LENTERA

LENTERA
sejoli


__ADS_3

Setelah Riko mengambil cuti selama dua hari, Kini dirinya sudah pulang ke Indonesia untuk melaksanakan tugas sebagai dokter. Tujuan pertamanya adalah ruma kekasih kecilnya. dia begitu rindu ingin melihat gadis belia yang sudah beberapa hari bertender di hatinya.


Dalam perjalanan Riko tak henti-hentinya tersenyum, entah maknet apa yang di gunakan sindi hingga membuatnya lupa dengan umurnya yang tidak pantas untuk bersikap remaja. beberapa kali melihat layar benda cantik yang ada di sampingnya berharap ada pesan masuk untuknya dari kekasih kecilnya.


Beberapa menit kemudian, Riko sampai di sana dan memarkirkan mobilnya di depan rumah yang cukup sederhana bagi kaum elit seperti Riko, rumah tersebut hanya pantas di jadikan sebagai gudang.


Senyuma yang tadi metekah, kini seketika luntur ketika melihat kekasih tercintanya yang sedang duduk menangis dengan memeluk tas yang Riko yakini adalah barang-barang Sindi. Disamping Sindi berdiri 2 lelaki dan satu perempuan.


"Kalau kamu tidak bisa membayar utang bapakmu maka rumah ini yang akan aku jadikan pelunas utang".


Ibu-ibu yang tadi berdiri menunjuk gadis SMA yang kini tak berdaya. Tubuhnya gemetaran karena takut. Takut akan tinggal dimana dan Mau kemana sebab Sindi tidak memiliki siapa-siapa lagi selain almarhum ayahnya, sedangkan ibunya meninggal di saat usianya masi satu tahun.


"Kasihani saya Bu, rumah ini satu-satunya peninggalan bapak saya dan tempat saya bernaung". Pintanya pilu dengan menyatakan ke dua tangannya.


Riko yang melihat betapa menyedihkan kondisi sang kekasih, mempercepat langkahnya. Dengan gerakan berlari, kini Riko telah sampai di samping orang tersebut dan hal itu sukses membuat atensi mereka teralihkan tak kecuali Sindi yang langsung berdiri dan menghambur kepelukan Riko. Di situasi seperti ini, hanya satu orang yang di fikirnya, ya itu dokter tampan yang sudah membuat dirinya nyaman dan aman meskipun Sindi tidak tahu respon seperti apa yang telah tubuhnya berikan.


"Om". ujarnya setelah sampai di dalam dekapan Riko yang memeluknya erat. "Sindi takut". Lanjutnya lagi yang membuat Riko mengeraskan rahangnya. Entah kesalahan apa yang sudah orang tuanya lakukan hingga membuat sindi menanggung semuanya. wanita sepolos dan seluruh sindi seharusnya menikmati hidupnya dengan bermain, bukan malah mengurus hal besar seperti ini.


"Udah Ng papa, om ada disini sayang". Ucapnya dengan mengusap-usap bahu sang kekasih lalu melirik tiga orang yang sudah merusak ketenangannya.


"Berapa utang calon istri saya". Tanya Riko yang membuat Sindi menggelengkan kepala guna memberikan isyarat agar Riko tidak membantunya lagi. Dia tidak ingin merepotkan Riko untuk kesekian kalinya. Namun hal itu tidak di hiraukan oleh Riko.


"100 juta". Jawab wanita yang sudah memaki-maki sindi dengan sinis dan menatap Sindi dengan tatapan tidak Suka. pasalnya Sindi sangat beruntung karena ternyata memiliki calon suami yang tidak hanya tampan tapi juga mapan.


"Berikan nomor rekeningnya biar saya transf_om jangan, sindi mohon". Belum juga ucapannya sampai, Sindi langsung memotong dengan menyatukan ke dua tangannya dan hal itu membuat Riko tidak berdaya. namun Riko tetap akan melakukannya demi keamanan sang kekasih. bagi Riko uang bukanlah apa-apa sebab dirinya memiliki banyak aset. mungkin jabatannya hanya seorang dokter tapi Riko juga memiliki beberapa bisnis di luar yang di kelola orang kepercayaannya serta warisan dari orang tuanya yang lumayan bisa menghidupi cucu-cucunya kelak.


"Sayang Ng papa Hamm. Setelah ini kamu akan pindah". Ucap Riko dengan sayang.


"Cepat". Pintanya lagi dengan suara yang tidak selembut tadi dan dengan gerakan cepat perempuan itu memberikan nomor rekeningnnya lalu Riko mengirimkan uang sesuai utang almarhum calon mertua. Setelah semua urusan selesai.


"sudah selesaikan? ini terakhir kalinya saya melihat kalian menemui calon istri saya dan jika saya melihat atau mendengar kalua kalian membuat ulah lagi dengan calon istri saya, maka saya sendiri yang akan turun tangan". terbangnya yang langsung di angguki orang-orang disana sebelum mereka memilih meninggalkan kediaman Sindi yang sangat sederhana.


"apa yang om lakukan, Sindikan sudah bilang jangan". omel Sindi bedengan berurai air mata. Riko yang di omelinhanya bisa pasrah.


Sindi yang tidak terima langsung melepaskan dekapannya dan kemudian masuk di dalam ruma dengan berurai air mata, meninggalkan Riko yang membeku di tempat. Entah kesalahan apa yang sudah di perbuat hingga membuat sindi menangis seperti itu.


Dengan gerakan cepat, Riko berlari mengejar Sindi yang kini duduk menelungkup kan wajahnya di antara kedua lututnya. Suaranya terdengar pilu dengan isakan-isakan kecil.

__ADS_1


tujuan Riko melakukan ini hanya untuk membantu sang kekasih agar terbebas dari pengejaran namun ternyata apa yang di lakukan tidak memperlihatkan Riko seperti pahlawan di mata Sindi, malah Riko terlihat seperti penjahat karena telah menyakiti anak orang. namun Riko harus tetap sabar dan mengalah karena dan dia paham bahwa seumuran Susno akan sulit memahami situasi seperti ini.


"Sayang ada apa". Tanya Riko yang kini duduk di hadapan sindi dengan menangkup kendua pipinya lalu menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir namun belu beberapa detik, Sindi langsung menepis tangan kekasih dewasanya. sedangkan Riko yang di perlakukan seperti ini hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan.


Riko sebenarnya sangat lelah karena perjalanan yang di tempuh cukup jauh dan belum ada istrihat setelah sampai di bandara karena dia merindukan kekasihnya jadi Riko mengambil jalur ke rumah kekasihnya demi mengobati ribuan rindu yang menumpuk. namun apa yang di suguhkan untuknya setelah sampai? andai Riko tidak waras mungkin anak orang sudah di Bopong ke kediamannya dan dikurung dalam kamar agar tidak bertingkah dan membuat orang-orang kawatir.


"Om jahat, Ng mau dengarin sindi. Katanya kalau orang pacaran harus saling mendengarkan dan mengerti tapi om malah sebaliknya. Om Ng sayangkan sama Sindi, om cuman bohong". Ucapnya dengan air mata yang tidak terbendung, ternyata pemahaman sindi seputar cinta sesederhana itu dia tidak memahami pengorbanan dalam sebuah cinta sebesar apa dan seluas apa. jika nyawa yang di minta mungkin hal itu akan di jadikan sebagai bukti kekuasaan Cinta. namun anak remaja seperti sindi tahu apa sih tentang makna dari cinta.


Riko yang melihat itu bingung harus bilang apa, pasalnya nasehat ini dirinyalah yang mengatakan pada Sindi seputar hubungan yang perlu kejujuran, pengertian, saling percaya, terbuka dan memahami namun satu hal yang Riko lupa, otak sidi tidak se luas itu untuk bisa memahami bahasa orang dewasa, Sindi terlalu mudah untuk memahami cinta yang sebenarnya, cinta yang tidak ada batasnya jika dibawah kedalam kaidah pemahaman makna sebuah cinta. ini salahnya sebab dirinya tidak memberikan pemahaman secara perlahan akan arti dari sebuah hubungan yang sebenarnya yang bukan hanya simbiosis mutualisme.


"Terus saya harus ngapain agar pacarny om mau maafin om". 


mungkin dengan ini Riko bisa melihat wajah cantik yang tidak ingin menatapnya karena kesal.


"Minta uangnya kembali, biar Sindi cari uang sendiri untuk bayar utang. Barangkali om punya kerjaan yang bisa di bagi sama sindi agar Sindi bisa dapat uang". Jelas Sindi yang membuat Riko menemukan satu ideh dan di pastikan ide ini akan membuat sindi berada di dekatnya terus menerus.


"Hmmm apa ya" ucap Riko pura-pura berfikir. "Atau Sindi mau jadi asisten saya tapi kalau mau jadi asisten harus tinggal di apartemen saya. Gimana". 


Sindi yang di tanya seperti itu, lantas tak tidak langsung menjawab, dia berfikir sejenak. dengan tinggal di apartemen dengan dokter Riko lalu mengosongkan rumah, rasanya sindi tidak ikhlas. dengan menatap nanar seluruh ruangan yang kini di tempatnya lalu kembali menatap Riko yang juga ikut menatapnya.


"Emang harus tinggal disana. Kan rumah Sindi disini". Mengingat dirinya memiliki rumah sendiri maka Sindi tak lantas haru menetap di di apartemen. mungkin menurut Sindi, dengan pulang balik tidak masalah asalkan Sindi mendapatkan uang untuk membayar Riko.


"bukannya pekerjaan asisten cuman beres rumah terus masak. lagipula kalau selesai Sindi bisa langsung pulang". jelasnya Masi bernegosiasi berharap ada keajaiban dari mahluk tampan dan mapan yang ada di depannya dengan senyuman tanpa dosa. andai Sindi paham senyuman itu, mungkin dirinya tidak akan melakukan acara negosiasi tapi langsung menolak tawaranbyang menguntungkan dokter Riko lebih banyak.


"saya jelasin dulu kerjaan kamu apa aja. selain membersihkan terus memasak, kamu juga harus menyiapkan pakaian saya setiap kali mau berangkat kerja". terangnya yang membuat Sindi kembali berfikir.


"bukannya kalau siapin baju bisa saya datang pagi-pagi sekali atau subuh". Riko yang mendengar penawaran yang tentunya akan di Carikan akal agar bisa tetap mengikat Sindi dalam sangkar.


"saya tidak ingin jadi bos jahat karena membuat kariawan saya lelah dengan pulang balik, lagipula apartemen saya luas dan mampu menampung kamu dan memiliki dua kamar jadi kamu tidak perlu takut untuk tidur di luar". alibi Riko sekaligus sudah merasa kesal dengan pertanyaan-pertanyaan sindi yang tidak ada kesusahan.


"Ya udah Sindi mau". Putusnya terpaksa yang membuat bibir Riko membuat seringai yang tidak di lihat Sindi. dengan begini maka Riko bisa memantau keamanan sindi dari dekat. pahalanya sebelum memulai hubungan dengan sindi, Riko selalu menolong sindi dari kejahatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan Riko tidak ingin hal itu terulang lagi karena bisa membahayakan keselamatnya.


*********


Hari ini El memaksa untuk pulang karena alasan tidak kuat tinggal di rumah sakit lama-lama. Meskipun Sinta dan Rindu keberatan tetapi mereka juga tidak bisa menolak permintaan El. Biarlah El di rawat di rumah.


 Rindu mengemasi barang-barang yang juga di bantu oleh sang mertua karena Siska sekarang sudah tidak bersama mereka. Dua hari yang lalu Siska pulang dengan di temani Arka dan itu juga permintaan El untuk memantau kondisi perusahaan, Meskipun dari jarak jauh bisa di lakukan tetap tetap saja berbeda jika secara langsung.

__ADS_1


"Ma, biar rindu yang mendorong kursi rodanya pinta rindu untuk mengganti sang mertua. Meskipun keberatan, Sinta harus tetap mengiyakan dan mengalah. Sinta paham betul bagaimana kondisi rindu setelah El sadar, dirinya seperti perangko yang selalu ingin berada di dekat suaminya begitupun sebaliknya dengan El namun hal itu membuat hati Sinta menghangat hanya saja Sinta kawatir dengan perut rindu jika terlalu kelelahan.


"Ya udah tapi hati-hati ya sayang". Nasehat Sinta lalu berjalan beriringan yang di ikuti beberapa bodyguard yang telah di siapkan Arka untuk menjaga.


Sepanjang perjalanan, banyak pasang mata yang menatap mereka dengan takjub. Kalangan orang kaya akan menjadi pusat perhatian untuk orang-orang di bawahnya.


Namun yang menjadi pusat perhatian mereka adalah lelaki dewasa yang duduk di kursi rodah dengan di dorong anak perempuan belia. Menurut mereka itu adalah adalah adiknya.


 Samar-samar rindu mendengar itu hingga membuatnya cemberut dan hal itu membuat El menyentuh tangannya lalu menggenggamnya dan tentu saja momen tersebut menjadi pusat perhatian mereka dan banyak yang paham bahwa perempuan belia itu adalah wanita spesial untuknya tapi banyak juga yang bingung karena jarak mereka terpaut jauh apa pantas mereka bersanding.


"Jangan ngambek sayang". Nasehat El yang langsung mencium tangan Rindu.


Rindu yang mendapatkan perlakuan manis di tempat umum, malah membuat wajahnya memerah karena malu. meskipun malu, rindu sangat bahagia karena El telah mengumumkan kepada dunia bahwa dia adalah wanita satu-satunya yang di jadikan ratu di hati El dan hidup El.


"Hubby ih, ini tempat umum". Protesnya malu-malu.


"Biar mereka tahu kalau kamu itu wanitaku". Jelas El yang semakin menguat rindu malu. Sedangkan Sinta yang melihat adegan itu, malah tersenyum kikuk. Anaknya benar-benar.


*******


Di Indonesia Arka dan Siska yang kini sedang berada di meja makan guna mengisi kampung tengah. 


"Mas". Di tengah-tengah makan mereka Siska teringat sesuatu yang sejak beberapa Minggu membuatnya penasaran.


"Apa sayang".


Setelah mengunya makanannya dan menelannya, Arka mengalihkan atensinya ke arah sang istri yang berada di depannya sedang menatap wajahnya dengan serius.


"Mas, kapan akan ngungkapin jati diri mas". Tanyanya dengan memasukan sesendok makanan kedalam mulutnya sembari menunggu jawaban sang suami.


"Mas Ng tahu sayang, soalnya mas sangat sulit mengatakannya dengan keadaan seperti ini kecuali El yang membantu". Jelasnya yang membuat Siska memicingkan matanya.


"Maksudnya mas". Tanya Siska lagi pasalnya dia tidak paham.


"Selain kamu, El juga tahu siapa aku dan bahkan lebih dulu mengetahui identitas ku". Jelasnya yang membuat Siska membulatkan matanya.


"Terus kenapa El Ng ngungkapin". Tanya Siska merasa tidak terima. sebagai istri tentu Siska tidak terima, setidaknya jika nama Wijaya tersemaitkan di belakang nama suaminya, makian dan hinaan mamanya tidak akan terdengar lagi. Siska hanya sedih jika suaminya di pandang hina dan rendah terus oleh mamanya.

__ADS_1


Melihat raut wajah sang istri Arka menebak bahwa Siska sedang salah paham. "Belum waktunya sayang sebab musuh belum di tangkap dan hal itu akan berbahaya dengan keamanan kalin". Ucapnya setelah duduk di samping sang istri lalu menyelipkan sehelai rambut sang istri kebelakang telinga. "Kamu lihat sendirikan gimana keluarga kecil El saat ini, mas tidak ingin hal itu terjadi sama kamu". Lanjutnya lagi yang membuat Siska manggut-manggut. "lagipula kamu tau sendiri alasan mas merubah semua identitas mas. dan terkait mama yang belum bisa mas runtuhan bentengnya, kamu tidak perlu kawatir karena aku tidak akan pernah terpancing". lanjutnya lagi dengan menghabis air mata Siska yang mulai mengalir.


__ADS_2