LENTERA

LENTERA
Pertempuran


__ADS_3

keserakahan kini mendara daging dalam jiwa orang-orang yang tidak lagi merasakan apa itu menghargai, mencintai, dan mengasihi. karena jiwa manusianya telah lenyap bersama dengan besarnya ego yang bersarang dalam diri. hingga menjadi tuan yang kapan saja harus di turuti keinginanya.


sifat seperti inilah yang kerap kali menjauhkan manusia dari diri mereka sendiri. pongah pada kedudukan yang dimiliki. kepuasan tidak ada. melenyapkan penghalang adalah hal biasa.


miris.


itulah yang terjadi.


persaudaraan hanyalah formalitas. dara, tidak lagi berlaku terhadap kekentalan. yang ada hanya kepuasan dunia.


seorang lelaki berjas formal duduk dibalik kaca gelap yang bertumpangkan besi dengan roda 4.


menyaksikan seberapa hebat kehancuran yang akan terjadi. setelah menyusun beberapa strategi yang cukup mantap untuk di luncurkan kelapangan.


dan kini stimulasi dimulai. melumpuhkan musuh adalah tujuannya bahkan sampai memusnahkannya. menempatkan beberapa orang di berapa titik, untuk mengepung kediaman Wijaya dan waktu sudah berjalanan beberapa puluhan menit.


deringan dari benda pipi di saku celananya membuyarkan lamunan.


"halo". jawabnya.


"maaf tuan semua pertahana yang ada di dalam sudah di lumpuhkan karena ternyata mereka menggunakan mafia black devil yang di pimpin Sam Alexander dan kami sekarang kewalahan sebab jumlah mereka tidak bisa di tebak". jelas sang penelpon yang terdengar ngos-ngosan saat berbicara.


sedangkan orang yang menerima panggilan, wajahnya sudah mera padam. meremas kuat benda pipi untuk menyalurkan amarahnya


tidak terima dengan apa yang di dengarkan. kekalahan yang sudah semakin dekat.


tidak bisa di terima. bukan itu yang dia harapkan. mengepung dari segalah sisi ternyata bukan solusi yang baik dan belum tepat. sepertinya ada kesalahan.


"sekarang lakukan rencana ke 2". perintahnya dengan mematikan telpon sepihak dan mencengkram apa saja yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"jika tida bisa harta itu jatuh ke tangan ku, maka tidak ada yang boleh memilikinya". gumanya tidak terima.


semenjak pembagian harta antara dirinya dan wijaya. semua menerima secara rata, tetapi kerena dirinya adalah Kaka tertua hingga tidak terima akan perlakuan sang ayah. menurutnya, Kaka adalah yang tertua yang dimana akan mendapatkan lebih banyak daripada seorang adik. tetapi karena kasih sayang ayahnya sama rata maka pembagiannya sama rata dan hal itu membuatnya murka. ditambah dengan bisnis yang dulunya menjadi warisan adiknya kini berpindah tangan kepada keponakan hingga cucunya. yang membuatnya murka bukan karena pengalihan tapi perkembangan pesat dari bisnis tersebut. dari awal mula ke inginkan untuk menguasa karena bisnis yang di pegang tidak sesukses milik cucu dari adiknya dan hal itulah yang menjadi pemicu, untuk memiliki semuanya.


orang mana yang tidak bahagia jika incaran harta mampu membeli separuh pulau yang ada di negaranya dan tentunya itu yang akan dijadikan tujuan utama. memiliki banyak aset, akan di pandang lebih tinggi dari orang-orang bahkan di tuankan.


memikirkannya saja sudah gila apa lagi memiliki, fikirnya.


semua tetap harus ada dalam genggamannya.


...****************...


didalam ruangan sudah sangat kacau, kaca berserakan dimana-mana, perabotan hancur berkeping-keping, manusia yang tumbang puluhan.


El yang bersembunyi dibalik tembok besar dan ada wanita cantik di sampingnya dengan ekspresi datar.


El yang mendengar itu hanya bisa memutar mata jengah. orang seperti apa yang sudah sam titipkan kepadanya? bar-bar iya. menyebalkan. fikirnya.


"baiklah Tuan El sepertinya saya tidak bisa main petak umpat lama-lama". ucapnya mengambil ancang-ancang untuk maju kedepan tetapi sebelum itu tangannya di cekal oleh El.


"kamu tau resiko yang akan kamu timbulkan jika sampai muncul di hadapan mereka?". tanyanya dengan tatapan tajam sembari menarik wanita aneh yang ada di sampingny agar lebih dekat bersembunyi. "nyawa istri saya yang akan jadi taruhannya jika sampai kamu muncul dan kamu tau apa artinya? mereka akan melacak keberadaan istri saya". terangnya panjang lebar, mengabaikan pertumpahan dara yang ada disekelilingnya.


"gini ya pak Erlangga". baju yang saya gunakan dengan yang tadi berbeda serta potongan rambut jadi itu artinya, saya hanya orang lain yang tiba-tiba muncul dan itu bukan istri anda. oke?". merasa gemas sendiri dengan laki-laki di sampingnya. ingin rasanya melayangkan pukulan keras kepada wajah tampan di hadapannya jika tidak ingat seberapa berkuasanya orang tersebut. dibandingkan dirinya yang bukan apa-apa.


dor


dor


"awas". El melihat ada orang di balik tembok di depan, langsung menarik gadis bawek yang ada di hadapannya, guna mengamankan dari bidikan sang musu.

__ADS_1


"terimakasi". ucapnya langsung menyerang dengan membabi buta. El yang melihat itu cukup takjub.


dibalik karakter bar-bar, mulut lemes dan wajah datarnya Ternyata tersimpan jiwa iblis yang cukup mematikan.


"bagaimana dengan pak tua bangkai itu". tanya El melalui sambungan telpon kepada Arka yang mengawasi mobil manusia jahannam yang telah menghancurkan peristirahatan malamnya.


"dia Masi disini. apa yang harus aku lakukan?". tanyanya dengan masih berfokus pada mobil hitam yang tidak jauh dari keberadaannya mengintai lawan.


"kunci pergerakannya sekarang, karena sebentar lagi saya akan keluar setelah semua musuh di tumbangkan". pinta El Masi dengan fokus pada setiap bidikannya.


"baik". setelah mengucapkan itu akhirnya Arka mengarahkan para bawahannya yang masi setia menjaga di beberapa titik untuk mengepung mobil di hadapannya dan tidak cukup satu menit semua dapat di kendalikan, mengepung kendaraan besi berwarna hitam.


"lepaskan aku brengsek". teriaknya tidak terima karena dirinya harus kecolobgan.


dengan mengamatii sekeliling untuk memastikan kubunya namun ternyata sudah tidak memiliki bantuan. dengan menarik nafas dalam-dalam, dirinya hanya bisa memasang wajah marah dan hal itu tentu tidak luput dari pandangan Arka yang membalas dengan seringainya.


"hahaha. apa kabar pak tua?, setelah sekian lama memgembara akhirnya anda muncul juga di peradaban. kasihan sekali, diumur yang tidak lagi mudah, anda Masi betah main tembak-tembakan". ucapnya dengan memberikan ejekan dan seringai penuh kemenangan. "harusnya di usia anda yang sudah mendekati kepunahan, waktunya mesti untuk digunakan bermain dengan cucu anda". sambungnya lagi yang tidak menghentikan hinaannya. "ah, aku lupa. Anda bukan orang yang suka bersinggungan dengan manusia bukan". sambungnya dengan sindiran. yang sukses membuat laki-laki parubaya di hadapannya muak dan ingin melayangkan serangan jika tidak mengingat sekarang dirinya dalam situasi apa.


"aku tidak ada urusan denganmu dan bahkan aku tidak mengenalmu jadi sekarang lepaskan aku jika kamu tidak ingin berakhir dengan nama dan Masi ingin menghirup udara segar." ucapnya sombong tanpa melihat seperti apa situasinya sekarang namun itu hanya membuat Arka mengedikan bahunya tanda tidak perduli dan Taku akan ancaman yang tidak lagi bermanfaat untuk dirinya sebab sekarang yang harus dia fikirkan, bagaimani caranya terbebas dari orang-orang yang sudah mengepungnya.


"Anda masi mengingat Askara Abimanyu Wijaya". dengan senyuman penuh dengan kebencian Arka akhirnya memperkenalkan diri, siapa dirinya yang sebenarnya dan posisi yang harus di tempati di keluarga Wijaya tapi karena kecelakaan beberapa tahun yang merenggut semuanya menjadi orang lain. bukan tanpa alasan, semua demi keselamatan nyawanya.


perkenalan tersebut sukses membuat Agus syam terpaku.


anak itu.


Abimanyu?


deg

__ADS_1


__ADS_2