
terkait dengan pemberangkatan erlangga ke Singapura yang di kabarkan kemarin, ternyata waktunya di percepat dan sore nanti harus di berangkatkan.
Riko selaku dokter yang menangani kondisi Erlangga, tiba-tiba memberikan kabar kepada mama Erlangga.
mama Sinta yang tadinya sedang bersiap turun sarapan sekaligus ingin menyampaikan hal ini kepada Rindu, harus di tunda sebab masih banyak keperluan yang harus di urus di rumah sakit. selaku perwakilan dari pasien maka dirinya diminta untuk sesegera mungkin atau Rindu, tetapi Sinta tidak bisa memutuskan sebab masih ada istrinya yang berhak penuh. dan terkait apa yang akan di sampaikan ke pada rindu, Riko yang akan menjelaskannya nanti dirumah sakit. tugasnya sekarang adalah membawa rindu bersamanya dengan ekspresi tetap tenang agar sang menantu tidak curiga.
"gimana Arka dengan persiapan keberangkatan ke Singapura nanti sore. soalnya keadaan Erlangga tidak bisa kita diamkan seperti ini. kondisinya tiba-tiba kritis karena adanya penolakan beberapa alat medis di rumah sakit dan itu membuat kami selaku anggota medis harus mengambil tindakan secepat mungkin". dengan mata mengawasi di balik kaca seorang lelaki terbaring tak berdaya dan mulut mengeluarkan kata perkata untuk mastikan persiapannya.
"untuk semua persiapan keberangkatan tuan Erlangga sore nanti, sudah beres karena kita hanya menggunakan jet pribadi. cuman yang saya ragukan adalah istri beliau karena mungkin dia akan syok setelah mengetahui kondisi asli dari tuan". jawab Arka dengan memutar arah pandanganya secara bergantian.
"bagaimanapun, dia harus tau sebab kita tidak bisa merahasiakan ini terlalu lama. mengingat waktu kita tidak banyak". jelasnya yang juga membuat fikirannya tidak tenang akan satu hal 'istri dari sahabatnya'. kondisinya yang bisa saja terpengaruh akan berita ini namun, Riko juga tidak punya pilihan lain. semogah saja apa yang jadi beban fikirannya tidak terjadi.
...****************...
sedangkan di kediaman Wijaya, Sinta sedang duduk saling berhadapan dengan Rindu untuk melaksanakan acara wajit tiap pagi. mengisi perut guna membuat lambung tetap baik-baik saja.
Rindu yang sebenarnya menunggu janji Sinta untuk menjelaskan sesuatu terkait dengan apa yang semalam di bahas tapi tidak tuntas.
dengan menyendok nasi ke mulutnya lalu mengunya ya kemudian menelan dan selanjutnya menatap sang mertua.
"ma katanya ada yang mau di omongin. apa emangnya". tanyanya dengan lagi menyendok nasi kedalam mulutnya lalu mengunya sembari menunggu jawaban sang mertua.
__ADS_1
Sinta yang di tanya hampir saja tersedak. namun, hal ini sudah di wanti-wanti dari tadi. hanya saja harapannya rindu akan lupa tapi ternyata daya ingatnya cukup kuat.
"habisin dulu makannya setelah itu mama ngomong ya". ucapnya dengan melakukan hal yang sama, menyendok makanan lalu mengunya.
bukan tanpa alasan, Sinta melakukan ini agar selerah makan rindu tidak terganggu. setidaknya ada isi perut sang menantu dan tenaga sebelum mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"emang sangat penting ya ma". tanyanya lagi menutup agenda makannya dengan meneguk air di gelas yang sudah di siapkan sang bibi.
"iya sayang". ucapnya sebisa mungkin dengan perasaan tenang agar sang menantu tidak curiga yang juga melakukan hal yang sama. menutup agenda makannya dengan meneguk air hingga tandas.
semua pergerakan sang mertua di perhatikan oleh rindu. menunggu pembahasan selanjutnya yang katanya cukup penting dan rindu sangat penasaran. harapannya, semogah saja apa yang akan Sinta sampaikan tidak ada kaitannya dengan Erlangga.
Masi dengan keadaan yang sama, rindu Masi fokus memperhatikan aktivitas Sinta yang kini mencuci tangannya dengan menggunakan teko lalu membersihkan dengan sapu tangan yang telah di siapkan di atas meja.
tapi bagaimanapun, rindu harus tau tapi bukan dirinya yang akan mengatakan melainkan Riko.
dengan mengangkat wajah lalu menatap rindu yang sudah sangat siap untuk mendengar ceritanya.
"Rindu, maafkan mama. kita bicara nanti saja ya kalau sudah sampai di rumah sakit soalnya ada hal penting yang harus mama urus pagi-pagi ini di rumah sakit. jadi sekarang rindu siapa-siap, mama akan menunggu di mobil". jelasnya merasa bersalah namun Sinta tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya karena Erlangga harus di berangkatkan soreh nanti.
mendengar penjelasan sang mertua, rindu merasa ada yang di sembunyikan namun rindu juga tidak bisa memaksa sebab mungkin waktunya yang belum tepat atau demi kebaikannya.
__ADS_1
setelah beberapa menit akhirnya mama Erlangga sudah berada di dalam mobil sembari menelpon dengan seseorang di sebrang sana.
"apa separah itu kondisi anak Tante Riko. bukannya kamu bilang Masi bisa menunggu beberapa hari lagi tapi kenapa kamu mengabari Tante seperti orang putus asa". cerca Sinta dengan berbagai macam pertanyaan sebab di dalam benaknya hanya ada rasa takut.
"maafkan Riko Tante tapi seperti yang saya katakan tubuhnya menolak beberapa alat medis di rumah sakit dan saya kawatir jika mengulur waktu malah membuatnya semakin parah". jelasnya sebisa mungkin membuat kata-katanya tidak mengandung kecemasan untuk orang yang mendengarnya.
"baiklah jika itu yang terbaik maka kita harus memberangkatkan Erlangga ke singapura". jawabnya dengan melihat keluar jendela kaca dengan memperhatikan pintu, menunggu seseorang keluar.
"tapi Tante kawatir dengan keadaan rindu apa dia bisa berjalan jauh dengan kondisinya yang hamil serta beban fikirannya yang mungkin saja menguras tenaganya". sambungnya lagi dengan menatap seseorang yang sudah berjalan ke arah mobil dengan anggun.
"kalua untuk hamil, tidak maslah. tapi untuk beban fikiran saya harap Tante bisa menghiburnya sebisa mungkin agar tidak berpengaruhnya terhadap kandungannya". jelasnya penelpon di sebrang sana
"baiklah kalau begitui tapi Tante seprtiny tidak yakin untuk hal itu sebab kamu tahu sendiri seperti apa rindu jika berhubungan dengan El. Tante tutup dulu telponnya ya soalnya Tante sudah mau jalan". ucapnya sebelum mengakhiri obrolannya dengan bersama pintu di buka dari luar memperlihatkan penampilan rindu yang begitu anggun dengan dress bunga-bunga.
"Masya Allah anaknya mama cantik bangat". puji sang mertua yang begitu terpukau dengan aura wanita hamil di sampingnya.
rindu yang mendapat pujian yang di tujukan untuk dirinya, menyembunyikan senyuman malu-malu nya. entah kenapa hari ini, dirinya sangat ingin berdandan meskipun hanya dandan natural.
"mama, rindu biasa aja, kayak kemarin-kemarin". jawabnya dengan mengerucutkan bibirnya lucu.
"mama serius Lo sayang, rindu hari ini auranya keliatan bangat kayak wajahnya berseri-seri. mama harap rindu akan tetap seperti ini kedepannya. tetap ceria seperti wajahnya agar anak kamu didalam sana suasan hatinya juga ikut ceria kayak namanya". jelasnya lagi dengan mengusap Surai indah sang menantu.
__ADS_1
"doain Rindu ya ma, sebab sumber kebahagiaan rindu adalah mas Erlangga". jawabnya dengan senyuman di buat semanis mungkin.
"pasti sayang". jawabnya dengan senyuman takkala manis namun hatinya kawatir sebab entah Seperi apa nasib menantunya setelah tau kabar sang suami. namun harapannya, semogah kebahagiannya tidak terengguk akan kabar tersebut.