LENTERA

LENTERA
part 27


__ADS_3

Dengan kecepatan penuh Helsha melajukan motor milik ayahnya yang sebelumnya ia pinjam untuk mencari keberadaan Varka.


Jujur saja Helsha tidak terlalu lancar mengendarai motor, tapi ia terlalu khawatir pada Varka sampai-sampai Helsha tidak memikirkan keselamatan nya. Sudah tiga kali Helsha hampir saja terserempet oleh kendaraan lain.


Varka, hanya Varka yang ada dipikiran Helsha saat ini. Helsha sangat mengkhawatirkan Varka, apalagi lelaki itu mematikan telpon Begitu saja setelah mengatakan hal yang begitu membuat Helsha khawatir


"Varka... Please kamu dimana?" Gumam Helsha sepanjang perjalanan


Beberapa tempat yang sering mereka datangi sudah Helsha lihat namun nihil Varka tak ada disana sama sekali. Mulai dari taman, sungai, dan tempat lainnya lagi namun Helsha tetap tidak bisa menemukan Varka.


Helsha seperti orang kesetanan, Ia menangis, berteriak memanggil nama Varka. Tidak perduli dengan tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya, yang Helsha inginkan saat ini hanya Varka.. Varka


Beberapa kali Helsha juga mencoba kembali menelepon Varka namun tetap saja tidak ada jawaban. Helsha sangat khawatir, ia takut jika terjadi hal-hal aneh pada lelaki itu. Ditambah lagi tadi Varka bilang ia ingin menyerah membuat Helsha semakin khawatir


"VARKA...!!" Teriak Helsha dengan tangisannya


Helsha mengehentikan motornya sejenak lalu menarik napas dalam-dalam, Tunggu sepertinya Helsha tau dimana kemungkinan Varka berada. Bodoh sekali pikir Helsha, bisa-bisanya ia lupa dengan tempat itu. Helsha dengan cepat kembali melajukan motornya menuju tempat itu, ia yakin Varka pergi kesana.


Tidak butuh waktu lama, Helsha sudah bisa Sampai disana. Helsha langsung berlari mencari keberadaan Varka disana. Ini sudah hampir malam tempat itu juga sudah mulai gelap, Helsha hanya bisa melihat beberapa orang yang mulai pergi juga dari tempat ini.


Helsha berlari kesana kemari, menyusuri setiap lekuk tempat ini dan ya usahanya membuahkan hasil. Helsha menemukan sosok Varka yang kini sedang berjalan menuju ketengah laut


"Varka...." Gumam Helsha


Helsha langsung berlari ke arah Varka, tidak peduli jika bajunya juga ikut basah sekarang. Setelah dekat Helsha langsung memeluk Varka dari belakang dengan erat.


"Varka..." Ucap Helsha memeluk Varka begitu erat


"He_Helsha..?"


"Varka, please jangan macem-macem ya?"


"Lepasin Sha" pinta Varka


Helsha menggeleng dan semakin mempererat pelukannya pada Varka


"Helsha lepas"


"Engga, Helsha gak akan biarin Varka pergi!! Engga"


"HELSHA LEPASIN VARKA!! BIARIN VARKA PERGI!! LEPASS....!!" Teriak Varka berusaha melepaskan pelukan Helsha yang memeluknya erat


"BIARIN AKU PERGI SHA!! SEMESTA GAK MAU AKU ADA DISINI! LEPASIN!! KELUARGA AKU BENCI SAMA AKU SHA!! LEPAS"


"Varka... Tolong jangan.." ucap Helsha yang perlahan menarik Varka agar menepi


"HELSHA!! LEPASIN... JANGAN SAMPE AKU LUKAIN KAMU!! PLEASE LEPASIN AKU... BIARIN AKU PERGI SHA...Tolong lepasin... Aku cape pengen istirahat" ucap Varka kembali terisak


"ENGGAK VARKA ENGGAK.. Gak boleh"


Helsha terisak begitupun juga Varka yang kini juga terisak


"AAAAKKKKHHHH....." teriak Varka sambil menangis


Helsha berhasil membawa Varka ke tepi pantai. Varka langsung menjatuhkan dirinya dan menangis sambil terus berteriak frustasi


Helsha dengan cepat langsung kembali memeluk Varka dan mengusap kepala Varka. Helsha juga ikut menangis, Sungguh rasanya sakit sekali melihat lelakinya kembali rapuh seperti ini.


"Helsha...." Lirih Varka mencengkram kuat lengan Helsha, dengan tangisannya yang semakin menjadi


"Helsha, sakit banget... Hikss... Sakit Sha..."


"Sha, aku anak yang gak diinginkan...hikss.. Aku harusnya gak disini...hikss... Aku harus mati Sha..."


Helsha semakin mengeratkan pelukannya pada Varka


"Engga, gak ada yang boleh pergi.. gak boleh"


"Sha, aku cuma mau mamah sama papah sayang sama aku. Tapi ternyata mereka benci sama aku Sha... Hiks.. aku harus apa sekarang? Hiks... Sakit banget Sha.. dunia aku udah hancur... Hikss... Tolongin aku Sha... Hiks... Sakit..." Lirih Varka sambil terisak diperlukan Helsha


Varka merenggangkan pelukan Helsha dan menatap perempuan yang kini juga menangis dihadapan nya


"Sha, aku pengen nyerah aja. Boleh ya? Biarin aku pergi Sha, aku cuma mau istirahat.. aku cape" ucap varka


"Varka...." Helsha semakin terisak dihadapan Varka


"Gak ada yang boleh pergi... Hikss... Varka harus disini.. engga boleh..." Lanjut Helsha


Varka menggenggam tangan Helsha erat.


"Tapi kehadiran aku disini gak ada gunanya Sha.. aku cuma sampah..." Ucap Varka


"Engga kamu salah..."


Helsha mengangkat wajahnya menatap Varka yang kini menatapnya seakan memohon untuk mengijinkan nya pergi saja.


"Varka please... Jangan kayak gini.. Ya? Varka?" Ucap Helsha semakin terisak


Sakit rasanya... Sakit sekali


Lihat... Bahkan langit pun tahu jika Varka sedang terluka dan menangis. Langit pun akhirnya membahasi keduanya


"Sha..." Lirih varka


"Varka? Sakit ya? Varka bertahan ya? Helsha mohon.. ya?" Lirih Helsha pada Varka, ia tak peduli jika sekarang dirinya jadi basah kuyup


"Sha... Varka mau pulang.. Varka gak mau disini.. Aku mau pulang.... Biarin aku pergi ya Sha? Varka pengen istirahat..." Ucap Varka menundukkan kepalanya


Helsha semakin terisak mendengar nya. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Ia tidak mungkin mengijinkan lelaki yang amat ia sayangi untuk pergi, tidak akan pernah ia izinkan.


Helsha mendekatkan tubuhnya pada Varka.


"Varka... Dengerin Helsha ya?"


"Sesakit apapun luka yang kamu terima, seberat apapun beban yang kamu tanggung, tolong jangan pernah berpikir untuk pergi ya?"


Varka menatap Helsha


"Varka, Helsha yakin kamu kuat, tolong bertahan ya? Setidaknya sampai Varka bisa buktiin sama mereka kalau kamu layak ada disini"


"Helsha..."

__ADS_1


Helsha langsung menarik Varka kembali kedalam pelukannya. Varka menangis dipelukan Helsha dengan Begitu keras.


"Varka, tolong jangan pernah pergi ya? Tolong inget, sesakit apapun itu Tolong jangan Pernah berpikiran untuk pergi? Varka, kamu gak sendirian, disini ada Helsha. Orang yang akan selalu ada dan berjalan disamping kamu sampai kapanpun itu. Varka, bertahan ya? Tolong..." Ucap Helsha


"Aku disini, aku disini, aku disini. Aku sayang sama kamu, tolong jangan Ninggalin aku.. bertahan ya? Please Varka jangan kayak gini..."


"Varka, semuanya pasti baik-baik aja. Kamu hanya perlu waktu buat nyembuhin semua luka kamu, jadi ayo bertahan ya?"


"Tapi Sha..."


"Varka, terkadang kita emang harus merasakan luka terlebih dulu supaya kita tahu gimana caranya buat bertahan, supaya kita tahu caranya bangkit lagi." Ucap Helsha mengelus kepala Varka agar bisa tenang


"Tapi sejauh ini semesta cuma ngasih aku luka Sha, aku yang salah harusnya aku gak ada"


"Disini kamu gak salah Varka, hanya saja semesta saat ini lagi gak berpihak sama kamu, semesta lagi gak ramah sama Varka. Bertahan ya? Kuat ya? Kamu pasti bisa lewatin ini, ada aku Varka, ada aku Helsha disisi kamu. Ayo bangkit, kita sama-sama saling menyembuhkan luka ya? Bilang sama semesta kalau kamu mampu, kalau kamu itu kuat..."


"Varka, tuhan gak bakal ngasih cobaan diluar kemampuan kita. Saat ini Tuhan cuma pengen liat Varka bangkit, tuhan tahu kalau Varka mampu ngelewatin ini semua. Varka, sekarang kamu cuma perlu berdiri dan tunjukan sama mereka kalau kamu baik-baik aja bahkan tanpa mereka. Percaya ya? Percaya suatu saat nanti kamu akan jadi orang hebat, orang yang akan dicintai banyak orang. Semuanya akan baik-baik aja Varka, percaya kan sama Helsha"


"Helsha....Aku sayang sama kamu... Tolong jangan pergi ya? Aku cuma punya kamu Sha..."


Helsha semakin mengeratkan pelukannya, mengusap lembut kepala Varka. Helsha memeluknya, menenangkan nya, agar Varka bisa merasa lebih baik lagi.


Varka menangis, Varka menumpahkan semua luka dan rasa sakitnya dipelukan Helsha, lelaki itu hancur sangat hancur. Tapi, dengan segala keajaiban yang dimiliki Helsha, ia mampu menenangkan badai yang kini menerpa Varka.


Helsha adalah penyembuh sekaligus penenang bagi Varka, rasanya begitu tenang ketika Helsha memeluknya dan meyakinkan nya.


Helsha menghapus air matanya lalu melepaskan pelukannya. Helsha tersenyum kearah Varka, tangannya terulur menghapus air mata dipipi Varka yang bersatu dengan air hujan yang membasahi mereka.


"Kita pulang ya? Ayah sama Bunda pasti udah nungguin kita dirumah... Pulang sama Helsha ya?" Ucap Helsha


"Maafin Varka..."


"Gapapa... Kita pulang ya?" Ajak Helsha


Varka mengangguk dan berusaha tersenyum pada Helsha, hari ini perempuan nya kembali berhasil membuat Varka selamat. Helsha berhasil membuat Varka bertahan.


____


"Kak Gibran?" Ucap Helsha setelah sambungan telpon tersambung


"Eh Sha, ada apa? Butuh bantuan?"


"Jahat.." ucap Helsha


"Hah? Maksudnya?"


"Kamu jahat!! Tau gak baru kali ini aku ngerasa benci banget sama orang!!"


"Maksudnya apa? Kamu kenapa? Aku gak paham Sha" tanya Gibran kebingungan


"Licik dasar licik... Punya hati enggak? Varka itu adek kakak, kenapa kakak malah pengen adek Kaka pergi?" Tanya Helsha emosi


"Ah Sha kamu pasti salah paham deh, Varka bilang aneh-aneh ya? Kamu udah ketemu sama Varka? Anak itu pasti bilang aneh-aneh ke kamu ya.."


"Enggak, aku baca sendiri pesan-pesan dari kakak di handphone Varka. Tadinya aku mau ngabarin orang tua Varka, tapi sayang ya ternyata semuanya jahat. Kalian jahat, lebih jahat dari apapun"


"Sha dengerin aku dulu,,,, kamu salah paham"


"Sha.. sebentar. Dengerin aku dulu"


"Apa lagi kak?!!" Ucap Helsha kesal


"Aku yakin kamu salah paham, kamu pasti salah baca. Pasti Varka kan yang bikin kamu kayak gini? Masa iya Keluarga sendiri bisa Setega itu? Gak mungkin Sha. Semua itu varkanya aja yang lebay, jangan salah paham ya?"


"Kakak masih aja mau ngehindar? Sumpah aku kecewa banget sama kak Gibran!!"


"Sha mungkin iya di chat itu aku marah sama Varka tapi aku gak kayak apa yang kamu pikirkan Sha. Jangan salah paham ya? Percaya kan sama aku?"


Helsha langsung mematikan telpon Begitu saja lalu dengan cepat Memblokir nomor Gibran, ia tidak ingin ada hubungan lagi dengan pria itu. Bisa-bisanya Gibran begitu jahat pada Varka, selama ini Helsha pikir Gibran baik pada Varka karena melihat sesekali Gibran selalu perhatian pada varka tapi nyatanya pria itu bermuka dua. Hampir saja Helsha terhasut oleh Gibran.


"Sayang... Varka nya belum bangun? Kamu udah kasih tau orang tuanya?" Tanya bunda menghampiri Helsha


"Belum Bun, pasti Varka kecapean. Kayaknya gak mungkin ada yang peduli deh Bun"


"Kamu coba aja dulu sayang... Gimanapun juga mereka harus tahu, gimanapun tanggapan nya nanti yang penting kita udah kasih tau"


"Iya Bun, nanti Helsha telpon mamahnya"


"Nanti ke kamar sambil bawa makanannya ya. Kalau udah bangun langsung suruh makan, bunda yakin pasti Varka belum makan"


Helsha hanya mengangguk menanggapi ucapan Bunda. Rasanya masih terasa sakit mengingat bagaimana hancurnya Varka tadi.


Helsha berjalan ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Varka. Dilihatnya Varka masih Belum juga bangun, setelah sampai disini Varka memang langsung tertidur setelah mengganti pakaiannya.


Helasha menekan satu nomor yang ia dapatkan dari ponsel Varka. Sebenarnya Helsha malas memberitahu keluarga Varka tapi ia ingat perkataan bunda yang mengatakan jika Varka tetap anak dari keluarga itu walaupun keluarganya bersikap seperti tidak peduli


"Hallo selamat malam tante, ini benar dengan Tante Clara kan ya?" Ucap Helsha sebisa mungkin terdengar ramah


"Ya benar. Ini siapa ya?"


"Hallo Tante, saya Helsha. Masih inget gak? Saya temennya Varka anak Tante"


"Oh, iya ada apa?" Ucap Clara ketus


"Tante saya cuma mau ngasih kabar kalau Varka anak Tante sekarang demam gara-gara semaleman gak tidur"


"Terus? Itu bukan salah saya, siapa suruh dia pergi dari rumah"


"Tante bener mama nya kan? Saya baru tahu kalau ternyata di dunia ini masih ada orang yang tega buang anaknya sendiri.. saya kira Tante selama ini baik"


"Kamu gak sopan ya!! Saya gak pernah buang Varka, dia yang pergi sendiri dari rumah. Sekarang kalau emang kamu mau ngurus dia silahkan, saya gak peduli"


Tut...Tut..


Helsha menahan sesak di dadanya setelah Clara menutup telpon Begitu saja, matanya beralih menatap Varka yang kini terbaring ditempat tidur miliknya.


Helsha mengusap pelan kening Varka, suhu tubuh Varka begitu hangat. Tanpa sadar bulir air mata kembali membasahi pipi Helsha


"Varka..." Lirih Helsha


Rasanya sakit sekali, saat melihat lelaki yang sudah hampir tiga tahun selalu bersama dengan dirinya kini hancur, Kenapa bisa Takdir Varka begitu malang?

__ADS_1


Lagi-lagi dan lagi Helsha harus selalu melihat lelaki kesayangannya ini terluka, semesta sudah terlalu jahat padanya, kenapa?


"Varka..." Ucap Helsha masih setia mengusap kening Varka.


Helsa terisak pelan untuk beberapa saat,


"Maaf.. maaf untuk semua lukanya Varka, maaf karena sejauh ini aku masih gagal bikin kamu bahagia.. Varka maaf..." Lirih Helsha


Tiba-tiba saja Varka mengerang seperti kesakitan membuat Helsha terkejut bukan main. Mata Varka masih terpejam, namun suhu tubuhnya semakin panas, tubuh Varka juga berkeringat.


"Mama..." Gumam Varka


"Varka.. bangun... Varka" ucap Helsha berusaha membangunkan Varka


"Papa..." Gumam Varka lagi dalam keadaan yang tak sadar


"Mama... papa... Maaf.. maafin Varka..."


Dengan mata yang masih terpejam Varka menangis, suaranya benar-benar menyiratkan bahwa saat ini ia sedang amat terluka.


Helsha yang melihat itupun langsung memeluk tubuh Varka, tak peduli jika dirinya nanti akan tertular sakit juga.


"Varka... Bangun, ini Helsha... Varka..." Lirih Helsha


Varka terisak dalam tidurnya, semakin lama isakan nya terdengar semakin keras. Benar-benar menyakitkan untuk Helsha melihat Varka seperti ini


"Mama.. maaf karena Varka harus... Hadir..."


"Varka sayang kalian..."


"Varka pengen dipeluk sama kalian..."


Tangisan Varka semakin terdengar, Helsha bahkan kembali ikut menangis. Helsha tau Varka pasti sedang bermimpi oleh karena itu ia berusaha membangunkan Varka.


"MAMA... PAPA...." Teriak Varka tiba-tiba


Varka terbangun dari tidurnya sambil berteriak, napasnya tersenggal dan lagi ia kembali menangis. Tapi kali ini tangisannya tidak terlalu kencang, Varka sebisa mungkin menahan tangisannya.


"Varka..." Panggil Helsha lembut


Varka menoleh pada Helsha yang duduk disampingnya dengan tatapan mata yang begitu sendu


"Helsha.. mama sama papa.. Sha..."


Dengan cepat Helsha kembali memeluk erat tubuh Varka


"Varka tenang ya?" Ucap Helsha lembut


"Sha.. disini..."


Varka menyentuh dada sebelah kirinya, lalu memukulnya pelan beberapa kali


"Disini sha, rasanya sakit banget... Sakit" ucap Varka memukul dadanya


"Varka... Kamu lagi sakit jangan banyak pikiran ya? Helsha, Bunda sama ayah ada disini buat Varka. Varka aman sekarang, Varka gak bakal ngerasa sakit lagi, kuat ya?"


Varka memeluk erat Helsha sambil berusaha menahan rasa sakit yang kini kembali menyeruak masuk kedalam dadanya.


Sedangkan Helsha ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, ia berusaha untuk kuat. Ia harus kuat untuk Varka.


"Tuhan.. tolong biarkan Varka bahagia" batin Helsha


Helsha hanya ingin Varka bahagia, rasanya sudah cukup ia selalu menyaksikan betapa terlukanya manusia ini. Helsha hanya ingin Varka tersenyum.


Kepada angin, tolong sampaikan pada semesta untuk menghentikan semua penderitaan Varka. Varka sudah terlalu rapuh untuk menerima segala luka lagi.


Kepada awan, tolong lindungi Varka. Varka bagaikan matahari bagi Helsha, tolong jangan biarkan ia mendung kembali karena perjalanan hidupnya masih jauh. Tolong biarkan ia tetap cerah agar Varka mampu berjalan tanpa hujan dan badai.


Tolong semesta, sekali saja dengarkan rintihannya...


Helsha melepaskan Pelukannya setelah Varka sedikit tenang. Ia lalu menghapus air mata lelaki itu, sudah cukup Helsha tidak ingin melihat air mata ini keluar lagi


"Tenang ya, ada Helsha.. jangan takut"


"Sekarang Varka makan dulu ya, pasti dari kemaren belum makan kan?" Ucap Helsha


"Maafin Varka Sha... Maaf karena Varka hampir menyerah"


"Udah gak usah dipikirin lagi. Sekarang yang penting Varka sehat dulu biar kita bisa bareng-bareng lagi, jangan banyak pikiran ya"


"Makasih..." Ucap Varka


"Udah ah sedih-sedih nya.. gak liat emang mata Helsha udah bengkak gini" gurau Helsha


Varka terkekeh melihatnya, ya Varka bisa melihat bagaimana mata sembab dan merah Helsha. Iya yakin pasti perempuan ini menangis melihat dirinya yang hancur.


"Maafin ya?" Ucap Varka


"Iya Helsha maafin, tapi kalau Varka kayak tadi lagi Helsha bakal marah banget..."


"Sekarang makan dulu ya?" Ucap Helsha mengambil piring diatas nakas


"Aaa...." Ucap Helsha menyodorkan sesendok nasi pada Varka


Varka dengan perasan yang sudah sedikit tenang langsung melahap makanan itu. Dengan dirinya yang seperti ini pasti membuat Helsha sedih dan Varka tidak suka hal itu, jadi Varka ingin segera pulih agar tidak membuat perempuan ini sedih lagi.


____


"Inget ya, jangan sampai ketahuan" ucap Juna pada seseorang yang kini berdiri dihadapan


"Baik pak Juna"


"Pastikan apa saja yang terjadi dan langsung laporkan pada saya. Apapun caranya saya tidak peduli yang penting kamu mendapatkan hasil yang bagus"


"Baik pak"


"Kalau Begitu kerjakan sekarang!!"


"Baik pak, saya permisi" ucap orang itu sambil membungkuk memberi hormat sebelum pergi.


Semoga saja dengan cara ini bisa berhasil pikir Juna

__ADS_1


__ADS_2