LENTERA

LENTERA
part 11


__ADS_3

____________


Happy Reading


____________


Gibran berjalan agak cepat menuju ke kelas Varka, ia sedikit kesal karena mendengar jika adiknya itu terlambat datang ke sekolah Padahal hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Gibran tidak ingin dirinya juga ikut malu karena Varka, kau ditaruh dimana wajahnya jika semua anak disekolah ini tau jika Varka adiknya. Ia adalah ketua OSIS dan akan sangat merepotkan jika semua orang tahu ia mempunyai adik yang baru hari pertama masuk sekolah saja sudah terlambat.


"Varka..." Panggil Gibran setelah sampai didepan kelas


"Ikut saya" lanjut Gibran langsung sebelum Varka menjawabnya.


Varka hanya diam dan mengikuti langkah Kakaknya ke suatu tempat. Di atap halaman belakang sekolah, ya disinilah kini mereka berdua berada. Gibran masih berdiri membelakangi Varka membuat anak itu semakin bingung dengan sikap Kakaknya.


"Kak..." Panggil Varka


Gibran membalikan badannya dan menatap tajam Varka.


"Maksudnya apa kamu masuk sekolah terlambat?? Telat?? Astaga, kamu kan udah kakak kasih Vespa Varka masih aja telat!! Malu-maluin Kaka aja tau gak" ucap Gibran


"Maaf kak tadi Vespanya mogok"


"Apa? Halah alesan aja"


"Bener kak aku gak bohong"


"Sumpah ya Untung temen-temen Kaka gak tau kalau kamu adik Kaka. Awas ya Varka jangan bikin masalah, Kaka Ketua OSIS disekolah ini jadi jangan malu-maluin!!"


Varka menunduk, rasanya sakit sekali mendengar perkataan Kakaknya. Ia telat datang ke sekolah juga bukan karena keinginannya, keadaan yang tak terduga yang membuatnya terlambat. Haruskah Kakaknya sampai semarah ini? Bahkan mengatakan hal yang menyakitinya?.


"Maaf kak" ucap Varka pada akhirnya, Percuma juga jika ia berusaha membela diri tak ada yang akan berubah.


"Yaudah, belajar yang bener. Baru juga masuk udah cari masalah!!" Ucap Gibran lalu pergi begitu saja.


Varka menatap kepergian Gibran dengan senyum kecut. Ternyata Kakak nya benar-benar tidak menyayangi dirinya, bahkan dia malu untuk mengakui Varka sebagai adiknya. Sebegitu tidak berharganya Varka Dimata kakaknya?.


Varka menghela napas lalu berjalan untuk kembali ke kelasnya. Tidak ada yang bisa ia harapkan lagi dari kakaknya.


"Varka..."


Varka menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya. Ia tersenyum saat menyadari bahwa itu adalah Helsha.


"Darimana? Aku nyariin tau" ucap Helsha setelah sampai dihadapan Varka.


"Kenapa? Kangen?" Ucap Varka menggoda


"Ihh..." Helsha dibuat melongo mendengar ucapan Varka.


Varka terkekeh melihat ekspresi Helsha yang tersenyum malu karena mendengar ucapannya..


"Ngetawain lagi..."


"Maaf maaf. Emang ada apa nyariin aku?" Tanya Varka


"Ya pengen aja." Ucap Helsha sambil berjalan beriringan dengan Varka


"Belum ada temen?"


"Hehehe.. ada sih, cuma udah kebiasaan sama Varka jadi ya gitu deh hehe" ucap Helsha nyengir


"Hmm..."


Helsha menatap wajah Varka lama sekali, sepertinya ada yang aneh dengan Varka. Helsha langsung berdiri dihadapan Varka dan menyipitkan matanya seperti sedang menyelidik sesuatu. Sementara Varka menunjukkan wajah bertanya pada Helsha


"Kamu gapapa?" Tanya Helsha


Lihat bagaimana perempuan ini bisa langsung tau keadaan Varka hanya dari wajahnya, padahal sebisa mungkin Varka sudah berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang sedikit kurang baik akibat perkataan Kakaknya tadi.


"Gapapa.." ucap Varka tersenyum


"Tadi darimana? Kamu belum jawab loh"


"Dari halaman belakang"


"Ngapain? Ada yang jahatin Varka ya?" Ucap Helsha dengan wajah khawatir

__ADS_1


"Engga ada, gak ada yang jahatin aku kok Sha. Tadi aku ketemu sama Kaka aja disana"


"Kakak kamu?" Tanya Helsha memastikan


"Iya" ucap Varka sambil kembali berjalan


"Kaka kamu bilang apa? Jangan bilang dia marahin kamu karena telat tadi"


Varka berhenti saat mendengar ucapan Helsha, perempuan ini selalu tau bahkan sebelum Varka memberitahunya.


"Bener kan? Varka..."


"Cuma sedikit kok, maklum Kaka aku kan ketua OSIS jadi ya gitu"


"Varka gapapa?" Tanya Helsha memegang tangan Varka.


"Kalau ada yang jahatin atau gangguin Varka bilang sama Helsha ya?" Lanjut nya


"Sha udah bel tuh, ke kelas sana nanti dimarahin guru. Aku juga mau ke kelas kok" ucap Varka lalu berjalan pergi


"Varka..." Gumam Helsha menatap sedih kepergian Varka.


Helsha yakin, pertemuan Varka dengan kakaknya pasti membuat Varka sedih. Entah apa yang dikatakan oleh kakak Varka namun Helsha yakin itu adalah hal yang seharusnya tidak dikatakan.


____


"Mau jadi apa kamu hah!! Mau jadi gembel? Jadi gelandangan iya!!" Teriak Clara pada Varka yang kini menundukkan kepalanya.


"Baru juga hari pertama kamu masuk sekolah, udah Kena hukuman aja!! Bisa-bisanya ya!!" Lanjut Clara


"Maaf Ma.." ucap Varka


Disamping mereka ada Gibran yang tengah terduduk memperhatikan keduanya, ia menghela napas melihat kejadian ini. Tak memungkiri jika Gibran sudah memprediksi hal ini sejak tadi disekolah, tidak ada hal yang bisa ia bantu juga supaya Varka tidak dimarahi.


"Bisa gak sih Varka? Sehari aja kamu gak bikin mamah marah? Sehari aja kamu gak buat masalah, sehari aja kamu jadi anak baik dan nurut, sehari aja kamu banggain mamah? Kenapa sih? Kenapa lagi-lagi kamu cuma bisa buat mamah malu dan ngebuat suasana dirumah ini jadi kacau!! Kenapa hah!!?"


Varka yang sejak tadi hanya menunduk, kini mengangkat kepalanya dan menatap Clara


"Mama..."


"APA!!"


Varka menghela napas lalu kembali menatap Clara


"Kenapa sih ma? Kenapa mama selalu menganggap apapun yang Varka lakuin salah!!? Kenapa mama selalu anggap Varka sebagai anak yang kurang ajar? Kenapa?"


"Mama Varka bahkan gak pernah sekalipun nolak permintaan mama, Varka gak pernah ngebantah mama, Varka gak pernah ngelawan mama. Tapi kenapa sih? Mama kayaknya benci banget sama Varka?" Lanjut Varka


"Oh udah berani jawab sekarang??"


"Bukan itu maksud Varka mahl, Varka cuma heran aja..."


Setelah berkata seperti itu Varka lalu mendekat kearah Clara, ia meraih tangan Clara kemudian mengarahkan tangan Clara pada pipi Varka.


"Ayo Ma, tampar Varka kayak biasa. Gapapa kok" ucap Varka sambil memukulkan tangan Clara pada pipinya seolah perempuan itu sedang menamparnya.


"Ayo Ma pukul Varka!? Bukannya mama suka mukul Varka? Kenapa sekarang diem? Ayo mah!!" Ucap Varka dengan suara yang bergetar.


Clara hanya diam dan menarik tangannya yang berada digenggaman Varka.


Mata Varka memerah, napasnya tersenggal-senggal, amarahnya meluap Begitu saja. Rasa lelahnya, lukanya, kecewanya, kini seakan-akan berkumpul menjadi satu direlung dadanya dan meminta untuk segera diluapkan.


"Ayo ma pukul varka! AYO PUKUL!!" Teriak Varka sambil memukul tubuhnya sendiri.


"Kenapa mama diem? Kenapa!! Ayo mah pukul Varka!! Pukul Varka!!" Ucap Varka menatap clara dihadapannya.


Wajah Varka memerah menahan amarah, napasnya mulai tidak teratur. Ia lelah dengan semua ini, Lelah sekali. Tidak pernah satu kali pun ada orang dirumah ini yang mengerti dirinya.


"Ayo ma pukul Varka gapapa, kalo dengan cara mukul Varka mama jadi bahagia Varka gak masalah.. ayo pukul Varka!!" Lirih Varka dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya


Clara hanya menghela napas lalu pergi meninggalkan Varka tanpa sepatah katapun. Bahkan mengabaikan tangisan dan amarah Varka.


Varka terduduk jatuh dilantai, lagi-lagi sakit yang harus ia rasakan.


Varka muak dengan semuanya, bahkan masalah sepele dan kecil pun bisa menjadi masalah besar bagi Varka.

__ADS_1


Lagi-lagi ia yang disalahkan, lagi-lagi ia yang kalah, lagi-lagi ia yang menangis sakit, dan lagi-lagi semesta Menyiksanya!!


Apakah ini semua salah Varka?


Padahal jelas-jelas perihal kejadian tadi pagi, saat Vespanya mogok dan membuat ia terlambat bukan salahnya.


Varka bahkan tidak terpikirkan jika hal itu akan terjadi dan membuat dirinya datang terlambat, bahkan ia tidak menyangka jika motor pemberian kakaknya itu akan berhenti begitu saja.


Varka terisak pelan sambil tersenyum kecut.


Harusnya dihari pertama masuk SMA, Varka mendapatkan cerita indah dan momen yang mengesankan seperti anak lainnya. Tapi apa ini? Apa yang ia dapatkan? Tidak ada


Hanya luka dan luka saja yang ia dapatkan terus menerus...


Varka berdiri lalu mengusap kasar air matanya dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapan kakaknya.


____


Varka duduk dihalte bus sendirian, entah kapan ia sampai disini. Tapi langkahnya membawanya kesini,


Varka menghela napas saat mengingat kembali kejadian dirumah tadi, selalu saja berakhir seperti itu. Sejak dulu ia memang selalu dimarahi dan dipukul, tapi bukankah setiap orang memiliki batas dalam menahan semua hal yang menyakitinya.


Sebenarnya saat Varka masih kecil Clara masih sering menyayanginya walaupun tak sebesar rasa sayang Clara pada Gibran. Namun semenjak kejadian itu Clara dan Juna jadi berubah dan tidak pernah memperdulikan Varka. Ya semua ini dimulai saat Varka dan Gibran masih kecil.


Umur Varka dan Gibran hanya beda satu tahun saja, Saat itu Gibran adalah anak yang pendiam dan rajin, berbeda dengan Varka yang terbilang cukup nakal dalam artian ia tidak bisa diam dan pecicilan.


Sejak masuk sekolah dasar Varka dan Gibran memang sangat berbeda, Gibran selalu menjadikan kebanggaan guru, juara kelas dan sering mengikuti lomba tidak seperti varka yang terbilang biasa aja.


Sejak dulu harapan Clara selalu sama yaitu ingin agar Varka seperti Gibran. Clara mau Varka itu rajin, pendiem,pinter, gak nakal dan pecicilan. Tapi pada kenyataannya Varka tidak bisa seperti itu, Tuhan menciptakan kepribadian Varka yang berbanding terbalik dengan Gibran.


Luka Pertama yang Varka dapat adalah saat ia berumur tujuh tahun, tepatnya saat pembagian raport. Clara sangat berharap jika Varka juga akan rangking satu seperti Gibran tapi harapan itu musnah ketika Varka hanya mendapatkan rangking lima.


Saat itulah Clara marah besar Dan membentak Varka bahkan raport yang didapatkan Varka disobek Begitu saja. Bahkan Clara sampai menyebut Varka anak bodoh dan anak pembawa sial, sampai sekarang kata-kata itulah yang selalu diingat oleh Varka.


Semesta memang tak pernah berpihak pada Varka.


Setelah kejadian itu Gibran membawakan gelas yang berisi susu untuk Varka namun entah kenapa Gibran tiba-tiba terjatuh dan pecahan gelas tersebut mengenai tangan dan pipi Gibran. Varka tidak Melakukan apapun bahkan tidak sedikitpun namun Clara yang datang saat semuanya sudah terjadi menyalahkan Varka atas kejadian itu. Varka sudah berusaha menjelaskan bahkan meminta kakaknya untuk membantu menjelaskan nya tapi apa yang ia dapat, Kakaknya tetap diam membisu hingga sekarang dan ia dianggap sebagai orang yang melukai Kakaknya sendirian.


Sejak itulah Varka tak pernah lagi merasakan kasih sayang ataupun kehangatan, Hanya Karena kesalahan yang bahkan tak pernah Varka lakukan tapi ia yang harus menanggung akibatnya hingga sekarang.


Itulah alasan yang Varka pikirkan tentang mengapa kedua orangtuanya bersikap seperti ini. Entah apa alasan sebenarnya Varka juga tidak tau, tapi semoga saja tidak ada alasan lain yang mungkin bisa lebih menyakitkan untuk Varka.


Varka menghela napas mengingat kejadian, ternyata sudah lama ya ia seperti ini. Luar biasa sekali ia bisa tahan dengan semua rasa sakit selama ini. Varka terkesiap saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, lengkung indah terukir Begitu saja diwajah Varka saat melihat nama yang tertera dilayar hp.


"Varka... Kemana aja? Helsha nelpon dari tadi gak diangkat,, Wa Helsha juga gak Varka bales" omel Helsha disebrang sana


Varka mengusap air matanya lalu menarik napas perlahan sebelum menjawab


"Maaf"


"Lagi apa emang? Eh salah lagi dimana Maksudnya? Kok berisik gitu kayak lagi dijalan, mau kemana?"


"Satu-satu nanyanya"


"Varka abis nangis ya?" Tanya Helsha saat menyadari suara parau Varka


"Kamu tuh punya Indra keenam ya?" Canda Varka sambil tertawa


"Varka dimana? Helsha kesana sekarang ya?"


"Capek loh Sha, cape banget malah" ucap Varka pada akhirnya.


"Varka dimana? Cepet bilang dimana?" Ucap Helsha sedikit berteriak


"Rasanya Varka..."


Varka terdiam tidak melanjutkan perkataannya,


"Varka... Ketemu yuk sama Helsha, Varka dimana sekarang?" Tanya Helsha lembut


"Nanti Varka telpon lagi ya, Varka gapapa gak usah khawatir. Dadah" ucap Varka kemudian mematikan sambungan telpon Begitu saja.


Ia tidak ingin Helsha kembali melihat dirinya yang seperti ini. Varka yakin Helsha juga bisa lelah jika melihatnya seperti ini terus.

__ADS_1


Sudahlah, hidupnya selama ini sudah sulit dan akan terus seperti itu bukan.


Semesta memang tidak bersahabat dengan Varka, Semoga saja tidak ada yang pernah mengalami hal sepertinya.


__ADS_2