helsha aja, mending gak usah kak" ucap Varka


"Apaan sih Lo? Gue cuma nanya aja kali, gak usah berlebihan kayak gitu"


Varka tersenyum kecut mendengar ucapan Gibran.


"Kakak suka kan sama Helsha? Aku tau kok kak..."


Gibran terdiam sejenak lalu terkekeh sebentar


"Apaan sih Lo, jangan ngaco deh"


"Aku tau Kok kak, Cara kakak ngeliat Helsha tuh beda. Setiap kakak ngeliat Helsha atau ketemu sama Helsha disekolah, kakak selalu nyari perhatian Helsha, iya kan?"


"Gue cuma nanya Varka, jadi stop nuduh nuduh gue!!!"


"Aku bicara fakta dari apa yang aku liat kak."


"Udah deh,, jangan aneh-aneh kalau ngomong"


"Tolong jangan ambil Helsha dari aku ya? Aku cuma punya Helsha...." ucap Varka lirih membuat Gibran terdiam


"Kakak udah cukup ngambil semua hal yang aku punya, Kakak boleh ngambil apapun itu dari aku Tapi tolong... Jangan ambil Helsha" ucap Varka


Gibran menghela napas


"Varka padahal gue cuma nanya loh.. emang nya selama ini gue suka ngerebut ya?" Tanya Gibran


Varka tersenyum pelan lalu menggelengkan kepalanya.


"Engga kak, kakak gak pernah ngerebut apapun. Tapi sayangnya Semesta selalu berpihak sama kakak"


Ucapan Varka barusan lagi-lagi membuat Gibran terdiam, apakah benar jika semesta selalu berpihak Padanya??


"Kak, Aku khawatir. selama ini aku takut..."


"Kakak gak bakal sejahat itu kan, Kaka gak bakal ngambil Helsha dari dunia aku?" Tanya Varka


Seberapapun kesalnya Varka pada Gibran kali ini, ia tetap berusaha menahan emosinya. Ia tidak ingin terjadi keributan antara dirinya dan kakaknya.


"Lo apaan sih, gue cuma nanya aja kali tenang aja. Lagian gue gak ada waktu buat ngurusin masalah cewek, tenang aja. Gue cuma mau tau aja gak lebih Varka!!"


"Tapi omongan kakak sama sikap kakak gak selaras, kakak boleh aja bilang kayak gini tapi sikap kakak gak bisa bohong kak"


"Udah deh, gue ngajak Lo kesini biar punya waktu berdua. Ngapain jadi ngajak ribut sih"


"Kakak yang mulai, bukan aku!! Kenapa jadi nyalahin aku. Varka cuma takut kakak ngambil satu-satunya orang yang paling berharga dari Varka.... Udah cukup kakak ngambil semuanya dari Varka!!" Ucap Varka agak terbawa emosi.


"Lo tuh ya bawaannya salah paham aja sama gue, gue cuma nanya. Jadi stop berpikiran yang aneh-aneh oke, sorry ya"


Varka menatap Gibran, mencari kebenaran Dimata kakaknya itu. Namun bagaimanapun Gibran menyangkalnya Varka tau kakaknya ini memiliki perasaan lebih terhadap Helsha.


Varka terlalu takut jika ia akan ditinggalkan lagi oleh satu-satunya orang yang sangat peduli Padanya, Helsha adalah rumah baru bagi Varka. Lalu jika rumah barunya juga diambil ia harus pulang kemana? Kemana lagi ia harus mencari tempat untuk pulang??


Bukankah semesta akan terlalu jahat jika membiarkan Gibran mengambil Helsha dari Varka juga... Tidakkah cukup selama ini penderitaan yang Varka rasakan??


Kapankah semesta bisa memihak pada Varka??

__ADS_1


__ADS_2