LENTERA

LENTERA
part 18


__ADS_3

Happy Reading


Varka dan Helsha baru saja sampai dirumah Helsha, setelah sebelumnya Varka diizinkan pulang oleh dokter. Varka sebenarnya tidak enak karena pasti ia merepotkan Helsha, tapi Helsha dengan tegas mengatakan jika Bundanya sudah menyiapkan makanan spesial untuk Varka.


Seperti biasa Varka akan disambut hangat oleh keluarga ini. Tidak seperti tadi dirumahnya, yang mungkin keberadaan nya saja tidak dianggap.


"Bunda..." Ucap Varka langsung menyapa Bunda Helsha yang menghampirinya.


"Varka gapapa kan? Baik-baik aja?"


"Gapapa, udah baikan Bun"


"Bunda sampe kaget loh pas Helsha bilang kamu dibawa kerumah sakit,"


"Hehehe... Iya Bun maaf ya jadi ngerepotin" ucap Varka terkekeh malu karena sudah merepotkan Keluarga Helsha.


"Yaudah istirahat dulu aja ya, Bunda kebelakang dulu" ucap bunda Helsha berlalu pergi


"Eh iya Varka, tau gak ada siapa?" Tanya Helsha yang sejak tadi memegangi tangan Varka


"Engga, emang ada siapa sha?"


"Ada Ayah.." ucap Helsha tersenyum


Jantung Varka tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat. Jujur saja Varka memang jarang bertemu dengan ayah Helsha karena Kesibukan Ayah Helsha, mungkin ia hanya pernah bertemu dua kali dengan ayah Helsha, itupun saat hari kelulusan SMP dan awal masuk sekolah SMA.


Helsha terkekeh pelan saat melihat wajah Varka yang terlihat takut.


"Varka, ayah aku gak galak kok. Jangan takut" ucap Helsha


"Hehehe... Aku kan jarang ketemu Sha, jadi takut..."


"Ayah baik kok sama kayak Bunda, jadi gak usah Takut"


Varka hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Helsha


"Anak-anak, ayo kesini makannya udah siap" teriak bunda


Helsha langsung menuntun Varka agar ikut makan malam bersama keluarganya, Padahal Varka bisa berjalan dengan baik walaupun tidak dipegangi tapi Helsha malah terus memegangi nya dari rumah sakit.


"Sini Varka, duduk disamping Helsha" ucap Helsha menepuk pelan kursi disamping nya


"Varka jangan malu-malu gitu ah" tegur Bunda pada Varka


"Hehehe, iya Bun"


Tak lama seorang lelaki paruh baya datang dan langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan Varka.


"Loh? Ini Varka kan?" Tanya Ayah


"Iya, O..om.."


Helsha terkekeh melihat ekspresi Varka yang sangat gugup ketika menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Udah udah, ngobrolnya dilanjut nanti. Sekarang kita berdoa dulu" ucap Bunda


Ayah langsung memimpin doa, Diam-diam Varka memperhatikan sosok dihadapannya ini. Berwibawa sekali pikir Varka


Kegiatan makan malam pun dimulai, kehangatan di Keluarga ini begitu terasa saat setiap orang menceritakan masing-masing kegiatan yang mereka lakukan. Mulai dari Helsha yang menceritakan kegiatan nya disekolah, Kaka yang juga menceritakan kegiatan nya, Ayah yang berbicara tentang keadaan kantor dan bunda yang menceritakan kegiatan dirumah.


"Varka kok diem aja?" Tanya Bunda


"Ayo ceritain, tadi kamu disekolah ngapain?" Ucap ayah tiba-tiba


"Oh iya, Varka tadi habis lomba loh ayah..." Ucap Helsha


"Ini makannya Bunda nyiapin cookies khusus buat Varka yang udah ikutan lomba" ucap Bunda


"Makasih Bunda"


"Wahh... Lomba apa Varka?" Tanya ayah pada Varka


"Biologi Om..."


"Ihh... Panggil ayah aja Varka" tegur Helsha


"Ahh... Iya lupa, maaf Ayah"


"Iya iya, kalau gitu gimana hasilnya?" Tanya ayah kembali


"Juara dua Yah, jelek ya?" Ucap Varka lirih


"Loh kata siapa jelek? Juara dua itu bagus Varka, gak semua orang mampu kayak kamu. Kenapa Varka malah berpikir kayak gitu?" Ucap Ayah


"Eum.. soalnya Varka belum bisa banggain mamah sama Papah, tadi aja mamah sama papah kecewa banget sama hasil yang Varka dapet" ucap Varka tersenyum tipis.


"Varka, orang tua kamu pasti bangga kok! Orang tua mana sih yang gak bangga punya anak pinter kayak kamu? Mereka pasti bangga" ucap Bunda sambil mengelus rambut hitam Varka.


"Tuh, Varka denger kan" ucap Helsha


Varka menghela napasnya


Memang benar, orang tua mana yang tidak bangga jika anaknya mendapatkan prestasi? Orang tua Manapun itu pasti bangga.

__ADS_1


Tapi sayangnya, itu tidak berlaku dengan orang tua Varka. Mereka bahkan sedikitpun tidak pernah bangga dengan apa yang Varka raih, sekeras apapun Varka berusaha merek tidak pernah bangga terhadap dirinya.


"Iya Bunda" lirih Varka


"Varka kenapa? Kok kayak sedih gitu?" Tanya ayah


Varka hanya tersenyum canggung menanggapi pertanyaan Ayah Helsha


"Varka gapapa kok"


"Varka kamu itu hebat lho, zaman sekarang biasanya anak SMA terutama laki-laki jarang sekali ada yang mau ikut lomba seperti ini. Varka hebat, Ayah aja bangga banget dengernya. Apalagi Varka juara dua kan?"


"Heheh.. iya Ayah."


Ayah tersenyum bangga kearah Varka, seperti senyuman orang tua kepada anak nya sendiri.


"Jangan sedih ya Nak, disini ayah, Bunda, kaka, sama Helsha bangga banget sama hasil yang Varka raih" ucap Ayah tersenyum.


Bunda langsung menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Varka, ia kemudian mengusap pelan pucuk rambut Varka dengan penuh kasih sayang, Seperti yang seorang Ibu selalu lakukan terhadap anak kesayangannya.


"Selamat ya Varka karena udah jadi anak yang hebat, Bunda bangga sama Varka" ucapnya lalu memeluk Varka dengan begitu erat.


Dalam pelukan itu hati Varka menghangat. Pelukan seperti ini yang selalu Varka inginkan, pelukan hangat yang diberikan oleh seorang ibu pada anaknya.


"Loh? Varka kenapa nangis?" Tanya ayah saat mendengar suara isakan kecil


"Varka belum pernah merasa sehangat ini, bahkan baru kali ini Varka dapet apresiasi dari sosok orang tua..." Ucap Varka lirih


"Varka seneng. meskipun ayah sama Bunda bukan orang tua aku, meskipun ayah sama bunda gak terlalu kenal aku, tapi Varka bisa ngerasain kehangatan dan ketulusan dari Ayah sama Bunda. Sekarang Varka jadi tau rasanya di apresiasi dan dihargsi. Ayah, Bunda, makasih banyak, Varka seneng banget ternyata rasanya sebahagia ini" ucap Varka sambil mengusap air matanya.


Disamping Varka, Helsha tersenyum. Ia senang karena Varka akhirnya bisa merasakan dan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah didapatkan dari orang tuanya.


"Varka... Ayah, bunda, kakak dan Helsha sayang banget sama Varka"


"Mulai sekarang Varka jangan ngerasa sendiri lagi ya? Sekarang kita keluarga. Varka boleh kok meluk ayah sama bunda kayak apa yang selama ini Varka mau. Jangan sedih lagi ya?" Ucap Helsha tersenyum


Ayah yang berada dihadapan Varka ikut berdiri dan mengelus lembut pucuk kepala Varka membuat Varka tersenyum bahagia.


Ahh...


Seandainya saja Yang saat ini sedang memeluk Varka adalah mamahnya, seandainya Sosok lelaki dihadapannya sekarang adalah Papahnya, seandainya saja ini adalah Keluarganya, mungkin Varka akan menjadi manusia Paling bahagia di dunia ini. Karena setidaknya dikeluarga ini, Varka bisa merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Varka ingin seperti ini.


Dipeluk dan diberikan kehangatan yang membuatnya nyaman


Varka ingin seperti ini.


Varka tersenyum pelan mengingat bagaimana tadi ia diperlakukan begitu kasar dirumahnya. Ah, rasanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang Varka terima dirumah ini dan dirumahnya sendiri.


Sejahat apapun mereka tapi mereka tetaplah orang tuanya, yang sudah melahirkan dan merawatnya. Biarlah mereka membenci keberadaan Varka tapi Varka tidak bisa membenci Keluarga nya sendiri.


"Ayah, Bunda, Kak, Helsha terimakasih banyak..." ucap Varka


___


Helsha dan Varka berjalan menyusuri taman yang berada tidak jauh dari rumah Helsha. Udara malam yang cukup menyejukkan setidaknya bisa membuat Varka sedikit lebih tenang. Perasaannya sudah sedikit membaik dan itu semua berkat keluarga Helsha.


"Maaf ya Sha, kamu pasti kecewa karena aku gak bisa dapet juara pertama" ucap Varka pada Helsha yang tengah duduk disampingnya


"Engga, jangan minta maaf. Helsha bangga kok beneran. Bangga sama Varka, sama usaha Varka, Helsha bangga sama Varka lebih dari siapapun di dunia ini."


Varka hanya tersenyum mendengarnya


"Varka, kalaupun Varka emang belum bisa banggain orang tua Varka jangan sedih ya? Masih banyak kesempatan lainnya buat Varka bisa banggain mereka. Sekarang Varka cuma harus bertahan sampai waktu itu tiba, ya?"


"Helsha bangga sama Varka, bangga banget. Makasih udah berusaha buat jadi yang terbaik ya Varka, makasih karena Varka udah bertahan sampai sejauh ini. Jangan sedih ya? Ada Helsha disini yang akan selalu bangga sama Varka" lanjut Helsha


"Makasih ya Sha" ucap Varka menggenggam tangan Helsha


"Kuat ya?"


Varka mengangguk dan tersenyum kearah Helsha. Seberat apapun hal yang dihadapi Varka pasti akan selalu ada Helsha disampingnya.


"Gemes banget..." Ucap Helsha mencubit gemas pipi Varka


Semesta tolong jangan pernah ambil Helsha dari sisi Varka, begitupun sebaliknya jangan ambil Varka dari Helsha.


"Udah malem, pulang yuk" ajak Varka


"Aku anterin kamu ya?" Tawar Helsha


"Masa cewe nganterin cowo sih. Harusnya aku yang nganterin kamu" tolak Varka


"Ihh.. aku khawatir kamu kan tadi sempet pingsan, aku anterin aja ya?"


"Aku gapapa kok, nanti kalau udah sampe pasti aku langsung hubungin kamu. Sekarang ayo pulang nanti ayah sama bunda khawatir karena kelamaan jalan-jalan nya"


Helsha langsung cemberut karena Varka terus menolak tawarannya.


"Ayo sayangnya Varka..." Ledek Varka


"Varka..!!" Teriak Helsha sambil memukul Varka

__ADS_1


"Hahahah.... Yaudah ayo aku juga cape nih"


"Iya... Iya"


___


Saat Sampai dirumah Varka melihat Gibran yang duduk didepan rumah seperti sedang menunggu seseorang, padahal ini sudah sedikit larut. Varka langsung berjalan masuk tanpa memperdulikan keberadaan Gibran yang kini menatapnya dengan tatapan tak suka


"Gak kapok Lo dimarahin sama mama papa? Masih aja pulang malem kayak gini." Tegur Gibran


"Lah? Kenapa emang? Biasanya mereka juga gak perduli kok mau gue balik jam berapa aja"


"Lo tuh ya.."


"Lo kenapa sih kak?" Tanya Varka karena Gibran yang tiba-tiba bersikap seolah peduli


"Gue khawatir, Lo keluar sama Helsha kan? Gak baik tau bawa anak orang jalan-jalan sampe semalem ini kalau dia kenapa-kenapa gimana?" Ucap Gibran


"Lah, gue sama Helsha jalan-jalan keluar juga karena disuruh sama orang tuanya, kenapa Lo sensi? Udah gue bilang Lo gak usah sok peduli kalau niatnya cuma mau deketin Helsha"


Gibran langsung terdiam begitu mendengar kalimat Varka yang memang betul adanya


"Kenapa diem? Jadi bener ya, akhir-akhir ini Lo peduli sama gue cuma karena pengen Deket sama Helsha?" Tanya Varka


"Gak usah suudzon, gue peduli sama Lo karena Lo itu adek gue. Emang salah ya?"


"Salah, karena kepedulian Lo itu cuma topeng aja" ucap Varka lalu pergi meninggalkan Gibran


"Gue beneran peduli sama Lo Varka. Tapi gue juga gak suka kalo Lo punya satu hal yang gak gue punya. Gue gak suka Nerima fakta kalo Lo punya satu orang yang selalu ada buat Lo, harusnya gue yang dapet itu semua bukan Lo. Gue gak suka, gue benci ngeliatnya" ucap Gibran dalam hati.


___


Helsha berbaring diatas kasur sambil menunggu panggilan video nya diangkat oleh Varka. Helsha mengangguk-nganggukan kepalanya mengsenandungkan lagu yang ia sukai hingga tidak menyadari jika panggilannya sudah diangkat.


"Dor..." Teriak Varka disebrang sana membuat Helsha langsung terperanjat apalagi Varka mendekatkan wajahnya ke kamera.


"Astaghfirullah Varka kaget...." Ucap Helsha mengelus dadanya.


"Kok kaget sih?" Tanya Varka sambil merapihkan rambutnya


"Ya Varka tiba-tiba muncul, udah gitu Deket banget lagi.... Kan Helsha kaget" ucap Helsha sambil terus mengusap dadanya yang masih syok


"Hahahaha...." Ucap Varka sambil tertawa


"Udah sampe rumah?"


"Udah dong, ini udah dikamar"


Varka memperbaiki posisi tubuh nya agar lebih nyaman saat melakukan video call dengan Helsha


"Varka..."


"Hmm...?"


"Mata Varka keliatan cape banget tau dari pas tadi kita bareng-bareng. Istirahat ya? Lombanya udah selesai kan? Jangan begadang lagi ya? Kalau bergadang terus nanti sakit gimana"


"Kalo aku sakit gampang kok sembuh nya?"


"Gimana?"


"Tinggal denger kamu ngomong sama liat senyum manis kamu, aku pasti langsung sembuh Sha" goda varka


"Ihh.. apaan sih Varka"


Helsha menutupi sebagian wajahnya karena malu.


"Hahahaha, tapi aku beneran Sha. Soalnya sejauh ini cuma kamu orang yang bisa bikin luka aku sembuh. Jadi selama ada kamu disisi aku, aku pasti bakal baik-baik aja Sha. Jadi jangan khawatir ya?"


"Tapi janji ya? Varka jangan sampe sakit, Helsha gak mau denger Varka sakit gara-gara kecapean lagi." Omel Helsha


"Iya Helsha, aku gak bakal sakit. Tenang aja ya"


"Awas aja kalau sakit, aku pukul...wlee" ucap Helsha


"Dimana-mana kalau sakit ya harusnya disayang Sha" goda Varka


"Ihh udah ah malu..."


"Yaudah sana gih tidur, udah malem. Varka juga mau istirahat"


"Yaudah istirahat ya, Helsha sayang sama Varka"


Varka melambaikan tangannya kearah kamera lalu mematikan sambungan telpon.


Varka berbaring menatap langit-langit kamarnya, pikirannya berkelana entah kemana. Begitu banyak yang harus dipikirkan sehingga Varka pun hingung dengan apa yang harus dilakukan olehnya.


Keluarganya yang tidak pernah berubah.


Helsha yang menyayanginya


Dan hal yang tidak bisa ia katakan pada siapapun.


Terkadang Varka merasa jika beban yang ia terima terlalu berat, Varka lelah dan ingin menyerah namun setiap kali ia ingin menyerah Helsha selalu menjadi alasan Varka tidak menyerah.

__ADS_1


Kita lihat sampai kapan lelaki yang kuat diluar namun begitu rapuh didalam ini bisa bertahan?


__ADS_2